
Lirik lagu milik Tangga ini, dihayati oleh Linda, seakan-akan sama seperti kisahnya dengan Romi. Dia yang ingin menjalani hidup untuk meminta kesempatan kedua pada Romi. Sehingga dia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan suaminya.
πΆπΆπΆ
Sungguh kusesali
Nyata cintamu kasih
Tak sempat terbaca hatiku
Malah terabai olehku
Lelah kusembunyi
Tutupi maksud hati
Yang justru hidup karenamu
Dan bisa mati tanpamu
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Segenap cinta
Kusadari tak selayaknya
Selalu penuh kecewa
Kau lebih pantas bahagia
Bahagia karena cintaku
πΆπΆπΆ
Tapi ternyata, Romi yang memang berada di sampingnya, justru memeluk dirinya dengan erat. Kemudian menciumi pucuk kepalanya.
"Emhhh..."
"Terima kasih ya Mas. Mas Romi, mas Romi masih mencintai Linda, dan mau melindungi Linda. Bahkan setelah semua yang sudah terjadi dulu."
Cup!
"Sssttt... apa sih bicara begitu. Gak udah diingat-ingat yang tidak baik."
Romi mengecup kening istrinya itu, kemudian meminta pada Linda untuk tidak membicarakan tentang masa lalu mereka berdua sudah yang sudah berlalu.
__ADS_1
Saat ini, mereka berdua sedang berada di depan TV. Yang memang menjadi satu dengan ruang tamu. Melihat sebuah acara musik dari stasiun televisi.
Erli, sudah tidur di kamar. Setelah pulang dari rumah Pak haji, sesuai dengan permintaan Pak haji saat bertemu di jalan tadi pagi.
*****
Flashback di rumah Pak haji.
Tadi, suasana di rumah Pak haji terkesan lebih sepi. Sebenarnya bukan sepi karena apa-apa, tapi karena memang hanya ada mereka berdua, Pak haji dan Bu haji di rumah mereka.
Padahal, rumah mereka itu cukup besar jika dibandingkan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Karena keluarga Pak haji memang berbilang keluarga Betawi yang mampu atau kaya. Dibandingkan dengan tetangga-tetangga sekitarnya.
Dan kedua haji itu, menyambut kedatangan Romi bersama dengan Linda serta Erli dengan sangat ramah. Sama seperti biasanya, jika mereka kedatangan tamu.
Mereka berkenalan, layaknya pada orang yang belum di kenal.
"Istrinya cantik sekali nak Romi," kata Bu haji kagum dengan Linda.
"Terima kasih Bu haji, masih kalah dengan Bu haji. Masih tetap awet muda dan selalu cantik tentunya," sahut Linda, yang merasa tidak enak hati, karena sedang dipuji oleh Bu haji.
Dalam hati Bu haji, dia membenarkan perkataan suaminya tadi siang, sewaktu berada di pasar. Karena suaminya itu, memuji istrinya Romi yang kedua ini, memang benar-benar cantik.
"Ini si kecil namanya siapa?" tanya Bu haji, beralih pada Erli, yang masih menempel pada mamanya.
"Erli," jawab Erli sendiri, dengan menyalami tangan Bu haji. kemudian mencium tangan tersebut.
"Wahhh... cantik dan manis ya Pak?" komentar Bu haji, sambil menoleh ke arah suaminya.
Mungkin karena mereka berdua sedang teringat dengan cucu-cucunya, yang saat ini tidak berada bersama dengan mereka. Sebab, anak-anak mereka, hidup terpisah dengan mereka, dengan kesibukan masing-masing.
Tentu saja, cucu-cucu mereka juga ikut bersama dengan orang tuanya sendiri. Bahkan ada yang tinggal di luar negeri, karena memang hidup di sana.
Akhirnya, untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka, Pak haji mengajak Romi dan Linda untuk duduk. Sementara istrinya masuk ke dalam, untuk menyiapkan jamuan bagi tamu-tamunya itu.
Setelah beberapa saat kemudian perbincangan mereka yang akhirnya kesana-kemari, membahas tentang apa saja yang bisa mereka bahas, menyinggung tentang keadaan mantan istrinya Romi, yang dulu pernah koma. Pasca kecelakaan yang dialaminya di luar negeri. Yang katanya sekarang ini sudah mulai membaik.
"Tapi, ya begitulah Rom. Dia masih belum bisa melakukan apa-apa, karena meskipun dia sudah sadar, tapi pikirannya belum stabil. Bahkan katanya divonis amnesia juga."
Mendengar berita yang cukup tragis seperti itu, membuat Romi merasa kasihan juga pada mantan istrinya, meskipun sudah banyak menyakiti perasaannya.
Tapi rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh Romi, tentu saja dia memiliki perasaan yang membuatnya merasa sedih juga. Mendengar berita yang tidak mengenakan.
