
Tok tok tok!
Tok tok tok!
"Sebentar!"
Terdengar suara sahutan dari dalam rumah. Dan tak lama kemudian, terdengar langkah kaki, yang datang mendekat ke arah pintu, yang saat ini masih tertutup rapat.
Kriyeettt!
"Eh, Pak polisi. Mari-mari masuk Pak. Mari."
Ibu Linda, membukakan pintu untuk polisi Ferry. Karena ternyata, yang tadi mengetuk pintu rumah adalah polisi Ferry.
Sebenarnya, polisi Ferry sudah datang siang hari. Tapi karena tidak ada orang di rumah, dia balik lagi, dan akan datang malam ini.
"Maaf Bu. Saya datang malam-malam."
"Oh, tidak apa-apa Pak polisi. Mari, silahkan duduk," ajak ibunya Linda, pada polisi Ferry agar duduk di kursi, di ruang tamunya yang tidak seberapa besar.
"Maaf Pak polisi, seadanya ya. Beginilah rumahnya Linda. Maklum, orang desa."
Polisi Ferry tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh ibunya Linda.
Kesan ramah yang dia terima, membuatnya semakin merasa percaya diri, dengan apa yang menjadi niatannya.
'Semoga saja, anaknya juga bisa ramah, dan menerima kedatanganku malam ini.' batin polisi Ferry, yang berharap agar, Linda bisa menerima kedatangannya, yang bermaksud untuk melakukan pendekatan dengan Linda sendiri.
"Pak. Ada tamu Pak."
Ibunya Linda, berteriak dengan senang hati, memangil suaminya, yang sedang berada di dalam kamar.
Ibunya Linda, merasa sangat senang, karena kedatangan tamu, yang tidak pernah dia sangka-sangka.
Polisi Ferry, hanya mengangguk dan tersenyum, mendapatkan sambutan yang hangat, dari keluarga Linda ini.
Tanpa di panggil, Linda keluar dari dalam kamarnya juga. Dia merasa penasaran, dengan sosok tamu, yang membuat ibunya itu terdengar jelas jika sedang berbahagia.
"Ibu..." panggil Linda, yang pada akhirnya tidak melanjutkan kalimatnya, karena melihat siapa yang saat ini sedang duduk bersama dengan ibunya di ruang tamu.
Linda hanya mengangguk dan tersenyum tipis, melihat ke arah polisi Ferry. Dia bermaksud untuk kembali masuk ke dalam kamar, tapi terhenti, saat ibunya memangil dirinya.
__ADS_1
"Lin, sini!"
Dengan sedikit malas, Linda tersenyum canggung, kemudian berjalan menuju ke arah kursi tamu.
Sekarang, Linda sudah ikut duduk bersama dengan ibunya, dan juga polisi Ferry.
Tak lama kemudian, bapaknya Linda datang.
"Eh, Pak polisi. Maaf-maaf, Bapak tidak tahu jika, Pak polisi yang datang bertamu."
Ibunya Linda bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Dia ingin membuat minuman, untuk tamunya, polisi Ferry.
Saat Linda ingin beranjak dari tempat duduknya juga, ibunya Linda melarang anaknya itu, dan meminta Linda untuk tetap duduk di tempatnya lagi.
"Sudah Lin. Kamu duduk saja di situ. Ibu buat minum sendiri."
Linda pun akhirnya kembali duduk, dan mendengarkan pada yang sekarang ini sedang dibicarakan oleh polisi Ferry.
Ternyata, kedatangan polisi Ferry ke rumah Linda, ada maksud tertentu. Yaitu ingin melamar Linda, untuk menjadi istrinya kelak.
Tentu saja bapaknya Linda merasa sangat senang, karena bisa mendapat menantu seorang polisi.
Begitu juga dengan ibunya Linda, yang sudah menebak jika, polisi Ferry, ada hati dengan anaknya itu.
"Pak polisi benar-benar berniat melamar anak Saya, Linda?" tanya bapaknya Linda, memastikan jika, apa yang dikatakan oleh polisi Ferry adalah benar adanya.
"Jangan panggil pak polisi Bapak. Panggil saja dengan nama Saya, Ferry."
