
Dua minggu kemudian.
Danang sudah selesai wisuda. Dia juga sudah membuat surat lamaran dan dititipkan pada Linda.
Sedangkan Linda sendiri, diberikan pada pak Yus untuk dipelajari terlebih dahulu.
"Maaf ya mbak Linda. Untuk lamaran pekerjaan adiknya mbak Linda, harus nunggu waktu dipanggil untuk wawancara. Gak bisa langsung, sama seperti karyawan produksi biasa," tutur pak Yus, saat Linda memberikan berkas lamaran adiknya. Sesuai dengan permintaan pak Yus sendiri.
"Oya Pak. Gak apa-apa. Linda ngerti kok," ucap Linda dengan mengangguk.
"Mbak Linda. Emhhh... kan biasanya, untuk yang cowok itu memang ada ya, yang itu lho waktu mbak Linda tanyakan."
Linda mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh pak Yus kali ini. Dia tidak tahu, apa maksud dari perkataan tersebut. Tapi setelah beberapa saat kemudian, Linda mengangguk sambil tersenyum.
"Tapi ini bukan maksud Saya minta Mbak Linda. Saya gak akan ambil kok. Saya juga gak mau terkena masalah, sama seperti Bu Win."
"Jadi, jika mbak Linda di tanya orang lain, bilang saja kalau sama aja ya!"
Pak Yus sepertinya tidak enak hati, saat ingin bicara tentang uang yang biasanya digunakan untuk pelicin karyawan laki-laki. Karena beberapa hari kemarin, kasus Bu Win akhiran terbongkar juga.
Tapi, Bu Win masih bekerja. Hanya dia dalam pengawasan seminggu ini.
Sebenarnya, hal semacam ini bukan hal yang tabu dan rahasia. Tapi saking tahu sama tahu. Karena jika ketahuan oleh pihak perusahaan, akan ditindak tegas.
Padahal menurut pak Yus, yang sudah berbicara dengan Linda, ada banyak sekali karyawan baru, khususnya laki-laki, yang mengunakan cara seperti itu.
Tapi karena mereka, calon karyawan, juga butuh pekerjaan, jadi mereka semua mengiyakan dan tutup mulut. Agar bisa aman dan tidak ada kasus untuk orang yang sudah membantunya dalam mendapatkan pekerjaan tersebut.
Itulah sebabnya, Linda juga secra terang-terangan bertanya tentang semua itu, jika adiknya akan melamar ke perusahaan ini juga.
Tapi ternyata pak Yus memberinya sebuah privasi. Linda tidak perlu melakukan hal itu. Harus menyediakan sejumlah uang, hanya agar bisa mendapatkan pekerjaan bagi Danang, adiknya.
Pak Yus akan mencarikan posisi yang baik untuk Danang, sesuai dengan ijasah yang dimiliki.
Tentu saja, Linda sangat berterima kasih pada pak Yus, atas semua yang sudah dia lakukan untuk Linda. Karena dengan begitu, dia tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang, untuk pelicin karyawan baru untuk Danang.
Namum dia tidak tahu bahwa, pak Yus sudah berbicara dengan pak Rudi, tentang adiknya Linda.
__ADS_1
Itulah sebabnya, pak Yus juga meminta pada Linda, agar bersabar menunggu untuk panggilan kerja Danang. Karena dia ingin membicarakan tentang hal ini pada pak Rudi terlebih dahulu.
Dari sekian banyak manager, pak Rudi memang di anggap paling istimewa.
Meskipun usianya belum sepuh, masih ada di sekitar empat puluh lima tahun, tapi pengaruhnya terhadap perusahaan ini sangat penting.
Dialah yang paling banyak menghasilkan orderan produksi. Dia juga yang selalu bisa mencapai target produksi, sesuai dengan SPK yang seharusnya. Bahkan, gedung yang dia pimpin mendapat orderan paling banyak. Sangat produktif di banding dengan gedung-gedung yang lain.
Dan jika sudah tidak bisa menanggulangi sendiri, barulah orderan yang banyak itu dua bagikan untuk gedung yang lain. Agar bisa membantunya.
Itulah sebabnya, lemburan di gedung yang dia pimpin juga yang paling besar. Kadang membuat iri para karyawan yang lainnya.
Pak Rudi juga loyal, serta royal. Dia tidak eman, hanya untuk sekedar mentraktir makan orang-orang yang ada di dekatnya. Bahkan, para TKA juga sangat menyayangi dirinya.
