Tante Melinda

Tante Melinda
Sebuah Harapan


__ADS_3

Masalah yang sedang dihadapi oleh pamannya, membuat Romi ikut merasa pusing juga. Sebab, pamannya itu memintanya untuk membantu, dengan memberikan modal dalam jumlah yang besar.


Padahal, uang tabungan romi sudah digunakan untuk memperbesar usahanya di kota besar.


Dan yang sekarang masih ada, rencananya akan digunakan untuk pesta pernikahannya nanti bersama dengan Linda.


Tapi Romi juga berpikir bahwa, seandainya keinginan Pamannya itu tidak terpenuhi. Maka Pamannya juga bisa nekat, dengan melakukan apa saja. Termasuk merebut Linda darinya. Meskipun dengan cara apapun, termasuk menggunakan cara halus, alias guna-guna.


"Paman. Romi sudah tidak punya uang tabungan dengan jumlah yang banyak. Ini ada sedikit, tapi mau Romi gunakan untuk pernikahan Romi nanti Paman."


Saat ini, Romi sedang memberikan pengertian kepada pamannya itu. Supaya pamannya tidak mendesaknya terus-menerus.


"Tapi Rom. Paman sudah tidak punya apa-apa lagi. Semua uang Paman, sudah masuk ke investasi bodong tersebut. Jadi, paman sudah bangkrut ini!"


Romi memperhatikan pamannya, yang memang terlihat sangat stres. Dengan wajahnya yang tampak kusut, dan tidak ada aura bahagia sama sekali.


Padahal selama ini, Romi mengenal Pamannya itu sebagai seorang laki-laki yang selalu tampak cerah. Dan tidak pernah punya masalah, karena merasa semua hal bisa dilakukan dengan mudah.


Tapi saat ini memang benar-benar berbeda.


"Berapa sajalah Rom. Paman tidak mau, jika istri Paman itu nantinya ngomel-ngomel sepanjang hari."


Ternyata, pamannya itu sedang mengkhawatirkan hubungannya dengan istri keduanya. Yang suka bergaya sosialita. Dengan mengenakan barang-barang branded.


Hal ini membuat pamannya risau, seandainya tidak bisa memenuhi keinginan istrinya itu.


"Makanya Paman gak usah nambah-nambah istri lagi! Dua orang saja sudah kerepotan gitu kok!" terang Romi, menyindir pamannya. Supaya tidak punya keinginan untuk menambah istri lagi.


"Ck! Itu beda lagi Rom. Lagipula, enak lho, punya istri banyak! Kamu bisa di servis dan dimanjakan setiap saat. Tanpa harus ada hari libur. Coba jika punya satu istri! Tiap bulannya, pasti ada libur minim seminggu. Kagok lah Rom!"


Romi menggaruk-garuk kepalanya sendiri, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Pamannya. Yang selalu bersemangat, jika membicarakan tentang wanita.


"Tapi Paman..."


"Udah. Gak usah tapi-tapi! Intinya ini, Kamu mau gak bantu Paman?" todong pamannya, langsung pada inti.


"Iya. Romi mau. Tapi, tidak bisa banyak-banyak Paman! Gak apa-apa kan?"


Pamannya Romi tampak berpikir sejenak, mempertimbangkan apa yang harus dia putuskan. Sebab, jika dia tidak mau menerima tawaran Romi ini. Dia juga tidak tahu harus meminjam pada siapa. Sedangkan jika dengan Romi, dia tidak perlu meminjam. Sebab, Romi akan memberikannya secara cuma-cuma. Meskipun jumlahnya memang tidak bisa mencukupi kebutuhannya secara keseluruhan.


Tapi setidaknya, untuk sementara waktu ini, dia tidak perlu memusingkan tentang keuangannya.

__ADS_1


"Baiklah. Paman terima. Tapi, jika nanti Kamu sudah punya uang lagi, Paman di kasih lagi ya!" ujar pamannya itu, dengan tidak tahu malu. Karena meminta lebih pada keponakannya.


Meskipun dulu dia adalah orang yang merawat Romi dan Della, tapi ada beberapa barang dari peninggalan orang tuanya Romi, yang saat ini sudah menjadi hal milik pamannya itu.


Tapi Romi maupun Della sendiri, tidak pernah mengungkit hal itu lagi. Karena mereka berpikir bahwa, mereka berdua berhutang budi pada Pamannya itu.


Jadi, barang peninggalan kedua orang tuanya, juga tidak pernah di ungkit.


Cuma tanah yang lumayan luas, yang saat ini dijadikan rumah Romi, dengan pekarangannya yang juga luas.


Akhirnya, Romi mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan oleh pamannya. Dia hanya menyisakan sedikit, untuk persiapan pernikahannya bersama dengan Linda.


