
Bekerja di gudang kayu, tentu membuat Linda harus banyak belajar, tentang keluar masuk barang, yang ada di gudangnya. Dan ini tentunya, tidak sama seperti waktu bekerja di toko baju.
Beruntung, orang-orang yang ada di gudang kayu tersebut, baik dan mau mengajari, apa-apa yang tadi ketahui oleh Linda.
Tapi, saat mandor gudang datang memeriksa, dia sering kali memperhatikan Linda.
Mungkin karena Linda tampak berbeda, di banding dengan anak buahnya yang lain. Apalagi, di gudang kayu ini, hanya ada dua cewek, yang bekerja.
Berbeda dengan gudang kayu di sebelah.
Di gudang yang itu, ada banyak cewek-ceweknya, karena merupakan gudang untuk produksi.
Jadi, di sana ada lebih banyak orang, di banding dengan gudang yang ditempati oleh Linda.
"Dia karyawan yang baru itu kan?" tanya pak mandor, pada salah satu pegawainya, yang memang berada di gudang yang sama seperti Linda.
"Iya Bos," jawan orang tersebut, tanpa memberikan keterangan apa-apa lagi.
"Kayak bule gitu. Apa dia blesteran? Atau, hasil dari emaknya waktu jadi TKI di luar negeri?" tanya mandor gudang tersebut, meragukan asal usul Linda yang sebenarnya.
"Wah, kurang tahu kalau itu Bos."
"Tapi... asyik gak anaknya?" tanya mandor itu lagi, saat memperhatikan Linda dari tempatnya berdiri, bersama dengan anak buahnya itu.
"Wah, gak tahu juga Bos. Mana berani kita-kita buat coba-coba kayak gitu, di pelototi Mbak Tami aja udah pada keder kitanya Bos!"
Mereka semua, para laki-laki yang ada di gudang tersebut, memang merasa takut dengan mbak Tami.
Jadi, menurut mereka semua, Mbak Tami itu galak dan menakutkan. Meskipun sebenarnya, mbak Tami juga pilih-pilih waktu, jika galaknya kumat.
Tapi karena mbak Tami merupakan keponakan pemilik gudang kayu tersebut, mereka semua juga menghormati dan tidak berani banyak tingkah. Meskipun mbak Tami tidak mempermasalahkan statusnya, di gudang tempat dia bekerja.
"Ah, si Tami aja nah gampang."
Mandor menyepelekan keberadaan mbak Tami, dan merasa jika mbak Tami tidak akan bisa melakukan apa-apa, jika dia yang bertindak sendiri.
"Bos, ati-ati. Kayaknya, si Linda itu bisa langsung mengambil hati mbak Tami lho!" salah satu pegawai yang lain, memperingatkan mandor tersebut.
"Halah, bisa apa dia?" sahut mandor, yang sok percaya diri.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dia berjalan menuju meja kerja, di mana ada mbak Tami dan Linda, yang sedang menyalin beberapa buku kwitansi.
"Hai Tami, bagaimana pembukuan yang kemarin, sudah selesai?" Pak mandor, pura-pura bertanya tentang buku laporan, yang dikerjakan oleh mbak Tami.
"Sudah. Tinggal tanda tangan saja ini Pak," jawab mbak Tami, dengan memberikan buku besar, yang merupakan buku laporan untuk gudang kayu ini.
"Emhhh... itu, yang baru. Apa aja kerjanya?"
Pak mandor menanyakan tentang pekerjaan yang dikerjakan Linda di gudang kayu ini.
"Ya... apa aja tentang pembukuan dan buat bukti keluar masuk barang Pak mandor." Mbak Tami yang menjawab pertanyaan dari pak mandor.
"Kok Kamu yang jawab? Aku kan tanya ke diam. Apa dia tidak bisa bicara, sehingga Kamu yang harus menjadi wakilnya?" Pak mandor, kembali bertanya, tapi dengan nada merendahkan.
Mungkin, Pak mandor tidak bermaksud merendahkan dan menyepelekan Linda. Tapi Mbak Tami menanggapi perkataan yang diucapkan oleh pak mandor, dengan serius.
"Maksud perkataan Pak mandor apa?" tanya Mbak Tami nyolot.
