
Dari ketiga teman sekamarnya ini, Linda baru tahu tentang siapa pak Komarudin dan juga pak Rudi.
Menurut mereka berdua, pak Komarudin dan pak Rudi itu adalah soulmate. Mereka berdua, tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Karena di mana pak Rudi bertugas, di situlah pak Komarudin berada juga.
Dan menurut mereka bertiga, pasti ada sesuatu yang menjadikan mereka itu tidak terpisahkan.
"Ini sejak ada di Jakarta lho Mbak Linda," ujar mbak Mila, yang memang pindahan karyawan dari Jakarta juga. Sama seperti pak Komarudin dan juga pak Rudi.
Jadi, para karyawan perusahaan tempat Linda bekerja, banyak dari orang-orang yang sebenarnya pindahan dari perusahaan yang sebelumnya. Yaitu dari Jakarta.
Bisa dibilang, mereka semua kebanyakan juga saling kenal mengenal. Jadi, sedikit banyak pasti tahu, bagaimana keadaan dan cerita dari orang-orang tersebut. Juga, latar belakang mereka. Baik dari versi cerita orang lain, ataupun dari orangnya langsung.
Menurut cerita dari mereka bertiga juga, Linda baru tahu kalau pak Komarudin dan pak Rudi, itu sering sekali memiliki kekasih yang sama.
Yang artinya, jika pak Rudi punya pacar, pak Komarudin juga ikut menikmati. Begitu juga sebaliknya. Mereka bisa juga bermain-main secara bersamaan dalam satu kamar.
Linda meringis, karena membayangkan bagaimana rasanya hal itu bisa terjadi.
'Apa gak malu? Masak main begitu bareng-bareng. Kayak acara makan bersama saja.' Begitulah pikir Linda dalam hati.
Tapi di alam bawah sadarnya, Linda jadi merasa penasaran dengan sensasi yang berbeda juga.
Dia membayangkan bagaimana seandainya, dia bisa melihat dan ikut merasakan rasanya dilayani dua laki-laki. Atau dia yang melayani laki-laki.
Dengan segera, Linda mengelengkan kepalanya beberapa kali. Karena sadar jika, khayalan yang dia miliki terlalu aneh.
"Mbak. Mbak Linda gak apa-apa kan? Gak aneh-aneh kayak gitu kan?" tanya Mbak Sri, yang melihat jika Linda mengeleng beberapa kali.
Mbak Mila dan Mbak Susi, ikut memperhatikan bagaimana reaksi Linda sekarang.
Tapi karena Linda diam dan wajahnya tampak seperti orang-orang pada umumnya, jika mendengar kisah ini, mereka jadi yakin kalau, Linda belum diperlakukan seperti itu oleh pak Komarudin ataupun pak Rudi.
*****
Pada saat ada di dalam kamar mandi, karena yang lain sudah pada mandi, Linda jadi kepikiran tentang cerita yang baru saja dia dengar tadi.
Sisi lain dari Linda, merasa sangat penasaran dan ingin tahu bagaimana rasanya.
"Eghhh..."
__ADS_1
Linda bergidik ngeri, tapi ada sesuatu pada tubuhnya yang mulai terasa sama seperti biasanya. Dia jadi membayangkan hal-hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini.
Tapi tentunya, dia tidak punya pilihan lain, selain harus membuat dirinya merasakan rasa puas. Meskipun harus seorang diri saat ini.
Tok tok tok!
Pintu kamar mandi di ketuk dari luar.
"Mbak Linda, udah selesai belum? Di cari pak Rudi!" teriak mbak Sri, yang memberitahu Linda, jika dia sedang di cari pak manager nya.
"Pak Rudi?" tanya Linda dengan bergumam.
"Iya-iya, sebentar!"
Linda menjawab dengan berteriak juga, dari dalam kamar mandi.
Tak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka. Linda keluar dalam keadaan segar. Karena dia baru saja selesai mandi.
"Di mana pak Rudi?" tanya Linda, karena tidak melihat keberadaan pak Rudi di dalam kamar.