"Nih Paman! Romi cuma nyisa segini, buat pernikahan Romi nanti. Paman hati-hati ya, jika mau menanam modal. Karena saat ini, banyak sekali penipuan yang berkedok investasi. Dengan iming-iming keuntungan yang sangat besar."


"Iya-iya! Cerewet sekali Kamu kayak mulutnya bibi Kamu itu!" gerutu pamannya, yang membandingkan Romi dengan istri keduanya.


Yang dimaksud dengan sebutan bibi adalah istri keduanya itu.


Tapi Romi tidak marah. Dia hanya nyengir kuda, mendengar gerutuan Pamannya. Yang sedang membandingkan dirinya dengan istrinya sendiri.


"Ya sudah, Paman mau balik dulu. Terima kasih ya!" pamit pamannya, yang terdiri dari tempat duduknya.


Mereka saling tegur dan sapa, meskipun hanya sekedar basa-basi.


Tak lama kemudian, pamannya itu benar-benar sudah pergi dari rumah Romi.


"Paman ada keperluan apa Mas datang ke sini?" tanya Della dengan rasa curiga.


"Gak apa-apa kok. Cuma membicarakan tentang rencana pernikahannya Mas aja."


Romi tidak memberikan jawaban yang sebenarnya pada adiknya itu, karena dia tidak mau jika adiknya itu jadi semakin tidak respect pada pamannya sendiri


Danang hanya diam saja, dan tidak bertanya tentang apapun soal pamannya itu. Dia tidak mau ikut campur, dalam urusan keluarga besar istrinya, khusunya yang berkaitan dengan pamannya Della. Yang ternyata punya hobi kawin.


Apalagi Danang juga tahu, jika paman dari istrinya itu, punya niatan pada kakaknya Linda. Untuk dijadikan sebagai istri ketiga.


Danang merasa bersyukur, karena pada akhirnya, kakak iparnya sendiri yang akan menikah dengan Linda.


Dia ingin, supaya Linda bisa hidup bahagia bersama dengan keluarganya nanti.


*****

__ADS_1


Di rumah sewaan pak Rudi.


Pak Rudi sedang berbincang-bincang dengan para tamunya, yang kebanyakan adalah orang-orang penting di perusahaan tempat dia bekerja.


Mereka semua membahas tentang banyak hal. Baik itu soal pekerjaan, uang binusan dan tunjangan, serta gebetan mereka semua.


"Wah, bagusnya ini ada cewek-cewek kita juga! Kita bisa main rame-rame nanti," ujar pak Rudi, yang memang punya kelainan soal itu. Karena dia bersemangat jika membicarakan tentang hal yang nyeleneh ini.


"Hahaha..."


"Kapan-kapan bisa diagendakan itu!"


"Aku mendukung pokoknya!"


Teman-temannya itu, banyak yang mendukung dan memberinya semangat.


"Memangnya Pak Rudi sudah punya gebetan lagi?" tanya pak Komarudin, yang belum pernah melihat gebetannya barunya pak Rudi.


Pak Rudi tersenyum miring, meremehkan pertanyaan dari pak Komarudin.


"Ck! Soal cewek msh gampang! Apa sih susahnya dapat cewek di pabrik? Asal kita punya ini, cewek-cewek juga klepek-klepek!"


Pak Rudi berkata dengan bangga sambil menunjukkan kantong celananya.


Dia merasa bangga, karena selama ini dia tidak pernah gagal mendapatkan cewek manapun yang dia inginkan.


Sayangnya, ada satu cewek yang kemarin mempermasalahkan dan membuatnya menjadi sebuah kasus. Yang akhirnya membuat namanya sedikit tercemar.


Apalagi setelah itu, Linda juga tidak mau dia dekati. Bahkan dia juga sudah menggunakan pak Komarudin, untuk bisa menarik Linda lagi. Tapi sayangnya, Linda menolak dan tetap tidak mau. Bahkan, Linda juga memberikan ancaman.


"Sebenarnya Aku tidak ada niatan untuk kencan sama cewek-cewek lain. Aku masih pengen leader Linda. Sayangnya, dia belum bisa masuk kerja."


Pak Rudi masih memamerkan kedekatannya dengan Linda di masa lalu. Yang sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang, jika dia dan Linda, pernah berseteru. Sehingga Linda dipindah ke gudang material.


Tapi pak Rudi tidak mau tahu. Dia masih saja berpikir bahwa, Linda hanya sedang marah, sehingga menghindari dirinya. Karena sikapnya yang kemarin.


Dan akhirnya, pak Rudi punya niatan untuk menyambangi rumah Linda besok. Untuk menjenguk mantan bawahannya dulu.


Dia ingin tahu, bagaimana reaksi dari Linda. Seandainya dia datang ke rumah, dan bicara secara langsung.


Pak Rudi berharap, supaya Linda bisa menerimanya dengan baik. Bahkan jika mungkin, hubungannya dengan linda akan membaik lagi.

__ADS_1


__ADS_2