
Sore menjelang malam, Danang dan Della tiba di rumah. Mereka berdua, tidak perlu membuka pintu. Sama seperti biasanya. Sebab sudah dibuka oleh Romi. Sedangkan Romi sendiri, duduk di teras depan rumah.
"Assalamualaikum Mas."
Danang dan Della sama-sama mengucapkan salam, begitu mereka tiba di depannya Romi.
"Waallaikumsalam..."
Tapi Danang dan Della, langsung masuk ke rumah. Karena harus segera membersihkan diri. Sebab, waktu magrib akan segera tiba.
"Mas, maaf ya. Kami langsung masuk dulu. Mau mandi, soalnya mau magrib," pamit Danang. Yang mewakili istrinya juga, yaitu Della.
Romi hanya mengangguk, tapi dia justru ikut berdiri dari tempat duduknya. Kemudian ikut masuk ke dalam rumah karena memang maghrib tinggal beberapa detik lagi.
Setelah mereka bertiga masuk ke dalam rumah, Romi yang terakhir kali masuk menutup pintu.
Clek!
Della udah masuk kedalam kamar terlebih dahulu, sedangkan Danang, di tahan sebentar oleh Romi.
"Nang, nanti setelah magrib, Mas mau bicara ya," terang Romi, mengatakan keinginannya.
Danang yang sudah tahu maksud kepulangan kakak iparnya itu, hanya mengangguk saja, kemudian masuk ke dalam kamar menyusul istrinya.
Sekitar pukul setengah tujuh malam, ruang tengah di rumah Romi, terjadi pembicaraan yang serius.
Romi mengutarakan maksudnya pada Danang secara langsung, untuk meminta pertimbangan, dengan maksudnya. Yang ingin melamar Linda.
"Sebenarnya, Mas mau melamar Mbak mu Nang. Kira-kira, Kamu sendiri secara pribadi bagaimana?" tanya Romi, meminta pendapat pada adik iparnya itu. Dengan apa yang menjadi tujuannya.
Danang terdiam sejenak, mendengar perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh kakak iparnya.
Dia tahu, jika Romi adalah mantan kekasih kakaknya. Bahkan kejadian pertama juga, sebelum menikah dengan almarhum Ferry.
Tapi dia tidak berhak untuk memberikan jawaban, untuk masa depan kakaknya yang sudah berstatus sebagai janda. Karena seorang janda, punya keputusan sendiri. Meskipun sekarang ini kembali menjadi tanggung jawab bapak kandungnya, maupun saudara laki-lakinya lagi.
"Danang tidak bisa menjawab Mas. Tapi, Danang sarankan, sebaiknya mas Romi bertanya secara langsung pada mbak Linda."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh adik iparnya itu, Romi mengganggukan kepalanya.
Dia pikir bahwa jalan itu sepertinya lebih baik, jika dibanding dia harus bertanya pada Danang maupun yang lainnya. Karena mereka semua memang tidak bisa memberikan keputusan. Dan ini mutlak keputusan dari Linda sendiri nanti.
"Tapi... apa Mbak mu gak kaget, seandainya Aku tiba-tiba datang dan melamarnya?"
"Mas. Sebaiknya Mas Romi datang berkunjung dan menengok mbak Linda sekarang. Mas Romi juga belum menengok mbak Linda lagi, sejak sepuluh hari meninggalnya mas Ferry." Della memberikan usul, supaya kakaknya itu, bertemu dengan Linda terlebih dahulu.
Romi bukannya tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena sebenarnya, dia ingin secepatnya menjadikan Linda sebagai istrinya.
Tapi dia ingin meminta pendapat orang-orang terdekatnya, sebab dia tidak mau gegabah dalam melakukan sesuatu.
__ADS_1
Kegagalan yang pernah dialaminya dalam berumah tangga, menjadikan dirinya sebagai pribadi yang lebih berhati-hati.
Apalagi dia juga tahu, bagaimana keadaan rumah tangga Linda sebelumnya.
Dia tidak mau jika sedang tujuannya ini, terkesan memaksa Linda. Sehingga terkesan seperti sebuah alasan, untuk bisa balas dendam di masa lalu mereka berdua.
"Baiklah. Mas Romi akan datang ke rumahmu sendiri. Doakan ya, semoga usahaku kali ini berhasil.
Danang dan Della, sama-sama mengangguk dan tersenyum. Mendengar keputusan yang diambil oleh kakak mereka ini.
