Tante Melinda

Tante Melinda
Rencana Untuk Bapak


__ADS_3

Linda tiba di rumah saat menjelang magrib. Karena di devisi sewing, tidak ada lembur kerja sampai malam hari.


Paling lama, jika ada lemburan hanya sampai jam enam sore. Dan tadi, Linda pulang jam lima, sama seperti karyawan sewing yang lain. Karena devisi yang dia pegang sekarang, sedang tidak ada lemburan banyak.


'Ternyata ada baiknya juga Aku pindah ke sewing. Bisa pulang sore. Gak harus malam terus.'


Linda mengucapkan rasa syukur dalam hati. Karena dengan dipindahkannya dirinya di devisi sewing ini, dia tidak perlu pulang larut malam sampai di rumah.


Sesuatu yang menurut orang lain tidak baik, ternyata bisa jadi akan menjadi baik bagi kita sendiri. Dan keinginan orang yang ingin membuat kita merasa tertekan, ternyata ada kebaikan yang bisa kita ambil dari semua itu.


Erli langsung berlari ke arah Linda, yang baru saja datang. Dan memarkirkan sepeda motornya.


"Ma. Mama!"


"Iya Sayang. Sebentar ya!"


Linda turun terlebih dahulu dari atas motor, kemudian baru mendekat ke tempat anaknya berdiri.


"Ma, Mama. Mbah Kakung Ma!"


Erli kembali berteriak, saat mamanya sudah mengandeng tangannya untuk diajak masuk ke dalam rumah. Erli sepertinya ingin menyampaikan sesuatu pada mamanya.


"Mbah Kakung kenapa Sayang?" Linda bertanya, tentang maksud perkataan anaknya yang tidak jelas tadi.


"Tadi... tadi Mbah tidur. Tapi lamaaa..."


Mendengar perkataan anaknya yang tidak begitu jelas, Linda mengerutkan keningnya bingung. Dia jadi memikirkan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Erli padanya.


"Lin," sapa ibunya, dari arah dapur.


"Bu. Maksud Erli bilang jika bapak tidur lama itu apa?" tanya Linda pada ibunya, dengan cepat. Dia ingin tahu, yang sebenarnya ingin disampaikan oleh anaknya tadi.


"Oh, itu Bapak Kamu. Tadi dia sempat pingsan." Akhirnya, ibunya Linda memberikan penjelasan kepada anaknya itu, dengan apa yang tadi ingin disampaikan oleh anaknya, Erli.


Tentu saja, apa yang dikatakan oleh ibunya itu membuat Linda merasa terkejut.


"Terus bagaimana sekarang keadaan bapak Bu?" Linda bertanya pada ibunya, tentang keadaan bapaknya yang tadi pingsan.


"Gak apa-apa Lin. Bapak sudah baik-baik saja."

__ADS_1


Ternyata yang menjawab pertanyaan dari Linda adalah bapaknya sendiri. Yang datang dari arah kamar Erli. Bapaknya Linda, sedang berjalan sambil memegangi tembok dan kerangka pintu. Dia berjalan perlahan-lahan, dan tersenyum. Agar Linda tidak begitu mengkhawatirkan keadaan dirinya.


"Bapak beneran gak apa-apa? Perlu kita periksakan ke dokter juga lho Pak! Soalnya itu juga penting."


Linda bertanya dengan rasa khawatir. Di juga segera mendekat, dan membantu bapaknya, agar bisa duduk di kursi.


Tapi ternyata bapaknya Linda, tidak mau diajak untuk memeriksakan kesehatannya ke dokter.


"Tidak apa-apa Lin. Bapak hanya butuh istirahat sebentar. Nanti juga baik sendiri. Nyatanya sekarang Bapak baik-baik saja kan!"


Linda hanya menghela nafas panjang. Karena bapaknya itu, lagi-lagi menolak tawarannya. Untuk memeriksakan kesehatannya ke dokter. Dan pada akhirnya, Linda tidak lagi memaksa.


"Ya sudah Bapak istirahat saja," kata Linda, meminta bapaknya itu, untuk beristirahat terlebih dahulu.


Dia tahu jika, Bapaknya juga pasti merasa sangat capek. Karena di rumah ini, bapaknya itu menjaga Erli, yang tidak pernah bisa diam dalam jangka waktu yang lama.


