
Jenasah Ferry, di kebumikan di kampung halaman Linda. Bukan di daerah perumahan yang selama ini dia tinggali. Sebab di rumahnya sana, dia juga tidak terlalu akrab dengan para warga sekitar perumahan.
Linda juga tidak memperbolehkan kedua mertuanya membawa pulang ke kota asalnya.
"Mas Ferry adalah suaminya Linda Bu, Pak. Dan ada Erli yang ada di sini juga. Kami bisa sesekali berziarah ke makam mas Ferry. Jika ada di kota lain, belum tentu kami bisa rutin ke sana."
Dengan demikian, kedua orang tuanya Ferry, tidak kuasa menahan jenasah anaknya lagi. Karena ada istri dan anak dari almarhum, yang lebih berkuasa untuk menentukannya.
Linda diijinkan pulang ke rumah, dengan didampingi oleh perawat khusus dari rumah sakit. Karena kondisinya sendiri belum stabil juga. Sebab baru selesai menjalani operasi. Jadi tidak bisa sembarangan bergerak.
Tadinya, pihak rumah sakit tidak memperbolehkan Linda untuk pulang. Tapi karena negosiasi yang dilakukan oleh Danang dan Romi, akhirnya pihak rumah sakit memperbolehkan Linda pulang ke rumah, menimbang bahwa, yang meninggal adalah suaminya Linda sendiri.
Erli yang tidak tahu apa-apa, hanya bisa menjerit, menangis tersedu-sedu. Karena papanya sudah tidak bisa bermain lagi dengannya.
Kakek dan neneknya, dari pihak papanya, juga tidak bisa melakukan apa-apa. Untuk membuat cucu mereka diem dan tidak menangis, di saat jenasah Ferry dimasukkan ke dalam keranda.
Karena keadaan Linda dan Erli, mereka berdua tidak diperbolehkan untuk ikut serta dalam pemakaman.
Takutnya, Erli tidak bisa dikendalikan dan menangis meraung-raung, pada saat jenazah papanya dimasukkan ke dalam liang lahat.
Begitu juga dengan kondisi Linda.
Dia tidak diperbolehkan ikut karena, selain dia tidak bisa bergerak dengan bebas, dia juga masih dalam masa nifas. Karena baru saja keguguran. Jadi, lebih baik berada di rumah dan tidak ikut dalam proses penguburan jenazah suaminya.
Dia hanya bisa ikut mendoakan dari rumah, bersama dengan ibu-ibu yang tidak ikut serta ke pemakaman.
Termasuk ibunya, yang menemani Linda.
Sedangkan ibu mertuanya, ikut bersama yang lain ke kuburan.
"Ma... Mama... papa Ma! Huuuuu..."
Linda hanya bisa ikut menangis, di saat anaknya itu menangis. Karena dia tidak bisa menggendong Erli, sebab dia sendiri sedang berada di atas kursi roda.
Padahal seharusnya, kakinya Linda tidak diperbolehkan ditekuk. Harus tetap diluruskan. Itulah sebabnya, kursi rodanya juga dibuat khusus, supaya kakinya itu tidak bisa ada pada posisi lurus.
Erli masih menangis, dan Linda juga tidak bisa menahan diri agar tidak menangis.
__ADS_1
Dia bahkan sudah lupa, bagaimana rasa sakit yang dia rasakan pada tubuhnya sendiri saat ini. Karena merasa kasihan dengan anaknya.
Banyak ibu-ibu yang ikut melayat ke rumah ibunya Linda, membicarakan tentang nasibnya yang sedari dulu terlihat seperti selalu beruntung. Tapi ternyata tidak.
"Kasian Linda ya! Masih muda, ehhh udah ditinggal mati suaminya. Padahal, jadi janda itu gak enak."
"Gak enak kalau jandanya gak cantik. Linda kan cantik. Pasti tak lama lagi juga ada laki-laki yang mau mengajaknya menikah lagi. Kan masih muda juga dia."
"Kasian Erli lah!"
"Linda itu beruntung. Mas Ferry itu kan galak. Makanya mati duluan."
"Hushhh! Gak boleh membicarakan tentang keburukan almarhum."
"Tapi itu kan benar. Mas Ferry itu suka mukulin Linda dulu. Padahal udah gak jadi polisi, tapi masih galak!"
