Tante Melinda

Tante Melinda
Masih Rindu Tidak?


__ADS_3

Malam semakin larut. Erli sudah tidur sedari pukul setengah sepuluh tadi. Dan semua pekerjaan Linda juga sudah selesai.


Sekarang, Linda sudah bersiap untuk tidur. Begitu juga dengan Ferry.


Buk buk buk!


Linda menepuk-nepuk bantal, kemudian menatanya sedemikian rupa. Supaya bisa nyaman saat dia tertidur nantinya.


"Dek. Emhhh... itu. Surat... Surat rumah yang dikirim notaris."


Perkataan Ferry yang terputus-putus, membuat Linda menghentikan kegiatannya. Dia menyipitkan matanya, melihat ke arah suaminya yang duduk di pinggir tempat tidur.


"Mas mau bicara apa? Aku tidak mengerti."


"Itu lho Dek, surat rumah. Emhhh... surat rumah yang dari suaminya mbak Nana."


Ferry menjawab pertanyaan tersebut, dengan menunjuk ke arah meja. Di mana ada sebuah amplop coklat besar, yang tergeletak di atasnya.


Linda mengalihkan pandangannya dari suaminya ke meja riasnya.


Tapi, sebelum dia memasak, di atas meja riasnya itu tidak ada apa-apanya. Hanya beberapa alat makeup miliknya yang tidak banyak juga. Bersama dengan tas yang biasa dia gunakan saat berangkat kerja.


Tapi sekarang, di atas meja tersebut ada amplop coklat besar. Mungkin tadi Ferry meletakkannya di atas sana, saat dia ada di dapur. Atau pada saat dua sedang menjemur pakaian.


"Terus?" tanya Linda, ingin tahu. Apa yang diinginkan oleh suaminya itu.


"Kamu simpan Dek. Aku tidak tahu buat apa juga itu rumah."


Linda berpikir sejenak, sebelum akhirnya memberikan beberapa usulan. Untuk apa rumah itu nantinya.


"Mas. Itu kan rumah Mas Ferry sekarang. Mas bisa jual, dikontrakkan, atau ditempati. Terserah Mas Ferry juga."


Mendengar perkataan istrinya, Ferry memandangnya dengan tatapan penuh tanya. Dia tidak pernah berpikir, jika istrinya itu akan memberikan jawaban seperti tadi.


Tadinya, Ferry berpikir jika Linda akan marah. Mengamuk lagi, karena menyingung soal mbak Nana dengan suaminya.


"Dek. Kamu yakin itu?" tanya Ferry menyakinkan dirinya, bahwa apa yang dikatakan oleh istrinya itu bisa dia realisasikan kedepannya nanti.


"Ya... mau gimana lagi? Itu juga jika mas Ferry mau. Kan mubazir juga Mas kerja keras Kamu kemarin-kemarin."


Ferry terkejut dengan perkataan Linda yang terakhir ini. Dia merasa tersindir dan tersudut juga. Karena apa yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar adanya.

__ADS_1


Dia pun akhirnya menunduk malu. Menyesali semua perbuatannya yang kemarin-kemarin.


"Maaf Dek. Please, jangan bicarakan itu lagi ya!" pinta Ferry dengan suara se_pelan mungkin.


Dia tidak mau, jika Linda mengungkit masalahnya bersama mbak Nana lagi.


"Terus, rencana mas Ferry buat apa juga itu rumah?" tanya Linda, yang ingin tahu. Apa yang saat ini ada dipikiran suaminya.


"Mas mau Kamu simpan ini Dek. Bukankah bisa digunakan sewaktu-waktu, jika kita butuh uang atau apa gitu. Jadi semacam investasi."


Linda mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya. Dia paham dengan apa yang dipikirkan oleh Ferry saat ini.


Tapi dia jelas-jelas tidak akan mau menyimpannya, atau berharap akan menggunakan suatu hari nanti.


"Jual saja Mas. Kirim ke orang tuamu, sebagai ganti modal yang dulu pernah mereka berikan."


"Aku tidak mau lagi melihat atau merasa sedang menyimpan bom, yang bisa saja meledak suatu saat nanti."


Ferry terkejut dengan perkataan Linda. Dia tidak pernah menyangka, jika diamnya Linda, yang seperti sudah memberinya maaf, masih saja menyimpan dendam di dalam hatinya.