"Ibu dan Erli saja yang terlalu cemas. Bapak sih, biasa saja," ujar bapaknya Linda. Dengan tersenyum tipis. Karena dia tidak mau jika membuat orang-orang terdekatnya merasa khawatir dengan keadaannya sekarang.


Linda hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia tahu jika, bapaknya itu tidak mau merepotkan orang lain. Dengan mengetahui keadaan dirinya yang sebenarnya.


"Mas Ferry ada di mana Bu?" tanya Linda, yang memang sedari tadi tidak melihat keberadaan suaminya


"Mas ada di kamar Dek. Memang mau ke mana lagi?" sahut Ferry dengan suara yang sedikit keras. Agar Linda bisa mendengar suaranya.


Ternyata, sedari tadi Ferry memang ada di dalam kamarnya sendiri. Ikut mendengarkan semua perkataan yang diucapkan oleh bapaknya Linda, bersama dengan ibu dan juga Linda sendiri.


Sekarang, Linda beralih ke arah kamar, di mana suaminya sedang berbaring di tempat tidur.


Sedangkan anaknya, Erli, mengekornya menuju ke arah kamar juga.


"Mas. Mas gak apa-apa kan?"


"Tadi Mas juga tau gak, saat bapak pingsan?"


Linda langsung mengajukan pertanyaan kepada Ferry, tentang kejadian yang tadi terjadi pada bapaknya.


"Iya. Bapak pingsan saat menemani Erli bermain."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya itu, Linda akhirnya memikirkan sesuatu. Agar bapaknya itu mau diperiksa oleh dokter.

__ADS_1


"Mas. Jadwal kontrol ulang Mas Ferry kapan?" tanya Linda, di saat mendapatkan ide bagus untuk bisa membawa bapaknya itu ke dokter.


"Emhhh... Sabtu besok kalau tidak salah Dek," jawab Ferry, yang masih harus mengingat-ingat kembali, kapan waktu jadwalnya kontrol ke klinik yang kemarin merawatnya.


"Ya sudah. Besok sabtu, Linda mau sewa mobil sekalian supirnya. Buat antar mas Ferry kontrol."


"Nanti kita ajak bapak, dengan alasan untuk menemani Kamu. Bagaimana Mas menurutmu?" Linda meminta pendapat pada suaminya, dengan apa yang dia usulkan.


"Bagus juga itu Dek," sahut Ferry dengan cepat.


Dia merasa sangat senang, karena istrinya itu banyak sekali kelebihannya.


Selain cantik dan menarik, Linda juga cerdas, sabarnya Linda juga sudah terbukti nyata. Dengan semua kejadian, yang terjadi pada keluarga kecilnya kemarin-kemarin. Di saat Ferry masih menjadi seorang polisi.


"Tapi... bagaimana caranya, agar bapak mau ikut diperiksa juga?"


Linda tampak menghela nafas panjang, saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh suaminya itu.


Sekarang, dia harus segera memikirkan cara, supaya besok Sabtu bapaknya itu mau ikut diperiksa juga.


"Kita pikirkan sambil lalu saja Mas. Masih ada dua hari lagi. Jadi, kita harus bisa menjaga rahasia ini. Agar bapak tidak merasa kita paksa juga."


Ferry hanya mengangguk saja. Dia tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Untuk membuat bapaknya itu mau mengikuti apa yang dia katakan.


"Ya sudah Mas. Linda mau mandi dulu ya!"


Ferry kembali menganggukkan kepalanya. Mengiyakan perkataan istrinya, yang pamit untuk pergi ke kamar mandi.


Setelah Linda masuk ke dalam kamar mandi, Ferry meminta pada anaknya, Erli, yang sedari tadi hanya diam saja. Mendengarkan semua perkataan dan usulan yang tadi dibahas bersama dengan namanya juga. Yaitu dengan Linda.


"Sayangnya Papa. Erli gak boleh ngomong sama simbah Kakung ya. Soal mama dan Papa, yang bicara soal tadi itu lho!"


Erli tampak mengangguk, mengiyakan permintaan dari papanya. Soal rencana mereka berdua tadi.


Sekarang, Erli yang sedang berbicara. Membicarakan tentang apa yang saat ini ingin dia lakukan.


"Memang Erli mau apa?"


"Erli mau bisa cantik seperti Mama. Bisa kan Pa?" tanya Erli, yang tidak mungkin bisa dijawab dengan mudah oleh papanya.

__ADS_1


__ADS_2