
Erli tampak sangat bahagia, mengenakan seragam sekolah baru. Meskipun hari ini dia akan pergi ke sekolah, yang suka sekolahnya dulu, karena dia sudah pindah ke sekolah di kota ini.
Hari ini, dia akan didaftarkan ke sekolah baru, yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya.
Sebenarnya bukan letaknya yang jauh, tapi kondisi perumahan atau perkampungan di kota besar itu, yang tentunya berbeda dengan kampung. Jadi harus melewati jalan-jalan yang tidak lurus, atau harus melintasi jalanan yang memang sudah ada, untuk bisa sampai ke sekolahnya itu. Sehingga tampak lebih jauh dari pada jarak yang sebenarnya.
Romi mengendarai sepeda motornya, yang kemarin dititipkan pada temannya, dengan memboncengkan Linda dan Erli. Untuk pergi ke sekolah yang akan mereka tuju.
Tapi saat di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Pak haji.
"Lho nak Romi, sudah balik ya!"
"Ya Pak haji. Maaf, belum sempat datang ke rumah bersilaturahim."
Romi akhirnya berhenti sebentar untuk menyelami Pak haji, kemudian memperkenalkan istri dan anaknya secara singkat pada orang tua yang sudah berlaku baik padanya sejak dulu.
"Oh, ini istri dan anaknya... Emhhh, semoga langgeng ya Nak! Ajak main ke rumah ya, Ibu pasti senang melihat kalian semua."
"Ya Pak haji. Insyaallah nanti malam. Ibu kan ada di pasar juga kalau pagi begini," terang Romi memberikan alasannya.
"Hehehe... iya-iya. Baiklah jika begitu, Bapak tunggu nanti malam ya!"
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Pak haji pamit untuk kembali melanjutkan perjalanannya.
Begitu juga dengan Romi, yang akan pergi ke sekolah untuk mendaftarkan anaknya.
Mereka berdua, Romi dan pak haji sepakat, untuk bertemu nanti malam, di rumahnya Pak haji. Agar Linda juga kenal dengan keluarga mereka. Karena Romi, sudah menganggap keluarga Pak haji seperti keluarganya sendiri.
"Baik ya Mas Pak haji," ujar Linda, memberi komentar tentang orang tua yang baru saja mereka temui tadi.
Akhirnya, masih dalam perjalanan menuju ke sekolah, Romi menceritakan secara singkat tentang perkenalannya dengan Pak haji.
Linda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh suaminya itu.
Dia akhirnya tahu, jika Pak haji tadi, juga paman dari mantan istri suaminya ini.
"Tapi, Pak haji tidak pernah marah dan mempermasalahkan perceraian kami, karena dia menyadari. Jika kesalahan memang ada pada keponakannya, sehingga pernikahan kami tidak bisa diteruskan."
__ADS_1
"Kabar terakhir yang Mas terima, sebelum Mas pulang kampung kemarin itu, mantan istrinya Mas kecelakaan dan koma, rumah sakit luar negeri sana."
Linda merasa miris dan kasihan juga, mendengar kisah tragis dari mantan istri suaminya yang sekarang.
"Semoga saja, mantan istri mas Romi bisa selamat ya. Kasihan juga mendengar kisahnya yang terakhir ini."
Romi tersenyum, kemudian melepaskan tangan kirinya pada stang motor, untuk menepuk-nepuk tangan Linda, yang sedang berada dan pada pinggangnya.
Tanpa menyahuti ucapan istrinya itu, Romi mengucapkan terima kasih, atas rasa simpati yang diberikan oleh linda.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di sekolah yang dituju.
*****
Di pasar, tempat jualan Bu haji, istrinya Pak haji, sedang tidak terlalu banyak pembeli. Sehingga mereka berdua bisa berbincang-bincang sejenak, sambil melepas lelah. Setelah selesai memberikan pelayanan pada para pembelinya, yang sedari pagi sudah ramai.
Kini, Pak haji menceritakan tentang pertemuannya dengan Romi tadi. Yang sudah membawa kembali dari kampung halamannya, dengan membawa istri dan anaknya juga.
"Jadi Nak Romi sudah punya istri lagi Pak?" tanya Bu haji, sedikit kaget, dengan cerita yang disampaikan oleh suaminya barusan.
"Iya Bu. Cantik sekali lho! Bahkan kayak ada blasteran bule-bule nya gitu Bu," terang Pak haji, berikan gambaran tentang istrinya Romi yang tadi dia temui.
"Ck! Ibu ini kalau dibilangin tidak percaya. Ibu lihat saja nanti malam, saat Romi datang ke rumah kita, dengan membawa anak dan istrinya itu. Ibu pasti akan kaget, melihat istrinya itu seperti apa."
