
Suasana hari sabtu di pabrik, memang tidak seramai hari biasanya. Sebab pada hari sabtu, tidak semua karyawan masuk kerja. Hanya beberapa orang dari berbagai devisi yang diperlukan saja, yang diperbolehkan ikut lembur kerja.
Perusahaan mengunakan aturan seperti ini bukan tanpa sebab. Karena seharusnya, hari sabtu itu adalah hari libur. Jadi perusahaan harus memberikan perhitungan lembur dua kali lipat, dibandingkan dengan lembur di hari biasanya pada jam kerja.
"Mbak Linda, ini memo dari gedung E. Ada permintaan material urgent ini! Mereka repro lumayan banyak."
Aria menyerahkan memo yang dia pegang pada Linda. Karena Linda adalah leadernya.
Linda memeriksa memo tersebut dengan teliti. Tanda tangan siapa saja yang tercantum pada memo tersebut. Karena jika tidak ada tanda tangan yang lengkap, dia tidak bisa memberikan material yang diminta.
Bukan karena sok berkuasa, tapi itu sudah menjadi prosedural di setiap memo. Karena hari seninnya, dia harus membuat laporan untuk manager di gudang material ini. Dan memo tersebut, juga harus dia sertakan.
Seandainya memo tersebut tidak ada tanda tangan lengkap, pertangungjawaban atas memo tersebut juga tidak bisa disampaikan ke atasan.
Dan material yang sudah terlanjur dia berikan, akan menjadi tangung jawabnya untuk mengantikan sebagai bentuk ganti ruginya.
Di tambah lagi, setiap tanda tangan yang berbetuk memo seperti ini, juga akan mempengaruhi bonus bulanan. Yang akan diterima setiap orang, yang bertanggung jawab atas memo tersebut.
Jadi intinya, setiap orang yang sering melakukan tanda tangan pada memo, akan berkurang bonus yang dia terima.
Itulah sebabnya, membuat memo untuk reproduksi sangat dihindari. Karena akan berakibat pada bonus pada atasan yang menandatangani surat memo tersebut.
"Ini tanda tangan pembuat memo kenapa tidak ada?"
"Masa Mbak?" tanya Aria tidak percaya.
"Siapa yang ngasi tadi?"
Linda bertanya pada Aria, karena biasanya, yang membuat memo seperti ini adalah leader cutting, karena kesalahan pada devisi cutting sendiri.
Jika dari pihak sewing yang membuat memo, itu artinya ada kesalahan produksi pada bagian sewing. Dan tanda tangan akan lebih banyak lagi.
Sedang memo kali ini hanya ada tiga orang yang tanda tangan.
Mengetahui dari supervisor, asisten manager dan managernya. Tidak ada tanda tangan leader di memo tersebut.
"Coba Aku tanya ke operator yang diutus ya Mbak. Orangnya masih ada kok di sana!"
Aria menunjuk ke arah tumpukan material yang ada di gudang ini. Karena di sana, ada satu karyawan yang memang bukan bagian gudang material.
Dengan langkah cepat, Aria menuju ke tempat orang yang tadi ditunjuk. Kemudian berbincang sebentar, dan Aria kembali lagi ke tempat Linda.
"Katanya leadernya baru saja kabur Mbak. Udah gak masuk kerja seminggu ini. Dan gak ada kabar."
Linda mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian me_stempel memo tersebut.
"Kamu ambilkan material yang mereka perlukan. Bawa bersama material yang akan Kamu kirim ke gedung sebelahnya. Biar gak bolak balik."
Aria pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan Linda.
Hari ini Aria lembur kerja sendiri, tidak bersama dengan Febriyanto. Karena menurut kabar, Febriyanto akan melakukan lamaran nanti malam.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
"Ar. Istirahat makan di mana? Aku bareng ya, gak ada temannya nih!"
Aria mengangguk lagi, kemudian segera melanjutkan pekerjaannya yang tadi.
Linda tersenyum tipis, melihat sikap Aria yang tampak acuh padanya. Tidak sama seperti Febriyanto yang ramah dan antusias, saat di ajak bicara.
Mungkin mereka Aria sering mendengar isu dan gosip tentang Linda. Jadi dia waspada sendiri. Agar tidak terlalu dekat dengan Linda.
