
Dengan adanya Danang dan Della, suasana di ruang tamu kembali kondusif. Sebab linda tidak menjadi tegang lagi seperti tadi.
Mereka semua, akhirnya berbincang-bincang tentang hal yang umum. Terutama tentang pabrik, di mana Linda, Danang dan Della bekerja di sana. Bahkan, Romi google pernah bekerja di sana meskipun hanya sebagai tenaga pemborong.
Tapi itu sudah cukup untuk Romi, mengetahui situasi tentang keadaan pabrik. Di mana para pekerjaan di tempat itu lebih banyak wanita, dibandingkan pria.
Dan pergaulannya pekerja pabrik, juga sudah berbeda, secara moralitas, bandingkan dengan mereka yang tidak bekerja di pabrik.
Mungkin saja karena adanya faktor kultur dari orang-orang pendatang, yang dulunya juga sudah bekerja di kota lebih lama.
Jadi, para pekerja pabrik harus bisa memilah dan memilih pergaulan yang baik, sehingga tidak menjerumuskan mereka sendiri. Untuk efek pergaulan yang negatif.
Pembicaraan mereka tentang hal ini, membuat Linda menundukkan kepalanya.
Dia jadi teringat dengan keadaan dirinya sendiri, di awal-awal masuk kerja beberapa tahun yang lalu. Yang tentunya tidak patut untuk diceritakan.
Linda harus memenuhi keinginan para pemimpinnya yang berpikir tentang sesuatu yang bebas. Yaitu pak Komarudin dan pak Rudi. Bahkan, hingga sekarang mereka masih saja terus menerus menganggu Linda, dengan keinginan mereka itu.
Hingga akhirnya Romi pamit untuk pulang, Linda tidak lagi menyahuti pembicaraan mereka. Dia sibuk dengan pikirannya masing-masing sehingga jadi melamun.
"Dek. Dek Linda," tegur Romi, sebab dia ingin pamit pulang.
Danang menepuk pelan lengan kakaknya itu. Supaya Linda sadar dari lamunannya, yang tidak dia ketahui tentang hal apa.
"Eh, emhhh... iya-iya. Linda juga mau beristirahat." Terang Linda dengan gugup.
Setelah romi benar-benar sudah pergi dari rumahnya, dan Della juga masuk ke dalam kamarnya, Danang berbicara dengan Linda.
"Mbak. Mbak Linda kenapa tadi melamun?" tanya Danang, yang mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Yang mungkin dirasakan oleh kakaknya ini.
Tapi karena dia tidak tahu, maka dia juga harus bertanya pada Linda.
Danang ingin kakaknya itu bersikap terbuka, supaya dia bisa membantu kesulitan yang dialaminya. Mungkin apa yang sedang dipikirkan oleh Linda saat ini, dia bisa mencarikan jalan keluar.
Sayangnya, Linda sendiri belum bisa terbuka pada adiknya itu. Meskipun sebenarnya dia ingin sekali mengatakan dan menceritakan permasalahannya.
Ada sesuatu yang membuatnya merasa takut dan rasa yang lain, sehingga membuatnya terus menutup mulut.
Entah sampai kapan semua hal ini bisa dia tangani, dan bisa dia ceritakan pada orang lain. Agar merasa ketakutan sendiri.
Untungnya, Danang tidak memaksanya untuk berbicara. Sebab , Danang sendiri sudah terbiasa dengan sikap kakaknya yang tertutup sedari dulu.
"Ya sudah Mbak, istirahat saja. Jika mbak Linda siap untuk bercerita, Danang juga siap kapan saja untuk mendengarkannya."
__ADS_1
Linda hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan adiknya yang cukup bijak ini. Dia sangat bersyukur, karena Danang tidak pernah mencecarnya dengan banyak pertanyaan.
"Iya. Mbak Linda mau istirahat saja."
"Oh ya Nang, apa Erli sudah tidur di kamarnya ibu?" tanya Linda pada adiknya, saat dia teringat dengan anaknya yang tidak terlihat sedari tadi.
Danang menganggukkan kepalanya, dengan tersenyum tipis.
"Kamu dan Della menginap di rumah ini kan? Atau Kamu mau pulang ke rumah Della?" tanya Linda lagi.
Malam sudah semakin larut, jadi tidak mungkin adiknya ini pulang ke rumah istrinya. Sedangkan di rumahnya Della, juga sudah ada Romi yang menunggui rumah tersebut.
Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh kakaknya itu, Danang kembali duduk dan memegang telapak tangan Linda.
Danang siap ada di depan Mbak Linda, jika mbak Linda sedang ada masalah. Jadi, Mbak Linda jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada Danang.
Linda kembali mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar pernyataan yang diucapkan oleh adiknya itu.
