
Kehidupan di dalam sebuah perusahaan besar multi internasional, tidaklah semudah yang dibayangkan oleh orang-orang di luar sana. Yang tentunya mereka tidak pernah tahu dan merasakan secara langsung.
Ada banyak sekali, hal-hal yang tidak pernah disangka dan terpikirkan sebelumnya, menjadi nyata di dunia kerja seperti yang baru saja Linda masuki.
Sebenarnya, Linda belum sadar benar, bagaimana dunia kerja yang baru saja dia masuki ini.
Tapi, dari wajah-wajah mereka yang menatap ke arah Linda, pada saat dia baru saja datang bersama dengan pak Komarudin. Membuat Linda berpikir lain dari pada biasanya.
Ada rasa was-was dan tidak enak, di dalam hatinya Linda. Pada saat melihat tatapan mata mereka-mereka tadi.
'Apa benar kata orang-orang, jika bekerja di PT atau pabrik itu ******keras******?'
Tapi Linda berusaha untuk tetap tenang dan mengabaikan semua tatapan mata orang-orang.
Tapi ternyata, tidak hanya matanya yang menangkap sinyal aneh dari cara pandang mereka. Suara-suara sumbang dari bisik-bisik mulut mereka, juga tertangkap dengan jelas di telinga Linda.
Ada yang terdengar positif, tapi ada juga yang negatif. Bahkan, menuduh Linda yang bukan-bukan.
"Ada cewek cantik nih."
"Bule Bro!"
"Nambah semangat kerja ini!"
Itu adalah suara-suara dari mulut para cowok, yang ada di pojokan ruangan gedung.
"Pak Komarudin bawa mangsa baru."
"Kakap kayaknya."
"Kasihan jika jadi korban buaya-buaya perusahaan."
"Iya. Sayang jika cantik-cantik kok cuma... yah begitulah."
"Pasti ada apa-apa. Gak mungkin gak deh."
Linda menajamkan pendengarannya, untuk menyaring apa saja yang mereka bicarakan.
"Tidak usah didengarkan. Tidak perlu dipikirkan. Fokus pada pekerjaan yang akan Kamu terima nantinya," tutur pak Komarudin, memberikan nasehat pada Linda. Anak buahnya yang baru saja bekerja, dan langsung dia jadikan leader.
Tugas leader di perusahaan ini adalah memimpin kelompoknya, dalam melakukan sesuatu pekerjaan yang seharusnya.
Jadi, jika di tempat kerja Linda yang dulu, gudang kayu, leader sama dengan mandor.
__ADS_1
Mungkin, jika di perusahaan atau pabrik lainnya, ada juga yang langsung menyebutnya sebagai supervisor.
Tapi di perusahaan baru yang Linda masuki ini, tingkatan pemimpin yang paling rendah dimulai dari seorang leader. Baru kemudian supervisor, asisten manager, atau biasa di singkat asmen, baru kemudian manager gedung.
Pemimpin gedung di namai manager, karena sebenarnya masih ada pemimpin yang paling tinggi, yang akan memimpin beberapa menager dari beberapa gedung yang ada di perusahaan tersebut.
Dan Linda, mulai hari ini akan menjadi leader. Pemimpin dari kelompoknya, yang sebenarnya dia juga tidak tahu, apa dan seperti apa pekerjaan yang harus dia lakukan.
"Nanti akan ada yang mengajari. Yang penting, Kamu mau belajar dan sabar. Abaikan saja, omongan-omongan orang yang sirik."
Begitulah pesan dan nasehat pak Komarudin, yang menjabat sebagai asisten manager di gedung, tempat Linda ditugaskan.
"Mbak Riksa, ke sini! Tolong ajari Mbak Melinda. Apa saja tugas dan tanggung jawabnya di kelompoknya nanti."
Pak Komarudin, memanggil salah satu anak buahnya, yang bernama Riska, untuk memberikan penjelasan. Mengajari beberapa pekerjaan dan apa saja tugas Linda, sebagai seorang leader di kelompoknya.
"Siap Pak!"
Mbak Riska dengan suara tegas, menyanggupi permintaan dan tugas yang diberikan asisten manager nya itu.
Mbak Riska sendiri adalah leader lainnya, yang juga ada di gedung ini. Tapi, tentu saja beda kelompok dengan Linda.
Linda dan mbak Riska berkenalan. Mereka berdua menyebutkan nama masing-masing, tanpa diminta oleh pak Komarudin.
Linda menyebutkan namanya sendiri, saat menyalami tangan mbak Riksa.
