Tante Melinda

Tante Melinda
Bahagia Itu Ada Kalian


__ADS_3

Linda dan Romi, hanya bisa memberikan dukungan kepada Della dan Danang lewat telpon atau video call saja. Karena mereka berdua tidak bisa pulang kampung sesuka hati, mengingat beberapa hal yang harus mereka perhatikan. Termasuk Erli, yang saat ini sudah bersekolah di kota besar.


Jadi, tidak mungkin mengabaikan sekolah Erli yang baru beberapa bulan. Karena itu akan berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kemampuan Erli dalam menyesuaikan dirinya dengan teman-teman dan lingkungannya yang baru.


Danang dan Della tidak mempersoalkan hal itu, yang penting mereka mendapatkan perhatian dan dukungan dari mereka. Dari doa-doa yang dipanjatkan oleh kedua kakaknya itu.


..."Gak apa-apa Mas Romi. Doakan Della, semoga operasinya lancar."...


..."Pasti Del, Kamu yang tenang ya! jangan ketakutan, sebab itu akan mempengaruhi tekanan darah Kamu. Takutnya jika Kamu merasa takut, malah naik terus dan operasi jadi ditunda-tunda."...


..."Iya Mas. Della udahan untuk tetap tenang dan selalu berdoa."...


..."Kamu istighfar terus ya, pokoknya jangan melamun sendiri."...


..."Iya Mas. Della ingat pesan dari Mas Romi kok. Oh ya Mas, salam buat Erli dan mbak Linda ya Mas!"...


..."Iya, ini mereka ada di sampingku semua kok, coba sapa aja mereka."...


..."Halo Tante Della..."...


..."Hai Erli comel! Tante kangen Sayang!"...


..."Erli juga kangen Tante Della. Sehat-sehat ya Tante, nanti main-main ke rumah ayah di sini sama om Danang!"...


..."Hiks... iya Sayang."...


..."Udah sini gantian Mama Sayang! halo Del, Kamu semangat ya! Anggap aja sedang interview kerja. Hehehe..."...


..."Eh iya mbak Linda. Terima kasih!"...


Akhirnya mereka bertiga bergantian berbicara dengan Della melalui telpon. Bahkan, Erli dan Linda berebutan untuk bisa mendapatkan giliran berbicara.


Hal ini membuat Romi dan Della tertawa-tawa senang, karena mama dan anak sama-sama tidak mau mengalah.


Tapi ternyata itu bisa membuat Della lebih rileks dan tidak tegang, sehingga melupakan jadwal operasinya besok.


Danang juga ikut senang, karena istrinya tidak merasa sedih dan takut untuk menghadapi operasinya sedot kelenjar tiroid yang ada di lehernya.


Kadang, hal kecil yang tidak seberapa dan seperti tidak layak untuk dilakukan, bisa membuat orang lain tersenyum dan terhibur.


Sama seperti yang dilakukan oleh Linda dan Erli, yang sedang berebutan telpon. Tapi nyatanya, hal itu menjadi hiburan tersendiri bagi Della. Yang sudah beristirahat di kamar pasien sejak tadi pagi. Sehingga sekarang ini, Della bisa tersenyum-senyum atas kelakuan kakak ipar dan keponakannya itu.


..."Ya sudah ya Del, Kamu istirahat dulu. Besok, sebelum masuk ruangan operasi, insyaallah kami telpon lagi."...


..."Iya Mbak. Terima kasih ya Mbak."...


..."Assalamualaikum..."...


..."Waallaikumsalam Mbak, Mas Erli!"...


Klik!

__ADS_1


Cup cup!


Linda dan Erli, mendapatkan hadiah kecupan di pipi masing-masing dari Romi. Karena sudah menghibur adiknya, yaitu Della.


"Ayah..."


"Mas..."


Linda dan Erli, kompak dengan sama-sama protes. Karena kecupan yang tidak meminta izin terlebih dahulu dari Romi.


"Hahaha..."


Tapi Romi justru tertawa terbahak-bahak, melihat reaksi kedua cewek berbeda generasi tersebut.