Mungkin, semua wanita akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Linda saat ini. Karena bisa saja mulut mengatakan lupakan saja. Tapi pada kenyataannya, tetap saja hati mereka berkata tidak.


"Baiklah. Mas akan ikuti apa yang Kamu inginkan tadi."


Dia akan mengirimkan semua yang hasil penjualan rumah tersebut, pada orang tuanya yang ada di luar pulau.


Mungkin itu akan lebih baik, dari pada menyimpan surat-surat rumah itu di rumahnya ini. Karena apa yang dikatakan oleh istrinya tadi, yang mengatakan tidak mau menyimpan bom.


Yang di maksud dengan bom di sini adalah, Linda terus menerus teringat dengan kejadian yang lalu. Di saat tanpa sengaja melihat keberadaan surat rumah tersebut, yang tersimpan di lemarinya.


"Itu lebih baik," gumam Linda, yang bersiap untuk tidur.


Ferry pun menganggukkan kepalanya, mengerti dengan keadaan dan perasaan istrinya. Yang tentu saja, belum bisa menerima kenyataan. Bahwa dia berselingkuh dengan mbak Nana dibelakangnya selama ini.


*****


Di rumah pamannya Romi.


Romi sedang duduk berbincang-bincang dengan adiknya, Della, sepulangnya dari rumah ibunya Linda tadi.


"Jadi, bapaknya kak Danang sakit apa Mas?" tanya Della, yang tentunya tahu. Jika kakaknya itu pergi ke rumah Danang.

__ADS_1


Kakak kelasnya di masa sekolah SMA dulu.


"Katanya komplikasi Dek."


"Oh ya, Kamu kan ada di HRD. Tahu juga kan, jika Mbak nya Danang kerja di pabrik itu juga?" Romi bertanya tentang Linda pada adiknya.


"Tahu dong Mas," sahut Della cepat.


"Bahkan, mbak Linda itu jadi primadona di sana. Banyak para manajer dan atasan yang sering membicarakan Mbak Linda."


Romi mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya.


"Maksudnya?"


Akhirnya, Della menceritakan tentang Linda di pabrik tempat dia juga bekerja.


Itulah sebabnya, dia juga tahu jika bapaknya sedang sakit. Karena pada saat Danang datang ke kantor HRD untuk mengajukan permohonan cuti untuk Linda dan dirinya sendiri, Della juga ada di sana.


Tapi karena ada papan menyekat atau pembatas untuk setiap posisi masing-masing di kantor, Danang tidak mengetahui keberadaan dirinya di sana.


Della akhirnya tahu, jika Danang mengajukan cuti untuk Mbak nya secara mendadak. Karena harus ikut menunggui bapaknya di rumah sakit.


Sedangkan Danang sendiri, juga mengajukan cuti untuk dirinya sendiri, untuk dua hari kemudian. Mengantikan posisi Linda untuk berjaga di rumah sakit.


"Jadi, selama Kamu bekerja di sana, Linda dan Danang tidak tahu?"


Della mengelengkan kepalanya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh kakaknya. Karena selama ini, pekerjaannya memang tidak bersinggungan dengan karyawan yang ada di bagian produksi.


"Tapi, Danang ada di kantor PPIC lho Del," sambung Romi. Memberitahu Della, jika Danang tidak bekerja di bagian produksi secara langsung.


"Iya Mas. Della juga tahu. Tapi kan sama saja. Di PPIC, untuk urusan absen dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan HRD juga orang khusus. Gak orangnya langsung, jika tidak dalam keadaan mendesak."


Romi mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh adiknya itu.


Dia tentu saja tidak terlalu paham dengan pembagian kerja di perusahaan besar seperti pabrik.


Tempat usahanya hanya sebatas kontraktor kecil. Itupun hanya untuk urusan yang ringan.


Seperti pembuatan kanopi, yang akan di kerjakan di pabrik, tempat adiknya bekerja.


"Kak," panggil Della. Saat melihat kakaknya terdiam beberapa saat lamanya.

__ADS_1


"Hum..."


"Kakak masih pengen ketemu Mbak Linda gak?" tanya Della, yang tidak pernah disangka-sangka oleh Romi sendiri.


__ADS_2