
Ketegangan antara Linda dan Romi sewaktu berangkat menjemput Erli, bertambah lagi, di saat mereka tiba di sekolah. Sedangkan Erli, justru duduk manis di teras sekolah, dengan menyedot minuman kaleng. Bersama dengan seorang temannya dan laki-laki dewasa.
Meskipun suasana sekolah masih ramai, tetap saja romi tidak suka, apalagi itu seorang adalah seorang laki-laki.
Hal ini tentu saja membuat Romi was-was dan khawatir. Tapi berbeda dengan Linda yang justru tersenyum ramah pada orang tersebut. Membuat Romi menyipitkan matanya, melihat bagaimana keadaan istrinya yang sedang tenang tanpa harus curiga dengan keberadaan laki-laki tersebut.
Padahal menurut Romi, Erli sebaiknya menjauh dari semua orang yang tidak dikenal. Apalagi seorang laki-laki dewasa seperti itu. Dan ini adalah kota besar, yang rawan dengan segala bentuk kejahatan.
"Terima kasih ya Mas, sudah mau menemani Erli. Kami terlambat untuk menjemputnya."
Romi semakin heran dengan Linda, yang justru mengucapkan terima kasih pada laki-laki tersebut. Yang sebenarnya tidak dikenali oleh Romi.
"Sama-sama Mbak. Kebetulan, Saya juga tidak sedang buru-buru. Jadi pas liat Erli sendiri dan belum ada yang jemput kami temani terlebih dahulu. Kalau begitu, Saya permisi dulu. Mari Erli, mbak Melinda, Mas."
"Terima kasih ya Om," ucap Erli pada laki-laki tersebut.
Erli juga dada-dada pada gadis kecil yang tadi bersamanya, yang menggunakan seragam sekola juga. Sama seperti Erli.
Linda juga menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum. Pada saat laki-laki tersebut pamit.
Sedangkan Romi, hanya tersenyum tipis saja dan mengajak Erli segera naik ke atas motor.
Setelah itu mereka pergi dari halaman sekolah. Begitu juga laki-laki tersebut, bersama anaknya. Teman sekolahnya Erli.
Tapi Romi menahan diri, untuk tidak bertanya-tanya secara langsung tentang siapa laki-laki itu pada Linda. Meskipun sebenarnya dia sudah bisa menebak, jika laki-laki tadi adalah ayah dari temannya Erli.
Apalagi saat ini, mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Dan ada Erli juga diantara mereka berdua.
Setibanya di rumah, mereka bertiga melanjutkan makan siang bersama. Kemudian Linda meminta pada anaknya itu untuk tidur siang.
Dia sepertinya paham dengan perasaan suaminya, sedang memendam sesuatu yang ingin ditanyakan.
Sedangkan Linda sendiri, sebenarnya juga ingin membicarakan soal Danang dan Della pada romi. Jika perlu, dia juga akan bertanya secara langsung pada Danang.
Setelah beberapa saat kemudian, Erli sudah tertidur pulas di kamarnya sendiri.
"Mas," panggil Linda pada Romi, disaat melihat suaminya itu sedang memegang handphone di ruang tamu.
Romi menoleh sekilas pada Linda, kemudian melambaikan tangannya. Memberi tanda pada istrinya itu supaya mendekat ke arahnya. Tapi dia juga langsung beralih kembali pada layar ponselnya.
Akhirnya Linda mendekat ke tempat duduk suaminya, setelahnya itu Linda duduk di samping Romi.
"Mas. Linda mau tanya deh," kata Linda, yang ingin memulai pembicaraan di antara mereka.
__ADS_1
"Apa, Kamu mau tanya apa? Atau Kamu mau menjelaskan bahwa ayah dari temannya Erli tadi adalah temanmu."
Sekarang Linda menoleh, melihat ke arah suaminya dengan heran.
"Maksud Mas Romi... yang di sekolah tadi?" Linda balik bertanya pada Romi.
Tapi Romi justru mendengus dingin. Dia tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Linda. Tapi dari raut wajahnya, Linda bisa tahu jika suaminya itu sedang marah dengannya.
"Mas. Dia itu ayahnya..."
"Mas gak suka."
Linda langsung terdiam, mendengar suara suaminya yang suaranya lebih tinggi dan memotong kalimatnya belum selesai.
Meskipun tidak dalam keadaan membentak, tapi Linda tahu jika saat ini suaminya itu sedang dalam keadaan marah dengannya.
Kini, Linda hanya bisa diam sambil menunduk dan kepalanya. Dia merasa bersalah, atas kejadian tadi di sekolah.
Tapi, dia juga merasa tidak bersalah sepenuhnya. Karena semua ini bukan karena dia saja, sebab karena Romi juga yang membuatnya lupa waktu. Untuk menjemput anaknya di jam pulang sekolah.
Setelah beberapa saat kemudian, Romi menoleh ke arah Linda, yang masih dalam keadaan menunduk.
Grep!
Linda yang sedari tadi juga diam saja, cukup terkejut dengan perlakuan suaminya kali ini.
