
"Bu Wiwin. Sebaiknya Anda secepatnya mengklarifikasi desas-desus yang beredar beberapa hari terakhir ini."
"Saya tidak mau jika, pihak HRD atau Big Bos menegur Saya, atau Bu Win nanti. Di kira Saya tidak bisa melakukan transaksi tugas dengan baik."
"Di kira Saya tidak bisa memberikan contoh atau nasehat. Padahal, aturan dari perusahaan sudah sangat jelas."
Pak Rudi berkata panjang lebar, memberikan penjelasan dan peringatan untuk Bu Win. Asisten manager nya yang baru. Sebagai pengganti dari pak Komarudin.
"Jika Anda tidak segera membereskan semua kasus ini, terpaksa Saya akan mengambil tindakan. Apalagi, jika semua itu benar. Anda tahu sendiri bagaimana konsekuensi yang harus ditanggung oleh Anda."
Pak Rudi kembali berkata, untuk menegaskan kembali bahwa, semua sudah ada aturannya. Karena itu juga untuk kebaikan dan membantu nama baik perusahaan, di mata masyarakat dan pemerintah.
"Baik Pak. Saya akan usahakan untuk bisa menyelesaikan semua ini secepatnya."
Bu Win akhirnya berkata juga. Menyanggupi permintaan dari pak Rudi.
Bu Wiwin, atau lebih akrab dengan sebutan Bu Win, adalah karyawan lama, dari perusahaan yang ada di Jakarta juga. Dia pindah ke kota ini, dan menjabat sebagai supervisor dari gedung lain.
Dia baru dua minggu ini, mendapatkan promosi jabatan, untuk asisten manager di gedung tempat pak Rudi memimpin sebagai manager.
Setelah dirasa cukup, pak Rudi membubarkan metting mereka.
"Saya rasa semua sudah jelas. Kalian bisa kembali ke tempatnya masing-masing. Dan ingat, harus dengan semangat yang baru!"
"Selamat siang dan selamat bekerja."
Semua anak buahnya mengangguk saja. Kemudian membubarkan diri, untuk kembali ke tempat tugasnya masing-masing.
Tapi sebelum Linda pergi, pak Rudi memberinya kode, supaya Linda tidak ikut pergi bersama dengan yang lainnya. Dia di minta untuk tetap tinggal. Karena ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pak Rudi.
Linda pun akhirnya kembali duduk. Dia hanya memperhatikan, jika semua orang sudah pergi meninggalkan tempat duduk mereka.
"Lin. Kamu mau gak, Aku ajukan menjadi asisten manager?"
Pak Rudi tiba-tiba bertanya, di saat ruangan metting ini tinggal dirinya sendiri, bersama dengan Linda saja.
"Jadi asisten manager? Tapi..."
"Iya. Jadi asisten manager," sahut pak Rudi, memotong kalimat Linda yang belum selesai.
"Tapi Pak. Linda jadi supervisor aja baru satu bulan. Bagaimana bisa langsung jadi asisten manager? Ini akan menjadi kecemburuan sosial dari beberapa supervisor dan leader."
__ADS_1
"Linda jadi leader dan supervisor aja udah banyak yang gak suka. Bagaimana jika jadi asisten manager."
Linda menyahut perkataannya sendiri. Karena memang begitu yang sebenarnya terjadi di lapangan. Karena pasti orang-orang, baik sesama supervisor, leader ataupun anak buahnya yang lain, akan menilai jika dia hanya aji mumpung saja.
Secara, sejak dia masuk ke perusahaan ini, banyak sekali para atasan yang membicarakan tentang dirinya.
Tapi karena dia sudah dekat dengan pak Komarudin dan pak Rudi terlebih dahulu, mereka hanya bisa bicara di belakang saja. Menjadi pengagum, yang selalu menunggu kesempatan. Untuk mendapatkan giliran, supaya bisa dekat dengannya.
"Tidak apa-apa Lin. Kamu tidak usah memikirkan banyak hal. Apalagi perkataan orang-orang yang tidak suka dengan Kamu."
Pak Rudi masih berusaha untuk meyakinkan Linda, supaya mau menerima tawarannya tadi.
"Untuk saat ini, Linda tidak berani ambil tawaran dari pak Rudi. Maaf," ucap Linda memberikan keputusan.
"Yakin? Ini kesempatan lho Lin! Dan Kamu tahu kan, berapa jumlah gaji asisten manager? Besar lho! Dua kali lipat dari gaji supervisor."
