Tante Melinda

Tante Melinda
Maaf


__ADS_3

Keesokan harinya, Linda benar-benar datang memenuhi panggilan perusahaan. Yang mengharuskan dirinya datang untuk menghadap ke HRD hari ini.


Semalam, Linda sudah membicarakan hal ini pada dana dan juga Della.


Tapi ternyata, keduanya sama-sama tidak tahu, kenapa surat pemanggilan tersebut bisa sampai tertuju pada Linda. Sebab, prosedur perijinan yang diatur oleh perusahaan, sudah mereka lakukan selama ini.


Jadi, untuk pemanggilan Linda kali ini, Danang dan Della benar-benar tidak tahu.


Itulah sebabnya, saat ini, linda sudah berada di pos security. Untuk bisa mendapatkan ID card khusus untuk tamu. Sebab, statusnya kali ini adalah karyawan cuti, dan bukan sebagai karyawan aktif.


Sebenarnya, Romi tidak tega membiarkan istrinya itu masuk ke dalam sana dengan penggunakan kruk.


Tapi, pihak security mengatakan bahwa, akan ada kendaraan yang menjemput Linda di pos security ini. Yang akan membawanya menuju ke kantor HRD.


Akhirnya, Romi sedikit merasa lega dan membiarkan Linda menunggu di pos security. Tapi dia juga meminta ijin, supaya diperbolehkan menunggu istrinya itu. Sebelum Linda pergi ke kantor HRD.


Dan setelah Linda pergi, karena sudah dijemput oleh supir menuju ke kantor HRD, Romi akhirnya pamit untuk menunggu Linda di luar perusahaan.


Dia pergi ke sebuah warung, yang dulunya menjadi langganan.Di saat dia masih ada pekerjaan borongan untuk pembuatan kanopi di area parkir perusahaan ini.


Di pos security, berbagai macam pertanyaan datang dari para security cowok, yang mengenal Linda.


"Mbak Linda itu bukannya kabar-kabar kecelakaan ya? dan suaminya meninggal pada saat kecelakaan tersebut. Terus tadi, kok bilang jika suaminya mbak Linda?"


"Mungkin udah kawin lagi!"


"Waoiii... cepat kali kawinnya?"


"Yahhh... orang cantik. Meskipun janda, tapi mbak Linda itu gak kalah sama yang masih gadis. Ya kan?"


"Hehehe... iya sih. Jika ada janda yang kayak mbak Linda gitu, terus dia nya mau sama Aku, Aku juga gak akan nolak kok!"


"Hahaha... mimpi aja terus! Kapan tidurnya, kapan bangunnya woiii!"


"Hilihhh... biarkan Aku berkhayal sesuka ku!"


Akhirnya, di pos security, terjadi perbincangan yang membuat gelak tawa. Karena saling lempar canda. Yang awalnya tadi hanya membicarakan tentang Linda saja.


Linda memang sesuatu yang menarik untuk diperhatikan, sehingga menjadi bahan pembicaraan. Bahkan, mereka juga sering merasa baper, jika perkataan mereka ditanggapi oleh linda sendiri, waktu dulu.


Di kantor HRD.

__ADS_1


Linda sudah masuk ke ruangan pak Yus, dengan dibantu seseorang. Yang memang sudah ditugaskan untuk menjemput Linda tadi. Yaitu seorang suster, yang bertugas di klinik perusahaan.


Sekarang, Linda sedang berhadapan dengan pak Yus. Membicarakan tentang surat pemanggilan dirinya, yang dia terima kemarin.


"Jadi, maksud dari surat panggilan itu apa ya pak Yus?" tanya Linda, langsung pada intinya.


"Maaf mbak Linda. Ini, Saya membuat panggilannya sepertinya mendadak ya?"


Pak Yus justru bertanya balik pada Linda, dengan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Linda padanya.


Akhirnya Linda hanya diam saja, menunggu sampai pak Yus sendiri, yang akan memulai, atau mengutarakan maksud dari surat pemanggilan tersebut.


"Sebenarnya, Saya melakukan pemanggilan ini adalah untuk memberikan penawaran menarik untuk Mbak Linda. Kira-kira, mbak Linda mau tidak, jika naik jabatan menjadi supervisor lagi?"


Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh pak Yus barusan, membuat Linda mengerutkan keningnya. Memikirkan apa maksud dari perkataan pak Yus.


"Maksudnya apa ya Pak?"


"Bukannya, di perusahaan ini ada banyak sekali karyawan, yang juga punya potensi untuk bisa naik jabatan?"


Linda mengajukan beberapa pertanyaan pada pak Yus. Katena dia merasa jika hal ini tidak masuk akal.


Apalagi, dia sudah libur cuti selama beberapa bulan. Dan tidak tahu apa-apa tentang keadaan pabrik. Hal ini akan menimbulkan kesenjangan sosial, untuk para karyawan yang lain.


