Tante Melinda

Tante Melinda
Bagaimana Bisa?


__ADS_3

Perjalanan menuju ke Jakarta ternyata membutuhkan waktu yang lama. Ada kurang lebih sebelas jam perjalanan, dari kotanya Linda, hingga tiba di Jakarta.


Di perjalanan yang cukup lama ini, tentu saja kadang juga butuh berhenti. Baik untuk mengisi bahan bakar yang dibutuhkan oleh bus, atau untuk kepentingan pribadi penumpang.


Misalnya saja, ada yang ingin ke toilet atau berhenti untuk makan, jika memang sudah waktunya untuk makan.


Pada saat tiba di kota Pekalongan, bus berhenti di sebuah pengisian bahan bakar, yang ada rumah makannya. Karena selain ingin mengisi bahan bakar untuk bus, waktunya untuk makan siang juga sudah tiba.


Semua penumpang turun. Begitu juga dengan supir dan asisten supir. Karena selain mengisi bahan bakar, mereka juga butuh mengisi perut yang sudah mulai lapar.


"Ayo Lin!"


Pak Rudi mengajak Linda untuk ikut turun bersamanya. Dia akan mengajak Linda makan, dan memilih sendiri warung makan mana yang diinginkan.


Di tempat pemberhentian tersebut, selain pom bensin, ada juga beberapa jenis rumah makan yang berjejer.


Ada warteg, rumah makan Padang, mie ayam dan bakso. Ada juga beberapa warung yang menyediakan mie goreng dan ayam goreng khas Lamongan.


Jadi, orang-orang yang berhenti dan beristirahat di tempat tersebut, punya pilihan sesuai dengan keinginan mereka.


Linda menurut saja dengan ajakan pak Rudi. Dia tidak mungkin bisa menolak tawaran tersebut. Karena dia juga tidak ada teman, yang bisa dia ajak untuk bicara selama perjalanan ini.


Selain itu, ternyata orang-orang itu juga sudah mempunyai kelompok-kelompok nya sendiri. Untuk bisa melakukan apa-apa, selama perjalanan mereka menuju ke Jakarta.


"Kamu mau makan apa Lin?" tanya pak Rudi, meminta pada Linda untuk memilih rumah makan mana yang harus mereka berdua masuki.


"Emhhh..."


Linda bingung mau makan apa saat ini. Selain itu, tempat ini juga sudah lumayan penuh. Karena tidak hanya kendaran bus mereka saja yang berhenti di tempat ini. Tapi ada beberapa bus dari kota lainnya juga.


Bahkan, ada beberapa mobil pribadi juga, yang tampak terparkir di depan sana.


"Bagaimana kalau ke rumah makan Padang?" tanya pak Rudi, memberikan pilihan.


Linda hanya bisa mengangguk saja. Lagipula, hanya rumah makan Padang tersebut, yang tidak begitu ramai dikunjungi oleh orang-orang.


Dan akhirnya, Linda bersama dengan pak Rudi, masuk ke dalam rumah makan Padang, Untuk mengisi perut mereka siang hari ini.


Beberapa saat kemudian, bus sudah kembali berjalan menuju ke arah Jakarta. Perjalanan mereka, masih panjang. Karena pada saat ini, mereka baru saja tiba di kota Pekalongan.


Beberapa kali lintas terlihat menguap. Mungkin karena hati memang sudah waktunya untuk beristirahat. Perut juga dalam keadaan kenyang. Tidak ada yang bisa dilakukan juga di atas bus yang sedang berjalan seperti ini.

__ADS_1


Jadi, mata pun ikut meredup. Seiring berjalannya waktu dan dinginnya AC yang ada di dalam bus.


Linda sudah mencoba untuk membuka matanya dengan lebar. Dia menahan kantuk.


Padahal, orang-orang disekelilingnya juga sudah tampak mulai terlelap. Apalagi, musik dari tape recorder bus juga terdengar mendayu-dayu.


Membuat siapapun ikut merasa terlena. Sama seperti sedang di nina bobo.


"Tidur saja Lin. Aku juga mulai mengantuk kok," ujar pak Rudi, sambil menguap. Dia tampak mengerjap untuk membuat matanya lebih terang, walaupun sebentar saja.


Linda hanya mengangguk saja, kemudian mulai memposisikan duduknya agar lebih nyaman.


Dia juga meletakkan jaketnya, untuk bantalan di dekat jendela kaca bus.


