Tante Melinda

Tante Melinda
Di Mata Orang Lain


__ADS_3

Danang mengajak keponakannya, Erli, naik motor. Ada juga anak-anak yang lain, yang ikut bersama dengan Erli.


"Gantian ya yang ikut muter-muter. Kalau semua ikut gak muat motor om Danang," ujar Danang, pada saat anak-anak kecil itu berebutan untuk bisa ikut bersama naik motor.


Akhirnya dengan terpaksa, mereka menurut. Menuggu hingga Danang kembali, dan mengajak mereka untuk kembali mengitari jalanan kampung.


Jadi, mereka bergiliran dan tidak jadi berebut. Karena semua mendapatkan kesempatan. Untuk ikut muter-muter bersama dengan Danang dan juga Erli. Hal yang jarang terjadi, karena Erli juga jarang berada di rumah simbahnya ini.


Linda sedang ke warung. Ferry sudah berangkat ke pengilingan padi. Karena tidak ada hari libur, untuk para pedagang seperti dirinya.


Jika ingin beristirahat dan libur kerja, menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada pada saat itu.


"Linda. Sekarang sudah kerja ya di pabrik yang besar itu?" tanya Bu lek warung.


"Ya Bu Lek."


Linda menjawab pertanyaan tersebut, dengan singkat.


"Itu lho, istri keponakannya Bu lek. Ajak kerja di sana. Biar gak cuma nganggur aja di rumah. Ngandelin suaminya tok!"


Dengan menautkan kedua alisnya, Linda memikirkan apa yang dikatakan oleh Bu Lek warung. Karena yang dua tahu, istri dari keponakannya itu sedang merawat bayi. Yang kemungkinan baru berusia sepuluh bulan.


"Bukannya anaknya masih kecil ya Bu Lek? masih bayi kan?" tanya Linda memastikan bahwa, memang istri dari keponakannya itulah yang tadi di maksud oleh Bu Lek warung.


"Iya. Udah besar kan itu. Bentar lagi juga bisa jalan. Biar Bu Lek yang jagain jika dia kerja. Kan lumayan Lin, bisa buat bantu-bantu suaminya. Biar bisa cepat bikin rumah juga. Gak ikut mertuanya terus."


Bu Lek warung, memberikan pendapatnya tentang keponakannya itu.


"Ya nanti juga bisa Bu Lek. Rejeki orang kan beda-beda." Linda memberikan penjelasan kepada Bu Lek warung.


"Apanya! Dia memang malas saja itu Lin!"


"Kamu sih enak ya Lin. Jadi istrinya polisi, langsung punya rumah. Meskipun sekarang suami Kamu sudah gak jadi polisi, tetap saja bisa usaha. Dan Kamu juga bisa kerja enak. Secara, Kamu itu kan cantik. Suami Kamu mantan polisi. Pasti ada banyak teman yang ada di kantor perusahaan itu kan ya!"


Linda tersenyum canggung. Di saat mendengar semua perkataan Bu lek warung tentang keadaan dirinya dan juga keluarganya.


Semua orang di kampung Linda sudah tahu jika, Ferry sudah tidak lagi menjadi seorang polisi. Dan ada banyak versi, yang beredar di kampungnya Linda ini, kenapa Ferry tidak lagi menjadi seorang polisi.

__ADS_1


Tapi yang mereka tahu hanya enaknya saja. Karena setelah tidak lagi menjadi seorang polisi, Ferry tetap bisa melakukan apa-apa. Sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dan menjadi pedagang beras di pengilingan padi besar, juga tidak semua orang bisa.


Harus punya modal yang banyak. Karena harus membeli padi dalam jumlah yang cukup banyak juga. Agar bisa dijadikan barang dagangan. Baik beras dan sebagainya.


Para tetangga, hanya melihat bagaimana kehidupan Linda yang selalu beruntung. Karena Linda memiliki kecantikan yang tidak dimiliki oleh orang lain.


Itulah sebabnya, banyak dari mereka, para tetangga, yang menginginkan anaknya menjadi gadis cantik. Supaya bisa menikah dengan orang kaya, atau punya pangkat. Untuk bisa menikmati kehidupan yang lebih baik lagi dari pada cuma menjadi orang kampung, dan menikah dengan orang kampung yang tidak mampu juga.


