
"Katanya..."
"Ya Mas. Habisnya, Aku rindu sih."
Mbak Nana memotong kalimat Ferry yang belum selesai. Dia tidak mau jika, Ferry berpikir jika dia berbohong tentang pesan yang dia kirim kemarin itu.
"Tapi, ada..."
"Iya. Suamiku ada di rumah. Tapi, tadi dia ada keluar sebentar sama temannya kok," sahut mbak Nana lagi, sambil tersenyum.
Dia tidak mau jika Ferry merasa cemas. Karena takut jika ketahuan oleh suaminya, yang saat ini sedang tidak berlayar.
Tapi karena rasa rindu yang tak bisa dia bendung, akhirnya mbak Nana nekad datang ke pengilingan padi ini. Demi untuk bisa bertemu dengan Ferry. Begitu ada kesempatan untuk bisa keluar dari rumah. Di saat suaminya sedang pergi tadi.
"Erli gak ikut ya Mas?" tanya Mbak Nana, yang tidak melihat keberadaan Erli di dekat Ferry.
"Ada di rumah simbahnya. Dia tidak mau ikut tadi," jawab Ferry, memberitahu pada mbak Nana.
"Wah, sebenarnya kebetulan ya Mas. Tapi, sayangnya..."
Mbak Nana tidak melanjutkan kalimatnya, karena ada orang yang datang untuk membeli beras Ferry.
"Mas. Aku pesen dua karung beras ya. Tolong di bawakan ke luar. Di motor yang parkir di dekat pintu," kata orang tersebut, memberi tahu pada Ferry, dengan pesanan yang dia lakukan.
"Iya Bu. Sebentar ya!"
Ferry menyiapkan dua karung beras yang dipesan ibu-ibu tadi.
"Sebentar ya Mbak Nana," pamit Ferry, dengan memanggul satu karung beras. Sedang yang satunya lagi, nanti akan dia ambil kemudian.
Mbak Nana melihat dan memperhatikan bagaimana cara Ferry mengangkat karung beras tersebut. Terlihat jelas, jika mbak Nana mengangumi sosok yang sangat dia rindukan itu.
Padahal, suaminya sendiri, yang notabene adalah seorang pelaut, pasti juga memiliki tubuh yang kekar dan berotot.
Tapi entah kenapa, dia tertarik dengan sosok Ferry. Yang menurutnya lebih jantan dan juga berkarisma.
Mbak Nana kembali tersenyum, melihat Ferry yang kembali masuk ke dalam, untuk mengambil satu karung beras lagi. Karena ibu-ibu tadi, memesan dua karung beras padanya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian, Ferry sudah kembali lagi. Dia juga memegang tiga lembar uang seratusan, dari dua karung beras yang tadi.
"Mbak Nana mau berapa?" tanya Ferry, yang sedari tadi tidak mendengar pesanan yang diinginkan oleh mbak Nana.
"Wah, ini nadanya kok ngusir ya?"
Mbak Nana merasa sedikit kecewa, dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ferry padanya. Pertanyaan tersebut seperti sedang mengusir keberadaannya di depan Ferry.
Padahal, dia masih ingin berlama-lama ada di dekat Ferry sekarang ini.
"Bukan. Bukan begitu mbak Nana. Saya, Saya hanya ingin menyiapkan saja. Biar tidak terburu-buru, jika nanti Mbak Nana mau pulang." Ferry dengan cepat menjelaskan, tentang maksud pertanyaannya yang tadi.
Dia tidak mau jika, mbak Nana akan tersinggung. Dengan apa yang tadi dia tanyakan.
Padahal bukan seperti itu yang dia maksud. Dia hanya ingin menyiapkan beras yang dipesan mbak Nana saja. Karena sedari tadi, mbak Nana tidak mengatakan ingin membeli beras berapa karung atau berapa kilo.
"Hehehe... iya Mas. Gak apa-apa kok. Saya ngerti," ucap mbak Nana, sambil tersenyum dibuat semanis mungkin.
"Aku sebenarnya gak mau beli beras Mas. Cuma mau ngasih oleh-oleh buat Erli."
"Eh, buat mas Ferry juga. Hehehe..."
"Ini Mas. Hanya oleh-oleh biasa kok. Semoga suka." Mbak Nana tersenyum, dengan menyerahkan paper bag tersebut kepada Ferry.
