
Hari ini hari pernikahan Danang dengan Della. Semua persiapan sudah selesai dilakukan. Tinggal berangkat ke rumah mempelai wanitanya saja.
Tapi karena keadaan Linda yang tidak memungkinkan untuk ikut serta, dia dengan berbesar hati, harus berada di rumah sendiri. Karena semuanya ikut pergi bersama, mengantarkan Danang untuk ijab kabul.
"Erli ikut simbah. Tapi gak boleh rewel ya Sayang. Kan om Danang jadi pengantin."
Linda nasehati anaknya, Erli, supaya tidak membuat kekacauan di sana. Apalagi dia juga tidak bisa ikut bersama mereka.
"Mama gak ikut?" tanya Erli dengan mata berkaca-kaca.
"Mama belum bisa jalan Sayang, besok, jika mama sudah bisa jalan lagi. Erli mau ke mana saja, Mama akan ikut, ya!"
"Hiks..."
Erli kembali terisak-isak. Dia merasa sedih, karena keadaan mamanya. Dia tidak bisa bermanja-manja lagi seperti dulu.
Apalagi dia juga tidak bisa bertemu lagi dengan papanya. Jika sedang lupa, Erli akan bertanya, "Ma! Papa kapan pulang?"
Dan setelah dijawab Linda jika papanya tidak bisa pulang lagi, Erli akan menangis tanpa bisa dihentikan dengan cepat.
Linda memaklumi, jika Erli bersikap seperti itu. Karena Erli memang lebih dekat dengan papanya, semenjak ditinggal bekerja Linda.
"Sayang, sini!"
Erli mendekat ke tempat tidur mamanya, dengan masih sesenggukan.
"Sayang. Dengar Mama ya! Om Danang mau ajak Tante Della ke rumah ini. Apa Erli gak suka liat Tante Della sama om Danang nanti?" terang Linda, yang mencoba memberikan penjelasan kepada anaknya itu.
"Jadi, nanti Tante Della ikut om Danang? Tinggal di sini, sama kayak Erli dan Mama juga?" tanya Erli balik, karena dia penjelasan yang lebih.
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh anaknya, Linda mengangguk dan tersenyum, karena anaknya itu mulai mengerti.
"Asyik dong Ma! Nanti ada banyak orang di rumah simbah ya Ma? Tapi papa gak bisa pulang..."
Suasana hati Erli yang tidak bisa dikendalikan, kadang membuatnya merasa senang, tapi secara tiba-tiba bersedih hati. Di saat teringat papanya yang sudah pergi dan tidak mungkin bisa kembali pulang lagi.
Meskipun dia tidak paham dan belum mengerti apa itu meninggal dunia, tapi setidaknya, Erli tahu bahwa, orang yang sudah dikubur tidak mungkin bisa pulang lagi ke rumah.
Itulah sebabnya, dia sering bersedih hati. Di saat ingat dengan papanya, yang sudah tidak mungkin bisa pulang untuk menemui dirinya.
"Sayang. Erli, dengar ya! Meskipun papa tidak bisa menemui Erli, tapi papa bisa lihat Erli. Dan papa akan ikut bersedih hati, jika melihat Erli sedang bersedih seperti ini."
__ADS_1
Erli melihat ke arah Linda dengan cepat, dengan tatapan mata yang tidak percaya.
Tapi Linda tersenyum dan mengangguk pasti. Untuk meyakinkan anaknya itu, supaya tidak lagi bersedih dan teringat selalu dengan papanya. Meskipun sebenarnya dia juga bersedih hati, jika teringat dengan suaminya.
"Erli, ayo Sayang!"
Dari luar kamar, terdengar suara simbah putrinya yang memangil nama cucunya.
"Yuk!"
Linda mengajak Erli untuk keluar dari dalam kamar. Dia mengunakan kursi roda, yang bisa dia gerakan sendiri. Untuk memudahkan dirinya bergerak, dan tidak harus menunggu seseorang yang akan membantunya.
"Lin. Tadi Ibu sudah minta tolong pada Bu Lek depan, agar sering-sering menengok mu. Siapa tahu Kamu butuh bantuan," terang ibunya, yang tidak tega jika harus meninggalkan dirinya sendirian di rumah.
