Tante Melinda

Tante Melinda
Usaha Untuk Memaafkan


__ADS_3

"Dek," panggil Ferry, begitu sambungan telpon dengan mbak Nana tertutup.


Linda tidak menyahut. Dia juga diam dan tampak datar. Karena dia sendiri tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar tadi. Pada saat Ferry berbicara dengan mbak Nana.


"Dek. Maafkan Mas Dek! Mas gak tau apa-apa dengan semua rencana mereka itu."


Ferry berusaha untuk menyakinkan Linda. Jika dia tidak terlibat dalam segala rencana konspirasi yang dilakukan oleh mbak Nana dan suaminya.


Kecurigaannya yang dulu sempat dia abaikan, kini telah terbukti dan membuatnya shock sendiri. Karena secara tidak langsung, dia dimanfaatkan sebagai pendonor sper_ma untuk kelangsungan hidup keluarga mbak Nana dan suaminya.


"Sekarang, apa maunya mas Ferry?"


"Aku mau kita tetap bersama selamanya Dek! Aku gak mau kehilangan Kamu dan juga Erli. Karena bagaimanapun juga, kalian berdua yang sangat penting untukku selama ini."


Ferry masih berusaha untuk menyakinkan Linda, supaya mau memaafkan dirinya. Yang memang bersalah, atas masalahnya bersama dengan mbak Nana.


"Mas. Linda... Linda lelah Mas."


"Dek!"


Ferry mengengam tangan istrinya itu, di saat Linda akhirnya bisa mengatakan jika dia lelah. Linda tidak bisa berpikir apa-apa lagi, di saat semuanya dia ketahui.


Sekarang, Ferry tidak hanya mengengam tangannya Linda saja. Tapi memeluknya juga. Membawa kepala Linda ke dalam dekapan dadanya.


"Huhuhu..."


Tangis Linda akhirnya pecah, di saat wajahnya ada di dalam dekapan hangat suaminya. Kecewa, sedih dan rasa bersalah, campur aduk menjadi satu di dalam hatinya.


"Maaf. Maafkan Mas."


"Mas janji gak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti ini lagi. Mas janji Dek!" Ucap Ferry berkali-kali, dengan mengecup kening Linda berkali-kali juga.


"Hiks... huhuhu..."


Linda masih belum bisa berkata apa-apa lagi. Dia masih terus mengeluarkan air matanya, dengan semua perasan yang tidak bisa dia ungkapkan juga.


Matanya terpejam, mencoba untuk menahan diri agar bisa mengehentikan aliran air matanya. Supaya bisa bersuara. Tapi tenggorokannya terasa sangat berat. Seperti orang yang sedang dicekik. Sehingga tak ada satupun kata yang bisa keluar dari dalam mulutnya.

__ADS_1


Ferry masih memeluk Linda dalam besarnya penyesalan yang ada di dalam dirinya. Tapi dia juga pasrah dengan apa yang akan diputuskan oleh Linda padanya.


Dia sadar, jika dia sudah membuat Linda merasa kecewa, sakit hati dan mengkhianati pernikahan mereka berdua.


"Mas... Linda... hiks... Linda minta maaf. Huhuhu..." Akhirnya Linda bisa mengeluarkan suaranya, meskipun dengan terbata-bata.


Dia mencoba untuk membuka pintu maaf untuk suaminya, karena dia pun membayangkan, apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Seandainya ada pada posisi Ferry saat ini.


"Gak Dek, Mas yang salah. Mas yang minta maaf ya Sayang. Maafkan Mas ya Dek!"


Ferry melepaskan pelukannya, dan melihat wajah istrinya yang masih terisak-isak. Mengusap wajah Linda, dan membersihkan air mata yang membanjiri wajah istrinya itu.


Dia mengecup kening Linda lagi, dan lagi. Mencoba untuk bersuara, tapi tidak bisa dia lakukan juga. Karena rada sesak yang seakan menindih dadanya. Melihat bagaimana keadaan Linda yang sangat menyedihkan sekali saat ini.


"Maafkan Mas Dek," ucap Ferry lagi, setelah mengecup kening Linda dalam jangka waktu yang lama.


Linda masih terisak dan memejamkan matanya, di saat Ferry mengecup keningnya tadi. Dan kini, dia justru merasakan bibir Ferry yang turun ke bibirnya.