Tapi tak lama kemudian, dia menyambut pelukan suaminya itu. Dengan perasaan yang membuncah. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada hubungan mereka berdua. Hanya karena salah paham dengan sesuatu yang belum pasti.
"Maaf Mas," ucap Linda, meminta maaf pada suaminya.
"Aku yang seharusnya minta maaf Dek. Aku, Aku hanya tidak mau terjadi suatu pada Kamu dan juga Erli. Dan Aku, Aku juga merasa cemburu. Karena ada laki-laki lainnya yang tampak sudah akrab denganmu. Padahal, Kamu disini belum lama."
"Aku, Aku takut jika Kamu tertarik dengan laki-laki tersebut. Dan akhirnya Kamu meninggalkan Aku."
Linda hanya diam saja, mendengar alasan suaminya yang sedang marah pada dirinya.
Dia memaklumi kondisi Romi, yang pastinya mereda trauma juga. Karena pernikahannya yang pertama dulu, terakhir karena istrinya yang pergi bersama dengan laki-laki lain. Sehingga meninggalkan dirinya sendiri.
"Hiks hiks hiks... maaf Mas."
Dengan berderai air mata, Linda juga mengucapkan permintaan maafnya lagi. Karena telah membuka luka suaminya atas gagalnya pernikahannya yang lalu.
Meskipun kini mereka berdua sudah ya dipasang suami istri, tapi mereka pernah menjalani kehidupan masing-masing, sebelum mereka bersatu.
__ADS_1
Dan tentunya perjalanan mereka sebelum ini, juga penuh dengan liku-liku. Baik yang menyenangkan maupun menyedihkan.
Kini, keduanya saling meluapkan perasaan dengan berpelukan. Mengatakan apa yang sedang mereka rasakan.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Mas gak berangkat kerja?" tanya Linda, mengingatkan pada suaminya, jika hari ini sudah sangat siang. Sudah hampir sore malah.
"Hehehe... gak usah lah. Udah sore juga. Tadi sudah Aku pesan sama orang-orang yang ada di bengkel las kok," terang Romi memberikan alasan, kenapa dia tidak pergi kerja hari ini.
Akhirnya, Romi kembali memeluk istrinya dengan perasaan yang lega. Dan kini, Linda mulai memberi penjelasan tentang laki-laki yang tadi bertemu di sekolah, dan sedang menjaga Erli. Sebelum mereka datang menjemputnya.
*****
Danang dan Della, pergi ke rumah sakit lagi, untuk memeriksakan keadaan Della yang semakin lemah.
Dan dokter Santi memberikan penjelasan dan saran, supaya Della segera menjalani operasi. Untuk sedot kelenjar tiroid nya.
"Jika tidak segera di sedot, takutnya akan mengganggu organ yang lain. Sama seperti yang gak pernah Aku jelaskan."
"Bagaimana jika nanti malam atau besok pagi, kita lakukan operasinya. Jadi, hari ini adalah langsung diopname. Supaya bisa beristirahat dan puasa."
Danang menggenggam tangan Della, meyakinkan pada istrinya itu, supaya mau menerima saran dari dokter Santi. Sebab dia juga tidak mau jika terjadi sesuatu pada istrinya itu.
"Kamu siap kan Yang?"
Della akhirnya mengganggukan kepalanya, mengiyakan saran dari dokter Santi dan juga suaminya, Danang.
Dia akan bisa untuk kuat dan sembuh dari penyakit ini. Sebab, dia masih ingin hidup berbahagia dengan Danang. Dengan memberikan keturunan untuk suaminya itu.
Akhirnya Della benar-benar menurut. Sebab dia juga membaca pesan dari kakak dan juga kakak iparnya. Yang memberikan semangat dan juga nasehat. Supaya dia mau mengikuti apa yang disarankan oleh dokter. Karena semua itu juga demi kebaikannya.
Akhirnya, Della terus menjalani perawatan terlebih dahulu. Sedangkan dokter Santai mengurus waktu dan jadwal untuk menjalani operasinya.
Danang tentu saja sangat berterima kasih kepada teman sekolahnya itu, dokter Santi, yang sudah memberikan pengertian kepada istrinya. Supaya mau menjalani operasi yang sebenernya tidak terlalu berat. Karena hanya operasi luar saja.
"Terima kasih ya dokter Santi. Semoga saja, operasi ini bisa membawa kebaikan untuk istriku dan keluarga kami tentunya."
"Sama-sama Nang. Ini sudah menjadi tugasku kok. Lagipula, istri Kamu masih Muda, jadi harus tetap bersemangat untuk bisa sehat dan sembuh jika ada penyakit yang masih bisa disembuhkan." Dokter Santi menanggapi dengan memberikan semangat juga untuk Danang.
"Kamu yang sabar ya Nang."
Dokter Santi mengakhiri pembicaraannya dengan Danang, dengan meminta pada temannya itu untuk tetap bersabar menghadapi sikap istrinya yang sedang tidak stabil karena sedang dalam keadaan sakit.
__ADS_1