Mereka berdua, hanya bisa mendoakan, semoga kakak mereka Linda bisa membuka hatinya kembali untuk mantan kekasihnya. Yang juga pernah merasakan sakit hati, dalam berumah tangga.
"Kami pasti mendoakan yang terbaik untuk mas Romi. Selamat berjuang ya Mas!" ujar Della, menggoda kakaknya. Supaya kakaknya itu tidak merasa tegang.
"Hehehe... siap Dek!"
*****
Di rumah ibunya Linda.
Jam udah menunjukkan pukul 07.00 malam.
Linda sedang menunggu Erli yang sedang belajar membaca, di ruang tamu. Sedangkan bapak dan ibunya, ada di depan TV, yang ada di ruang tengah.
Tok tok tok!
Linda yang ada di ruang tamu, menjawab salam tersebut bersama dengan anaknya.
"Waallaikumsalam..."
"Sayang, tolong bukain pintunya ya!" pinta Linda pada Erli.
Erli mengangguk, kemudian turun dari kursi, berjalan menuju ke pintu.
Clek!
"Om Romi!"
"Hai Sayang Erli."
Erli yang sudah mengenal Romi, sebagai kakaknya Della, tentu saja menyapanya dengan riang gembira.
Linda, yang mendengar sapaan akrab Erli, langsung mendongak menatap ke arah pintu.
Deg!
Dada Linda tiba-tiba berdegup dengan kencang, melihat kedatangan romi malam-malam begini. Padahal, Della maupun Danang sedang tidak ada di rumah.
Romi juga menatap kearah Linda, dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
__ADS_1
"Masuk om Romi!"
Ajakan Erli, membuat Romi tersadar. Kemudian mengganggukan kepalanya, menurut ajakan Erli, yang sudah menarik tangannya untuk duduk di kursi tamu.
"Ma. Ada om Romi!" Erli melapor pada mamanya, siapa tamu yang sekarang dia bawa.
Linda senyum canggung mendengar perkataan anaknya.
"Apa kabar Dek Linda?" Romi mengulurkan tangannya, untuk bersalaman dengan Linda, sambil bertanya kabar.
Linda menerima uluran tangan Romi, sambil mengangguk samar. "Kabar baik Kak. Kakak... bagaimana kabarnya?" tanya Linda, setelah menjawab pertanyaan basa-basi dari Romi.
"Seperti yang Kamu lihat. Aku dalam keadaan baik sehingga bisa datang ke sini untuk menjenguk mu dan juga Erli."
Romi menyerahkan bungkusan oleh-oleh pada Erli. "Ini buat Erli, semoga suka ya!"
Dengan tersenyum lebar, Erli menerima bungkusan oleh-oleh yang diberikan oleh tamunya itu.
Setelahnya, dia berjalan masuk. Bermaksud untuk memberikan bungkusan tersebut kepada simbahnya.
"Mbah-mbah! Ada om Romi!"
Kedua simbahnya saling pandang, mendengar teriakan cucunya. Yang mengatakan jika ada tamu yang bernama Romi.
"Romi..."
"Iya Om Romi. Yang biasanya dulu sama tante Della Mbah!"
Erli tidak bisa menerangkan hubungan antara Romi dan Della, sehingga dia juga kesusahan untuk memberikan kejelasan tentang tamunya itu, pada kedua simbahnya.
Sekarang, Simbah kakung dan putrinya berdiri dari tempat duduk, untuk keluar menemui tamunya tadi.
Sedangkan Erli, membuka bungkusan oleh-oleh yang dia terima.
Di ruang tamu, Romi tampak sudah duduk dan sedang berbincang-bincang dengan linda. Yang masih duduk di kursi rodanya.
"Nak Romi," sapa bapaknya Linda, sambil menyalami Romi.
Begitu juga dengan ibunya Linda, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh suaminya.
"Ibu buatkan teh dulu ya," pamit ibunya Linda, kemudian masuk ke dalam, membuatkan minuman untuk tamunya.
Sedangkan bapaknya Linda, masih menemani Romi di ruang tamu. Berbincang-bincang sebentar, sebelum akhirnya dia juga pamit ke dalam. Untuk menemani Erli yang ada di depan TV.
"Dek Linda. Emhhh... sebenarnya, Kakak datang ini..."
Romi sedikit kesulitan, untuk menyatakan maksud dan tujuannya datang menemui linda malam ini.
Dia menarik nafas panjang terlebih dahulu, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
__ADS_1