
"Sebaiknya segera di bawa ke rumah sakit atau klinik!" usul Romi, saat merasakan hawa panas pada suhu tubuh anak tersebut.
"Tap_tapi, ini Saya pulang ke kampung karena tidak punya uang. Kami, baru saja mendapat musibah. Huhuhu..."
Akhirnya wanita tersebut bercerita pada Romi, jika dua minggu yang lalu, suaminya baru saja meninggal dunia akibat sakit liver.
Mereka sekeluarga, sudah berusaha untuk mengobati penyakit tersebut, sehingga menghabiskan banyak biaya. Bahkan rumah dan investasi mereka sudah habis terjual.
Tapi tetap saja, suaminya tidak bisa ditolong. Sebab penyakitnya sudah terlanjur pada stadiun akhir.
Dan sekarang, dia bermaksud untuk pulang ke kampung. Memulai hidup di sana dengan seadanya saja. Demi kedua anaknya yang masih kecil-kecil.
Romi melihat anak tersebut, yang sudah dalam keadaan tak berdaya di pelukan ibunya. Dan hawa panas pada suhu tubuhnya, terlihat dari kulit wajahnya yang merah padam.
"Kita bawa ke klinik terdekat. Jika tidak perlu diopname atau penanganan khusus, berarti bisa langsung pulang. Tapi jika tidak, terpaksa harus menunggu hingga kondisi tubuhnya membaik."
Mendengar perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh Romi, wanita tersebut pucat pasi. Sebab dia tidak memegang uang yang cukup banyak.
Melihat situasi yang ada, Romi mencoba untuk menenangkan wanita tersebut.
"Tenang Bu. Saya bisa bantu sebisanya. Yang penting anak Ibu tertolong," terang Romi dengan sungguh-sungguh.
Tanpa menunggu jawaban dari wanita tersebut, Romi langsung pergi ke bagian depan bus. Untuk menemui Pak supir. Agar menghentikan bus di klinik atau rumah sakit terdekat, sekarang juga.
Romi juga menjelaskan alasannya, kenapa dia meminta Pak supir harus menurut padanya.
"Ini darurat Pak!" jelas Romi lagi.
"Ya-ya. Saya akan berhenti sebentar," sahut Pak supir menyanggupi permintaan Romi.
Akhirnya, bus berhenti tak lama kemudian, di sebuah klinik yang ada di pinggir jalan.
Kernet bus juga di minta Pak supir, untuk membantu penumpangnya turun. Supaya bisa memeriksakan anaknya yang sendang demam tinggi.
Pak supir meminta pada penumpangnya yang lain untuk bersabar sebentar, demi menolong nyawa seorang anak kecil.
Setelah menunggu beberapa saat kemudian, akhirnya Romi kembali ke tempat Pak supir berada. Dia mengatakan bahwa, anak tersebut perlu perawatan medis terlebih dahulu. Sebab memerlukan cairan infus juga.
__ADS_1
Akhirnya atas saran Pak supir, Ibu dan anak tersebut lebih baik menunggu di klinik. Besok jika sudah diperbolehkan pulang, ada bus lain yang sama dengan PO bus ini juga, yang bisa menjemput mereka.
Pak supir juga segera menghubungi pihak PO bus, untuk melaporkan semua kejadian yang terjadi. Supaya bisa dimaklumi.
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Pak supir, Romi mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Pak. Saya akan memberikan penjelasan ini pada ibu-ibu tadi."
Akhirnya Romi kembali ke dalam klinik. Dua berbicara sebentar dengan ibu yang tadi, dan memberikan penjelasan kepadanya, tentang penjelasan yang diberikan oleh pak supir.
"Jadi Ibu tidak usah khawatir untuk bisa pulang sampai ke kampung. Karena bus lain akan mampir ke sini untuk menjemput Ibu."
Setelah memberikan pengertian dan menjelaskan kepada ibu tersebut, Romi pamit untuk pergi. Dia juga meninggalkan sejumlah uang pada ibu tersebut, untuk biaya pengobatan anaknya di klinik ini.
Wanita tersebut berterima kasih pada Romi, dengan menangis tersedu-sedu.
Dia juga pergi ke luar sebentar, untuk mengucapkan terima kasih kepada pak supir. Sebab anaknya kini sudah dapatkan penanganan medis.