"Saya Riska. Dari Tasikmalaya. Kami dari mana?" tanya Mbak Riksa, dengan menyebutkan namanya sendiri juga.
"Saya dari daerah ini saja kok Mbak," jawab Linda, yang memang warga sekitar perusahaan ini.
"Oh. Saya pindahan dari Jakarta. Karena perusahaan ini sebelumnya ada di Jakarta. Jadi, di Jakarta sana tutup. Dan pindah ke sini. Ya sudah, Saya juga ikut pindah deh, hehehe..."
Ternyata, karyawan di perusahaan ini bukan hanya penduduk setempat. Tapi banyak juga dari beberapa daerah di Indonesia.
Bahkan, pak Komarudin juga bukan dari suku Jawa. Tapi dari daerah Sumatra sana.
Dari keterangan yang diberikan oleh mbak Riksa, Linda jadi sedikit banyak tahu, tentang siapa pak Komarudin dan beberapa pemimpin yang ada di gedung ini.
"Nanti lama-lama juga Kamu paham Lin. Maaf ya, Aku panggil Linda saja. Kalau Melinda, terlalu panjang. Hehehe..."
Mbak Riska mengaku jika umurnya sudah tiga puluh tahun. Jadi, tentu saja lebih tua dari usianya Linda, yang baru saja dua puluh lima tahun.
Linda hanya mengangguk saja, kemudian kembali melihat-lihat kertas yang berisi instruksi untuk tugas-tugas kerja. Biasanya, mereka menyebutnya sebagai SPK. Yaitu singkatan dari Surat perintah kerja.
__ADS_1
Jadi, SPK itu adalah berkas pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh para pekerja. Atau bisa juga disebut sebagai patokan, untuk melakukan sesuatu pekerjaan.
Linda banyak belajar hal baru di perusahaan ini. Apalagi, dia lama tidak bekerja. Dan di gudang kayu dulu, tentu saja sangat berbeda dengan pekerjaannya yang baru saja dia mulai.
"Jangan grogi ya Lin. Nantinya juga paham kok Kamu."
Mbak Riska dengan telaten mengajari Linda. Dan sepertinya, Linda merasa nyaman dengan sambutan Mbak Riksa. Rekan kerjanya yang baru saja dia kenal.
Tapi sepertinya ada juga mulut-mulut usil, yang berkomentar negatif tentang mbak Riksa ini.
"Wah, mbak Riksa ada umpan baru nih."
"Ah, hati-hati saja."
"Tapi, kasihan juga itu orang baru. Dia kan gak tahu, siapa yang dia hadapi."
Tapi, Linda berusaha untuk mengabaikan semua itu. Sama seperti yang dikatakan oleh pak Komarudin tadi.
Linda tetap berusaha untuk fokus, dan konsentrasi. Dia tidak mau berpikir macam-macam, tentang apa yang mereka katakan di belakangnya.
Dan suara-suara aneh tersebut, lama-lama aku hilang sendiri. Apalagi, saat ada pak Komarudin atau mbak Riska yang menatap tajam ke arah mereka semua.
*****
Di pengilingan padi.
Ferry dan beberapa orang sedang sibuk setelah usai melaksanakan acara selamatan.
Sekarang, mereka sibuk menata apa saja yang diperlukan untuk usaha baru milik Fery.
Timbangan dan beberapa box tempat beras, juga sudah dilengkapi dengan isinya. Ada beberapa jenis beras yang dijual oleh Ferry.
Ada beras wangi, beras merah, beras ketan dan juga beras biasa pada umumnya.
"Selamat ya Fer. Moga laris dan maju ke depannya nanti."
Bos pemilik pengilingan padi, memberikan ucapan selamat pada Ferry. Dia juga berharap agar usaha temannya itu, bisa terus berjaya.
"Nanti, jika sudah ada modal usaha yang bagus, Aku akan buka pengilingan padi sendiri. Aku sangat berterima kasih untuk pertolongan Kamu ini."
Ferry juga mengucapkan terima kasih, kepada bos pengilingan padi tersebut. Meskipun sebenarnya, dia juga ada peran penting, dalam pendirian pengilingan padi ini.
"Iya gak papa. Kamu yang nyaman aja sih. Aku gak akan merasa tersaingi kok, jika Kamu bisa buka pengilingan padi sendiri."
__ADS_1
Ferry tersenyum, mendengar perkataan temannya itu. Sekarang, dia bersiap-siap untuk melayani pembeli.