
Keesokan harinya, Linda dipanggil pak Rudi ke ruangan kerjanya.
Tok tok tok!
"Masuk!"
Linda masuk ke dalam ruangan tersebut, di saat ketukan pintunya didengar dan dipersilahkan untuk masuk oleh pak Rudi.
Pak Rudi melihat sekilas ke arah Linda. Tapi dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang ada di depannya, di atas meja.
"Maaf. Pak Rudi panggil Linda?"
"Hemmm."
Pak Rudi hanya mendengus dingin. Dia tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Linda padanya.
"Kamu beneran gak mau terima tawaran yang kemarin Aku kasih Lin?"
Sepertinya, pak Rudi masih berharap supaya Linda mau menerima tawaran untuk menjadi asisten managernya di gedung ini.
"Iya Pak. Maaf," ucap Linda, menjawab pertanyaan dari pak Rudi. Dia pun menundukkan kepalanya, karena pak Rudi sedang menatapnya dengan pandangan mata yang tajam.
Linda seakan-akan merasa takut, karena pertanyaan ini, sama seperti yang kemarin pak Rudi ajukan pada Linda. Dan Linda juga menjawabnya dengan jawaban yang sama. Yaitu tidak.
"Lalu, kenapa Kamu juga tidak ikut lembur? Bukankah Aku memintamu untuk ikut mengawasi anak-anak di waktu lembu kemarin?"
Sebenarnya, Linda tidak merasa takut jika harus menjawab pertanyaan tersebut. Toh kemarin, Linda juga sudah memberitahukan kepada pak Rudi. Meskipun pada akhirnya, pak Rudi tidak memberinya ijin.
Dan linda justru pulang sendiri, dengan membuat keputusan sendiri juga.
Mungkin, pak Rudi memangilnya kali ini, ada hubungannya juga dengan pembangkangan yang dilakukan oleh Linda kemarin. Selain penolakan terhadap tawaran pak Rudi, untuk menjadikan Linda sebagai asisten managernya.
"Hemmm... baiklah kalau begitu. Aku akan memberikan pengumuman untuk perputaran tugas para leader dan supervisor. Termasuk Kamu juga Lin."
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi, Linda mengerutkan keningnya, memikirkan hal apa yang akan terjadi setelah ini. Karena bisa dipastikan, kemungkinan besar yang akan Linda alami adalah, pak Rudi akan membuatnya pergi dari devisi nya yang sekarang.
Bahkan, bisa jadi pak Rudi akan membuangnya ke gedung lain. Untuk memberikan pelajaran kepada Linda. Bahwa kehidupan di dunia kerja di sebuah pabrik itu sangat keras.
"Baik Pak. Jika tidak ada hal yang lain, Linda pamit untuk kembali ke tempat kerjanya linda."
__ADS_1
Pak Rudi langsung mengangguk mengiyakan. Tapi dia tidak mau melihat ke arah Linda
Bahkan di saat Linda membuka dan menutup pintu ruangan lagi, pak Rudi tetap diam ditempatnya. Tanpa ada niatan lagi untuk bisa berbicara dengan Linda.
Di perjalanan menuju ke ruangan kerjanya Linda sendiri.
'Pak Rudi itu marah karena Aku gak mau menerima tawarannya, atau karena Aku kabur kemarin?' Linda bertanya dalam hati, dengan pernyataan yang diberikan oleh dirinya sendiri juga.
Tapi menurut Linda, alasan yang dibuat oleh pak Rudi tidak masuk akal. Karena dengan begitu, semua orang akan terkena dampak dari amarahnya pak Rudi.
"Entahlah apa yang akan dilakukan oleh pak Rudi. Aku tidak peduli. Yang penting, niat awal Aku ada di sini adalah bekerja. Menghasilkan uang dan bisa membahagiakan Erli."
Akhirnya, Linda bergumam seorang diri. Dengan mengingat tujuan awalnya, untuk bisa bekerja di perusahaan ini.
"Di mana pun Aku akan ditugaskan, Aku tidak peduli. Yang jelas, Aku masih bisa bekerja. Aku butuh uang untuk masa depan anakku besok."
Linda kembali bergumam seorang diri. Dengan melangkah masuk ke dalam ruangannya sendiri. Karena dia sudah sampai di ruangan supervisor, tempatnya bekerja.
