
Semua orang pernah ada pada posisi yang membingungkan, dengan adanya pilihan yang sangat sulit.
Sama seperti yang dialami Linda beberapa waktu ke belakang kemarin.
Di saat dia baru saja kehilangan suaminya, calon anaknya, dan cacat fisik yang harus dia alami akibat kecelakaan itu, dia juga dihadapkan pada pilihan untuk memilih jalan hidupnya dengan cepat.
Apakah dia harus tetap memilih pada posisinya, yang pada saat itu menjadi janda, atau menerima Romi yang merupakan mantan kekasihnya dulu.
Sebenarnya itu adalah pilihan yang cukup sulit juga bagi Linda. Karena belum ada satu tahun dia harus menikah lagi.
Padahal, kondisi fisiknya sendiri belum lah normal. Sebab, dia masih belum bisa berjalan dengan baik, dan masih membutuhkan bantuan dari orang-orang sekitarnya, untuk melakukan segala kegiatannya.
Tapi ternyata, suatu kejadian yang tidak pernah disangka oleh semua orang, termasuk Linda sendiri, menyebabkannya harus berani mengambil keputusan dengan cepat.
Meskipun setelahnya dia mendapatkan cemooh, sindiran dan perkataan yang tidak menyenangkan, dari orang-orang yang ada sekitarnya. Tapi Linda, yang sudah terbiasa dijadikan bahan pembicaraan, akhirnya mencoba untuk menutup mata dan telinga.
Dia hanya ingin membuat suatu keputusan, yang tidak merugikan dirinya sendiri dan juga orang-orang yang terdekat dengannya. Yaitu keluarganya sendiri.
Itulah sebabnya, meskipun sebenarnya dia belum sepenuhnya bisa menerima Romi, karena masih sedikit trauma dengan sebuah hubungan rumah tangga, dia harus mau menerima Romi, atau terpengaruh oleh guna-guna yang dikirim oleh pamannya Romi.
Akhirnya, Linda yang pada waktu itu keadaan mentalnya belum stabil, mencoba untuk berkata jujur, berperilaku sebagaimana mestinya tanpa harus berusaha untuk tetap tegar, menerima Romi, yang menurutnya tulus menyayangi, melindungi dan menjaga dirinya serta Erli.
Linda hanya berharap, supaya kehidupan pernikahan keduanya ini jauh lebih baik, dibandingkan dengan pernikahannya yang pertama kemarin.
Meskipun dia tidak pernah menyesali kehidupannya yang dulu. Tapi setiap orang pasti mempunyai harapan, dan keinginan, agar kehidupan selanjutnya akan lebih baik.
Itulah yang diharapkan oleh Linda, yang sekarang ini sudah menjadi istrinya Romi.
"Dek, besok Mas sudah mulai bekerja seperti biasanya. Tapi paginya Mas mau ke sekolah, mendaftarkan Erli dulu. Kamu mau ikut kan?" tanya Romi, yang memikirkan pendidikan Erli terlebih dahulu, sebelum dia memikirkan pekerjaannya.
"Iya pasti Mas. Masa iya Linda gak ikut? Nanti pas jemput sekolah gak tahu tempatnya, kan lucu!" sahut Linda, dengan mengerucutkan bibirnya. Karena gemas dengan pertanyaan dari Romi yang tadi.
"Hehehe... siapa tahu, Kamu masih mau istirahat saja di rumah dan waktunya jemput, bisa cari lokasi sekolah sendiri."
Linda tambah memberengut, mendengar perkataan Romi yang seperti mengejeknya.
Dan itu membuat Romi semakin senang, karena sudah berhasil mengerjai istrinya. Sehingga membuat Linda kesel dan juga gemas sendiri.
"Hiihhh..."
Linda yang sadar jika sedang dikerjai oleh suaminya itu, akhirnya hanya bisa gemas sendiri tanpa ada yang bisa dia lakukan.
"Hahaha..."
Romi justru tertawa senang melihat sikap Linda yang seperti sekarang ini.
"Sini, sini!"
Romi menarik tangan istrinya, untuk bisa lebih dekat dengannya, kemudian dia memeluk tubuhnya Linda.
"Umhh..."
Hidung Romi mengendus aroma tubuh istrinya, melalui ceruk leher. Yang membuat Linda merasa geli dan merinding sendiri.
"Eghhh... ehhh..."
__ADS_1
Romi justru ingin melakukan lebih pada tubuh istrinya itu, setelah melihat reaksi yang diberikan oleh istrinya itu.
Cup!
Romi mengecup singkat bibir istrinya, kemudian beralih ke leher lagi, dengan memberikan ciuman dengan tekanan-tekanan. Yang berakibat, adanya tanda kepemilikan di tempat tersebut.
Linda, menikmati semua perlakuan yang dilakukan oleh suaminya itu. Dengan mendesah nikmat, meskipun dia sudah berusaha untuk tidak bersuara.
"Emmm... Masss..."
"Keluarkan saja Dek, supaya Kamu juga ikut menikmatinya. Kamu tenang saja, kamar yang ini kedap suara kok, jadi Erli tidak bisa mendengar suara kita meskipun kamarnya dari sebelah kamar ini."
Linda justru merasa malu, di saat mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya.
Cup!
Sekali lagi, romi mengecup bibir Linda, supaya Linda mulai terbiasa dengan dirinya. Sebab, selama beberapa hari pernikahan mereka, hingga saat ini, dia memang belum pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman
Romi tahu jika, kondisi tubuh lingga belum bisa menerima dirinya sebagai suami yang seutuhnya. Apalagi, kakinya linda yang terpasang pen, juga masih perlu penyesuaian. Tidak bisa digerakkan sembarangan.
