Tante Melinda

Tante Melinda
Tidak Normal


__ADS_3

Pada saat menjelang tidur.


"Mas. Linda udah dapat uang untuk Danang." Linda memberitahu pada suaminya, jika dia sudah mendapatkan uang yang diperlukan untuk kebutuhan kuliah adiknya, Danang.


"Dari mana?" tanya Ferry, sambil mengubah posisi tidurnya, menghadap ke arah istrinya itu.


"Dari... Dari perusahaan Mas. Tapi, tapi ini bukan atas nama Linda sendiri."


Ferry menatap istrinya, untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh istrinya itu selanjutnya.


"Ini atas nama temannya Linda. Sebenarnya, dia sudah mengajukan permohonan pinjaman sejak dua minggu yang lalu. Tapi, dia bekum butuh juga untuk waktu dekat ini. Jadi diberikan dulu sama Linda. Dan pengajuan pinjaman atas nama Linda, yang kemungkinan akan cair dua minggu lagi, buat teman Linda itu."


Dengan hati-hati, Linda memberikan penjelasan kepada suaminya sendiri, agar alasan yang dibuat itu bisa masuk akal.


Ferry masih tampak diam. Tapi tak lama kemudian, dia tersenyum tipis, karena merasa lega.


"Syukurlah kalau begitu. Mas akan bilang sama teman Mas, jika sawah bapak tidak jadi di gadai ataupun di jual."


Sekarang, ganti Linda yang menatap ke arah suaminya, menuggu penjelasan lebih lanjut.


"Iya. Jadi, Mas coba bicara sawah itu pada pemilik pengilingan padi. Dia kan teman Mas. Tapi karena uangnya dia dipakai untuk membeli padi yang akan panen dia hari lagi, ya dia bilang baru bisa kasih uangnya minggu depan."


"Kan Kamu juga yang kasih usulan untuk coba meminta tolong pada dia," kata Ferry lagi, melanjutkan penjelasannya.


Linda mengangguk sambil tersenyum.


"Iya Mas. Gak apa-apa. Bilang aja jika gak jadi," ujar Linda, meminta pada suaminya itu untuk tidak lagi meminjam uang pada pengilingan padi.


Akhirnya, Ferry mengajak Linda untuk segera tidur. Karena hari sudah tengah malam. Besok, mereka juga harus bangun pagi untuk pergi bekerja lagi.


*****


"Hati-hati ya Dek jika kerja. Banyak mesin-mesin besar dan otomatis di pabrik Kamu itu. Takutnya, ada kecelakaan kerja, sama seperti yang kadang ada di berita."


Linda, mengangguk mengiyakan pesan dari suaminya.


"Iya Mas. Terima kasih ya," ucap Linda, saat dia menyalami dan mencium tangan suaminya itu.


"Erli Sayang. Gak boleh nakal ya. Gak boleh lari-lari dan ganggu Papa kerja juga," ujar Linda, memberikan nasehat pada anaknya.


Erli tersenyum mendengar perkataan mamanya. Dia juga tampak senang, saat mamanya itu menciumi pipi dan memainkan rambutnya yang mulai memanjang.

__ADS_1


"Mama. Pulang jajan ya!"


Erli bermaksud untuk meminta pada mamanya, Linda, supaya saat pulang kerja nanti, membelikan jajanan untuknya.


"Oya Sayang. Mau dibeliin jajan apa?" tanya Linda, mensejajarkan dirinya dengan anaknya itu, supaya bisa melihat bagaimana wajah anaknya yang sedang berpikir untuk menjelaskan tentang keinginannya.


"Emhhh... jajan yang enak."


Akhirnya, Erli tidak bisa menjelaskan tentang jajanan yang menurutnya enak. Karena selama ini, jika mamanya pulang dengan membawakan jajanan, pasti selalu enak..


"Ok Sayang. Nanti Mama bawakan jajanan yang enak buat Erli."


Erli tampak senang, dengan wajahnya yang berbinar-binar.


"Mama masuk dulu ya Sayang," kata Linda, pamit pada anaknya, Erli.


"Linda masuk dulu Mas," kata Linda lagi, yang sekarang ganti berpamitan pada suaminya, Ferry.


"Da... da... Mama!"


"Iya Dek. Hati-hati," ucap Ferry dengan mengangguk mengiyakan.


Sedangkan Erli, dai masih melambaikan tangan kepada mamanya, yang saat ini sudah mulai berjalan menuju ke pintu gerbang perumahan.


