Tante Melinda

Tante Melinda
Mendengar Sendiri


__ADS_3

Dengan masih mengunakan helm, Linda berusaha untuk mencari tempat yang bagus untuk bersembunyi. Karena siang hari seperti ini, terang benderang. Sehingga keberadaannya bisa dengan mudah diketahui orang yang saat ini ada di depan matanya.


'Bukankah dia pergi ke kota asalnya? Kenapa dia masih ada di sini?'


Linda bertanya tentang keberadaan orang tersebut, yang memang sudah berjanji akan segera pergi dari kota ini. Setelah semua kekacauan yang dia lakukan bersama dengan suaminya. Yaitu Ferry.


Tapi belum habis rasa terkejut dan herannya Linda, sosok mbak Nana, orang tersebut adalah mbak Nana, ternyata tidak sendirian.


Ada dua orang laki-laki yang ada di belakang mbak Nana.


'Apa mungkin itu suaminya mbak Nana? Sepertinya iya. Tapi kenapa ada...'


Kini Linda mencari tempat yang bagus, agar bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Yaitu mbak Nana sendiri, dengan dua orang laki-laki. Mungkin salah satunya adalah suaminya, sedangkan yang satunya lagi adalah... pak Yus.


'Apa hubungan antara pak Yus dengan mbak Nana? Atau mereka adalah saudara?'


Pertanyaan demi pertanyaan yang muncul di dalam hatinya Linda, sekarang ini terjawab sudah. Di saat dia mendengar pembicaraan mereka bertiga saat ini.


Ternyata, Pak Yus adalah saudara jauh dari suaminya mbak Nana. Dan selama hampir dua minggu ini, mereka berdua, mbak Nana dengan suaminya, menginap di rumah pak Yus. Dengan alasan bahwa, rumah mereka sedang tahap jual beli. Dan saat ini, rumahnya sudah terjual. Sehingga siang ini juga, suami istri yang sudah menipu Ferry, baru akan pergi dari kota ini.


"Syukurlah kalau kalian bisa menjual rumah itu. Dan hiduplah dengan tenang, karena sekarang sudah ada anak yang akan membuat kehidupan kalian lebih baik lagi kedepannya nanti."


"Jangan hiraukan omongan orang-orang yang dulu mengatai dirimu gabuk lah, kosong lah, sampah lah! Nyatanya, sekarang kalian berdua bisa buktikan sendiri. Jika kalian bisa berhasil punya anak setelah pergi dari bully-an orang-orang."


"Kadang kita perlu suasana yang baru, untuk membuat kehidupan kita ini menjadi lebih baik. Tunjukkan pada mereka, yang dulunya menyangka jika kalian mandul."


"Tunjukkan jika sekarang kalian akan segera memiliki momongan."


Pak Yus berkata dengan bersemangat, memberikan beberapa nasehat pada saudara jauhnya itu.


Kini, Linda sedikit mengerti. Apa yang memang mereka inginkan selama ini, dan apa yang menjadi tujuan utama mereka. Sehingga jauh-jauh pergi ke daerah Linda yang lumayan kecil, jika dibanding dengan kota, di mana asal Mbak Nana dan suaminya berasal.


Sayangnya, pak Yus tidak tahu. Jika keberhasilan mereka berdua bukan hasil dari jerih payah mereka sendiri.


Ada suaminya Linda, Ferry, yang ikut ambil peran besar. Di dalam keberhasilan mereka, dengan tujuan untuk mendapatkan seorang anak sebagai ahli waris mereka nantinya.


"Hhh..."

__ADS_1


Linda perlahan pergi dari tempatnya bersembunyi, di mana dia bisa mendengarkan semua pembicaraan mereka bertiga tadi.


Apalagi, pesanan burger dan martabak telur yang tadi dia pesan juga sudah selesai.


Kini, Linda pulang ke rumah ibunya. Di mana anaknya, Erli, pasti sudah menunggu kedatangannya sedari tadi.


'Mbak Nana. Semoga cukup mas Ferry yang jadi korban keegoisan kalian berdua. Mencari ahli waris dengan cara yang salah. Itu sama artinya, kalian menipu dua keluarga besar kalian sendiri.'


Linda miris mengingat kembali kejadian yang kemarin-kemarin. Meskipun dia juga sadar, jika dia melakukan banyak sekali kesalahan yang sama seperti yang dilakukan oleh suaminya juga.


