Tante Melinda

Tante Melinda
Akhirnya Danang Tahu


__ADS_3

Di pabrik, sebelum jam istirahat siang.


Danang sengaja mencari keberadaan kakaknya, di gedung yang biasanya.


"Mbak, apa supervisor Linda ada di dalam sana?" tanya Danang, pada salah satu orang yang sedang dia temui.


Dia hanya tahu, jika kakaknya itu bertugas di devisi sewing gedung ini.


"Supervisor Linda?"


"Oh, supervisor Linda udah dipindahkan ke gudang material Mas," sahut temannya perempuan yang dia tanyai tadi, yang kebetulan sedang lewat.


"Pindah, sejak kapan Mbak?"


Danang terkejut mendengar jawaban yang diberikan oleh orang tersebut. Sehingga dia kembali bertanya lagi.


"Kemarin Mas."


"Oh... terima kasih kalau begitu Mbak. Saya permisi dulu," pamit Danang, sambil menganggukkan kepalanya.


"Wah, daun mudanya supervisor Linda gak kaleng-kaleng ya."


"Iya tuh! lihat id card nya, orang PPIC Cok!"


"Hushhh..."


"Hehehe... gregeten Aku, kapan bisa kayak gitu. Banyak yang idolain!"


"Punya uang berapa Kamu? mau saingan sama supervisor Linda? Gak usah mimpi ya!"


"Hahaha... mimpi itu gak ada yang larang. Asal tahu aja kapan harus bangun, biar gak bablas ke alam mimpi terus. Bisa sedeng. Wkwkwk..."


"Haduh cok, mulutmu di rem! ini belum waktunya untuk istirahat."


Kedua orang tadi, justru membicarakan tentang Linda dan rumor yang beredar selama ini. Jika supervisor Linda, doyan daun muda, dengan cara mengencani cowok yang usianya di bawah Linda sendiri.


Danang tidak menghiraukan pembicaraan mereka berdua, yang masih bisa dia dengar dengan baik di telinga. Meskipun tidak semuanya bisa dia dengarkan. Karena dia terus maju melangkah ke arah gudang material.


*****


Di jalan menuju ke gudang bahan material, Danang bertanya-tanya sendiri. Tentang pindahnya kakak nya ke tempat yang baru.


'Mbak Linda pindah kemarin? tapi tadi pagi gak bilang apa-apa.'


'Atau jangan-jangan...'


'Oh iya. Dua cowok yang tadi pagi itu anak gudang material. Pantes aja kenal dan ngajakin Mbak Linda bareng untuk masuk.'


'Tapi kenapa tiba-tiba pindah? apa ada sesuatu yang terjadi?'


Danang tidak bisa menghubungi Linda, karena ternyata, tadi pagi dia lupa membawa handphone miliknya.


Tet!

__ADS_1


Tet!


Tet!


"Huhfff..."


Hembusan nafas panjang terdengar dari mulut Danang. Dia ingin ke gudang material, untuk bertemu dengan kakaknya. Tapi bel istirahat kerja sudah berbunyi.


"Jika Aku ke sana, Mbak Linda pasti sudah keluar dari gudang karena jam istirahat."


Akhirnya Danang mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan kakaknya, Linda. Dia langsung pergi ke luar area pabrik untuk mencari makan siang.


Dia juga tidak kembali ke ruangan kerjanya, karena tadi dia memang berniat untuk istirahat terlebih dahulu.


"Hahaha... Mbak Linda itu ternyata bisa melucu juga?"


"Kirain cuma bisa galak aja lho!"


Samar-samar, Danang mendengar dua orang cowok berbicara sahut-sahutan. Sehingga membuat dirinya menoleh ke arah belakang. Untuk melihat, apakah ada kakaknya yang ikut bersama dua cowok tersebut.


"Mbak!"


Danang berteriak memanggil Linda. Tapi ternyata Linda tidak memperhatikan panggilannya.


Atau bisa jadi, Linda tidak menghiraukan panggilan tersebut karena, hanya mendengar panggilan Mbak saja. Karena memang ada banyak karyawan lain yang sedang berjalan. Dan kebanyakan juga perempuan.


Akhirnya Danang kembali memanggil Linda, dengan disebutkan namanya.


"Mbak Linda!"


"Danang," sapa Linda, setelah melihat keberadaan adiknya itu.


"Maaf ya, Aku duluan." pamit Linda pada Aria dan Febriyanto. Kemudian Linda berjalan dengan cepat, menuju ke tempat adiknya berdiri mengunggu dirinya.