Erli mengangguk mengiyakan. Karena dia juga merasa senang di sana.


Selain karena tidak ada anak kecil yang sama seperti dirinya, dia juga jadi di manjakan oleh orang-orang yang ada di pengilingan padi.


Banyak di antara mereka, yang membawakan makanan atau sekedar kue-kue untuk dimakan sambil bermain disekitar papanya yang sedang bekerja.


Yang lebih penting, Erli bisa selalu dekat dengan papanya. Dan jika papanya sedang ada keperluan untuk keluar dalam waktu yang lama, dia akan di bawa ke rumah simbahnya.


Erli di titipkan pada bapaknya Linda, supaya tidak kerepotan saat Ferry ada pekerjaan di luar pengilingan padi.


*****


Hari ini adalah hari terakhir untuk satu minggu dalam jam kerja. Jadi, dalam satu minggu, hanya ada lima hari kerja di pabrik tempat Linda bekerja.


Dan jika ada keperluan untuk produksi yang mendesak, pada hari sabtunya akan diadakan lembur, agar target produksi bisa diselesaikan.


Itulah sebabnya, pak Komarudin meminta pada Linda, supaya membuat alasan untuk lembur pada hari sabtu. Supaya dia dan Linda bisa ada waktu yang cukup lama untuk bisa menikmati kebersamaan mereka berdua saja.

__ADS_1


..."Linda. Bagaimana?" ...


Pak Komarudin sudah bertanya pada Linda pada pagi hari. Tapi, dia tidak ada kesempatan untuk bertemu secara langsung. Jadi, dia hanya bisa bertanya lewat panggilan telpon.


..."Bagaimana apa Pak?" ...


..."Kamu lupa dengan rencana kita besok pagi? Kamu belum minta ijin pada suami Kamu?" ...


..."Hah, rencana?" ...


Linda sepertinya melupakan, apa yang sudah diminta oleh pak Komarudin kemarin, saat dia baru saja ada rencana untuk tugas ke Jakarta.


..."Iya Lin. Kamu kan mau ke Jakarta dalam waktu seminggu. Kita butuh waktu berdua agar Aku tidak terlalu kangen nantinya. Bisa kan?" ...


Sekarang, Linda bingung sendiri. Karena semalam dia sudah terlambat pulang. Dan besok, dia harus mencari alasan untuk bisa pergi dari rumah tanpa harus di curigai oleh suaminya.


..."Lin. Apa Kamu masih di sana?" ...


..."eh, emhhh iya Pak. Nanti malam Saya usahakan untuk bisa dapat ijin." ...


..."Harus ya Lin!" ...


Klik!


Linda menghela nafas panjang, saat telpon di tutup oleh pak Komarudin.


Dia tidak mungkin bisa menolak permintaan dari atasannya itu. Apalagi, asisten manager tersebut, juga sudah banyak membantu dirinya dalam waktu dekat ini.


Banyak hal yang tidak bisa Linda ungkapan. Termasuk bagaimana perasaannya sendiri saat ada bersama dengan pak Komarudin.


Perasaan jika dia diinginkan. Perasaan yang dia dibutuhkan, bukan hanya untuk kepuasan dengan cara yang egois.


Tapi, karena rasa puas itu juga dia nikmati. Karena pak Komarudin, juga mampu memberikan kepuasan dan kenyamanan pada dirinya. Meskipun Linda tidak pernah mengijinkan pak Komarudin untuk mengakses wilayah pribadinya yang sangat penting.


'Aku masih normal kan? Atau Aku memang hanya bisa merasakan kepuasan dari orang lain, dan bukan dari suamiku sendiri?'


Di sisi hatinya sendiri, Linda sudah merasakan keganjilan pada perasaannya sendiri.


Dia merasa jika, dia tidak normal sebagai seorang wanita dan istri.


Tapi, sisi hatinya yang egois tetap saja tidak mau tahu. Dia membiarkan semuanya terjadi tanpa berusaha untuk bisa menghentikan kebiasaannya itu.

__ADS_1


Dan setelah dia berhubungan dengan pak Komarudin, kebiasaan yang dulu sebelum tidur, meskipun baru saja selesai berhubungan dengan suaminya, sekarang ini sudah tidak lagi dia lakukan.


'Benar-benar aneh dan tidak normal kah diriku?'


__ADS_2