'Aku berharap agar kedepannya nanti, tidak ada mbak Nana dan mbak Nana yang lainnya datang pada mas Ferry. Begitu juga denganku. Tidak ada pak Rudi ataupun pak Komarudin, yang mendekatiku dengan cara apapun itu.'


Linda mencoba untuk menenangkan hatinya terlebih dahulu, sebelum akhirnya menghidupkan mesin motornya dan pergi dari tempat tersebut.


*****


Tiba di rumah ibunya, ternyata sudah jam tiga siang.


Erli pun menyambut kedatangannya dengan melompat-lompat kegirangan. Karena Linda juga membawa pesanan yang sudah dia inginkan dari semalam.


"Horeee... asyik..."


Linda menyerahkan kantong plastik berisi burger alias Krabby Patty, dan martabak telur.


Tentu saja Erli menerimanya dengan senang hati. Kemudian langsung masuk ke dalam rumah, sambil berteriak-teriak memanggil simbah putri dan simbah kakungnya.


"Mbah Kung, Mbah Putri!"


Linda hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah polah anaknya yang menggemaskan itu.


"Mbak. Banyak gak yang lembur?"


Dari arah samping, ada Danang yang datang kemudian bertanya pada Linda.


"Gak sih Nang. Biasalah, kan hari sabtu."


Danang pun mengangguk saja, tanpa bertanya lagi. Kemudian dia ikut masuk ke dalam rumah, mengekor Linda yang juga masuk ke dalam.

__ADS_1


Ternyata di depan TV, sudah ada bapaknya yang duduk sambil memangku Erli.


"Sayang, duduk sendiri dong... Mbah Kung baru sembuh. Entar capek lho!" tutur Linda, meminta anaknya itu, supaya tidak minta dipangku simbahnya lagi.


"Gak apa-apa ya Kung? Kan Erli masih kecil, gak berat ya Kung!"


Erli berusaha untuk membela diri, dengan keadaan dirinya yang sedang berada di dalam pangkuan simbah kakungnya.


Ibunya Linda, hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Karena memang seperti itulah kebiasaan Erli jika ada bersama dengan simbah kakungnya sedari dulu.


"Kamu sudah makan belum Lin?" tanya ibunya Linda, pada anak perempuannya itu.


"Ibu masak apa?" tanya Linda mengangguk, tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Ada sayur bening sama lele goreng. Itu, ada sambelnya juga di meja. Ibu taruh di mangkok yang ditutupi sama piring kecil itu!"


Sepertinya, ibunya Linda sudah paham dengan pertanyaan anaknya. Meskipun tidak menjawab pertanyaan darinya yang pertama tadi.


"Kebetulan Linda memang belum makan Bu. Hehehe... tak makan dulu lah!"


Ternyata Linda juga lupa, jika dia memang belum makan sedari tadi. Karena tidak ada jam istirahat siang di pabrik. Dia langsung pulang saja, tanpa berhenti untuk makan siang. Sewaktu memesan burger dan martabak telur.


Apalagi kata Aria, makan siang nya sekalian pulang saja. Sedangkan dirinya tadi memesan burger dan martabak telur juga dengan sembunyi-sembunyi. Hanya untuk sekedar menguping pembicaraan yang dilakukan oleh pak Yus bersama dengan mbak Nana dan suaminya mbak Nana.


Akhirnya, Linda pergi ke dapur. Makan siang terlebih dahulu, karena perutnya tiba-tiba saja terasa sangat lapar. Di saat ibunya menyebutkan lauk dan sayur, yang sudah di masak sendiri oleh ibunya.


"Ayok Nang! Kamu sudah makan belum tadi?" ajak Linda pada adiknya.


"Udah Mbak. Danang udah dari tadi kok," sahut Danang, dengan menunjukkan ke perutnya sendiri.


"Erli, sudah makan?" tanya Linda, beralih pada anaknya, yang sedang makan burger dengan lahapnya.


"Udah Ma. Udah enyang uga Erli. Huk uhuk!"


"Hati-hati kalau makan. Jangan ngomong pas nguyah makanan!"


Linda pun mengangguk mengiyakan perkataan anaknya, dan hampir saja kembali ke tempat anaknya duduk bersama dengan Mbah Kung dan Mbah Putri nya.

__ADS_1


"Udah Lin, Kamu makan sana! Erli biar Ibu yang urus."


Akhirnya Linda pun hanya bisa meringis. Melihat anaknya itu minum dibantu oleh ibunya, sedang bapaknya mengelus-elus punggung dan leher belakang Erli.


__ADS_2