Pak Yus akhirnya memberikan penjelasan kepada Linda, bahwa saat ini, perusahaan sedang membangun area gedung baru. Dan harus menempatkan, menentukan beberapa atasan. Untuk bisa mengontrol, mengawasi dan mengajari karyawan baru. Yang akan bekerja di gedung baru tersebut.


Dan mana Melinda, ikut tercantum dalam jajaran atasan. Yang akan ditempatkan di gedung baru tersebut. Supaya bisa melakukan tugasnya dengan baik.


"Maaf pak Yus. Bukannya Linda menolak tawaran ini. Tapi, kondisi Linda sendiri masih seperti ini. Dan Linda juga tidak tahu, apakah Linda masih sanggup bekerja atau tidak."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda, membuat pak yus memejamkan matanya sebentar.


Sebenarnya, nama Melinda diusulkan oleh pak Rudi, supaya Linda bisa menjadi atasan lagi. Dengan demikian, setidaknya mereka akan sering bertemu. Jika sedang melakukan metting bersama.


Tapi kenyataannya Linda menolak tawaran tersebut. Padahal, jika Linda mau menerima tawaran ini, tidak lama kemudian, Linda akan dipromosikan menjadi wakil manager. Sehingga kedudukannya nanti akan sama seperti pak Rudi dan juga pak komarudin.


Sayangnya, Linda tidak mau menerima tawaran ini. Bahkan mengatakan bahwa dia ingin keluar dari pekerjaannya.


"Apa mbak Linda udah memikirkannya masak-masak?" tanya pak Yus lagi, dengan memberikan kesempatan pada Linda supaya bisa berpikir terlebih dahulu.


Tapi linda tetap menggelengkan kepalanya beberapa kali, memberikan jawaban tegas pada pak Yus.

__ADS_1


Dia tidak mau jika ada kesalahpahaman, jika dia tidak memberikan jawabannya saat ini.


Sekarang, Linda justru memberikan sebuah amplop pada pak Yus. Yang berisi surat pengunduran dirinya.


Tentu saja hal ini membuat pak Yus kaget.


"Mbak Linda. Saya memangil mbak Linda datang ke sini itu bukan untuk mengundurkan diri. Tapi memberikan penawaran, yang tentunya akan membuat Mbak Linda semakin naik. Bukan hanya sekedar jabatannya saja, tapi gajinya juga ikutan naik."


Pak Yus masih berusaha untuk mengiming-imingi Linda, supaya terpengaruh dan membatalkan rencana pengunduran dirinya tadi.


"Maaf pak Yus. Ini sudah menjadi keputusan Saya, yang sudah Saya rundingkan bersama dengan suami Saya juga."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda, pak Yus miringkan kepalanya. Sebab, dia tidak pernah mendengar berita atau kabar, jika Linda sudah menikah lagi.


"Mbak Linda sudah menikah lagi?" tanya pak Yus, yang ingin memastikan pendengarannya sendiri. Karena dia memang tidak yakin, jika Linda baru saja mengatakan bahwa, leader Linda sudah menikah.


"Iya pak Yus. Saya memang sudah menikah lagi beberapa minggu yang lalu."


Pak Yus mengangguk-angguk mengerti, dengan apa yang dikatakan oleh Linda barusan.


Sekarang, dia tidak lagi memaksa Linda, supaya mau menerima tawarannya tadi.


Dia berpikir bahwa, Linda berhak menentukan pilihan kehidupannya sendiri. Meskipun saat ini masih berstatus sebagai karyawan di perusahaan yang dipimpinnya.


"Selamat atas pernikahannya mbak Linda. Maaf, Saya tidak tahu." Linda hanya tersenyum tipis, mendengar ucapan selamat, yang diucapkan oleh pak Yus.


Sekarang, dia pamit untuk pulang. Dengan mengingatkan pada pak Yus, untuk segera memproses surat pengunduran dirinya.


"Terima kasih ya Pak. Dan Saya berharap, agar pak Yus segera memproses surat pengunduran diri Saya tadi."


"Sama-sama mbak Linda."


"Baiklah. Saya akan memberikan kabar ini pada pihak terkait. Dan seandainya sudah disetujui, saya akan memanggil mbak Linda lagi. Untuk mengambil surat resminya."


"Maaf Pak Yus. Jika boleh minta tolong, suratnya dititipkan sama adiknya Linda saja Pak. Apakah bisa?"


Pak Yus kembali tersenyum tipis, mendengar permintaan Linda kali ini.


"Baiklah. Saya akan menitipkan suratnya kepada Danang atau istrinya. Della itu kan ya?" tanya pak Yus, yang berusaha mengingat nama adik-adiknya Linda.


"Iya Pak. Danang ada di bagian PPIC, sedangkan istrinya, Della, adalah anak buahnya pak Yus sendiri. Dia bagian HRD yang menangani bidang BPJS."

__ADS_1


Pak Yus kembali menganggukkan kepalanya, paham dengan perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh Linda padanya.


Dan sekarang, Linda pamit untuk pulang.


__ADS_2