Tante Melinda

Tante Melinda
Hal Yang Biasa


__ADS_3

"Tunggu sebentar lagi Sayang. Nanti juga datang kok," ujar Ferry, dengan mengendong Erli masuk ke dalam bangunan pengilingan padi.


Di dalam, para pekerja sudah mulai melakukan semua persiapan segala sesuatunya, yang biasa dikerjakan sebelum mereka semua bekerja.


"Mas Ferry. Kemarin abis istirahat gak balik lagi, kenapa?" tanya salah satu pekerja.


"Gak apa-apa Mas. Capek aja," jawab Ferry, sambil mendudukkan Erli di kursi dekat tempatnya biasa bekerja.


"Oh... Di cariin mbak Nana lho!"


Ferry mengerutkan keningnya, mendengar perkataan dari pekerja tersebut.


"Mbak Nana? Nana siapa ya?" Ferry bertanya tentang siapa orang yang bernama mbak Nana itu.


"Itu lho Mas, yang biasanya beli beras ke mas Ferry. Ibu-ibu muda."


Ferry mengingat-ingat ibu-ibu muda, yang biasa menjadi pelanggannya. Karena selama ini, sejak Ferry jualan beras di pengilingan padi ini, banyak pelanggan ibu-ibu muda yang datang membeli beras dengannya.


Ada yang untuk dikonsumsi oleh keluarganya sendiri. Ada juga yang untuk dijual lagi di rumah.


Dari sekian banyak pelanggan ibu-ibu, Ferry juga tidak hafal dengan nama-nama mereka semua. Karena Ferry tidak pernah bertanya tentang nama pelanggannya itu.


Jadi, sekarang dia juga tidak tahu, siapa yang dimaksud dengan nama Mbak Nana.


Tapi Ferry juga tidak bertanya lagi pada pekerja tadi. Dia langsung menata beras dan segala sesuatu, untuk mendukung jualannya.


Erli sedang duduk di samping papanya. Sama seperti biasanya jika dia ikut.


"Kue. Beli kue tidak?"


Dari arah pintu, ada penjual kue keliling yang biasa menawarkan dagangannya. Penjual kue ini, mangkal di pengilingan padi untuk beberapa menit.


Karena banyak pekerja atau orang yang lewat, untuk mampir dan membeli kue dagangnya.


"Pa kue Pa!"


Erli berteriak mengingatkan papanya. Karena tadi, Ferry juga sudah berjanji untuk membelikan Erli kue dan jajanan.


"Iya Sayang. Erli mau ikut milih sendiri atau nunggu di sini?" tanya Ferry, sambil membungkuk melihat anaknya yang sedang duduk di kursi.


"Ikut Pa, ikut!"


Erli berdiri di kursi, yang tadi dia gunakan untuk duduk. Sekarang, dia berdiri dengan merentangkan kedua tangannya. Minta untuk digendong oleh papanya.

__ADS_1


"Ayok kita beli kue!"


Ferry mengendong Erli, sambil bersemangat. Sama seperti yang dilakukan oleh Erli.


Dan sekarang, keduanya sudah berada di luar dan ikut mengerubungi tukang kue, yang sedang menggelar dagangannya dengan di meja lipat yang dia bawa ke mana-mana.


"Ayo Erli pilih aja kuenya. Mau yang mana?"


Erli mengangguk cepat. Dia tampak tersenyum senang, melihat begitu banyak kue dengan beraneka macam jenis.


Ada moci, pastel, klepon, lapis legit, putri ayu, martabak mini, getuk goreng, dan masih banyak lagi jenis kue-kue basah yang lainnya. Khas jajanan pasar.


Di keranjang yang masih ada di atas kendaraan bermotor milik pedagang kue, ada jajanan anak-anak, seperti keripik dan yang lainnya.


Erli memilih kue-kue yang dia sukai, dan beberapa keripik pisang dan kentang kesukaannya.


"Pa udah," ucap Erli memberitahu papanya.


"Beneran udah?"


Erli mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh papanya.


"Ini, jadi berapa semua Buk?"


"Dua puluh ribu Mas Ferry."


Tukang kue, menyebutkan berapa jumlah harga dari kue dan keripik tersebut.


Setelah selesai memberikan uang pas, Ferry kembali mengendong Erli dan mengajaknya untuk masuk ke dalam lagi.