Dia merasa sangat senang dengan adanya mereka berdua, yang sudah masuk ke dalam kehidupannya saat ini. Bisa menjadi obat yang mujarab. Bukan hanya di saat dirinya yang merasa kesepian saat ada di waktu lelah sepulang kerja. Tapi dalam keadaan yang bagaimanapun juga, mereka berdua bisa membuatnya kembali bersemangat dan tersenyum senang.


Romi benar-benar merasa bersyukur, dengan semua yang dia miliki saat ini. Karena meskipun Erli bukan anak kandungnya, tapi dia sangat menyayangi Erli, sama seperti dia menyayangi Della, adik kandung satu-satunya.


Kini dalam kehidupan romi, ada tiga wanita yang menjadi penyemangat hidupnya. Agar bisa menjadi seorang laki-laki yang patut untuk dijadikan sebagai panutan, idaman dan juga imam.


Dua akan berusaha sekuat tenaga, supaya tidak mengecewakan mereka. Yaitu orang-orang yang ada disekelilingnya, dan menyayangi dirinya juga.


"Ayah..."


Teriakan Erli, dan menarik-narik lengan ayahnya. Yang membuat Romi tersadar dari lamunan. Padahal, didepannya saat ini ada Linda juga, yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.


Mungkin karena Linda menyadari, jika saat ini suaminya itu sedang dalam keadaan melamun. Sehingga dia meminta pada anaknya, untuk menyadarkan suaminya dengan berteriak memanggil ayahnya itu.


Hal ini membuat Linda dan Erli tertawa-tawa sambil merangkul pundak Romi dengan bergelayut manja.


"Ayah sedang apa?" tanya Erli ingin tahu.


"Mas mikirin Della ya?" tanya Linda setengah berbisik. Di samping kepalanya Romi, dekat dengan telinga. Agar Erli tidak ikut mendengarkan apa yang dia tanyakan pada suaminya itu.


"Emhhh... Ayah mau ajak Erli jalan-jalan ke depan sana. Mau gak?" tanya Romi, ditujukan untuk Erli.


Tapi, hal ini membuat Linda cemberut. Karena merasa diacuhkan oleh suaminya sendiri. Hanya karena Romi sedang bertanya pada anaknya, Erli.


"Yang diajak Erli saja ini, Mama gak?" tanya Linda, dengan wajahnya yang tampak masam. Karena pedang merajuk.


"Sayang, lihat Mama! Masa udah gede merajuk ya? masa kalah sama Erli ya?"


Romi justru semakin menggoda istrinya, supaya merajuk. Dengan meminta persetujuan dan bersekokol dengan anaknya. Untuk mengerjai istrinya, yang merupakan mamanya Erli sendiri.


"Yeee... Mama gak diajak ayah! Asyekkk... Eri dong yang diajak jalan-jalan!"


Erli sepertinya mengerti, apa yang diinginkan oleh ayah sambungnya itu, sehingga dia ikut mengolok-olok mamanya. Supaya bertambah ngambeknya.


Dan sepertinya, Linda juga paham dengan persekongkolan anak dan suaminya itu. Sehingga dia juga pura-pura semakin marah dan jengkel pada mereka berdua.


Aksi pura-pura Erli dan Linda yang kompak, justru membuat Romi semakin gemas pada keduanya. Yang pada akhirnya membuatnya tertawa-tawa sambil merangkul pundak anak dan istrinya itu.

__ADS_1


"Hahaha... kalian ini kompak banget buat bersandirawa. Dapat hadiah dari ayah nanti. Hahaha..."


Tawa Romi benar-benar tidak bisa ditahan, sehingga dia terus tertawa senang. Karena istri dan anaknya itu.


Hal ini membuat Linda tersenyum tipis, melihat bagaimana suaminya yang sudah bisa riang gembira lagi. Karena sejak mendengar berita tentang sakitnya Della, Romi tampak selalu murung.