Apa yang dikatakan oleh Pak Rudi, sering diiyakan oleh para TKA tersebut.
Benar-benar punya wibawa dan pengaruh yang besar, dengan caranya sendiri. Dan tentu saja, ini tidak bisa diikuti oleh semua orang.
Jadi, jika hanya sekelas HRD seperti pak Yus, tentu saja akan patuh pada apa yang dikatakan oleh pak Rudi nanti. Karena jika tidak, pak Yus sendiri akan merasa tidak enak hati. Karena dia juga tahu bagaimana hubungan antara pak Rudi dengan Linda saat ini.
Semua itu tidak luput dari apa yang diinginkan oleh pak Rudi. Yang disetujui oleh para TKA. Setelah itu diajukan kepada pihak HRD untuk dibuatkan surat tugas yang baru.
*****
Di tempat pengilingan padi.
Ferry bekerja seperti biasa. Berdagang beras, dan segala macamnya yang berhubungan dengan padi. Dia juga mulai mengikuti langkah temannya, yang menjadi pemilik pengilingan padi ini.
Dari beberapa tawaran petani, dia mulai melihat-lihat sendiri keadaan pagi ke sawah secara langsung.
Menilainya dan menghitung-hitung, kira-kira berapa dan bagaimana keadaan padi itu. Agar bisa mendapatkan harga yang bisa disepakati. Antara petani dan dirinya sebagai pedagang yang membeli barang dagangan.
Ini juga Ferry lakukan setelah mendapatkan tambahan modal dari Linda. Karena tabungan mereka berdua, sudah bisa digunakan untuk tambahan modal usaha Ferry.
"Tabungannya di ambil saja Mas. Itu kan juga uang dari keuntungan penjualan beras yang Nas Ferry jalani selama ini. Nanti Linda tambahi jika masih ada kekurangan."
Begitulah kata-kata Linda, sewaktu ingin memberikan tambahan modal pada suaminya.
__ADS_1
Sebenarnya Ferry masih berpikir, untuk mencari cara sendiri, untuk usahanya ini. Tapi Linda mengatakan bahwa, "lebih cepat lebih baik. Ambil kesempatan Mas. Mumpung Erli masih kecil dan belum banyak keperluan untuk biaya pendidikannya."
Akhirnya, Ferry menyetujui usulan dari istrinya itu. Dan sudah hampir seminggu ini, dia tidak lagi bertemu dengan mbak Nana.
Dari kabar terakhir yang mbak Nana sampaikan melalui pesan singkat, suaminya sedang ada di rumah. Suaminya mbak Nana ada di rumah sekitar satu bulan lamanya.
Jadi, bisa dipastikan bahwa, mbak Nana tidak akan muncul ke pengilingan padi ini selama satu bulan ke depan.
Ini membuat Ferry merasa lega. Tapi juga tidak tahu, apa yang akan terjadi nanti. Jika sampai apa yang terjadi kemarin itu, antara dirinya dengan mbak Nana, menghasilkan sesuatu.
Ferry takut jika, akan ketahuan oleh suaminya mbak Nana.
Dia belum siap jika akan mendapatkan laporan dari pihak kepolisian. Jika dirinya dilaporkan oleh suaminya mbak Nana itu.
'Aku takut jika itu sampai terjadi. Bagaimana caraku menjelaskan pada Linda?'
Begitulah kira-kira pikiran takut yang dirasakan oleh Ferry.
"Mas."
Ferry terkejut dengan panggilan seseorang. Dan pada saat dia menolehkan kepalanya, dia semakin terkejut dengan keberadaan mbak Nana yang ada di depannya.
"Mbak Nana?"
Ferry seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
Mbak Nana tampak tersenyum senang, melihat Ferry yang masih sama seperti waktu dia lihat terakhir kalinya. Seminggu yang lalu.
"Ya Mas. Ini Aku," jawab mbak Nana menyakinkan Ferry.
"Katanya..."
"Aku beli beras. Di rumah habis. Di toko juga habis," sahut mbak Nana memberikan alasan, sebelum Ferry menyelesaikan kalimatnya.
"Oh..."
Mulut Ferry hanya bisa membola. Mencoba untuk menghilangkan pikiran yang ada di dalam otaknya saat ini.
__ADS_1