Tante Melinda

Tante Melinda
Bukan Soal Penyakit


__ADS_3

"Apa kabar Dek?"


Linda belum habis dengan rasa terkejutnya, melihat keberadaan Della dan kakaknya, yang baru saja datang dan menegurnya tadi. Dan kini, kakaknya itu justru menanyakan tentang kabarnya.


"Emhhh... Lin_Linda baik Kak."


Dengan gugup, Linda menjawab pertanyaan tersebut dengan pandangan yang tidak fokus.


"Mari Dell, kak Romi. Silahkan duduk. Ini masih ada kursi yang kosong kok," ajak Danang, menawari kedua orang yang menyambanginya. Untuk mencairkan suasana tegang yang dialami oleh kakaknya.


Dua orang tersebut adalah Della, yang bersama dengan kakaknya. Yaitu Romi.


"Iya. Terima kasih."


Della mengucapkan terima kasih, sedangkan Romi hanya menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum ramah.


'Della kerja di sini, itu seragamnya... tapi sejak kapan dia kerja di sini?'


'Kak Romi juga, kok ada di sini. Gak mungkin kan dia kerja di sini juga. Secara, pakaiannya juga bukan seragam. Tapi pakaian bebas.'


Linda berbicara sendiri dalam hatinya. Menebak-nebak, dan juga bertanya tentang kedua orang yang saat ini sudah duduk di depannya.


"Mau makan apa Dell, kak Romi? biar sekalian Danang pesankan. Tadi kami sudah pesan soalnya," tawar Danang, yang diangguki oleh Della dan juga Romi.


"Kakak mau makan apa?" tanya Della, yang belum menyebutkan jenis makanan apa yang dia inginkan. Karena menunggu kakaknya.


"Kakak nasi soto Dell. Kamu terserah mau makan apa."


"Soto juga lah." Della menyahut cepat.


"Minumnya es teh ya Kak Danang!"


"Ok. Berarti pesan soto semua ya?"


Pertanyaan yang diajukan oleh Danang, diangguki oleh Della dan Romi. Kemudian Danang pergi untuk melakukan pesanan lagi pada pihak penjualnya. Sekalian untuk minumannya juga.


Romi yang sudah lama tidak bertemu dengan Linda, sebenarnya ada banyak sekali yang ingin dia bicarakan.


Sama seperti Linda juga.


Tapi, sepertinya mereka berdua tidak bisa berbicara dengan bebas di tempat ini.


Akhirnya, mereka berdua hanya bisa diam dan saling melirik satu sama lain. Kemudian sama-sama tersenyum canggung, jika bersirobok dan ketahuan.


"Hhh... tadi, Kamu belum jawab pertanyaan yang Aku ajukan lho Dek."

__ADS_1


Tiba-tiba, Romi mengingatkan pada Linda, tentang pertanyaan yang tadi dia ajukan. Karena Linda memang belum menjawabnya.


Linda dan Della sama-sama mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang tadi ditanyakan oleh Romi.


"Ini es nya dulu."


Linda baru mau membuka mulutnya untuk bicara, tapi Danang sudah datang dengan membawa nampan berisi empat gelas es teh.


Tak lama kemudian, Danang sudah kembali lagi. Dengan membawa nasi soto pesanan mereka berempat.


Pada jam makan siang seperti ini, semua warung memang ramai dan sibuk. Sehingga pemilik warung ataupun pelayanannya, akan kerepotan mengurus semua pesanan pembeli yang datang.


Untuk meringankan beban tugas dan pekerjaan mereka, karena tidak mau antri terlalu lama juga, para pembeli biasanya akan ikut membawa makanan mereka sendiri ke tempat mereka makan.


Itulah sebabnya, Danang yang mengalah untuk pergi mengambil pesanan mereka. Dari pada harus menunggu lebih lama lagi. Karena pembeli yang datang semakin banyak.


"Terima kasih Kak," ucap Della, dengan tersenyum senang.


"Makasih Nang."


Romi juga ikut mengucapkan terima kasih kepada Danang. Karena membuat Danang menjadi kerepotan.


"Mari makan..."


Danang masih mencoba untuk membuat suasana menjadi ramai, dari pada semuanya terdiam. Karena bingung mau berkata apa. Sama seperti yang dilakukan oleh Linda dan juga Romi.