Dia terharu dengan sikap adiknya itu, yang masih bisa mengayomi dirinya. Meskipun Danang sudah memiliki istri, yang harus diperhatikan.
*****
Di tempat lainnya.
Tadi, Pamannya Romi sebenarnya berniat untuk datang ke rumahnya Linda.
Tapi saat ada dalam perjalanan, dia melihat saingan bisnisnya, yang sedang bersama seorang wanita cantik. Di sebuah warung makan Lamongan di pinggir jalan.
Dia merasa panas, merasa diremehkan siangannya itu. Karena saat melihatnya, orang tersebut tersenyum menyeringai ke arahnya. Sehingga dia harus menghentikan mobilnya. Agar bisa mendekati saingannya itu, untuk memberinya pelajaran.
Pada akhirnya, perkelahian antar dua laki-laki yang kaya dan berpengaruh tersebut, tidak bisa dielakkan lagi di warung makan tersebut.
Tentu saja, akibat ulah mereka berdua. Warung makan Lamongan tersebut menjadi berantakan. Dan para pelanggan yang datang, harus kabur untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Hal ini membuat pemilik warung merasa dirugikan, sehingga dia melaporkan kejadian tersebut pada pihak kepolisian.
Pemilik warung makan Lamongan, meminta ganti rugi yang besar, atas kejadian di tempatnya usaha.
Tapi pamannya Romi mengelak.
Dia tidak mau bertanggung jawab seorang diri, karena dia merasa tidak melakukannya sendirian. Tapi bersama orang yang jadi saingannya tadi.
Itulah sebabnya, saat ini dia bersama dengan sayangnya itu berada di kantor polisi untuk memberikan keterangan. Ditemani oleh pemilik warung makan lamongan juga.
__ADS_1
Tapi karena ada banyak saksi yang ikut serta ke kantor polisi, akhirnya Pamannya Romi tidak bisa mengelak. Sehingga dia harus memberikan ganti rugi seorang diri, sebab dia memang yang pertama kali membuat kekacauan tersebut.
Dengan berat hati, akhirnya dia menyanggupi untuk memberikan ganti rugi kepada pemilik warung makan lamongan. Malam ini juga, melalui transfer bank.
Dan kepada pihak kepolisian, dia juga harus membuat pernyataan. Untuk tidak melakukan hal yang serupa kedepannya nanti.
Malam ini, pendekar merasa sedang tidak beruntung.
"Huhfff... gagal sudah Aku mau ke rumah kakak ipar Della;" gerutu sang paman kesal.
Akhirnya, dia kembali pulang ke rumah istri keduanya. Untuk melampiaskan kekesalannya malam ini.
Dia tidak mungkin bisa datang ke istri pertamanya, karena jika dia dalam keadaan marah dan melampiaskan pada istri pertamanya itu, maka anak-anaknya yang sudah semakin besar akan membela ibunya.
Jadi, dia tidak mau wibawanya jatuh, di depan anak-anaknya sendiri.
"Awas ya si tengik itu! Kapan-kapan, dia harus membayar mahal atas kejadian ini.
Pamannya Della, masih merasa dendam kepada pesaingnya. Sehingga membuat rencana tersendiri, untuk memberikan pelajaran kepada orang tersebut.
Dia tidak mau diremehkan begitu saja oleh lawannya. Apalagi dua sangat percaya diri dan merasa bangga, sebab sudah memiliki dua istri. Sedangkan pesaingnya itu, hanya memiliki satu istri, dengan banyak selingkuhan.
"Cihhh! dasar penakut dia. Maunya tidak repot-repot untuk bertanggungjawab. Hanya bisa selingkuh-selingkuh saja, tanpa mau memberikan status yang jelas."
Dia terus mengerutu di sepanjang perjalanan pulang ke rumah.
*****
Di rumahnya Romi.
Dia tidur dengan menatap langit-langit kamar, tanpa ada yang bisa dia ajak bicara.
Romi kembali mengingat, bagaimana keadaan Linda. Di saat yang sedang dalam keadaan panik.
"Dek Linda sebenarnya kenapa ya?"
Romi bertanya-tanya sendiri dengan keadaan linda yang menurutnya cukup aneh.
Dia ingin tahu, apa dan bagaimana caranya, supaya Linda bisa lebih terbuka padanya. Sehingga dia juga bisa membantu linda keluar dari ketakutannya.
"Semoga saja, dek Linda mau percaya padaku, kemudian menceritakan ketakutannya yang ada di hatinya. Supaya dia tidak lagi merasa cemas."
Romi benar-benar ingin membuat Linda merasa nyaman dan bahagia, jika mau memutuskan untuk hidup bersama dengannya.
__ADS_1