Tante Melinda

Tante Melinda
Membaik


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Linda sudah mulai belajar untuk bisa berjalan lagi, meskipun hanya selangkah dua langkah.


Dia juga masih rutin untuk cek up ke rumah sakit, untuk melihat kondisi kakinya yang ada pen nya itu.


Erli sudah pindah ke sekolah SD, sedang Danang dan Della, juga lebih banyak di rumah ini dari pada berada di rumahnya Della.


Danang dan Della bukannya tidak mau berpisah dan hidup sendiri setelah berkeluarga. Tapi mereka masih ingin membantu Linda, yang tentu saja masih memerlukan banyak bantuan dari segi apapun. Baik saat bergerak, pergi cek up ataupun kepentingan Erli yang harus sekolah.


Meskipun Linda masih mendapatkan gaji dari pihak perusahan, tentu saja tidak sama jumlahnya, jika dia bisa bekerja.


Dan Linda sangat bersyukur, atas apa yang dia miliki. Yaitu adik dan adik ipar yang banyak membantunya. Bukan hanya di rumah saja. Tapi juga mengurus segala sesuatunya, yang diperlukan untuk persyaratan ijin di perusahaan yang harus diperbarui.


Kadang, mereka berdua juga mengajak Erli untuk pulang ke rumahnya sendiri, rumahnya Linda yang ada di perumahan, untuk membersihkan rumah tersebut. Supaya tetap terawat dan tidak terlalu kotor.


"Jika Della ingin pulang ke rumahnya sendiri, Mbak gak apa-apa Nang. Kalian juga butuh berdua saja. Apalagi, rumah yang di sana sekarang kosong kan?"


"Iya Mbak. Nanti juga jika kami butuh ke sana juga ke sana kok," terang Danang memberitahu.


Linda berkata demikian karena, dia kasihan melihat Danang dan Della yang selalu memikirkan keadaan dirinya dan Erli.


Apalagi, rumahnya Della saat ini juga kosong. Sebab kakaknya, Romi, sudah kembali ke kota besar. Karena pekerjaannya di pabrik tempat Linda bekerja sudah selesai.


"Maaf ya Nang, jika Mbak Linda dan Erli jadi merepotkan kalian berdua."


"Mbak Linda ngomong apa sih!"


Tiba-tiba Della muncul diantara mereka berdua, tanpa disadari oleh Linda sendiri.


"Bu... bukan begitu Del. Mbak cuma merasa jadi beban kalian terus ini." Linda merasa sungkan dengan adik iparnya itu.


"Mbak. Kami ini adiknya mbak Linda. Kok repot dari mana? Memangnya jika ada saudara yang memerlukan bantuan itu bikin repot ya?" Della justru bertanya demikian, karena dia tidak merasa repot sama sekali.


"Della juga merasa senang bisa bantu mbak Linda. Della belum repot dengan anak-anak, atau yang lainnya. Jadi, mbak Linda gak udah merasa tidak enak hati," lanjut Della memberikan pengertian kepada kakak iparnya. Yang saat ini sedang duduk di depan TV, setelah belajar untuk bisa berjalan.


"Mbak akan usahakan untuk bisa berjalan dengan cepat," ujar Linda sambil melihat kakinya yang terpasang pen.


"Jangan dipaksakan Mbak. Itu tidak seperti anak kecil yang sedang berlatih untuk bisa jalan. Tapi ini terapi, karena pasca operasi. Jika dipaksakan karena pengen cepat jalan, ya percuma kemarin hanya di minta lurus dan tidak digunakan untuk berjalan sama sekali."

__ADS_1


Danang mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


"Denger tuh Mbak. Danang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Yayang Della. Hahaha..."


Pluk!


"Aduh! mbak Linda apaan sih!"


Linda menepuk pundak adiknya, karena menyahut perkataan adik iparnya, sehingga membuat wajahnya Della jadi memerah karena tersipu malu. Sebab di panggil yayang oleh Danang didepannya.


"Kamu sih, gak liat tuh Della kayak udang rebus. Hehehe..."


Della jadi semakin malu, dengan menundukkan kepalanya.


Setelah beberapa saat kemudian.


