
Perbincangan antara Linda dengan mbak Mila, merembet ke arah yang sedang ramai. Yaitu kasus Bu Win.
"Jadi Bu Win benar-benar sudah gak kerja lagi?" tanya Mbak Mila, yang memang berbeda gedung dan juga devisi dengan Linda.
"Gak tau juga sih sebenarnya. Cuma udah empat hari ini dia tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas." Linda memberikan jawaban sesuai dengan apa yang dia ketahui.
Mbak Mila tampak mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda barusan.
"Jika dia kabur seperti ini, bisa dipastikan jika itu memang benar."
Perkataan yang diucapkan oleh mbak, diangguki juga oleh Linda. Karena memang perusahaan hanya memberikan toleransi selama tiga hari untuk karyawan yang absen tanpa adanya keterangan yang jelas.
Setelah berbincang dengan mbak Mila, Linda kembali ke tempat kerjanya yang baru.
Begitu juga dengan mbak Mila sendiri. Dia juga harus kembali ke tempat kerja, yang ada di gedung sebelah.
"Kapan-kapan kita ngobrol lagi ya mbak Linda!"
Linda mengangguk mengiyakan permintaan dari mbak Mila. Dia juga merasa senang, karena teman-temannya sesama peserta training yang dulu, tidak pernah lagi membahas tentang masalah yang pernah ada di acara training tersebut.
Ternyata, di tempat tugasnya yang baru, yaitu di sewing, Linda sudah di tunggu.
"Mbak, supervisor yang baru di devisi ini kan?"
Linda mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh salah satu dari leader sewing.
"Iya. Pak Rudi baru saja membacakan perputaran tugas tadi," jawab Linda dengan mengangguk.
Sekarang, dia memperkenalkan dirinya sendiri, pada semua anak buahnya yang ada di sewing. Tempat tugasnya yang baru.
Berbeda dengan devisi packing sebelumnya, sewing didominasi oleh para wanita yang sudah berumah tangga. Bahkan usia mereka juga ada yang di atas tiga puluh lima tahun.
Tapi menurut Linda sendiri, sepertinya mereka lebih open, dan juga ramah. Khas ibu-ibu pada umumnya.
"Saya rasa, perkenalan cukup ya! Bisa disambung seiring dengan berjalannya waktu Saya bertugas di sini." Linda mengakhiri perkenalan dirinya, sebagai supervisor baru di devisi sewing ini.
"Wah, mbak Linda cantik sekali. Kayak artis Cinta Laura!"
"Iya betul. Cantik banget."
"Mbak linda bule ya?"
Tapi ternyata, ada beberapa orang yang belum merasa puas dengan perkenalan dirinya tadi.
__ADS_1
Mereka ingin tahu lebih banyak lagi, tentang Linda. Yang menurut mereka sangat istimewa. Karena paras wajahnya dan juga postur tubuhnya yang memang berbeda dengan yang lain.
Tapi untuk membuat mereka tidak lagi bertanya-tanya, Linda hanya mengangguk saja.
"Tanya-jawab di sambil lalu ya! Biar target gak utang banyak," ujar Linda memperingatkan.
Sebenarnya, Linda ingin menjawab satu persatu pertanyaan yang mereka ajukan. Tapi sayangnya, waktu jam kerja bisa terbuang banyak. Hanya untuk sekedar tanya jawab tetang dirinya saja.
Untungnya, semua orang juga mengerti dan memahami apa yang seharusnya mereka kerjakan.
Jika untuk sekedar mengenal lebih jauh tentang Linda, mereka bisa bertanya kapan saja. Dengan masih tetap bekerja seperti biasanya.
*****
Di rumah, Ferry juga sudah mulai bisa berjalan dengan bantuan kruk.
Tapi ini lebih baik, daripada harus merepotkan orang lain. Jika hanya untuk pergi ke kamar mandi saja.
Ibu dan bapaknya Linda, juga masih ada di rumah Linda. Ikut menjaga menantu dan cucunya, jika Linda pergi bekerja. Mereka berdua juga menginap. Dan ini atas usulan dari Ferry sendiri.
Ferry berpikir jika, kedua mertuanya akan lebih repot dan capek. Jika harus riwa-riwi dari rumah mereka sendiri ke rumahnya ini.
Dan ini membuat Erli merasa sangat senang. Karena ada kedua simbahnya, yang ada di rumah untuk menemani dirinya.
