
"Mbak Linda!"
Linda menoleh ke arah suara, yang sangat dia kenali. Karena itu adalah suara adiknya, Danang.
"Tumben pagi sekali Nang?"
Linda bertanya pada Danang. Karena biasanya, staf kantor untuk PPIC memang datang sesuai jam masuk.
Berbeda dengan jam kerja para karyawan yang ada di area produksi. Yang diharuskan bisa datang, sepuluh menit sebelum jam masuk berbunyi.
"Sengaja nungguin Mbak Linda," jawab Danang menjelaskan.
Mereka berdua, memang jarang sekali bertemu. Meskipun ada di dalam satu perusahaan. Tapi karena gedung dan pekerjaan mereka berbeda, tentu saja akan menghalangi intensitas perjumpaan mereka juga.
Apalagi, jam istirahat setiap gedung ada perbedaan waktu sekitar seperempat jam.
Ini dilakukan untuk mengatur kondisi kantin perusahaan, agar tidak terlalu penuh. Jika semua karyawan harus beristirahat di jam yang sama.
Bahkan, banyak dari mereka yang lebih suka membeli makanan untuk makan siang mereka di luar perusahaan. Karena masakan kantin yang itu-itu saja, membuat banyak orang cepat bosan juga.
"Ada apa? kok tumbenan nungguin Mbak?" tanya Linda lagi.
Danang biasanya akan menghubungi dirinya terlebih dahulu, jika ada kepentingan pribadi dan ingin bertemu. Jadi, mereka berdua membuat janji temu. Agar bisa ditentukan waktunya.
"Gak ada apa-apa sih. Cuma kangen mbak Linda aja. Dua hari cuti, gak datang ke rumah."
Linda hanya menanggapi dengan senyuman saja. Dia lupa untuk memberikan kabar pada Danang. Jika dia harus meluangkan waktu untuk Erli dan juga Ferry.
Akhirnya, Linda justru bercerita terlebih dahulu pada adiknya itu, tentang bagaimana dengan suasana pengilingan padi.
Dua juga menceritakan tentang perbincangan orang-orang di sana, karyawan pengilingan padi, tentang Ferry, bersama dengan salah satu pelanggan beras suaminya.
"Tapi Mbak udah tanya mas Ferry. Dan dia bilang jika itu hanya salah satu bakul beras saja."
Linda menjeda kalimatnya sebentar, untuk menghirup udara. Agar dadanya sedikit lebih lega, di banding dengan yang tadi.
__ADS_1
"Dulu, Mbak pernah liat dan dengar juga. Saat mbak Nana menghubungi mas Ferry. Waktu itu, Mas Ferry habis jatuh. Dan gak bisa jalan itu lho!" Linda mengingatkan pada Danang, tentang keadaan yang dialami oleh suaminya setahun yang lalu.
Danang mengangguk-anggukkan kepalanya, menanggapi cerita dan penjelasan yang diberikan oleh kakaknya itu.
"Menurut Kamu, apa yang dikatakan mas Ferry benar tidak ya Nang?" tanya Linda, yang ingin tahu pendapat dari adiknya sendiri. Yang sesama laki-laki.
Siapa tahu, Danang punya pemikiran sendiri. Yang tentunya tidak akan sama seperti yang dipikirkan oleh Linda kemarin.
Danang ternyata tidak segera menjawab atau mengeluarkan pendapatnya. Dia tetap diam saja, dengan terus melihat ke arah wajah kakaknya itu.
"Nang. Kamu kenapa sih?" tanya Linda yang merasa penasaran, dengan tatapan aneh dari adiknya pagi ini.
"Emhhh... gak apa-apa. Tapi Danang juga mau tanya sih."
"Tanya apa?"
Linda bertanya dengan cepat, sambil menautkan kedua alisnya. Karena dia tidak tahu, apa yang ingin ditanyakan oleh adiknya saat ini. Sehingga dia menjadi penasaran juga.
"Emhhh... itu Mbak. Kemarin... kemarin Danang mendengar perkataan orang-orang tentang mbak Linda."
"Terus?" tanya Linda ingin tahu kelanjutannya.
"Ya gitu aja yang Danang dengar. Memang Mbak Linda ada hubungan khusus dengan pak Rudi ataupun pak Komarudin?" Danang kembali bertanya kepada kakaknya itu, tentang percakapan orang-orang yang dia dengar tanpa sengaja.