Polisi Ferry, meralat panggilan bapaknya Linda, karena panggilan itu tidak pantas untuk seorang calon mertua pada menantunya nanti.
Linda tidak tahu, apa yang harus dia katakan, untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh polisi Ferry, yang memintanya untuk menjadi istrinya.
"Bagaimana Mbak Linda, apa Mbak Linda bersedia menjadi istri Saya?"
Pertanyaan seperti ini, membuat Linda sangat khawatir dengan keadaan dirinya, dan perasaannya sendiri.
"Bagaimana mungkin, Pak polisi datang secara tiba-tiba, dan meminta Saya, untuk menjadi seorang istri? Apa Pak polisi sudah berpikir dengan matang?" tanya Linda, yang tidak habis pikir, dengan apa yang terjadi malam ini, dengan kedatangan polisi Ferry ke rumahnya.
Semua ini terasa seperti sebuah candaan, yang sering Linda alami di tempat kerja, jika sedang bercanda dengan teman-temannya.
Dia hanya berpikir, jika ini tidak serius dan hanya lelucon polisi Ferry.
__ADS_1
Apalagi, dia dan polisi Ferry belum lama kenal. Berbincang-bincang saja tidak pernah. Bagaimana mungkin, sekarang memintanya untuk menjadi seorang istri, yang tentunya perlu sebuah pertimbangan dan pemikiran yang matang.
"Saya serius mbak Linda. Jika mbak Linda setuju, Saya akan mengajak kedua orang tua Saya, untuk datang dan melamar mbak Linda secara resmi."
Linda menghela nafas panjang apalagi, dilihatnya jika, ibu dan bapaknya, terlihat sangat senang, mendengar niatan polisi Ferry.
'Bagaimana dengan kak Romi?' pikir Linda, dalam hati.
Sekarang, Linda jadi merasa bimbang. Apalagi, Romi juga tidak ada kabarnya. Dan di saat semuanya terasa mengantung, ada polisi Ferry yang datang dengan sebuah kepastian.
Linda merasa dilema juga.
Apalagi saat kedua orang tuanya, mendesak dirinya, untuk menerima tawaran polisi Ferry.
Karena gadis seumuran dengannya, di desanya ini sudah waktunya untuk segera menikah.
Dengan terpaksa, Linda meminta waktu untuk berpikir terlebih dahulu, sebelum dia memberikan keputusan, untuk menerima atau menolak tawaran lamaran, yang diajukan oleh polisi Ferry padanya.
*****
Linda tidak bisa tidur. Dia merasa sangat gelisah, karena dilema yang harus dia hadapi saat ini.
"Kak Romi ke mana sih?" gumam Linda, dengan pertanyaan yang tidak mungkin bisa dia jawab juga.
"Coba Aku kirim pesan. Siapa tahu di balas kak Romi."
Akhirnya, Linda mengirim pesan, pada kekasih hatinya, yang saat ini sedang ada di kota besar.
Dengan rasa was-was yang ada di dalam hatinya, Linda menuggu pesannya di balas.
Namun sayangnya, setelah beberapa saat lamanya Linda menuggu, pesan yang dia kirim tidak juga mendapatkan balasan.
"Hiks hiks hiks... kak Romi. Kamu ke mana? Kamu kenapa begini sama Linda?"
Rasa takut, khawatir dan sedih, bercampur aduk di dalam hatinya Linda saat ini.
Dia merasa sangat sedih dan kecewa, terhadap Romi, yang tidak berkabar.
Apalagi, dia juga sedang dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit untuk dia ambil, karena desakan kedua orang tuanya, yang memintanya untuk menerima lamaran polisi Ferry tadi.
Akhirnya, Linda yang sedang dalam sedih dan menangis, tanpa sadar, tertidur juga. Dia tidak tahu, jika sebuah panggilan telpon, sedang dilakukan oleh Romi untuknya.
__ADS_1
Dan itu dilakukan beberapa kali oleh Romi. Bahkan, dia juga mengirim pesan, sebagai balasan pesan yang sudah dikirim oleh Linda padanya.
Tapi karena Linda baru saja tertidur, dia tidak tahu dan tidak mendengar, suara dering handphone miliknya, dari kekasih hatinya, Romi.