Linda juga merasa kasihan atas nasib yang dialami oleh mantan istrinya Romi. Meskipun dia tidak mengenalnya, setidaknya sesama manusia, pasti terenyuh juga, mendengar berita yang tidak baik.
Tapi Bu haji segera sadar dan mengalihkan pembicaraan suaminya, "Pak. Ayo kita makan dulu, keburu dingin nanti makanannya!" ajak Bu haji pada suaminya, supaya tidak lagi membicarakan keponakannya itu.
Akhirnya Pak haji menyadari kesalahannya, kemudian mengajak Romi dan Linda serta Erli untuk ikut makan malam bersama dengan mereka berdua. Sebab, Bu haji memang sengaja sudah menyiapkan makanan malam ini untuk para tamunya.
"Ayo nak Romi, nak Linda, Erli. Ibu sengaja masak banyak, biar kita bisa makan bersama!"
Romi dan Linda, akhirnya mengajak Erli juga, untuk ikut ke meja makan. Untuk menghormati tuan rumah yang sudah repot-repot menyiapkan jamuan makan malam bersama ini.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, makan malam sudah selesai. Mereka semua kembali ke ruang tamu untuk berbincang-bincang lagi.
"Sudah nak Linda, gak usah. Biarkan saja! Besok ada yang beresin," cegah Bu haji, disaat Linda ingin membantunya, untuk bisa membersihkan meja makan.
Tapi ternyata Bu haji mencegahnya, dengan menarik tanggan Linda, supaya ikut bersama dengannya ke ruang tamu.
Linda akhirnya hanya menurut saja, kembali ke ruang tamu bersama dengan Bu haji.
"Jika ada sesuatu yang terjadi atau diperlukan, nak Linda tidak usah sungkan untuk ke sini, atau minta tolong pada kami. Nak Romi ini sudah kami anggap seperti anak kami sendiri juga kok, ya nak Romi ya!"
Bu haji, mengatakan hubungan keluarganya dengan Romi yang memang sudah terjalin baik, bahkan sebelum Romi menikah dengan keponakannya.
Jadi, meskipun sudah tidak menjadi suami keponakannya, mereka tetap menjalin silaturahim dengan baik. Sama seperti dulu.
Tak lama kemudian, di saat Erli sudah lihat mengantuk, Romi mengajak istri dan anaknya untuk pulang.
"Kami permisi dulu Pak, Bu. Kapan-kapan, jika ada waktu, bisa berkunjung dan berbincang-bincang lagi. Dan terima kasih atas makan malamnya."
Romi pamit pada sepasang suami istri, yang sudah baik pada dirinya sejak dulu.
Niatan mereka untuk menjodohkan Romi dengan keponakannya, adalah untuk mempererat tali persaudaraan yang sudah mereka lakukan.
Tapi sayangnya, nasib takdir tidak memihak pada ikatan pernikahan Romi dan keponakannya itu. Sehingga pada akhirnya, Romi harus berpisah dengan istrinya, yang merupakan keponakan dari Pak haji sendiri. Dan itu karena kesalahan dari pihak keponakannya sendiri, yang memang sangat fatal.
*****
Kembali ke kamar Romi dan Linda.
"Dek. Maaf ya, jika tadi Pak haji membahas tentang mantanku."
"Gak apa-apa Mas. Linda justru merasa kasihan pada mantan istrinya Mas Romi. Apa suaminya masih setia dengannya?"
Romi merenggangkan pelukannya pada Linda, karena ingin melihat wajah Linda, yang sedang bertanya tentang mantan istrinya.
"Kenapa Kamu bertanya seperti itu Dek?" tanya Romi dengan heran.
"Kenapa Mas? Kan Linda tanya begini karena saat ini, mantannya mas Romi itu tidak bisa melakukan apa-apa. Dan dipastikan jika harus mengeluarkan banyak biaya untuk perawatannya juga. Nah, apa iya suaminya itu masih mau merawat istrinya? Secara, mereka itu..."
"Sssttt... udah-udah. Tidak usah memikirkan apa yang terjadi padanya. Itu sudah resiko mereka berdua, apalagi hidup di luar negeri."
Linda akhirnya menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh suaminya barusan.
Kini, Romi kembali memeluk istrinya dengan erat. Sambil menciumi pucuk kepala istrinya.
"Hemmm..."
Setelah puas menciumi pucuk kepala istrinya, Romi beralih ke kening, kemudian ke pipi dan bibirnya Linda.
Dia ingin menikmati kebersamaan mereka berdua, yang tentunya sudah menjadikan candu yang baru dan ingin selalu dia nikmati.
Apalagi keadaan kakinya Linda, sepertinya juga sudah tidak terlalu mengkhawatirkan. Sehingga sudah bisa digunakan untuk lebih banyak bergerak, meskipun tetap harus berhati-hati.
__ADS_1