Akhirnya, bus kembali berjalan menuju pulang, karena sudah terlambat selama satu setengah jam.
*****
Linda mengutarakan keinginan dan maksudnya, untuk pindah ke rumahnya sendiri, pada ibu dan bapaknya malam ini.
"Tapi, Kamu belum bisa melakukan apa-apa sendiri Lin. Bagaimana Kamu bisa di sana sendiri nanti?" tanya ibunya, dengan wajah yang khawatir.
"Iya Nduk. Kamu belum bisa melakukan apa-apa sendiri. Harus ada bantuan dari orang lain. Kalau Ibu atau Bapak harus menemani di sana, bagaimana kami bisa bolak-balik?" bapaknya ikut menimpali.
Linda menghela nafas panjang, karena tidak bisa memberikan alasan yang lebih detil dan tepat. Sehingga bisa diterima oleh ibu dan bapaknya.
"Tapi, rumah yang di sana sudah lama kosong. Takutnya, jika ada sesuatu yang rusak malah tidak ketahuan Bu, Pak." Terang Linda mencoba untuk membuat alasan yang lain lagi.
"Lalu, Erli bagaimana sekolahnya?"
Sekarang, Linda baru ingat, jika Erli sekarang sekolahnya ada di kampung ibunya ini. Jadi tidak mungkin harus pindah sekolah lagi.
Lagipula, jika harus pindah ke perumahan, dia juga tidak bisa mengantarkan Erli sekolah.
__ADS_1
"Hhh..."
Bapak dan ibunya saling pandang. Mereka berdua tidak tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh anaknya yang pendiam ini.
"Ada apa to Lin? Kamu sudah gak betah di rumah ini?" tanya ibunya menyelidik. Dia berpikir jika, Linda sudah tidak betah untuk tinggal di rumahnya.
Dengan cepat Linda menggelengkan kepalanya beberapa kali, karena bukan itu alasannya yang membuatnya ingin pindah ke rumahnya sendiri, yang ada di perumahan.
"Lalu apa?" tanya ibunya, mendesak alasan yang dibuat Linda, sehingga ingin pulang.
"Linda, Linda gak nyaman jika ada Pamannya Della datang ke sini."
Sekarang, kedua orang tuanya saling pandang lagi, karena tidak tahu, apa yang sebenarnya terjadi antara Linda dengan pamannya Della.
"Kenapa Lin?" tanya ibunya lagi, yang merasa heran dengan sikap anaknya kali ini. Tidak biasanya Linda bersikap tidak suka dengan seseorang secara berlebihan.
Linda bingung harus mengatakan apa lagi, untuk memberikan alasannya. Karena dia tidak bisa memberikan penjelasan yang lebih detil kepada ibu dan bapaknya, tentang kejadian di masa lalu.
Mereka berdua tidak mungkin percaya dengan apa yang akan diceritakan oleh Linda sekarang, karena kejadian itu memang sudah berlalu berpuluh tahun yang lalu.
Akhirnya Linda terdiam dan tidak meneruskan pembicaraan mereka.
"Linda mau ke kamar dulu Bu, Pak." pamit Linda pada ibu dan bapaknya. Dia mencoba untuk menghindar dari pertanyaan ibunya.
Setelah Linda pergi ke kamar, ibunya bertanya kepada suaminya. "Linda kenapa ya Pak? kok sepertinya tidak suka dengan pamannya Della?"
"Bapak juga gak tahu Bu. Anakmu itu kan gak mau bicara, jika ada masalah."
Ibunya Linda hanya bisa mengangguk saja, karena memang begitulah kebiasaan linda selama ini.
"Coba Bapak tanya pada Linda kapan-kapan dan pelan-pelan, karena mungkin dia bisa bercerita sama Bapak nanti."
Suaminya itu hanya mengangguk saja, mengiyakan perkataan istrinya.
Tak lama kemudian, Erli pulang dari sekolah. Dia berteriak-teriak senang, karena bisa mendapatkan hadiah pada saat tadi ada perlombaan yang dia ikuti di sekolah.
"Ma... Mama..."
__ADS_1
Erli sudah berteriak-teriak dari jalanan yang ada di depan rumah, karena bahagia dan tidak sabar, untuk memberitahukan keberhasilannya pada sang mama.
Dia tidak tahu, jika mamanya sedang merasa gelisah di dalam kamar.