"Oh ya, Kamu belum ada tanda-tanda telat ya Del?" tanya Linda, yang belum pernah minat Della merasakan rasa pusing atau mual-mual.


"Maksudnya telat apa Mbak?" tanya Della, yang justru tidak ngeh, dengan pertanyaan yang diajukan oleh Linda padanya.


Danang juga menyimak dengan serius, karena dia tidak tahu, apa yang sedang ingin ditanyakan oleh Linda.


Della melihat ke arah suaminya, dengan mata menyipit. Dia ingin meminta bantuan suaminya itu, untuk menjelaskan maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Linda secara teka-teki.


"Hai dua bocah-bocah! Haduh... maksudnya itu telat datang bulan... Kamu belum hamil?"


Akhirnya Linda memberikan penjelasan atas pertanyaan yang tadi dia tanyakan. Dan tentu saja, Danang dan Della sama-sama tersenyum, setelah sempat terkejut. Karena baru tahu, apa maksud dari pertanyaan tadi.


"Hehehe... belum Mbak. Tapi Kami tidak menundanya kok. Sedapatnya saja. Jika belum rejeki, ya... mau bagaimana lagi."


Linda tersenyum senang, mendengar jawaban yang diberikan oleh Della.


Dia bersyukur mempunyai adik ipar seperti Della. Yang justru lebih mirip seperti adiknya sendiri dibandingkan dengan seorang ipar.


Mungkin ini juga karena Linda yang tidak mempunyai saudara perempuan. Jadi, ketika ada Della, dia merasa ada yang bisa menjadi teman berbincang sebagai sesama perempuan.


"Ma... Mama!"


Dari arah luar rumah, Erli datang dengan berlari-lari, sambil berteriak-teriak memanggil-manggil mamanya.

__ADS_1


"Hosh hosh hosh..."


Erli ngos-ngosan, karena habis berlari dengan mengeluarkan suara juga.


"Ada apa Sayang!"


Erli baru saja pulang dari sekolah, karena ini adalah hari sabtu.


Jadi, meskipun Danang dan Della berada di rumah, Erli tetap masuk sekolah. Sebab om dan tantenya itu memang libur kerja di hari Sabtu dan Minggu. Sama seperti mamanya juga, saat masih aktif bekerja.


"Erli boleh kan ikut om Danang dan Tante Della?" tanya Erli dengan wajah memelas.


"Maksudnya, ikut ke mana? Om Danang dan Tante Della, ada di rumah kok," ujar Linda memberitahu pada anaknya itu.


Danang dan Della saling pandang, kemudian sama-sama menganggukkan kepalanya, karena mereka berdua memang tidak ada rencana ke mana-mana."


"Katanya Minggu kemarin, saat ke rumah Erli. Om Danang bilang mau ke rumah Tante Della."


Sekarang, Erli mengingatkan pada Danang, dengan perkataannya seminggu yang lalu.


"Emhhh... memang Om Danang bicara seperti itu?" tanya Danang, sambil menarik-narik dagunya sendiri, untuk berpikir.


Dia lupa dengan perkataannya sendiri, yang mengatakan bahwa dia dan istrinya itu akan pergi ke rumah Della. Yang ada di kecamatan sebelah.


Sekarang Della yang tersenyum lebar, karena melihat suaminya yang melupakan perkataannya sendiri.


"Erli itu pinter ya! Ingatannya lumayan tajam!" puji Della pada Erli. Yang sebenarnya membenarkan perkataan keponakannya itu.


Sedangkan Danang, justru menepuk keningnya sendiri.


Blekkk!


"Oh maaf Yang. Aku kok bisa lupa sih!"


Erli mengerucutkan bibirnya, karena mendengar perkataan om Danang nya, yang ternyata lupa dengan rencananya sendiri.


"Pokoknya Erli ikut lho Om!"


"Sayang. Kalau Erli ikut, Mama sama siapa?" Linda mencoba untuk mengalihkan perhatian anaknya, supaya tidak jadi ikut bersama dengan om Danang nya.

__ADS_1


Linda berpikir bahwa, adiknya itu juga perlu privasi, agar bisa berdua saja dengan istrinya. Tanpa harus diganggu oleh kehadiran Erli diantara mereka berdua.


__ADS_2