"Ah, Aku cuma bercanda Tami. Tidak usah di anggap serius. Aku hanya ingin berkenalan saja, dengan itu tuh!"
Pak mandor memainkan matanya, untuk menunjuk ke arah Linda.
"Huwek! jauh-jauh sana gih!"
"Halah! Bilang aja sih Mi, jika Kamu mau di goda juga. Hehehe..." ujar pak mandor, dengan nada bercanda.
Linda hanya bisa tersenyum-senyum, saat Pak mandor berbincang-bincang dengan mbak Tami.
Dia merasa senang, karena melihat pak mandor yang humoris dan tidak galak, sama seperti gambaran umum tentang mandor.
Namanya siapa Mi, anak baru itu?" pak mandor kembali memulai pembicaraan, saat tadi sempat terdiam beberapa saat.
"Tanya sendiri, kenalan kayak biasanya. Pake basa-basi, gak jaman," sahut Mbak Tami, tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh pak mandor, soal namanya Linda.
"Haduh Mi... Aku gak berani yang ini," kata pak mandor, sambil nyengir kuda.
"Kenapa?" tanya Mbak Tami cepat.
Padahal, Linda ada di tempat duduknya sendiri, dan itu ada di sebelah mbak Tami.
__ADS_1
Tapi karena pembicaraan mereka, hanya didominasi oleh mbak Tami dan pak mandor sendiri, akhirnya Linda hanya bisa diam saja.
Dia juga tidak menyahuti pertanyaan yang diajukan oleh pak mandor, yang tadi bertanya kepada mbak Tami, siapa namanya.
Namun, Linda tidak juga menjawab, karena merasa jika, pertanyaan itu memang ditujukan untuk mbak Tami.
Sebenarnya, Pak mandor sudah mempunyai istri. Tapi sayangnya, isterinya pak mandor pergi dari rumah.
Istrinya itu, minggat dari rumah, dan pergi bersama dengan mantan pacar, yang memang masih sering menghubungi dirinya.
Dan pak mandor tidak bisa melakukan apa-apa, karena pernikahan mereka berdua memang tidak didasari dengan rasa cinta.
Pernikahan itu dilakukan karena untuk balas budi. Sebab dulunya, orang tua istrinya, mertuanya pak mandor, ada kekurangan pangan, di saat keluarga tanaman gagal panen.
Awal menikah, Pak mandor tidak tahu apa-apa, tentang istrinya.
Dan baru beberapa bulan kemudian, pak mandor menyadari bahwa, istrinya itu berhubungan dengan mantan pacarnya, melalui pesan singkat atau SMS, dan juga sering telpon-telponan saat dia ada di tempat kerja.
"Mi. Itu anak baru buat Aku ya?"
Tiba-tiba, pak mandor berkata demikian, pada mbak Tami. Tentu saja, perkataan yang diucapkan oleh pak mandor, membuat Mbak Tami tidak percaya. Meskipun mbak Tami juga tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada pak mandor selama ini.
"Gak usah tebar pesona. Itu aja sih diurusi yang kabur. Gimana kabarnya?"
Mbak Tami justru mengingatkan kembali tentang istrinya pak mandor.
Meskipun sebenarnya mereka berdua, pak mandor dan istrinya, sudah berpisah, tapi secara hukum, mereka berdua masih sebagai suami istri.
Pak mandor terdiam. Dia tidak mau menjawab dan menanggapi pertanyaan mbak Tami.
Dan karena itu juga, sekarang Pak mandor pamit, untuk kembali ke gudang kayu bagian produksi.
"Aku balik dulu ya," pamit pak mandor, tanpa punya keinginan lagi, untuk mendekati Linda.
Mbak Tami jadi merasa bersalah, dan meminta maaf kepada pak mandor. "Pak maaf," ucap mbak Tami, yang tidak tahu, apa yang harus dia lakukan.
Pak mandor hanya mengangguk dan tersenyum samar.
Setelah itu, mbak Tami bercerita tentang pak mandor pada Linda. Meskipun sebenarnya Linda tidak bertanya juga.
__ADS_1
"Kasian dia Lin. Dia di tinggal pergi begitu saja oleh istrinya."
Linda hanya bisa diam dan mendengarkan saja, semua cerita yang disampaikan oleh mbak Tami padanya, tentang keadaan pak mandor, bersama dengan istrinya.