Kedua cowok yang tadi bersama dengan Linda, Aria dan Febriyanto, menatap dengan curiga ke arah Linda dan Danang yang sekarang berjalan bersama.


"Cowok itu siapa Ar?" tanya Febriyanto, yang tidak tahu jika Danang adalah adiknya Linda.


"Meneketehek," jawab Aria acuh.


Febriyanto masih menatap ke arah Linda, yang sekarang ini terlihat sedang berbincang dengan akrab dengan Danang.


"Apa itu cowok, pacarnya Mbak Linda?" gumam Febriyanto tidak jelas.


"Udah deh Febry. Gak usah urusin mbak Linda! Mau dia punya pacar siapa juga se bodo teing!" sahut Aria acuh. Karena mendengar gumaman Febriyanto, yang bertanya tentang Linda.


Aria acuh karena dia memang sudah mendengar beberapa gosip tentang supervisor Linda, yang sekarang ini menjadi leader di tempat kerja nya.


"Tapi..."


"Bisa diam gak!"


Febriyanto langsung diam, begitu Aria memotong kalimatnya yang belum selesai.

__ADS_1


*****


"Mbak Linda pindah gedung?"


Danang pura-pura bertanya kepada Linda, tentang kepindahan tempat kerjanya yang sekarang di gudang material.


Sekarang ini, mereka berdua sudah duduk di warung makan. Untuk makan siang mereka di jam istirahat kerja.


"Iya Nang. Baru kemarin kok Mbak pindah," jawab Linda datar.


"Kenapa?" tanya Danang lagi.


Dia curiga, jika ada sesuatu yang terjadi. Sehingga membuat kakaknya itu harus dipindah tugaskan ke gedung lain. Dengan jabatan yang diturunkan juga.


Karena sekarang ini, Linda sedang mengenakan pakaian leader. Bukan lagi pakaian seragam supervisor.


Selain id card yang bisa membedakan gedung dan tugas karyawan, di pabrik ini juga bisa dibedakan dari warna seragam kerja yang dikenakan oleh karyawan.


Jika operator biasa, karyawan tersebut mengenakan seragam berwarna biru laut. Begitu juga untuk office girl dan office boy, dan beberapa karyawan biasa yang kedudukannya sama seperti operator biasa.


Seragam karyawan dengan jabatan leader, warna seragam hijau muda. Sedangkan untuk supervisor, seragam kerjanya hijau tua.


Untuk asisten manager dan managernya, beda warna lagi. Karena seragam yang digunakan untuk asisten manager dan managernya adalah biru tua atau navy.


Beda lagi untuk seragam QC, yang mengunakan warna merah terang. Dan untuk mekanik warna seragamnya hitam, dengan garis orange pada bagian depan.


HRD mengenakan pakaian seragam warna peach, dan para WNA, seragamnya berupa kaos dengan warna navy bergaris putih.


Jadi, setiap karyawan bisa dengan mudah dikenali tugasnya, hanya dengan melihat warna seragamnya saja.


Kembali ke percakapan antara Danang dengan Linda di warung.


"Gak apa-apa Nang. Kebetulan saja di gudang material gak ada leader. Dan mbak lagi bosen di sewing. Kebetulan banget kan."


Linda menjawab pertanyaan dari Danang, yang bertanya tentang masalah Linda. Sehingga harus pindah ke gudang material.


Tapi tentu saja Danang bukan anak kecil, yang bisa dengan mudah dibohongi.


"Lalu, kenapa jabatannya juga turun?" tanya Danang lagi, ingin penjelasan yang lebih dari sekedar jawaban yang dikemukakan oleh Linda tadi.


"Hum..."


Linda sepertinya engan untuk membahas mengenai kepindahannya ke gudang material.


Dia tidak mau mengingat lagi, jika dia juga terancam dipecat. karena sudah mengantongi SP 3 sejak kemarin.


"Mbak. Sebaliknya..."


"Mas Danang, mbak Linda!"


Suara seorang cewek, menghentikan Danang untuk melanjutkan kalimatnya.


Dan dia sangat terkejut, saat melihat kedatangan seseorang yang tadi menyapanya.

__ADS_1


Ternyata bukan hanya sekedar Danang saja yang merasa terkejut. Karena Linda lah yang sekarang ini tak bisa digambarkan rasa kagetnya. Di saat melihat siapa yang sekarang ini berjalan mendekat ke tempat duduknya bersama dengan Danang.


__ADS_2