"Mama... Huhuhu..."


"Papa... Huhuhu..."


Ferry yang tadi berniat untuk mencium bibir Linda, akhirnya mengurungkan niatnya. Meskipun bibirnya sudah terlanjut menempel di bibir istrinya itu.


Linda pun membuka matanya, sedang Ferry melepaskan tangannya dari memeluk Linda. "Mas lihat Erli dulu ya," pamit Ferry, kemudian melangkah ke luar kamar. Menuju ke arah kamar anaknya, Erli.


"Sayangnya Papa sudah bangun. Mau langsung bangun apa mau tidur lagi?"


Terdengar suara Ferry yang bertanya pada Erli, sehingga membuat Linda mengusap air mata yang masih tersisa di wajahnya. Dia tidak mau jika anaknya itu melihatnya dalam keadaan seperti ini.


Untuk mengindari pemandangan yang akan membuat Erli bertanya-tanya, akhirnya Linda bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke arah kamar mandi. Untuk mencuci mukanya.


"Ma... Mama..."


Terdengar suara Erli memanggil mamanya. Ternyata dia tidak mau tidur lagi. Sehingga digendong oleh papanya, masuk ke dalam kamar untuk mencari mamanya.


"Mama ada di kamar mandi Sayang. Tuh denger kan suara kran air? Kita ke depan TV saja ya!"

__ADS_1


Erli akhirnya menganggukkan kepalanya, mengiyakan ajakan papanya.


Setelah tidak terdengar lagi suara Erli dan Ferry di dalam kamar, Linda keluar dari dalam kamar mandi. Kemudian berjalan ke arah meja rias.


Dia merias wajahnya sedikit, supaya tidak tampak jika baru saja selesai menangis.


Bisa-bisa, Erli akan mengajukan banyak pertanyaan untuknya. Jika melihat keadaan wajahnya yang sembab dan mata yang semakin bengkak.


Setelah dirasa cukup, Linda keluar dari dalam kamar. Bermaksud untuk pergi ke dapur. Dia ingin memasak makanan untuk makan siang mereka bertiga nanti. Karena sedari kemarin-kemarin, tidak ada waktu untuk bisa menikmati suasana makan bersama.


"Mama... Mama!"


Erli memangil Linda, di saat dia melintas menuju ke dapur.


"Mama mau masak Sayang. Emhhh... Erli mau di masakin apa untuk makan siang ini?" tanya Linda, mengalihkan perhatian Erli.


Prok prok prok!


"Masak yang enak-enak pokoknya Ma!"


Erli bertepuk tangan. Dia merasa sangat senang, karena bisa memakan makanan yang akan di masak mamanya. Dia tidak memilih makanan yang akan dimasakkan, karena semua makanan yang dimasak mamanya pasti enak.


"Ya sudah. Erli diam-diam ya. Mama mau memaksa dulu, pinta Linda pada Erli. Yang tentunya diangguki juga oleh Erli.


Ferry hanya tersenyum senang, melihat bagaimana Linda yang masih bisa bersikap biasa saja jika ada di depannya Erli.


Kini dia memeluk anaknya itu, supaya ingat. Jika Erli bisa menjadikan jembatan untuk hubungannya dengan istrinya yang hampir roboh.


"Sayang, sini!"


Ferry mendudukkan Erli di pangkuannya. Dia memeluk anaknya itu dengan erat. Di dalam hatinya Ferry berkata, 'Maafkan Papa Sayang. Tetaplah menjadi tempat Papa dan Mama untuk bisa bersatu. Kamu adalah permata kami.'


Dari dapur, Linda bisa melihat sendiri. Bagaimana kedekatan anaknya dengan suaminya itu.


Dia pun kembali menangis, jika ingat keinginannya kemarin. Di saat amarah masih menguasai hatinya. Karena pada saat itu, Linda berencana untuk menuntut cerai dari suaminya.


Tapi setelah dia berpikir panjang dan lama, Linda akhirnya memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua pada Ferry.

__ADS_1


Dia tidak jadi menuntut cerai pada suaminya. Tapi tentu saja dengan persyaratan yang harus dilakukan oleh Ferry. Agar ada efek jera, dan tidak lagi diulag dikemudian hari.


__ADS_2