"Ya di luar dong Mbak Linda. Masa dia mau nunggu di dalam kamar cewek-cewek. Bisa-bisa, dia habis kami makan nanti. Hahaha..."
Linda meringis menanggapi perkataan Mbak Susi. Dia sekarang jadi tahu sedikit demi sedikit, bagaimana watak dan sikap orang-orang, yang ada satu kamar dengannya.
"Santai mbak Linda. Kami ini ember emang. Tapi untuk semua kegiatan yang ada, kami selalu begini."
Sekarang, mbak Mila yang bicara. Dia juga memperagakan, bagaimana tangannya ada di depan bibir. Seakan-akan sedang menutup resleting.
Itu artinya, mereka akan tutup mulut dan tidak menceritakan apa yang mereka ketahui.
Karena bisa jadi, mereka semua juga melakukan hal yang sama seperti yang akan dilakukan oleh Linda nantinya, bersama dengan pak Rudi.
Begitulah kira-kira pemikiran mereka dan juga Linda sendiri.
Bahkan sekarang, Linda jadi punya pikiran untuk bisa melakukannya dengan pak Rudi.
'Aku gak gila kan ya? Ini hanya rasa penasaran tingkat dewa. Dan Aku selalu ingin tahu.'
Linda berpikir bahwa, dia masih ada di dalam ukuran normal. Karena setahu dia, apa yang sering dia baca sejak masih sekolah adalah, orang-orang di luar negeri saja, bahkan melakukan hal yang lebih dari apa yang dilakukan oleh Linda saat ini.
__ADS_1
Jadi, Linda merasa tidak apa-apa. Dia dalam keadaan baik-baik saja. karena ini masih dia anggap sebagai hal yang normal.
"Ayok mbak Linda. Katanya mau di ajak psk Rudi makan di luar. Kan kalau makan di sini. rame-rame. Menunya juga paling gitu-gitu aja kok."
"Iya. Manfaatkan aja Mbak Linda. Mumpung bisa!"
"Kami juga nanti pergi kok. Tapi gak tahu kapan. Jadi tenang aja Mbak Linda!"
Ketiga temannya itu, saling sahut-sahutan. Memberikan penjelasan kepada Linda, yang memang sedang ditunggu oleh pak Rudi di luar kamar.
Akhirnya, Linda keluar dari dalam kamar sebentar. Dia ingin menemui Pak Rudi.
Clek!
Pintu kamar terbuka. Linda keluar, dan melihat keberadaan pak Rudi yang sedang bersandar pada tembok di sisi kiri pintu kamar.
"Sudah selesai" tanya pak Rudi, begitu melihat Linda keluar dari dalam kamar.
"Mau ke mana Pak? Ini Linda baru selesai mandi. Belum bersiap-siap." Linda memperlihatkan keadaan dirinya,
"Ya sudah. Kamu bersiap-siap saja dulu. Aku tunggu Kamu di sini."
Linda mengangguk mengiyakan. Kemudian kembali masuk ke dalam kamar.
"Kok gak jadi mbak Linda?" tanya Mbak Mila, yang baru saja turun dari atas tempat tidur. Karena dia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi.
Kedua temannya yang lain, ikut menoleh ke arah ke Linda.
Dari wajah mereka berdua, juga mempunyai pertanyaan yang sama seperti pertanyaan yang diajukan oleh mbak Mila.
"Emhhh... ini, Aku mau siap-siap dulu. Tadi kan baru saja selesai mandi," jawab Linda, dengan memperlihatkan rambutnya yang belum sempat dia sisir tadi.
"Halah... Gak usah dandan juga masih cantik kok Mbak."
"Pasti Mbak Linda dikira orang luar negeri deh. Alias TKA, hehehe..."
"Memang mbak Linda ada keturunan bule ya? Atau ibunya mbak Linda memang orang bule?"
Pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya itu, membuat Linda harus menjawabnya juga satu persatu.
__ADS_1
Dia tidak ada pilihan lain, selain menjawab dan menjelaskan tentang dirinya. Karena memang setiap orang pasti punya pandangan dan penilaian yang berbeda-beda, terhadap keadaan dirinya yang berbeda dari orang lain.