"Kok repot-repot bawa oleh-oleh segala mbak Nana. Ini, pasti mahal ini," ujar Ferry, di saat melihat isi dari paper bag yang diserahkan kepadanya.
Paper bag tersebut, berisi beberapa coklat batangan, khas dari luar negeri. Ada juga beberapa manisan buah, yang dikemas sedemikian rupa sehingga menarik tampilannya.
Ferry tahu jika, oleh-oleh seperti ini jarang bisa di dapat di Indonesia. Mungkin, ini adalah oleh-oleh dari suaminya, yang memang baru pulang dari berlayar.
Tentunya, berlayarnya itu juga lebih banyak berada di luar negeri sana. Oleh sebab itu juga, suaminya mbak Nana jarang pulang ke rumah. Karena tugas pelayaran memang lebih banyak ada di atas kapal laut. Berlayar dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain. Ke berbagai negara.
*****
Di rumah ibunya Linda.
Danang sedang mempersiapkan satu berkas lamaran lagi, yang akan dia bawa untuk melamar pekerjaan ke perusahaan yang lain.
__ADS_1
Dia tidak mau hanya bisa berdiam diri saja, dan mengantungkan diri pada kakaknya, Linda.
Apalagi, sekarang ini ada pembangunan pabrik yang baru juga di daerahnya. Pastinya belum ada banyak karyawan yang bekerja di sana. Jadi, Danang ingin mendapat pekerjaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kakaknya itu.
Dia tidak mau, jika ada kesalahan atau permasalahan di depan, menyeret-nyeret nama baik kakaknya juga.
"Sedang apa Nang?" tanya bapaknya, saat melihat anak laki-laki nya itu sedang sibuk sendiri.
Erli sedang ada di rumah tetangga. Bermain dengan beberapa teman sebayanya di rumah tersebut. Jadi, bapaknya Linda hanya ada di rumah, menuggu cucunya itu pulang nanti.
Apalagi, sekarang ini Erli sudah semakin besar. Tidak banyak menyusahkan dirinya. Jika sedang ada di rumah ini.
"Ini Pak. Buat surat lamaran kerja," jawab Danang menjelaskan, sambil memasukkan beberapa kertas fotocopy ke dalam amplop coklat besar.
"Lho, bukannya Kamu sudah nitip ke mbak Kamu ya?"
"Iya Pak. Tapi, ini ke tempat lain. Bukan di pabrik Mbak Linda juga," sahut Danang. Karena dia tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh bapaknya itu.
"Kenapa? Kamu gak di terima di pabrik Mbak Kamu itu ya?" tanya bapaknya lagi, dengan curiga.
"Bukan begitu Pak. Ini hanya buat cadangan kok. Kan di pabriknya Mbak Linda masih nunggu panggilan juga," jawab Danang menjelaskan pada bapaknya.
"Oh..."
Bapaknya Linda, hanya membola saja mulutnya. Meskipun dia tidak tahu bagaimana prosedur lamaran kerja, setidaknya jika masih harus menunggu tentu akan lebih baik lagi jika mendapatkan pekerjaan yang bisa langsung diterima.
"Ngapain capek-capek cari kerjaan lain Nang? Nunggu mbak Kamu itu saja kenapa sih!"
Dari arah dapur, ibunya datang dengan menyahuti pembicaraan yang dilakukan oleh anak dan suaminya.
"Ya gak apa-apa to Buk! Kan namanya juga usaha ini," ucap Danang, yang tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Pasti di terima di pabrik tempat mbak Kamu Nang. Pasti deh!"
Ibunya Linda tetap kekeh untuk meyakini bahwa, anaknya, Linda, pasti bisa memasukkan adiknya itu untuk bisa bekerja di perusahaan tersebut.
"Sudah Bu. Gak apa-apa. Gak ada salahnya jika Danang mencobanya," tutur bapaknya Linda, menengahi pembicaraan mereka bertiga ini.
__ADS_1
"Hemmm... terserah saja."
Ibunya Linda hanya menanggapi dengan biasa. Kemudian berlalu keluar dari dalam rumah. Dia ingin pergi ke warung, untuk mencari beberapa keperluan dapur yang telah habis.