Tante Melinda

Tante Melinda
Siapa Yang Menelpon?


__ADS_3

Linda tiba di rumah jam sepuluh malam. Dia mematikan mesin motornya, begitu tiba di depan rumah.


Clek!


Pintu terbuka. Muncul Ferry dari dalam rumah. "Sini Dek," pinta Ferry, yang membantu Linda untuk memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah.


Linda menyerahkan sepeda motor pada suaminya. Dia sendiri, berjalan di belakang, untuk masuk ke dalam rumah.


"Erli mana Mas, sudah tidur?" tanya Linda, yang tidak melihat keberadaan anaknya.


"Iya. Baru saja tidur. Tadi, sudah makan kok. Nanyain Kamu juga," jawab Ferry, memberitahu pada Linda, dengan keadaan Erli tadi.


Beberapa saat kemudian, "Linda mandi dulu Mas," kata Linda pamit, setelah melihat keluar dari dalam kamar anaknya tadi.


Ferry hanya mengangguk saja. Dia menyiapkan makanan untuk istrinya, karena tahu jika, Linda pasti merasa lapar sepulang kerja lembur malam ini.


Setelah beberapa saat, Linda keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat suaminya yang sudah duduk menunggu dirinya di meja makan.


"Mas belum makan?" tanya Linda, yang melihat jika makanan yang ada di atas meja masih banyak. Dan hanya berkurang sedikit.


Itu artinya, hanya Erli saja yang baru makan makanan tersebut.


"Sengaja nungguin Kamu Dek," jawab Ferry sambil tersenyum. Melihat keadaan Linda yang terlihat lebih segar karena baru saja selesai mandi.


Akhirnya, Linda duduk di kursi yang ada di depan Ferry. Dia mengambil piring suaminya, kemudian di isi dengan nasi, sayur dan lauk pauk. Baru setelah itu diserahkan kepada suaminya.


"Ini Mas."


Dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Ferry menerima piring tersebut.


"Terima kasih Dek," ucap Ferry setelah menerima piringnya.


Linda pun ikut mengangguk. Kemudian dia mengisi piringnya sendiri, untuk ikut makan malam juga bersama dengan suaminya.


Seperempat jam kemudian. Keduanya sudah selesai membereskan peralatan makan mereka.


Dan sekarang, mereka berdua bersiap-siap untuk tidur. Jam sudah menunjuk mendekati ke arah angka sebelas. Sudah hampir tengah malam.


*****


Tok tok tok!


"Ma... Mama, Papa! Huhuhu..."


Lewat tengah malam, Erli terbangun dan menangis. Dia keluar dari dalam kamar, kemudian mengetuk-ngetuk pintu kamar papa dan mamanya.


Tok tok tok!


Tok tok tok!

__ADS_1


Clek!


Pintu di buka papanya. "Sayang. Kenapa?" tanya Ferry, yang terbangun dari tidurnya. Dia tentu merasa terkejut dengan panggilan Erli pada tengah malam.


Begitu juga dengan Linda yang ikut terbangun. Sekarang, dia berdiri disamping suaminya, yang sedang bertanya kepadanya anaknya, Erli.


"Mama... Huhuhu..."


Erli beralih pada mamanya. Dan akhirnya, Linda yang mengendong anaknya itu agar tidak menangis lagi.


Sekarang, mereka bertiga duduk di kursi tamu, dengan Erli yang masih dalam keadaan sesenggukan.


"Mungkin dia sedang bermimpi," ujar Ferry, dengan menebak apa yang terjadi pada anaknya itu.


"Iya. Bisa jadi begitu Mas," sahut Linda.


Tapi kedua tidak juga bertanya pada Erli. Mereka membiarkan Erli yang masih belum sepenuhnya selesai menangis.


Setelah beberapa saat kemudian, Erli tampak mulai tenang. Dia juga tidak lagi sesenggukan seperti tadi. Hanya sesekali saja masih terdengar, tapi tidak se_intens tadi.


"Sayang mimpi apa?" tanya Li, di saat dia merasa jika anaknya sudah bisa diajak berbicara.


"Hiks... Itu Ma. A_ada orang hitam, besar tapi Erli tidak tahu siapa. Orang itu ngejar-ngejar Erli Ma. Mau ajak Erli pergi. Hiks... Erli gak mau pergi Ma," jawab Erli, yang sesekali masih terdengar isakan tangisnya.