"Jika ada niatan kerja. Melamar saja ke perusahaan Bu Lek. Ada yang akan memberikan penjelasan kok di sana."


Dengan memberikan penjelasan, Linda berharap supaya para tetangganya tidak berpikir bahwa, dia bisa dengan mudah mengajak orang lain, terutama yang dia kenali, untuk diajak kerja di tempatnya saat ini.


"Ini sudah semua Bu Lek. Tolong di hitung jumlahnya."


Bu Lek warung, segera menjumlahkan semua harga barang kebutuhan yang di beli Linda. Dia juga tidak lagi bertanya-tanya, tentang pekerjaan dan pabrik tempat Linda bekerja.


Setelah Linda membayar belanjaannya, Bu lek warung mengerutu sendiri. "Huh! Bilang aja tidak mau ngajak! Tidak mau orang lain punya uang banyak juga dari gaji pabrik. Awas saja nanti. Biar anakku saja yang masuk kerja di sana. Setelah dia lulus sekolah tahun ini."


Bu Lek warung merasa jika, Linda keberatan untuk menolong istri dari keponakannya yang dia sebut tadi.


Padahal Linda tidak bermaksud seperti itu. Karena pekerja pabrik, tidaklah semudah dan seringan pemikiran orang-orang di luar sana.


Sangat jauh berbeda, dan tidak sama.


*****


Ferry bersiap untuk pulang ke rumah mertuanya, pada siang hari. Waktu istirahatnya siang ini, digunakan untuk menjemput istri dan anaknya. Yang masih berada di rumah mertuanya.


"Gak makan Ferr? Atau mau makan ke luar, cari warung?" tanya pemilik pengilingan padi, yang pada hari ini baru saja datang.


"Gak. Aku mau ke rumah mertuaku. Mau jemput istri dan anakku."


Pemilik pengilingan padi, mengerutkan keningnya. Di saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Ferry.


"Kamu baik-baik saja kan dengan istri Kamu itu?" tanya pemilik pengilingan padi lagi.


Dia berpikir jika, Ferry sedang ada masalah lagi dengan istrinya. Sama seperti waktu dulu, saat Ferry masih menjadi anggota kepolisian.

__ADS_1


"Gak. Aku baik-baik saja kok," sahut Ferry dengan cepat.


"Semalam Kami menginap di sana. Fan pagi tadi, anakku belum mau pulang. Katanya siang aja minta di jemput." Ferry memberikan penjelasan tambahan, agar pemilik pengilingan padi tidak memiliki pemikiran yang jelek dari apa yang dia katakan tadi.


"Oh, syukurlah kalau begitu."


Ferry mengangguk dan tersenyum tipis. Di saat pemilik pengilingan padi merasa lega, setelah mendengar penjelasan yang dia berikan.


"Ya sudah, hati-hati!"


Ferry melambaikan tangan ke arah pemilik pengilingan padi, yang masih menatapnya dengan tatapan rasa kasihan.


"Sebenarnya Aku tidak tega Ferr, dengan nasib Kamu ini. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini juga salahmu sendiri. Semoga saja, Kamu tidak akan pernah melakukannya lagi di kemudian hari."


Pemilik pengilingan padi, bergumam seorang diri. Setelah Ferry pergi dan tidak lagi terlihat olehnya.


Setelah itu, pemilik pengilingan padi masuk ke dalam. Dia ingin mengecek stok padi yang masih tersisa di gudang.


Tapi, di saat dia baru saja mulai menghitung karung-karung yang tertumpuk rapi, handphone miliknya yang ada di kantong celana berdering.


"CK. Siapa lagi yang telpon ini?"


Dengan berdecak kesal, pemilik pengilingan padi merogoh kantong celananya, untuk mengambil handphone miliknya.


..."Halo Mas!"...


..."Bagaimana?" ...


..."Semuanya aman Mas."...


..."Syukurlah kalau begitu. Semoga saja tidak ada lagi kejadian yang sama seperti kemarin-kemarin." ...


..."Ya Mas. Jika ada sesuatu yang terjadi, Saya pasti akan memberikan kabar Mas." ...


..."Baiklah. Terima kasih!" ...


Klik!

__ADS_1


Panggilan telpon terputus. Pemilik pengilingan padi, menghela nafas panjang. Baru kemudian membuangnya perlahan-lahan.


__ADS_2