Tante Melinda

Tante Melinda
Harus Bisa


__ADS_3

Pesta resepsi pernikahan Linda dengan Romi, akhirnya dilaksanakan juga hari ini.


Meskipun tidak besar, tapi tetap meriah. Dengan tamu-tamu yang datang dari para tetangga dan saudara kedua belah pihak mempelai.


Erli juga tampak sangat bahagia, dengan acara pernikahan mamanya bersama dengan Romi. Ya saat ini dia panggil dengan sebutan ayah. Meskipun kadang kala masih lupa dengan menyebutnya dengan sebutan Om.


Ibunya Linda, menitikkan air mata haru.


Dia merasa bahagia juga dengan pernikahan keduanya Linda ini. Karena suaminya itu adalah pilihan anaknya sendiri.


Begitu juga dengan bapaknya Linda. Dia merasa lega karena akhirnya linda bisa terbuka dengan menerima Romi sebagai suaminya. Setelah kepergian suaminya, Ferry, yang meninggal dunia akibat kecelakaan.


Danang dan juga Della, sama-sama tersenyum bahagia. Melihat kedua kakak mereka akhirnya bersatu lagi, meskipun dulunya pernah jalani kehidupan masing-masing, dengan pasangan mereka masing-masing juga.


Takdir manusia, memang tidak pernah ada yang tahu. Dengan semua lika-liku yang harus dijalani, selama waktu yang tidak bisa ditentukan juga.


Mungkin, sama seperti yang terjadi pada Linda dan Romi kali ini.


Mereka berdua, awalnya memutuskan untuk tidak mempunyai hubungan. Bahkan, sudah berpisah sekian tahun. Tanpa harus tahu kabar masing-masing.


Tapi karena suatu kejadian, akhirnya mereka bisa bertemu lagi. Meskipun tidak pernah punya niatan untuk kembali bersama, sebab keadaan yang memang tidak memungkinkan pada waktu itu.


Sebab, waktu itu linda masih bersama dengan Ferry. Yang memang berstatus sebagai suaminya, papa dari Erli.


Tapi kemungkinan yang tidak pernah disangka-sangka, ternyata juga menjadi sebuah rahasia takdir, jika sekarang ini akhirnya mereka berdua justru bisa bersatu dalam ikatan pernikahan yang suci.


Kebahagiaan ini, benar-benar dirasakan oleh kedua belah pihak. Baik itu kedua mempelai, maupun kedua keluarga besarnya.


Tapi tentu saja tidak ada pamannya Romi, yang saat ini masih berada di rumah sakit jiwa. Untuk menjalani perawatan di, karena kedua istrinya sudah tidak sanggup lagi untuk merawatnya. Dengan segala tingkah lakunya yang tidak normal lagi.


Romi dan keluarga yang lainnya, memaklumi kondisi keluarga pamannya itu. Sebab, mereka juga sudah mengunjunginya secara bergantian. Untuk memberikan dukungan moral maupun material, sesuai dengan kemampuan mereka juga.


Sama halnya dengan Romi.


Meskipun dia belum bisa datang menjenguk ke rumah sakit jiwa, setidaknya dia sudah memberikan dorongan material maupun moril, melalui istri-istri dari pamannya itu. Guna memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pengobatan dan perawatan Pamannya juga.


Di saat pesta pernikahan selesai, Romi mengajak Linda untuk pulang ke rumahnya sendiri. Bersama dengan Erli.


"Apa Kamu tidak keberatan Dek, seandainya kita pulang ke rumahku?"


Awalnya Linda merasa khawatir. Dia merasa takut, seandainya akan bertemu dengan temannya di sana.

__ADS_1


"Tapi... tapi, Linda..."


"Paman ada di rumah sakit Dek. Jadi, Kamu juga harus mulai membiasakan diri untuk berada di rumahku. Gak apa-apa kan?" tanya Romi, memastikan bahwa, istrinya itu tidak merasa keberatan.


Dia hanya ingin melatih kejiwaan linda supaya berangsur-angsur bisa melupakan sakit kepala yang akan dia derita seandainya melihat keberadaan pamannya.


Mungkin awalnya hanya bisa melihat rumah Pamannya, atau sekedar melihat foto pamannya, yang mungkin ada di rumahnya.


Nantinya, lama-lama, seiring dengan waktu yang berjalan dan keterbukaan diri Linda sendiri, dia akan merasa baik-baik saja dan tidak mengingat hal-hal yang tidak diinginkan.


Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya linda mengganggukan kepalanya. Menerima ajakan suaminya itu.


Dia juga berpikir bahwa, dia tidak akan bisa terus lari dan bersembunyi. Dari kenyataan yang harus dihadapinya ke depan nanti. Sebab bagaimanapun juga, Pamannya Romi itu adalah sebagian dari keluarganya Romi juga. Yang saat ini sudah menjadi suaminya.


Linda hanya berharap, agar dia bisa mengendalikan diri dan pikirannya. Supaya tetap baik-baik saja, dan bisa menerima keadaannya sekarang ini.


Dia yakin jika, suaminya yang sekarang ini, akan ada di sisinya dalam keadaan apapun.


*****


Sekarang, Romi benar-benar mengajak Linda pergi ke rumah sakit jiwa, untuk menjenguk pamannya. Setelah sehari mereka pindah ke rumahnya Romi.