Bukannya tidak punya rasa peduli dengan sakit yang diderita Della, tapi Linda tidak mau jika suaminya kepikiran, dan pada akhirnya berpengaruh pada kesehatannya juga. Sebab, jika sedang banyak pikiran, tentu saja Romi akan menjadi susah untuk beristirahat dan juga tidak bisa makan dengan teratur.


Sekarang, mereka berdua diajak romi untuk jalan-jalan ke jalan utama, yang biasanya jika sudah sore seperti ini akan ada banyak penjual makanan gerobak yang mangkal. Baik makanan yang sederhana sampai makanan yang berbau luar negeri.


Tentunya hal ini membuat Erli bertepuk tangan, karena merasa senang.


Begitu juga dengan Linda, yang merasa bersyukur dengan semua yang sudah dia rasakan saat ini.


Dengan memiliki Romi sebagai suaminya, dia mulai terbiasa mengungkapkan apa yang sedang dirasakan, diinginkan, dan juga tidak dia sukai.


Linda juga melihat kebahagiaan itu di wajah anaknya, yang bisa menerima Romi sebagai pengganti papanya.


Erli tampak senang dengan adanya Romi, yang juga menyayanginya sama seperti menyayangi anak sendiri. Dan sepertinya, Erli juga bisa membuat Romi selalu tersenyum.


Dia berharap agar semua ini tidak akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu.


Linda akan berusaha, untuk bisa mempertahankan kebahagiaan dan kesejahteraan keluarganya. Meskipun tidak bergelimang harta, dan kemewahan.


*****


Di rumah pamannya Romi.


Istri keduanya datang dengan menangis-menangis, karena dia sudah tidak bisa mendapatkan kemewahan dari suaminya. Yang saat ini sedang mengalami gangguan jiwa.


Dia harus mulai berpikir untuk mencari pekerjaan, supaya bisa memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anak-anaknya. Sebab, tidak mungkin dia meminta pada suaminya maupun pada kakak madunya.


"Aku mau cerai saja Mbak. Aku akan mencari pekerjaan untuk kehidupanku dan anak-anakku. Tapi Aku minta maaf ya Mbak, karena Aku tidak akan bisa ikut merawatnya dan juga membiayai semua perawatannya."


"Nanti, jika Aku sudah punya pekerjaan dan tidak lagi kekurangan, sekali-kali Aku akan melihatnya ke sini. Aku minta maaf ya Mbak!"


Setelah itu, dia pamit pulang dan menyerahkan surat dari pengadilan untuk sidang. Meskipun dia juga tahu, jika suaminya itu tidak mungkin bisa datang ke pengadilan. Untuk menghadiri undangan sidang perceraian mereka.


"Aku pamit Mbak."


Istri pertama hanya bisa mengangguk saja, dan tidak bisa mencegah madunya itu untuk pergi. Sebab, dia juga tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup dari adik madunya, yang dulu sudah merebut suaminya.


Karena pernikahan kedua suaminya dilakukan secara resmi, maka perceraian mereka juga dilakukan di pengadilan agama sebagaimana mestinya.


"Semoga saja Kamu bisa belajar dari pengalaman ini, sehingga Kamu tidak akan merebut kebahagiaan wanita lain. Jika bisa, Kamu juga tidak memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Tapi fokus pada pekerjaan dan merawat anak-anak."


Harapan tersebut diucapkan oleh istri pertama, yang hanya bisa berdagang di teras depan rumahnya. Untuk bisa mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidupnya, bersama dengan anak-anaknya sendiri dan merawat suaminya.


Dia tidak mungkin bisa bekerja dengan keluar dari rumah, karena jika itu terjadi, suaminya tidak akan ada yang memantau.


Jadi dia terpaksa hanya bisa melakukan pekerjaan yang tidak meninggalkan rumah. Supaya tetap bisa merawat anak-anak dan juga suaminya. Meskipun sekarang sudah tidak lagi seperti dulu, karena suaminya memang sudah tidak mendapatkan penghasilan apapun, sejak mengalami gangguan kejiwaan.

__ADS_1


__ADS_2