Tante Melinda

Tante Melinda
Semua Sudah Berlalu


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu, sejak Linda hidup tanpa ada Ferry lagi bersama dengan dirinya dan Erli.


Linda masih berada di rumah ibunya, sebab keadaannya juga tidak memungkinkan dirinya untuk tinggal di rumahnya sendiri. Karena dia tidak bisa melakukan apa-apa sendiri, dengan pasca operasi pen yang dia lakukan.


Kedua mertuanya, baru saja kembali ke kota asalnya. Meskipun sebenarnya mereka berdua masih ingin menemani cucunya.


Tapi kehidupan dan kesibukan mereka, juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Sehingga hanya bisa memberikan beberapa pesan dan nasehat pada Linda. Agar tidak sungkan-sungkan untuk datang atau meminta tolong jika ada sesuatu yang terjadi.


Linda hanya mengangguk saja, saat kedua mertuanya pamit pulang. Dengan disertai air mata perpisahan mereka.


"Jika Kamu sudah sembuh, sekali-kali datanglah mengunjungi kami bersama Erli. Karena untuk kami berdua yang sudah tua ini, tidak mungkin melakukan perjalanan jauh juga untuk kedepannya."


"Iya Bu. Maaf, jika selama ini Linda tidak pernah ke sana."


Mereka berdua berpelukan dengan posisi Linda yang duduk sambil meluruskan kakinya. Karena memang seperti itulah, keadaan dirinya yang harus memposisikan kakinya, supaya tidak ada kesalahan dalam penempatan pen yang dipasang kemarin.


Erli yang tidak pernah bertemu dengan kedua kakek dan neneknya, hanya bisa memeluk mereka dengan rasa sedih. Meskipun dia belum mengerti dengan benar.


Hanya saja, selama dua minggu ini dia memang lebih dekat. Jadi wajar, jika Erli sedih saat mereka pamit untuk pulang.


"Erli jadi anak yang pintar ya, jangan rewel dan bikin Mama sedih."


"Iya Nek," jawab Erli pendek.


Dan begitulah akhirnya. Mereka pulang dengan kesedihan yang masih terasa. Sama seperti yang dirasakan oleh Linda dan juga yang lainnya.


Urusan pekerjaan, Linda untuk sementara cuti sakit. Dengan surat keterangan dari dokter, yang disahkan oleh pihak rumah sakit.


Jadi Linda bisa aman dan tidak terlalu khawatir dengan kondisi dirinya, yang bisa membuat dirinya kehilangan pekerjaan. Seandainya tidak berangkat kerja dalam jangka waktu yang lama.


Danang dan Della cukup banyak membantu dirinya, untuk mengurus semua persyaratan yang diajukan untuk cuti sakit khususnya ini.


Banyak teman dan rekan kerja yang datang menjenguk Linda. Melayat juga di waktu Ferry meninggal dunia.

__ADS_1


Yang pada akhirnya membongkar rahasia tentang siapa Danang selama ini. Yang sering diperkirakan sebagai pacar mudanya Linda.


Sebab kata kenyataannya, Danang adalah adik kandung dari Linda sendiri.


"Ternyata gosip tentang mbak Linda yang doyan daun muda itu tidak benar ya?" tanya Aria, yang sedari awal kepindahan Linda sudah membuat jarak.


"Makanya, tidak usah banyak berpikir jelek saja. Jika sudah begini, siapa yang Kamu salahkan?" Febriyanto justru memojokkan Aria, yang sudah merasa cukup bersalah dengan praduga nya yang salah.


"Namanya juga gak tahu Feb."


"Halah!"


Ternyata, pak Rudi dan juga pak Komarudin, ikut juga melayat waktu itu. Juga beberapa staf yang kenal dengan Linda. Termasuk pak Yus juga.


Tapi tentu saja, waktu itu Linda tidak bisa menemui mereka semua. Karena keadaan dirinya yang juga sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Jadi hanya Danang yang menemui dan menemani para tamu yang datang melayat.


Jika ada yang bertanya tentang keadaan Linda, Danang hanya menjawab jika kakaknya sedang tidak bisa ditemui karena sedang masa penyembuhan juga.