Sekarang, giliran Linda yang tidak bisa langsung menjawab. Dia diam dan tampak melihat ke arah Danang dengan intens.
"Hanya itu saja yang Kamu dengar dari mereka?" tanya Linda, memastikan bahwa, cerita yang disampaikan oleh Danang tidak ada yang terlewat.
Danang mengangguk mengiyakan. Dia memang hanya mendengar itu saja. Karena orang-orang yang bergosip ria tentang Linda, segera mengalihkan pembicaraan. Mungkin mereka juga takut, seandainya ada yang mendengar, kemudian mengadukannya pada orang-orang yang bersangkutan.
"Biarkan saja. Di pabrik, apapun yang bisa dibuat gosip, akan lebih cepat tersebar. Dan dibesar-besarkan juga," ujar Linda, berdiplomasi.
Dia tidak mengiyakan, atau mengatakan tidak. Dengan pertanyaan yang diajukan oleh Danang padanya.
Jawaban yang diberikan oleh kakaknya itu, justru membuat Danang menjadi curiga. Jika kakaknya, Linda, memang punya hubungan khusus dengan pak Rudi ataupun pak Komarudin.
__ADS_1
Tapi, tentu saja Danang tidak bertanya-tanya lagi. Dia tidak mungkin mendesak kakaknya itu, untuk memberikan jawaban yang masuk akal menurut Danang.
"Mbak Linda. Wah, dapat berondong nih!"
Seseorang menegur mereka berdua, Linda dan Danang. Yang membuat Linda dan juga Danang sendiri segera menoleh ke arah orang tersebut.
"Kenalin dong Mbak Linda! Jangan semuanya dikoleksi sendiri. Hehehe..."
Ternyata orang itu adalah anak buahnya Linda sendiri, yang ada di bagian in put sewing. Anaknya memang masih single, tapi slengean. Suka bercanda yang kelewatan.
"Udah sono masuk! Keburu bel berbunyi lho," ucap Linda, yang tidak menghiraukan candaan anak buahnya itu.
"Hehehe... peace Mbak!"
Orang tadi, hanya menangapi biasa saja. Tapi juga langsung pergi, dan tidak lagi menganggu Linda yang masih berbincang-bincang dengan Danang.
"Lihat kan Nang! Tidak semua omongan di pabrik itu benar. Jadi, jangan langsung percaya begitu saja, jika ada gosip atau perkataan dari orang-orang tentang suatu berita."
Danang menghela nafas panjang, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh kakak perempuannya itu.
Dia juga tahu, jika di pabrik tidak semuanya benar. Baik dari sikap seseorang terhadap kita, atau omongan yang keluar dari mulut orang-orang lain. Jadi, memang tidak perlu menghiraukan sesuatu yang tidak penting juga.
"Kita ke sini niatnya kerja, ya udah kerja. Cari uang, buka cari masalah. Jika ada orang yang mau menjadi teman, atau kita dapat apa gitu. Ya... anggap saja itu sebagai bonus."
Perkataan yang diucapkan oleh Linda yang terakhir, dibenarkan dalam hati oleh Danang. Toh selama belum bekerja di tempat ini, tidak ada yang mengenal kita. Begitu juga jika kita akan keluar suatu hari nanti. Mereka juga tidak akan mengenali kita lagi.
Mungkin, prinsip seperti itulah yang sekarang digunakan oleh Linda. Yang memang patut untuk ditiru oleh Danang juga.
"Udah ya, bel masuk sebentar lagi. Mbak masuk duluan!" pamit Linda, karena jam masuk jurang sepuluh menit lagi.
Linda pun melangkah lebih dulu, karena dia harus menjadi panutan bagi semua anak buahnya di devisi sewing. Dengan tidak terlambat datang ke tempat kerjanya.
"Kemarin Danang ketemu adiknya mas Romi Mbak!"
Deg!
__ADS_1
Linda menghentikan langkah kakinya, di saat mendengar perkataan Danang barusan. Tapi dia tidak menoleh. Hanya tangannya saja yang dia angkat ke atas, memberikan isyarat pada Danang, supaya tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Membicarakan tentang adiknya Romi.