Sebenarnya, mereka berdua tidak bisa dikatakan pindah rumah. Sebab, ini hanya sementara waktu. Sekitar dua atau tiga hari saja, karena nantinya, setelah Romi kembali ke kota, Linda akan kembali ke rumah ibunya sendiri. Sebab, dia belum bisa melakukan pekerjaan yang sedikit berat tanpa bantuan orang lain.


Rencana untuk pindah ke kota besar, akan direalisasikan setelah Romi pulang dari kota besar lagi. Sebab dia harus mempersiapkan segala sesuatunya di sana.


Dan linda tidak keberatan dengan rencana suaminya itu. Karena dia juga harus menyelesaikan urusan pekerjaannya di pabrik terlebih dahulu, sebab dia belum pernah masuk setelah kecelakaan itu terjadi.


Meskipun sebenarnya dia merasa berat untuk meninggalkan pekerjaannya, tapi dia juga tidak mau jika harus berpisah dengan Romi.


"Kamu baik-baik saja kan Dek?" tanya Romi, begitu mereka tiba di halaman depan rumah sakit jiwa.


"Iy_ya Mas. Linda baik-baik saja."


Romi menggenggam tangan istrinya, untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan. Supaya Linda tidak merasakan rasa ketakutan yang berlebihan, sama seperti biasanya. Seandainya Linda bertemu dengan pamannya.


"Ambil nafas panjang Dek, kemudian buatkan perlahan-lahan."


Linda menghirup udara yang lebih banyak, kemudian dia keluarkan perlahan-lahan. Sesuai yang yang dikatakan oleh suaminya tadi. Agar dia merasa lebih tenang.


Dan ternyata itu cukup manjur, untuk mengatasi ketakutan Linda yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


Tapi ini juga karena keberadaan Romi yang ada disisi-nya. Sehingga dia tidak merasa khawatir, dan bisa lebih cepat mengatasi rasa ketakutan nya.


Sekarang, mereka berdua memasuki pintu utama bangunan rumah sakit jiwa.


Rumah sakit jiwa yang dikelola oleh pemerintah daerah, dengan bangunan dua lantai ini cukup besar. Hampir sama dengan bangunan-bangunan rumah sakit umum, yang digunakan untuk keperluan medis pada umumnya. Untuk masyarakat sekitarnya.


Romi mengajak linda ke tempat keamanan atau mirip resepsionis, untuk meminta ijin. Supaya bisa bertemu dengan pasien yang disebutkan namanya.


"Sebentar ya Mas, Mbak."


Pihak keamanan rumah sakit, meminta pada Romi dan Linda, untuk menunggu sebentar. Dia akan mengkonfirmasikan bahwa ada tamu, pada perawat yang bertanggung jawab atas keamanan pamannya romi.


Untuk menjenguk pasien di rumah sakit jiwa, prosedurnya memang tidak sama seperti jika kita menjenguk ke rumah sakit umum biasa.


Ini demi keselamatan dan keamanan pengunjung maupun pasien, karena pasien di rumah sakit ini, memang tidak stabil secara mental.


Jadi, penanganannya juga harus berbeda. Tidak bisa sebebas di rumah sakit umum, yang digunakan untuk pasien yang sakit bukan karena ke jiwaanya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Romi maupun Linda, dipersilahkan untuk masuk ke sebuah ruangan. Yang akan digunakan untuk menjenguk pamannya Romi.


Ruangan ini, ada sekatnya. Untuk memberikan batasan pemisah, antara pasien dengan pengunjung.


Di ruangan tersebut, juga ada pihak keamanan maupun suster. Yang berjaga-jaga, supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.


"Paman," sapa Romi, saat melihat pamannya, yang sedang duduk dengan posisi menundukkan kepalanya.


Tapi ternyata Pamannya itu tidak mendengarkan sapaannya. Dia justru memanggil nama-nama, yang tidak jelas di telinganya Romi sendiri.


"Dek, sini!"


Romi meminta pada istrinya, Linda, supaya lebih dekat dengannya. Sehingga bisa melihat keadaan pamannya itu.


"Lihat Dek! Paman sudah tidak waras lagi. Dan semua ini adalah karma baginya. Meskipun sebenarnya sudah ada kata maaf, dari orang-orang yang mungkin pernah dia disakiti, tapi hukuman atas perbuatannya itu tetap dia terima dari Allah SWT."


"Meskipun secara medis dia dinyatakan stress karena tekanan batin, tekanan keadaannya yang sedang bangkrut, tapi semua itu tetap tidak lepas dari apa yang pernah dilakukan di masa lalu."


"Jadi, Aku mohon sama Kamu Dek. Kamu jangan merasa takut lagi. Dan buanglah rasa takutmu itu, supaya tidak menghantui kehidupan kita di masa depan, ya!"


Linda menganggukan kepalanya, mendengar penjelasan dan ucapan yang diberikan oleh suaminya itu.


Dia juga berusaha untuk bisa melihat ke depan, di mana pamannya itu masih tetap mengoceh tidak jelas, dengan posisi menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Linda akan berusaha sekuat tenaga, supaya tidak lagi takut dalam hadapi apapun Mas. Terima kasih, sudah sabar dan telaten, merawat dan membantu Linda Mas."


Kini, Linda menggenggam tangan suaminya itu. Sambil tersenyum dan melihat ke arah depan. Ke arah pamannya Romi yang sudah tidak lagi bisa mengenalinya dengan baik.


__ADS_2