"Eh, dengar-dengar malah..."
"Hushhh, hushhh! Diam deh..."
"Mbak Linda itu kasian banget. Udah kecelakaan, kakinya patah, bayinya keguguran, ehhh... suaminya meninggal. Kok kalian malah ngomong yang gak-gak."
Akhirnya mereka terdiam, karena memang tidak diperkenankan untuk membicarakan kejelekan almarhum. Apalagi membicarakannya di tempat duka.
*****
Usai pemakaman, orang tuanya Ferry beristirahat di rumah yang ada di perumahan.
Dan Linda yang seharusnya kembali ke rumah sakit, tidak jadi kembali, karena perawat bersedia menjaganya selama di rumah.
Yang penting, Linda mau mengikuti apa yang dia katakan, dan melakukan instruksi demi keselamatan dan keamanan pen yang baru saja di pasangkan di kakinya.
Akhirnya, Linda tidur di kamar sendiri. Di temani oleh perawat. Sedangkan Erli, tidur bersama dengan kedua simbahnya. Karena dia tidak mau diajak oleh kakek dan neneknya pulang ke rumahnya sendiri. Di perumahan.
Untuk urusan lain-lain, akan diurus seiring berjalannya waktu nanti.
*****
__ADS_1
Tiga hari berlalu, dan saat ini, Linda harus kontrol ke rumah sakit. Karena seharusnya dia masih berada di rumah sakit, sebelum lima hari pasca operasi.
Tapi karena kejadian yang tidak terduga akhirnya pihak rumah sakit mengalah yang penting linda masih mau patuh, dengan apa yang dikatakan oleh perawat.
Danang mengantarkan kakaknya ke rumah sakit, bersama dengan bapak mertuanya Linda. Atau bapaknya Ferry.
Ibunya Linda, dan ibu mertuanya, sedang masak-masak di rumah. Sebab acara tahlilan untuk almarhum masih dilaksanakan pada malam harinya.
"Bagaimana jika Erli kami bawa nak Linda?"
Tiba-tiba, bapak mertuanya meminta ijin kepada Linda, untuk membawa Erli pulang ke kotanya.
Tentu saja Linda tidak memberikan ijinnya. Dia tidak mau jika Erli dipisahkan darinya.
"Jangan Pak. Erli adalah semangat Linda selama ini. Apapun yang dilakukan oleh mas Ferry, Linda tetap berusaha untuk bisa bertahan demi Erli."
Danang juga membenarkan, apa yang dikatakan oleh kakaknya. Agar bapak mertuanya Linda, tidak jadi membawa Erli.
Bapaknya Linda hanya mengangguk saja. Karena sebenarnya dia sudah tahu, apa yang selama ini terjadi pada keluarga anaknya.
Mereka berdua, hanya ingin membuat Linda merasa bebas, dan tidak merasa terbebani dengan adanya Erli.
Tapi mereka tidak berpikir bahwa, Erli adalah penyelamat dan penyemangat Linda selama ini. Karena jika tidak ada Erli, entah bagaimana nasib keluarganya selama ini.
"Iya maafkan Bapak. Ibu yang mengusulkan ini, karena berpikir bahwa, Erli bisa ikut bersama kami. Dan nak Linda bisa memulai kehidupan baru lagi."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh bapak mertuanya, Linda tersenyum miris.
Dia bahkan tidak sedikitpun berpikir sejauh itu. Tapi kedua mertuanya, justru berpikir hal yang sama sekali tidak menjadi pemikirannya.
"Tidak Bapak. Linda tidak berpikir sejauh itu. Tanah makam mas Ferry saja belum kering. Apakah layak, jika Linda kepikiran tentang kehidupan yang baru?"
"Linda hanya berpikir untuk bisa menata kembali kehidupan Linda dan Erli tanpa adanya mas Ferry. Meskipun sebenarnya, Linda juga tidak tahu. Bagaimana cara untuk memberikan penjelasan kepada Erli, jika sewaktu-waktu bertanya tentang papanya."
Mata Linda berkaca-kaca, hingga pada akhirnya dia tidak mampu untuk menahan air matanya, supaya tidak jatuh.
Tapi kesedihan masih dia rasakan. Dan Linda, memang benar-benar tidak pernah menyangka jika nasibnya akan seperti ini.
__ADS_1