Pak Rudi, mengiming-imingi Linda dengan gaji asisten manager. Yang tentunya Linda juga tahu, berapa jumlah besar gaji mereka.
Apalagi ditambah dengan beberapa tunjangan yang diberikan oleh pihak perusahaan juga. Itu akan membuat tabungan Linda semakin besar jumlahnya.
Tapi karena Linda tidak mau ambil pusing, dengan berbagai tuduhan yang akan dia terima nanti, akhirnya Linda tetap mengeleng sebagai jawabannya. Meskipun itu tidak semuanya salah.
Pak Rudi hanya mengangguk saja. Dia juga menghela nafas panjang, karena gagal menyakinkan pada Linda untuk menerima tawarannya tadi.
Linda hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi. Dia tidak mau menjawab atau mengatakan apa-apa. Karena dia sendiri tidak tahu, bagaimana kemampuan dirinya sendiri untuk memimpin.
Karena selama ini, dia terus di bantu oleh orang-orang yang ditugaskan oleh pak Rudi, untuk membuat dirinya.
"Ya sudah. Kembalilah ke tempatmu!"
Linda mengangguk, kemudian berdiri dari tempat duduknya. Dia berjalan terlebih dahulu, sedangkan pak Rudi masih duduk di tempatnya yang tadi.
"Pulang nanti ke ruangan Aku lin!"
Tiba-tiba, pak Rudi memberikan perintahnya, sebelum Linda menutup pintu ruangan metting.
Meskipun Linda tidak tahu, apa yang diinginkan oleh managernya itu, dia hanya bisa mengangguk saja. Dia berpikir jika, pak Rudi hanya ingin sesuatu yang biasanya.
Di saat Linda berjalan menuju ke tempat tugasnya, handphone miliknya bergetar di kantong celana.
Drettt drettt drettt!
__ADS_1
Linda mengambil handphone tersebut, dan melihat jika, suaminya sedang menghubungi dirinya saat ini.
"Ada apa ya? Kok tumben mas Ferry nelpon di jam kerja," gumam Linda dengan heran. Karena memang tidak biasanya, suaminya itu menelpon dirinya di saat jam kerja seperti sekarang ini.
Dengan segera, Linda menekan tombol hijau, untuk menyambungkan panggilan telpon dari suaminya sendiri.
..."Ya Mas. Ada apa?"...
..."Maaf Dek. Mas telpon pada jam kerja. Tapi ini penting."...
..."Ya Mas. Penting apa?"...
..."Emhhh... Mas diajak si bos pengilingan padi ini. Ke luar kota. Mendadak gini ini. Gak apa-apa kan Dek?"...
..."Oh gitu... tapi Erli tadi udah di titip ke rumah ibu kan?"...
..."Iya. Tadi udah Mas bawa ke sana. Mas juga udah pesen ke Danang kok. Nitip Erli."...
..."Iya gak apa-apa Mas. Biar Linda yang nanti ambil Erli. Atau Linda nginep sekalian di rumah ibu."...
..."Iya gitu aja Dek. Biar Kamu pagi-pagi tidak repot juga. Mas juga pulangnya masih besok pagi."...
..."Iya-iya Mas. Nanti Linda kasih kabar ke Danang. Jika dia mau sih, dia yang nginep aja di rumah."...
..."Oh, gitu juga gak apa-apa Dek."...
..."Ya sudah ya Dek. Mas berangkat dulu ini. Kamu hati-hati ya kerjanya!"...
..."Iya Mas. Mas juga hati-hati di jalan!"...
..."Iya Dek."...
Klik!
Linda menghela nafas panjang, kemudian mencari-cari nomer handphone Danang. Menekan nomer tersebut, untuk menghubungi adiknya.
Dia mengatakan pada Danang jika, papanya Erli pergi ke luar kota. Nanti Erli akan dia jemput sendiri, dan mengajak adiknya itu untuk menginap di rumahnya.
Tapi karena Danang paginya ada acara ke kampus, akhirnya Linda mengatakan bahwa, dia dan Erli akan menginap saja di rumah ibunya.
Danang pun menyetujuinya. Karena itu akan lebih memudahkan Linda sendiri. Karena pagi harinya, Linda juga masih harus berangkat kerja.
__ADS_1
Erli bisa tetap di rumah ibunya, bersama dengan bapaknya. Simbah kakungnya Erli.