Tapi tentu saja hanya sebatas itu saja.


Tidak ada hal lain, yang menjadi tujuan mereka. Karena tidak lama lagi, mereka akan menjadi bagian keluarga Linda juga.


Untung saja, pada saat kejadian kemarin itu, Pamannya Romi sedang ada di luar kota, sehingga tidak ikut bersama melayat jenazah Ferry.


Tentu saja ini membuat Linda merasa sedikit lebih lega. Karena dia tidak mau jika, di saat mendengar suara Pamannya Romi, akan merasakan rasa sakit di kepalanya. Sama seperti kemarin di waktu acara lamaran.


Dan untuk saat ini, sekolah Erli juga sudah dipindahkan ke sekolah yang ada di desanya Linda. Tidak lagi sekolah di tempat yang dulu. Mengingat jika tidak ada yang bisa mengantar jemput, untuk berangkat dan pulang sekolahnya Erli.


Semua Benar-benar terasa berbeda tanpa adanya Ferry. Karena itu juga, Erli sering menangis jejeritan sendiri. Jika menginginkan sesuatu, yang biasanya dilakukan oleh papanya.


Tapi semua orang juga hanya. bisa memberikan apa yang diinginkan Erli. Karena mereka tidak mau jika Erli semakin bersedih hati. Sebab tidak lagi bisa bersama dengan papanya.

__ADS_1


*****


"Nang. Kamu sudah persiapkan mahar untuk Della?" tanya Linda, sambil mengupas apel untuk dirinya sendiri.


Saat ini, Erli sedang sarapan bersama dengan Simbah Kakung dan putrinya.


"Sudah Mbak. Sudah Danang persiapan kok semuanya. Mbak Linda gak perlu cemas atau khawatir. Danang sudah bicarakan ini dengan Della dan juga kak Romi."


Linda tersenyum tipis, mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya itu.


"Pokoknya jangan sampai pernikahan Kamu ini gagal, hanya karena keadaan Mbak saat ini ya Nang!"


Dengan mengangguk pasti, Danang juga mengacungkan jari jempolnya pada Linda.


"Pokoknya sip Mbak. Danang tidak masalah kok. Justru Della yang kemarin itu hampir membatalkan rencana yang sudah ditentukan. Katanya minta mundur dulu. Mengingat keadaan mbak Linda. Tapi aku bisa menyakinkan dirinya, bahwa semuanya akan baik-baik saja."


"Ya sudah kalau begitu. Tapi maaf ya, Mbak gak bisa, nambahin apa-apa. Sama seperti yang dikatakan mas Ferry di awal dulu."


Danang segera mengelengkan kepalanya, mendengar perkataan Linda yang mengucapkan permintaan maafnya.


"Gak apa-apa Mbak. Nasib dan takdir yang ada, tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Jadi, manusia hanya bisa berencana. Tapi keputusan akhir, tetap saja ada di tangan Tuhan."


Linda mengiyakan perkataan adiknya. Sedangkan Danang sendiri, sedang bersiap-siap untuk berangkat menuju ke tempat kerjanya.


*****


Hari ini adalah hari pernikahan Danang dengan Della.


Pihak keluarga Danang, sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah mempelai wanita. Dengan membawa segala sesuatu yang digunakan untuk keperluan hantaran.


Semua orang berbahagia, termasuk Linda juga. Meskipun dia tidak bisa ikut mengantarkan Danang. Karena dia memang di minta untuk tidak banyak bergerak. Bahkan pipis dan keperluan kamar mandinya, dia harus mengunakan kursi roda, atau dibopong Danang. Jika Danang sedang berada di rumah.


"Ma. Mama gak ikut liat Om Danang nikahan sama Tante Della?" Erli datang dengan memberikan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


"Tidak bisa Sayang. Erli saja yang ikut. Mama di rumah saja ya," bujuk Linda pada anaknya, yang sepertinya sedang mencari perhatian dengan cara ngambek


Erli semakin cemberut, di saat mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya.


__ADS_2