*****
Pak Yus bingung dengan peran yang masuk ke dalam ponselnya.
"Kenapa harus dipindah semua leader dan supervisor?"
Begitulah tadi pak Yus bertanya, saat membalas pesan yang disampaikan oleh pak Rudi kepadanya.
Pak Rudi akhirnya memberikan alasan, kenapa dia melakukan semua ini.
Dia melakukan semua ini, karena ingin melihat semangat anak buahnya, dalam bekerja. Biar mereka tidak merasa bosan.
Lagipula, perputaran ini hanya untuk membuat mereka, para leader dan supervisor, tahu bagaimana pekerjaan di masing-masing. Supaya tidak ada ada saling iri, dan membandingkan satu pekerjaan dengan pekerjaan yang lain.
Tapi di saat pak Yus melihat nama Melinda di dalam daftar nama supervisor yang akan dipindahkan, pak Yus berpikir jika, pak Rudi sedang ada masalah dengan Linda.
"Ini pasti ada apa-apa ini. Gak mungkin tidak."
Begitulah kira-kira pemikiran yang ada di dalam hatinya pak Yus saat ini. Tapi, dia juga tidak berani untuk bertanya lebih lanjut mengenai hal ini pada pak Rudi.
Karena ini bukan wewenangnya dalam pembagian tugas di bagian produksi. Dia hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang pihak HRD.
__ADS_1
Dan yang mengetahui tentang tugas penugasan di bagian produksi, memang menjadi tugas masing-masing manager di gedung-gedung yang mereka pimpin.
*****
Selepas istirahat siang, semua leader dan supervisor berkumpul. Ini atas perintah dari manager mereka, di gedung ini. Yaitu pak Rudi.
Di saat semuanya sudah berkumpul, pak Rudi akhirnya datang juga bersama dengan salah satu TKA. Untuk membacakan pembagian perputaran tugas bagi mereka semua.
Satu persatu disebutkan, bersama dengan area devisi yang akan menjadi tanggung jawab mereka.
Desah kecewa dan senyum kepuasan, tampak terlihat di wajah-wajah yang berbeda juga.
Tapi di saat nama Melinda disebutkan, bersama dengan devisi yang akan menjadi tanggung jawabnya. Semua orang menatapnya penuh selidik. Termasuk Linda sendiri. Yang tidak menyangka bahwa, dia akan mendapatkan tugas di bagian produksi sewing.
Devisi yang cukup keras, karena inti dari semua proses produksi, ada di bagian seweing.
Itulah sebabnya devisi sewing sering disebut sebagai patokan atau jantungnya produksi di perusahaan ini. Dan Linda, harus siap dengan segala sesuatunya yang ada dalam tugasnya kali ini.
"Bagaimana? Ada yang mau protes, atau bertanya terlebih dahulu?"
Semuanya diam saja, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh pak Rudi. Tidak ada yang menyahuti. Dan ini dianggap sebagai persetujuan dari mereka semua.
"Ok. Saya kira pertemuan kali ini sampai di sini. Semua juga sudah paham. Jika ada kepentingan atau pertanyaan, boleh datang langsung menemui dan bertanya pada Saya."
Pernyataan dan perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi, membuat semua orang menganggukkan kepalanya. Termasuk TKA yang ikut hadir di dalam pertemuan mereka ini.
"Kalian semua bisa langsung menempati tugas kalian yang baru, mulai dari sekarang."
Kasak kusuk terdengar dari mulut beberapa orang. Dan suasana kembali tenang, di saat pak Rudi berdehem cukup keras.
"Ehem... Hemmm!"
Akhirnya semua orang pergi dari ruangan tersebut. Karena tidak mau mendapat teguran untuk kedua kalinya.
"Mbak Linda!"
Seseorang menepuk pundak Linda. Dan di saat Linda menoleh, Ara Mbak Mila, teman yang dulu ikut serta dalam training kepemimpinan di Jakarta.
"Mbak Mila! apa kabar?"
__ADS_1
Keduanya, Linda dan mbak Mila, akhirnya berbincang-bincang sebentar. Karena memang tidak pernah bertemu lagi, pasca training beberapa bulan yang lalu.