Pak haji, sepertinya bersemangat sekali, menceritakan tentang istri barunya Romi. Yang menurutnya sendiri sangat cantik, dan jauh berbeda dengan keponakannya dulu.
Ini membuat istrinya merasa penasaran, karena dia sangat tahu jika, suaminya itu jarang sekali memuji perempuan. Apalagi itu adalah istri orang lain.
"Pak. Ingat ya, ada Ibu ini!"
"Hehehe... maaf Bu. Bapak kan cuma memberikan gambaran tentang istrinya nak Romi itu. Bukan termaksud suka atau naksir. Jadi, Ibu tidak perlu merasa cemburu gitu. Lagian ya Bu, mana ada istrinya nak Romi itu suka sama Bapak!"
Bu haji, masih memasang wajah cemberut. Karena mendengar suaminya memuji-muji wanita lain. Meskipun sebenarnya bukan itu yang dimaksudkan oleh suaminya.
Dia hanya tidak mau, jika suaminya itu akan lebih memperhatikan istrinya Romi, dibandingkan dengan dirinya sendiri. Seandainya nanti malam mereka bertemu, sebab jika hal itu terjadi, bisa saja nanti gantian Romi yang akan cemburu dengan sikap suaminya. Jika nanti malam, suaminya itu masih bersikap seperti sekarang ini.
Tapi Pak haji segera menggelengkan kepalanya, mencoba untuk meyakinkan kepada istrinya itu, bawah dia hanya sekedar memberikan gambaran saja. Bukan karena ada maksud yang lain.
__ADS_1
"Berarti, nanti malam mereka datang ke rumah ya Pak?"
"Tadi sih katanya begitu Bu," sahut Pak haji. Karena dia sangat berharap jika romi mau datang ke rumahnya.
"Ibu harus menjamu mereka Pak. Oh ya, nanti mau dimasakin apa?" tanya istrinya, yang merasa panik, karena nanti malam akan kedatangan tamu. Padahal, biasanya juga Romi sering kali datang ramai ke rumahnya.
Tapi menurut Bu haji, kedatangan Romi malam nanti berbeda dengan biasanya. Jadi, dia juga harus menyambutnya dengan berbeda juga.
Bu haji ingin menjamu pasangan baru itu, agar istri barunya Romi, juga tidak sungkan dan segan terhadap dirinya.
"Apa saja lah Bu, yang penting itu bisa buat jamuan, bisa di makan, dan yang lebih penting lagi, Ibu itu ikhlas juga. Supaya yang makan makanannya itu nanti, tidak tersedak-sedak."
"Hehehe... iya Pak. Ibu akan memikirkan menu apa yang sebaiknya Ibu siapkan, untuk nanti malam."
Setelah itu, mereka kembali melayani para pelanggan yang datang, untuk berbelanja.
*****
Di sekolah baru Erli.
Romi meninggalkan istrinya, yang masih mau menunggui anaknya sampai waktunya untuk pulang nanti. Sebab, dia harus pergi untuk mengerjakan pekerjaannya, yang sudah lama dia titipkan pada teman-temannya.
"Gak apa-apa kan Dek, jika Aku tinggal sendiri?" tanya Romi memastikan.
"Iya Mas, gak apa-apa. Linda bisa kok pulang sendiri nanti sama Erli. Sekalian Linda mau lihat situasi di sini juga. Toh besok besok juga Linda yang akan antar jemput sendiri. Jadi, Mas Romi tidak perlu khawatir."
Sebenarnya, Romi tidak mengkhawatirkan Linda yang bisa saja akan kesasar. Tapi, dia lebih mengkhawatirkan keadaan kakinya Linda, yang harus berjalan kaki lumayan jauh dari rumah.
Jadi dia harus berpikir, bagaimana caranya supaya Linda tidak harus berjalan kaki.
Setelah berpikir sejenak, Romi memberitahu pada Linda, supaya mencari ojek untuk transportasinya pulang nanti.
"Oh ya Dek, di sana, ada pangkalan ojek. Kamu bisa ngojek aja sama Erli. Biar Kamu kakinya itu gak capek. Mas nggak mau, jika Kamu nanti sakit lho!"
Linda menepuk-nepuk lengan suaminya, memberikan keyakinan jika dia bisa mengatasinya dengan baik.
"Iya Mas. Nanti Linda cari tukang ojek di sana. Jadi Mas Romi gak usah khawatir."
__ADS_1
Setelah benar-benar merasa yakin, akhirnya Romi baru pergi, meninggalkan Linda yang sedang menunggui Erli di sekolahnya yang baru pagi ini.
Nanti, dia akan mencari sepeda motor lagi. Supaya bisa digunakan istrinya itu, untuk antar jemput sekolah sendiri.