"Sekarang, Erli duduk anteng ya. Itu kue dan keripiknya di makan. Papa kerja lagi ya!" tutur Ferry, memberikan penjelasan kepada anaknya yang sedang memilih kue-kue. Yang ingin dia makan terlebih dahulu.


"Ya Pa."


Erli menjawab dengan mengiyakan perkataan papanya.


Setelah itu, beberapa pelanggan datang untuk membela beras. Ada juga yang membeli bekatul. Karena di kota ini, ada banyak sekali peternak ayam ataupun bebek yang berkembang dengan baik.


*****


Sore sebelum waktu magrib, bus yang membawa karyawan perusahaan tempat Linda bekerja, tiba di tempat tujuan.


Bus berhenti di sebuah bangunan tingkat tiga. Dan tentunya juga bersih dengan ruangan aula yang besar. Di sisi kanan, ada tempat parkir yang luas. Dan di sebelah kiri, ada lorong yang memanjang, dengan pintu kecil yang mirip dengan rolling door.

__ADS_1


Mungkin pintu pintu kecil itu dikhususkan untuk para karyawan di gedung ini, atau yang berkepentingan saja.


Setelah semua penumpang bus turun, dengan semua bawaan mereka masing-masing, bus meninggalkan halaman gedung.


Ada petugas yang datang dan memberikan beberapa penjelasan, kepada para peserta training.


Sedangkan para manager yang ikut serta dalam rombongan, berada di depan. Bersama dengan petugas yang tadi baru saja datang.


Dari keterangan petugas tersebut, para peserta training akan menempati bangunan tingkat tiga untuk beristirahat. Karena di lantai itulah, terdapat kamar-kamar, yang mirip dengan sebuah hotel atau penginapan.


Satu kamar, akan di tempati oleh empat orang. Sedangkan para manager yang hanya ada empat orang, diberikan keistimewaan untuk mendapatkan satu kamar, untuk dari orang.


Setelah pembagian kamar selesai, semua orang dipersilahkan untuk masuk ke dalam gedung, dan mencari kamar masing-masing di lantai tiga.


Di saat Linda berjalan dengan membawa tas jinjing kecilnya, pak Rudi mendekat dan berjalan mensejajarkan langkahnya.


"Lin. Jika Kamu mau, Kamu bisa ikut tidur di kamarku. Aku kan sendirian," ujar pak Rudi menawari Linda.


Linda menoleh ke arah pak Rudi. Dia tidak menyangka jika, pak Rudi akan memberikan sebuah tawaran yang tentunya bisa menjadi bahan pembicaraan di antara semua orang. Termasuk para manager yang juga ikut serta dalam kegiatan mereka ini.


Dengan melihat sekeliling, Linda tetap diam dan tidak menyahut tawaran tersebut.


"Kamu tenang saja Lin. Gak apa-apa. Tidak ada yang akan bicara tentang ini. Karena itu juga akan dilakukan oleh teman-teman Kamu itu. Lihat saja nanti."


Dengan mengerutkan keningnya, Linda belum bisa memahami apa yang dikatakan oleh managernya itu.


'Maksud pak Rudi apa sih? Kok Aku merasa jika, akan terjadi sesuatu.'


Linda bertanya-tanya dalam hati. Apalagi, dia juga melihat beberapa teman sesama peserta training, yang terlihat dekat dengan managernya.


Tiga dari manager yang ikut, yang ke empat adalah pak Rudi, semuanya berjalan dengan leader wanita.


Dan para leader tersebut, bukanlah leader baru, sama seperti Linda.


Mereka adalah orang-orang lama, yang sudah sering ikut training seperti ini juga. Itu menurut cerita dari pak Rudi.


"Kamu tau Linda? Ini hanya sebuah formalitas belaka. Yang paling penting adalah, mereka-mereka itu, bisa terbebas selama satu minggu. Dengan menikmati apa yang ingin mereka nikmati."


"Selebihnya, acara training ini hanya untuk sebuah laporan saja. Bagi manager-manager itu."


Pak Rudi mengatakan bahwa, semua ini biasa terjadi. Bukan hanya sekali ini saja.


Karena training seperti ini, juga kadang dimanfaatkan oleh para manager, untuk mendapatkan mangsa baru.

__ADS_1


Baik untuk seterusnya, atau hanya di waktu masa training saja.


__ADS_2