
Pagi harinya, saat Linda bersiap-siap dengan tas bawaannya.
Ada tas ransel besar berisi seragam kerja. Pakaian Linda selama seminggu dan juga kebutuhan pribadi lainnya. Ada juga kebutuhan MCK, yang pastinya sangat dia perlukan.
"Ma. Kok Mama pergi kerja bawa tas besar?" tanya Erli bingung.
Dia belum paham dengan apa yang kemarin Linda katakan. Jika mamanya akan pergi selama satu minggu ini.
Akhirnya dengan perlahan-lahan, Linda kembali memberikan penjelasan kepada anaknya itu. Supaya jika nanti sampai di pabrik dan berpamitan, Erli tidak menangis.
"Mama gak pulang nanti sore?" tanya Erli, di saat mendengar jika tas itu berisi pakaian mamanya.
"Iya Sayang. Kan Mama kerja jauh. Lama pulangnya. Tapi, saat pulang nanti, Mama bawakan oleh-oleh yang banyak. Erli suka?" tanya Linda , dengan memberikan iming-iming jajanan.
"Mau-mau Ma!"
Dengan bersemangat, Erli mengangguk mengiyakan pertanyaan dari mamanya.
"Yang banyak ya Ma!"
Linda mengangguk mengiyakan permintaan dari anaknya itu. Dan akhirnya, Erli mencium pipi mamanya, yang saat ini sedang mengendong dirinya.
Cup!
Cup!
Pipi kanan dan kiri, di cium Erli dengan mengemaskan. Yang membuat keduanya, Erli dan Linda, tertawa-tawa senang.
"Hihihi..."
"Hehehe... Gemes banget sih!"
Linda menciumi anaknya dengan gemas sendiri. Dan setelah beberapa saat kemudian, ganti Linda berpamitan dengan suaminya, Ferry.
"Mas. Nitip Erli ya? Jika Mas capek, atau Erli rewel, gak usah kerja dulu. Ajak aja jalan-jalan dia Mas," tutur Linda, memberitahu pada suaminya.
Ferry mengangguk mengiyakan permintaan dari istrinya. Dia tersenyum, dengan wajah yang sulit untuk dilukiskan.
Begitu juga dengan Linda sendiri. Matanya berkaca-kaca. Karena sebenarnya, dia juga merasa berat untuk meninggalkan dua orang yang sangat dia sayangi itu.
__ADS_1
"Sudah Dek, jangan nangis. Itu juga banyak teman-teman Kamu yang pamitan sama keluarga atau pacarnya. Hak ada yang nangis. Malah pada tertawa-tawa begitu." Ferry menunjuk ke orang-orang, yang sama seperti mereka. Berpamitan juga dengan orang yang sedang mengantar.
"Iy_ya Mas. Hehehe... Linda kan gak pernah ke mana-mana. Jadi sedih gitu Mas." Linda seperti sedang merajuk.
Dan tak lama kemudian, mereka berpelukan secara bergantian.
"Sayang... Erli. Mama berangkat ya! Gak boleh nakal dan rewel." Linda sekali lagi memberikan pesan pada anaknya.
Tak lama, terdengar pengumuman untuk keberangkatan para pegawai, yang akan berangkat ke Jakarta. Semuanya di minta untuk segera naik ke bus, yang sudah terparkir di depan pintu gerbang perusahaan.
Karena semua karyawan pabrik sudah masuk kerja ke gedung masing-masing, suasana di depan pintu gerbang terkesan sepi. Tidak sama seperti waktu jam masuk dan pulang kerja.
Karena pengumuman sudah diperdengarkan, Ferry dan beberapa orang yang ikut mengantarkan kerabat, keluarga atau pacarnya meninggalkan tempat mereka. Karena para peserta training, akan segera berangkat dan di berikan beberapa pengarahan di dalam bus.
Pak Komarudin, sedari tadi memperhatikan bagaimana Linda yang bersama dengan keluarga kecilnya hanya bisa tersenyum kecut.
Dia ada di dalam pos security, dan pura-pura sedang memperhatikan beberapa orang, yang sedang datang melamar pekerjaan.
Dan dia kehilangan senyumnya, di saat melihat pak Rudi yang baru saja masuk ke dalam bus tersebut.