Tapi untuk Linda sendiri, sebenarnya dia sudah siap dengan apa yang akan dilakukan oleh Romi. Jadi dia masih menunggu, apa yang akan diputuskan oleh suaminya.
Apakah mereka akan bisa melakukannya, bagaimana mestinya sepasang suami istri. Atau masih harus menunggu beberapa saat lagi tinggal masing-masing merasa yakin.
"Dek..."
Linda menganggukkan kepalanya, mendengar panggilan suaminya, yang tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi Linda yakin, jika saat ini, Romi sedang meminta ijin untuk bisa menyentuhnya lebih. Sebagai seorang suami terhadap istrinya.
"Jika terasa ada yang sakit atau tidak nyaman, Kamu bilang ya Dek."
Dan Linda mengganggukan kepalanya, karena dia tidak mau, jika suaminya itu harus menunggunya lebih lama lagi.
Akhirnya, mereka berdua benar-benar bisa melakukan apa-apa yang semestinya dilakukan oleh suami istri. Dengan gerakan Romi yang pelan dan memperhatikan posisi kaki Linda. Supaya istrinya itu tidak merasa terganggu karena kesakitan pada bagian kakinya.
Tapi semua itu tidak bisa mengurangi perasaannya yang terasa terbang, merasakan kebahagiaan dan kepuasan mereka berdua. Yang saat ini sudah sah menjadi suami istri.
Bahkan, mereka kembali melakukannya beberapa kali, hingga akhirnya tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan.
*****
Di rumah kontrakan pak Rudi.
Malam ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena tiba-tiba dia mendapatkan pesan teror. Dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan tersebut, disertai beberapa bukti untuk mengungkap kejahatan nya selama ini. Hal ini tentu saja membuatnya tidak tenang, karena memikirkan teror tersebut.
"Siapa yang sudah berani-beraninya melakukan semua ini padaku? Apa dia tidak tahu, sedang berhadapan dengan siapa!"
Pak Rudi, merasa geram sendiri, membaca pesan-pesan tersebut.
Dia ingin mencari tahu, siapa sebenarnya orang yang berada di balik semua ini.
Akhirnya, karena dia tidak bisa tidur-tidur juga, pak Rudi menghubungi rekannya yaitu pak Komarudin.
Tut tut tut!
__ADS_1
Tapi karena sudah malam, sepertinya pak Komarudin tidak sedang memegang ponselnya, sehingga panggilan yang dilakukan oleh pak Rudi terabaikan.
"Ck, sialllan! angkat Komar!"
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Pak Rudi tidak mau menyerah. Dia terus menghubungi pak Komarudin, untuk membicarakan permasalahan yang sedang datang padanya.
Dia harus segera membicarakannya dengan pak Komarudin, supaya rekannya itu bisa membantunya, atau setidaknya memberikan pendapat. Supaya dia bisa cepat terbebas dari permasalahan teror ini.
Akhirnya, setelah mencoba menghubungi beberapa kali, pak Komarudin menerima panggilan teleponnya juga.
..."Apa Kamu tidak bisa, membiarkan Aku untuk tidur dengan nyenyak!"...
..."Ck! Gak usah ngamuk-ngamuk. Aku ada berita penting, yang harus Kamu perhatikan saat ini juga."...
..."Berita penting apa lagi? tentang keberadaan Linda, yang saat ini katanya sudah pindah ke kota besar?"...
..."Bukan. Ini bukan soal Linda lagi! Tapi ada sesuatu yang di penting menyangkut nasib dan karir kita juga di perusahaan."...
..."Apa?"...
Pak Komarudin, akhirnya tertarik dengan penjelasan yang diberikan oleh pak Rudi. Sehingga dia tidak menjawab dengan ogah-ogahan.
Dia mendengarkan dengan serius, penjelasan tentang teror yang diterima oleh pak Rudi malam ini.
..."Menurut Kamu, siapa yang berani melakukannya padaku?"...
..."Memangnya, pak Rudi ada musuh di pabrik? Sepertinya, orang itu membenci sekali."...
..."Mana Aku tahu, siapa yang tidak suka denganku. Aku ini orang penting, tidak pernah memperhatikan sekitar."...
..."Ya itulah pak Rudi! Mungkin orang ini itu, ingin diperhatikan oleh pak Rudi. Jadi dia mencari cara, supaya pak Rudi itu memperhatikannya juga!"...
Pak Komarudin, justru memberikan tanggapan yang berbeda, dengan apa yang sedang dipikirkan oleh pak Rudi saat ini.
Sebab pak Komarudin beranggapan jika, orang yang sedang meneror pak Rudi ini, ingin mendapatkan perhatian khusus dari pak Rudi sendiri.
Sedangkan pak Rudi beranggapan bahwa, orang tersebut sedang mencari gara-gara, atau mencari-cari masalah dengannya.
..."Kamu harus berpikir pak Komarudin. Bantu Aku secepatnya membongkar orang ini. Karena jika Aku terseret masalah, Kamu juga pasti ikut terseret juga!"...
..."Hahhh! Kenapa harus Aku?"...
..."Ya iya lah pak Komarudin! Karena apapun yang Aku lakukan, itu juga bersama Kamu. Apakah Kamu lupa itu?"...
..."Ya-ya. Aku akan ikut mencari tahu juga besok pagi. Jadi tenanglah dan tidurlah segera! Aku mau beristirahat."...
Klik!
Pak Komarudin, memutuskan sambungan telpon. Sebelum pak Rudi menjawab.
"Awas Kamu Komar! Jika sampai Kamu tidak membantuku, Kamu akan tahu, apa yang akan Aku lakukan untukmu setelah itu!"
__ADS_1