Sekarang Linda dan juga Ferry merasa yakin bahwa, anaknya itu tadi sedang bermimpi buruk. Itulah sebabnya, dia jadi ketakutan seperti ini.


"Itu tadi Erli cuma mimpi saja kok."


Erli mengangguk cepat. Dia merasa sangat senang, karena bisa tidur dengan mama dan juga papanya malam ini.


Orang hitam dan besar itu, pasti tidak akan pernah berani datang lagi ke mimpinya. Karena ada mama dan papanya yang akan ikut menjaga dirinya selama tidur.


Begitulah kira-kira pemikiran yang ada di dalam hatinya Erli.


****


Pagi harinya, Erli tidak mau ikut bersama dengan papanya ke pengilingan padi.


"Tapi, Mama harus kerja Sayang," kata Linda, mencoba memberikan pengertian kepada anaknya itu.


"Tapi Erli bosan Ma."


Baik Linda maupun Ferry jadi kebingungan sendiri, menghadapi tingkah anaknya yang tidak biasanya seperti ini.


"Gini aja, Erli ikut Papa. Dan mama pergi kerja. Nanti, Papa antar Erli ke rumah simbah. Bagaimana Sayang?" tanya Ferry pada anaknya itu. Dengan maksud untuk membuat Erli melepaskan diri dari mamanya, yang harus segera berangkat kerja.


"Bener ya Pa?" tanya Erli, yang memastikan bahwa perkataan papanya itu tidak bohong.


"Iya-iya. Gak bohong kok Papa."

__ADS_1


"Yeee... ke rumah simbah. Erli mau main boneka sama temen." Sepertinya Erli merasa sangat senang. Karena sebentar lagi akan ke rumah simbahnya.


Itu artinya, dia bisa bermain bersama dengan anak-anak kecil yang ada disekitar rumah Simbah nya juga.


"Dek.. Sepertinya, Erli butuh teman deh. Bagaimana kalau..."


"Mas..."


"Hehehe... gak apa-apa kan Dek? Erli udah mulai sekolah TK tahun depan juga. Udah besar dia. Waktunya untuk punya adek baru," tutur Ferry dengan berbisik-bisik. Untuk memberitahu pada istrinya.


Tapi sepertinya Linda tidak tertarik, dengan pembicaraan yang diucapkan oleh suaminya itu. Dia tampak acuh, dan segera memindahkan Erli dari gendongannya kepada Ferry.


"Kalau begitu Linda berangkat dulu Mas. Keburu macet di jalan," ucap Linda setelah Erli berpindah pada suaminya.


Setelah berpamitan dengan Erli, Linda mencium tangan suaminya, kemudian melambaikan tangan pada keduanya. Pada Erli dan juga Ferry.


Tak lama kemudian, Linda melajukan motornya, untuk pergi ke tempat kerjanya.


Karena semakin siang dia berangkat dari rumah, jalan-jalan akan semakin ramai dan juga macet.


Bisa-bisa, dia akan datang terlambat untuk masuk kerja hari ini.


*****


Di rumah, Ferry juga sudah bersiap-siap dengan Erli. Dia sudah menghubungi Danang, jika Erli ingin bermain ke sana.


..."Ya Mas. Danang juga di rumah kok. Wisuda masih seminggu lagi." ...


Begitulah tadi Danang menjawab telponnya. Jadi, Ferry juga lebih tenan. Di saat meninggalkan anaknya di rumah simbahnya.


"Yuk Sayang!" ajak Ferry, dengan menjinjing tas untuk keperluan Erli seperti biasanya.


"Ke rumah simbah kan Pa. Ke rumah om Danang?" tanya Erli memastikan.


Ferry mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh anaknya. Dan setelah melihat papanya mengangguk, Erli berseru dengan senang hati.


"Horeee!"


"Ngeng... ngeng... ngeng!"


Erli juga menirukan suara mesin motor, sama seperti lagu dangdut yang lagi viral.


"Hahaha... Adek-adek," ucap Ferry dengan tertawa-tawa senang. Karena melihat tingkah anaknya yang mengemaskan.


Kini, keduanya sudah ada di atas motor. Mesin motornya juga sudah dihidupkan. Tapi tiba-tiba, handphone milik Ferry berdering.


..."Ya hallo!" ...


..."Mas Ferry. Mas Ferry Bisa bantu Saya sekarang? penting ini Mas."...

__ADS_1


Ferry mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh orang yang sedang menelepon dirinya pagi ini.


__ADS_2