"Iya Bu."
Linda menyalami tangan ibunya, yang segera mengandeng tangan Erli.
Bapaknya juga pamit pada Linda, sebelum masuk ke dalam mobil.
"Mbak, Danang minta doa restu ya! Doakan Danang bisa lancar dan menjadi suami yang baik untuk Della ke depannya nanti."
Linda mengangguk mengiyakan permintaan Danang, dengan tersenyum haru. Dia menitikkan air mata bahagia, karena melihat kesungguhan di mata Danang.
Setelah beberapa saat kemudian, Linda kembali masuk ke dalam rumah.
Sebenarnya, dia ingin membantu ibunya, dengan membersihkan rumahnya ini. Karena sisa-sisa selamatan dan bergadang para pemuda teman-temannya Danang semalam.
Tapi karena dia tidak bisa melakukan apa-apa, akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang.
"Semoga pamannya kak Romi tidak ikut ke sini nanti. Atau besok-besok juga tidak usah datang ke rumah ini."
Linda berharap, dia tidak akan bertemu lagi dengan pamannya Romi. Yang mengakibatkan dirinya sakit. Bahkan pada akhirnya harus menjadi seperti sekarang ini.
Dengan meninggalnya Ferry, itu juga karena gara-gara harus mengantarkan dirinya ke dokter untuk periksa.
Meskipun sebenarnya semua hal yang terjadi sudah digariskan oleh nasib, tapi Linda tetap belum siap. Jika harus bertemu dengan laki-laki paruh baya tersebut.
Sekarang, Linda hanya bisa menghela nafas panjang. Untuk mengurangi rasa sesak dan penuh di dalam dadanya.
"Ya Allah. Aku pasrah dengan apa yang Engkau gariskan dalam suratan takdirku. Tapi jika bisa, jangan pernah lagi pertemukan diriku dengan laki-laki itu. Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi lagi setelahnya."
__ADS_1
Doa Linda yang ini, benar-benar dua harapkan untuk terkabul.
Dia tidak mau ada hal yang lebih menyedihkan lagi. Jika harus bertemu dengan laki-laki yang membuatnya tidak bisa menerima kenyataan dan keadaan dirinya sedari kecil.
"Mas Ferry. Maafkan Linda Mas..."
*****
Di rumah Romi, semua tamu sudah diterima dan dipersilahkan untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.
Meskipun acara ini tidak besar dan mewah, tapi cukup banyak juga tamu yang datang.
Selain dari pihak keluarga Danang, keluarga dan masyarakat sekitar rumah Romi juga ikut di undang agar bisa ikut membantu dan memberikan doa restu pada acara pernikahan adiknya Romi.
"Nang. Penghulu sudah datang. Ayok bersiap ke depan!"
"Iya Mas."
Danang mulai terbiasa memanggil Romi dengan sebutan mas, sama seperti Della yang memanggil Romi dengan sebutan mas juga. Biar lebih akrab dan sama.
Jadi Danang memutuskan untuk memanggil kakak iparnya itu sama seperti calon istrinya juga. Bukan dengan panggilan kak lagi.
"Saya terima, nikah dan kawinnya Della Puspita, binti bapak Mahmud almarhum. Dengan mahar seperangkat alat sholat dan emas 15 gram dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!"
"Sah!"
"Alhamdulillah..."
Setelah Danang selesai mengucapkan ijab kabul, kemudian disahkan oleh para saksi, acara dilanjutkan dengan doa.
Semua orang ikut berdoa, dengan mendoakan yang baik-baik atas pernikahan mereka ini.
Acara dilanjutkan dengan foto-foto dan makan-makan. Sama seperti yang ada pada acara pernikahan pada umumnya.
"Alhamdulillah ya Kak," ucap Della, yang merasa lega dan bahagia. Karena sekarang ini sudah resmi menjadi istri dari Danang.
"Iya. Nanti langsung ikut pulang lho ya!"
__ADS_1
Della tersenyum malu-malu, mendengar ajakan Danang barusan.