"Nak Ferry. Kamu kan sudah bisa berjalan. Bisa mengerjakan sesuatu dengan sendiri. Besok kami pulang ya?"
Pertanyaan yang diajukan oleh ibunya Linda pada menantunya itu, sebenarnya adalah kata pamit. Mungkin dia merasa tidak nyaman juga, berada di rumah menantunya ini dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Erli bagaimana Bu?" tanya Ferry, yang mengkhawatirkan keadaan Erli nantinya. Seandainya simbahnya pulang ke rumah mereka sendiri.
"Jika Erli mau ya, biar dia ikut kami sementara waktu ini. Bagaimana?"
Ferry terdiam sejenak, mendengar perkataan yang cukup beralasan. Karena dia sendiri tidak mungkin bisa menjaga Erli. Dalam keadaan dirinya yang seperti sekarang.
"Apa ibu merasa keberatan, karena harus menjaga Ferry?"
Dengan hati-hati, Ferry mencoba untuk bertanya pada ibu mertuanya. Mungkin saja, ibunya itu merasa sungkan. Karena biasanya tidak pernah menginap di rumah ini lebih dari satu malam saja.
Sedangkan sekarang ini, mereka menginap sudah hampir seminggu.
"Bukan begitu Nak Ferry. Ibu hanya berpikir bahwa, Kamu sudah bisa melakukan apa-apa sendiri."
"Atau begini saja. Ibu pulang, dan bapak tetap di sini, ikut menjaga Erli. Bagaimana?" ibunya Linda memberikan beberapa usulan, agar dua bisa secepatnya pulang ke rumah.
__ADS_1
"Emhhh... ibu sudah bertanya pada bapak?" tanya Ferry, yang mendapat jawaban berupa gelengan kepala dari ibu mertuanya.
"Belum. Ibu belum bicara soal ini pada bapakmu. Tapi... "
"Simbah! Simbah!"
Suara teriakan Erli, mengejutkan papa dan Simbah putrinya.
Bahkan, simbah putrinya itu tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Saking kagetnya.
"Ara apa Erli?" tanya ibunya Linda, dengan berjalan cepat menuju ke tempat cucunya bermain.
Ternyata Simbah kakungnya sedang tergolek lemas, di kursi tamu. Tempat Erli yang sedang bermain. Di temani oleh simbah kakungnya tadi.
Beberapa saat kemudian, Ferry baru muncul di ruang tamu. Dia berjalan dengan susah payah, mengunakan kruk yang membantunya untuk berjalan sendiri.
"Pak. Pak!"
Ibunya Linda menepuk-nepuk pipi suaminya, yang sedang dalam keadaan pingsan.
"Bagaimana Bu?" tanya Ferry dengan bingung.
Di tahu jika, bapak mertuanya itu memang dalam keadaan tidak sehat seperti dulu. Ada penyakit yang mengharuskan dirinya untuk lebih banyak beristirahat.
Itulah sebabnya, beberapa tahun terakhir ini, bapaknya Linda tidak bekerja di luar rumah. Apalagi jika harus mengerjakan sawah.
"Minta tolong tetangga Bu. Bawa bapak ke rumah sakit!"
"Gak usah Nak Ferry. Bapak sudah biasa seperti ini. Nanti juga sadar." Ibunya Linda masih memberikan minyak kayu putih dibeberapa bagian anggota tubuh suaminya.
Dia sedang berusaha untuk memberikan stimulasi yang bisa membuat suaminya itu cepat sadar dari pingsannya.
"Erli. Erli ikut Simbah ke rumah simbah ya! Jika simbah Kakung sudah sadar."
Erli memiringkan kepalanya, untuk melihat papanya. "Boleh Pa?" tanya Erli setelah diam beberapa saat lamanya.
"Erli mau?" tanya Ferry, yang ingin tahu bagaimana perasaan Erli saat ini.
Apakah Erli akan ikut bersama simbahnya, atau dia tetap ada di rumah. Menemani papanya yang sedang dalam keadaan sakit.
Dan beberapa saat kemudian, bapaknya Linda terlihat membuka matanya perlahan-lahan. Dia mulai siuman, dan mengingat-ingat kembali, bagaimana tadi dia bisa sampai tidak sadarkan diri.
Karena yang dia ingat, tadi dia masih menemani cucunya, Erli. Yang sedang bermain boneka dan pasaran di kursi tamu.
__ADS_1
"Simbah kakung gak kenapa-kenapa?" tanya Erli, begitu melihat simbahnya sedang membuka matanya.