"Sini Lin!"


Tiba-tiba, pak Rudi memposisikan kepala Linda, agar bisa menyandar di pundaknya sendiri.


Pada saat Linda ingin menegakkan kembali kepalanya, pak Rudi dengan cepat memegangi kepalanya Linda.


"Tidak apa-apa. Ini akan lebih nyaman, dan Kamu bisa tidur lama. Dari pada terantuk jendela yang keras." Pak Rudi memberikan alasan, dengan antusias.


Linda akhirnya hanya bisa diam dan mengikuti keinginan pak Rudi.


Karena rada nyaman yang dirasakan oleh Linda, tak lama kemudian dia pun tertidur juga.


Pak Rudi menoleh ke arah pundaknya, yang dijadikan bantal untuk kepalanya Linda.


Wajahnya yang begitu dekat dengan Linda, membuatnya ingin mencium Linda.


Tapi karena sedikit susah, dia hanya bisa menciumi puncak kepala Linda saja. Dan terus mengusap-usap tangan Linda.


Dan beberapa saat kemudian, pak Rudi juga ikut tertidur pulas.


*****


Pagi tadi, setelah pulang mengantar Linda ke pabrik bersama dengan Erli, Ferry langsung pergi ke pengilingan padi.


Tapi, saat berada di di jalan, belum sampai di tempat pengilingan padi, dia bertemu dengan pemilik pengilingan padi. Temannya Ferry sendiri.


"Pagi sekali Ferr?" tanya pemilik pengilingan padi.

__ADS_1


"Iya. Sekalian antar mamanya ini tadi," jawab Ferry, dengan tersenyum ke arah anaknya, Erli.


"Oh. Jadi ke Jakarta istri Kamu?" tanya pemilik pengilingan padi lagi.


Ferry hanya mengangguk saja. Dia tidak mau bicara soal istrinya, pada pemilik pengilingan padi ini.


"Ya sudah. Aku mau ke sawah sebentar kok. Kamu ke pengilingan padi aja langsung. Udah di buka juga tadi." Pemilik pengilingan padi, pamit untuk pergi terlebih dahulu.


Ferry mengangguk lagi. Dan setelah motor pemilik pengilingan padi pergi, dia kembali menjalankan motornya juga. Pergi menuju ke arah tempat pengilingan padi berada. Karena memang masih beberapa puluh meter lagi dari tempatnya ini.


"Pa. Papa!"


Erli memanggil-manggil papanya, dengan mendongakkan kepalanya melihat ke arah Ferry.


"Ya apa Sayang?" tanya Ferry, dengan menoleh sekilas ke arah anaknya itu.


"Nanti pulang ke rumah simbah ya Pa?"


"Kemarin kan udah nginap di rumah simbah Sayang. Sama mama juga." Ferry, ingin menolak permintaan dari anaknya itu.


Tapi, dia tidak mau mengatakannya secara langsung. Jadi, dia memberikan beberapa alasan saja.


"Tapi Pa... di rumah gak ada Mama juga," rengek Erli.


"Besok aja ya, Erli papa antar ke rumah simbah?" bujuk Ferry, agar anaknya itu tidak lagi rewel.


"Kan tadi sudah di bilang juga sama mama. Erli gak boleh nakal, dan gak boleh rewel juga." Ferry mencoba untuk mengingatkan kembali pada Erli, tentang pesan dari mamanya, Linda.


Bibir Erli mengerucut kesal. Tapi dia tidak lagi bicara ataupun protes.


Dan ini membuat Ferry tersenyum, sambil melihat sekilas ke arah anaknya itu.


"Nanti Papa beliin kue dan jajanan. Tapi janji ya, Erli gak boleh rewel-rewel. Di saat Papa kerja. Ok!"


Erli mengangguk cepat. Dia tersenyum senang, karena membayangkan bagaimana rasanya menikmati kue-kue dan jajan, yang akan diberikan oleh papanya nanti.


Tak lama, mereka berdua sampai di tempat pengilingan padi.


Setelah memarkirkan sepeda motornya, Ferry menurunkan Erli dari kursi boncengan yang dimodifikasi sedemikian rupa. Untuk keamanan anak-anak kecil yang sedang membonceng sepeda motor.


"Pa. Mana tukang kue dan jajanannya?"

__ADS_1


Erli belum melihat tukang kue dan jajanan, yang biasa menggelar dagangannya tak jauh dari tempat penggilingan padi.


__ADS_2