Selesai makan siang, mereka bersama-sama berjalan menuju ke tempat kerja masing-masing.


"Della sejak kapan kerja di sini?"


Akhirnya Linda punya kesempatan untuk bertanya pada Della.


"Baru kok Mbak. Belum lama." Della menjawab pertanyaan tersebut, dengan tidak menyebutkan secara pasti, berapa lama dia sudah bekerja di perusahaan ini.


Linda pun mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Della barusan.


'Pantes Aku baru liat. Atau Aku yang tidak biasa memperhatikan orang-orang?' batin Linda bertanya pada diri sendiri.


"Kamu gak tanya soal Aku Dek?"


Sekarang, Romi yang merasa iri. Karena sedari tadi, Linda seperti menghindar dari dirinya. Bahkan pertanyaan yang diajukan tadi, yang sekedar bertanya kabar. Tidak di jawab Linda juga.


Linda pun hanya meringis canggung, karena merasa di sindir Romi.


"Mbak Linda!"

__ADS_1


Febriyanto ternyata juga sedang berjalan masuk menuju ke tempat kerja. Dan kebetulan mereka, yang tadinya keluar bersama, kini masuk juga bisa bersama lagi.


Di samping Febriyanto, ada Aria yang bersikap biasa saja.


"Maaf ya, Aku duluan."


Linda pun akhirnya pamit untuk berjalan dengan Febriyanto dan Aria. Karena waktu untuk istirahat siang juga tinggal sepuluh menit lagi. Sedangkan jarak menuju gedung butuh waktu cukup lama, karena jaraknya memang lebih jauh dari pada HRD dan gedung PPIC.


Tanpa menunggu jawaban dan persetujuan dari Danang maupun Romi, Linda berjalan cepat menuju ke arah Febriyanto dan Aria.


"Mbak Linda bukannya di gedung tempat manager Rudi Kak?" tanya Della, yang ditujukan pada Danang.


Della bertanya demikian, karena melihat id card yang dikenakan oleh kedua cowok tadi bukan dari gedung produksi. Tapi dari gedung material.


"Baru pindah kemarin katanya. Kamu gak tahu ya? Kan Kamu di HDR Del?"


"Oh baru kemarin. Biasanya surat mutasi baru di buat, satu hari setelah diputuskan. Berarti hari ini dibuatnya."


Romi yang tidak tahu apa-apa tentang situasi pabrik, hanya diam mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua.


Dia tidak menyela ataupun bertanya tentang keadaan pabrik. Yang saat ini dia tangani proyeknya.


"Kakak ke sana ya!"


Sekarang Romi yang pamit untuk pergi ke area parkir. Karena tim kerjanya juga ada di parkiran sana.


"Iya Kak."


Danang dan Della, bersamaan menjawab.


*****


Bapaknya Linda, sedang melakukan pemeriksaan ulang di rumah sakit. Diantar oleh istrinya, dengan menyewa mobil tetangga.


"Masih ada keluhan Pak?" tanya dokter, saat melakukan pemeriksaan.


"Tidak ada Pak dokter," jawab bapaknya Linda, sambil tersenyum. Agar membuat dokter percaya dengan ucapannya.


"Bapak tidak usah memikirkan banyak hal dulu ya. Biar cepat pulih. Karena penyebab suatu penyakit, itu bukan karena asli dari penyakitnya saja. Tapi ada faktor lain, terutama pada pikiran orang tersebut."


Dokter menasehati bapaknya Linda, masih dengan pekerjaannya. Yaitu memeriksa kondisi tubuh bapaknya Linda.


'Dokter mah enak, asal bicara. Mana ada manusia kok disuruh gak punya pikiran. Orang gila itu.'


'Apalagi orang tua seperti Aku ini. Di bilang gak punya beban, ya tetap saja banyak beban. Orang lain melihat Aku enak, karena anak-anak sudah pada besar. Tapi mereka juga tidak tahu, beban pikiran apa yang sebenarnya ada di dalam hati dan pikiranku ini sedari dulu.'

__ADS_1


Bapaknya Linda terus berbicara dalam hati, sama seperti yang biasa dia lakukan selama ini. Karena dia memang lebih banyak diam, sedari dulu.


__ADS_2