"Ah, akhirnya dia pergi juga. Tadi Aku tidak langsung masuk ke gedung karena takut bertemu dengannya secara langsung." Gumam pak Komarudin seorang diri.
Dari semalam, pak Rudi menelpon dan mengirim pesan padanya, untuk memberikan beberapa instruksi pekerjaan yang harus dilakukan untuk hari ini hingga seminggu kemudian.
Itu artinya, pak Komarudin secara tidak langsung telah dipisahkan dengan Linda. Dan ini karena akibat kemarin, sewaktu pak Komarudin gagal mengajaknya pergi untuk berkencan dengan Linda. Sesuai dengan permintaan dari pak Rudi.
Tapi pak Komarudin juga merasa bersalah. Karena dia sendiri juga, yang pada waktu itu memberitahukan pada pak Rudi, dengan rencana kencannya itu.
Pada saat bus mulai bergerak meninggalkan tempatnya, pak Komarudin baru keluar dari dalam pos security.
Dia berjalan dengan gontai menuju ke arah gedungnya.
Mungkin, sekarang ini dia masih bisa memimpin di gedung tersebut. Tidak tahu untuk seminggu kemudian.
Karena bisa jadi, begitu pak Rudi pulang dari Jakarta, dia akan mendapatkan surat tugas untuk pindah ke gedung yang lain. Dan tentunya itu atas perintah dari pak Rudi sendiri.
Jika itu terjadi, mungkin Linda bisa naik jabatan sebagai supervisor. Di bawah asisten manager. Karena supervisor-supervisor yang menjadi anak buahnya, ada beberapa orang.
Tinggal menunjuk pada salah satu dari mereka, yang dirasa cukup mampu untuk melanjutkan tugasnya nanti.
__ADS_1
Tapi tentunya, itu juga sesuai dengan keinginan hati para atasan yang punya kepentingan pribadi. Karena banyak sekali yang diam-diam mempunyai hubungan istimewa, secara diam-diam dan tidak terendus oleh orang lain.
*****
Di dalam bus yang menuju ke Jakarta.
Beberapa orang duduk bersama dengan temannya yang lain. Tapi tidak dengan Linda.
Dia adalah leader baru. Yang tentunya tidak begitu mengenal leader-leader yang lainnya. Sehingga dia tidak memiliki teman yang akrab.
Apalagi, pak Rudi memang sudah berpesan agar tidak ada yang boleh duduk bersama Linda.
Jadi, tentu saja sekarang ini Linda duduk bersisian dengan pak Rudi.
Sebenarnya, Linda juga merasa canggung. Dia merasa tidak enak hati, karena kemarin tidak mengijinkan pak Komarudin untuk memberikan ijin pada pak Rudi, yang ingin ikut bergabung di kamar sewaan.
"Lin. Kok diam saja sedari tadi?"
Pertanyaan yang diajukan oleh pak Rudi, membuyarkan lamunan Linda.
"Eh, emhhh... gak apa-apa Pak," sahut Linda dengan gugup. Dia tidak tahu, apa yang harus dia katakan sekarang ini.
"Tidak apa-apa. Rileks saja Lin. Semua akan baik-baik saja."
"Oh iya, Kamu gak mabok perjalanan kan?" tanya pak Rudi, menyambung kalimatnya yang tadi.
"Gak kok Pak. Saya tidak pernah mabok perjalanan."
"Syukurlah. Jika Kamu masih merasa capek, tidur saja Lin. Ini, gunakan untuk bantal juga tidak apa-apa."
Pak Rudi menepuk-nepuk pundaknya sendiri, memberikan kebebasan kepada Linda untuk menjadikannya sebagai bantal saat Linda ingin tidur.
Tapi Linda merasa lain. Apa yang tadi dikatakan oleh pak Rudi, terdengar jika pak Rudi sengaja ingin menyindir dirinya.
Linda jadi tersenyum canggung. Dia benar-benar tidak tahu, apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Tidak usah canggung begitu. Aku tidak apa-apa. Masih ada banyak waktu untuk kita berdua," ujar pak Rudi, yang berusaha untuk bisa membuat Linda merasa lebih tenang.
Padahal Linda justru merasa tidak tenang, dengan apa yang dia dengar tadi.
__ADS_1
'Apa yang di maksud oleh pak Rudi?'
Linda bertanya dengan bingung di dalam hatinya sendiri.