Aria takut dijadikan sasaran target teman kencan Linda. Yang selama ini dikabarkan suka main dengan berbondong-bondong, biar tetap awet cantik dan muda.
*****
Jam satu siang, gudang material di tutup. Semua karyawan yang bekerja hari ini sudah pulang, kecuali beberapa bagian yang urgent. Di jadwal memang harus selesai pada jam tiga sore nanti.
Akhirnya Linda dan Aria tidak jadi makan siang bersama. Karena sekalian pulang saja, nanti baru makan siang.
Dan sekarang, Linda berjalan menuju ke tempat parkir motor, bersama dengan Aria dan yang lainnya juga.
"Duluan ya!"
"Aku duluan."
"Ayok duluan!"
Di tempat parkir, terdengar suara-suara para karyawan yang saling berpamitan pada teman-temannya.
"Aku duluan ya Mbak Linda."
"Iya, ati-ati Aria!"
Sepersekian detik kemudian.
Pluk!
"Lin," suara seseorang menegur Linda, dengan menepuk lengannya juga.
"Kak Romi!"
Wajah Linda merah, putih, biru. Karena ternyata yang menepuk lengan, dan juga menegurnya adalah Romi.
"Sorry, Kamu jadi kaget."
Tampak Romi yang sedang tersenyum tipis, karena merasa bersalah. Sudah mengangetkan Linda dengan tepukan di lengannya tadi.
Linda pun meringis canggung.
Dia tidak tahu, apa yang harus dia lakukan, untuk menghilangkan rasa canggungnya ini.
"Emhhh..."
__ADS_1
"Hum..."
Keduanya sama-sama ingin mengucapkan sesuatu, tapi tidak jadi. Karena mendengar suara mereka berdua. Yang sebenarnya ingin mengutarakan sesuatu.
"Kamu duluan Lin. Bicaralah," pinta Romi. Mempersilahkan pada Linda supaya bicara terlebih dahulu sebelum dirinya.
"Kakak aja deh yang ngomong duluan."
Linda pun sama.
Dia mau mendengarkan, apa yang ingin disampaikan oleh Romi saat ini.
"Hhh... kalau Kakak yang ngomong duluan, lama lho. Kamu entar bosen duluan sebelum selesai semua."
"Ihsss... Kakak apaan sih kok ngomong gitu!" gerutu Linda kesal. Tapi dengan tersenyum malu-malu. Membuat Romi juga ikut tersenyum, melihat tingkahnya.
"Oh ya, Kamu lembur sendiri?"
"Gak lah! Ada banyak karyawan lain yang lembur juga kok."
"Hehehe... maksudnya gak sama Danang gitu lho Lin. Aneh-aneh aja Kamu jawabnya."
Linda tersenyum, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Romi. Karena sebenarnya dia juga tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh mantan pacarnya itu.
Akhirnya mereka berdua terlibat perbincangan yang santai, dengan obrolan yang ringan pada hal-hal yang biasa.
Hingga pada saat pertanyaan Romi, yang membuat Linda cepat-cepat pamit. Untuk pulang terlebih dahulu.
"Anakmu umur berapa Lin?"
Deg!
Linda teringat dengan janjinya pada Erli semalam.
"Eh, maaf Kak. Linda lupa."
"Emhhh... Linda pulang dulu ya. Linda sudah janji sama Erli soalnya. Maaf ya Kak!"
Tanpa menunggu jawaban dari Romi, Linda menghidupkan mesin motornya. Kemudian berlalu dari hadapannya Romi.
"Erli? Siapa Erli?"
"Apa itu nama anaknya Linda?"
Romi bergumam seorang diri, bertanya tentang nama yang tadi disebutkan oleh Linda barusan.
"Hemmm..."
Akhirnya Romi kembali ke tempat anak buahnya yang lain, yang baru saja datang. Karena selesai beristirahat sejenak siang ini.
Di perjalanan pulang menuju ke rumah ibunya. Linda menyempatkan diri untuk membeli pesanan Erli.
__ADS_1
Dia tidak mau diprotes anaknya lagi, hanya karena lupa dengan pesanan yang diinginkan Erli semalam.
Tapi di saat dia baru mencari-cari penjual burger, matanya melihat seseorang yang baru saja keluar dari sebuah warung makan. Yang membuatnya menyipitkan matanya, supaya bisa melihat dengan lebih jelas lagi.