Tante Melinda

Tante Melinda
Memberikan Kebebasan


__ADS_3

Di kota besar, Romi tidak tenang. Karena memikirkan apa yang diinginkan oleh pamannya tadi. Dia ingin segera pulang untuk menggagalkan niatan pamannya.


Romi tidak mau jika, Linda atau keluarganya, tidak bisa menolak lamaran yang diajukan oleh pamannya besok-besok.


"Aku harus segera pulang. Semoga pekerjaan Aku di sini segera selesai. Aku tidak mau jika cerita yang dulu terulang lagi."


Romi jadi mengingat kembali kejadian yang terjadi di masa lalunya. Di mana dia tidak bisa menepati janjinya untuk bisa datang melamar Linda, sehingga Linda terpaksa harus terima lamaran Ferry waktu itu.


Dengan membuang nafas panjang, Romi memutuskan untuk pulang ke kampung besok sore.


Dia berpikir jika lebih cepat akan lebih baik. Sehingga pamannya juga tidak melanjutkan aksi nekatnya.


Romi tahu, bagaimana watak Pamannya, yang bisa membuat orang-orang takluk pada keinginannya. Yaitu dengan cara belakang, menguna-nguna orang yang dia incar.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Romi menghubungi salah satu temannya. Untuk membantunya menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.


Dia tidak bisa berlama-lama lagi, sehingga bisa kehilangan Linda untuk kedua kalinya.


Dan untungnya, temannya itu mau menggantikan dirinya. Untuk menyelesaikan pekerjaannya, yang memang harus sudah selesai untuk tiga hari ke depan.


"Alhamdulillah... semoga awal dari kemudahan ini, menjadi jalan kemudahan juga untukku bisa mendapatkan Linda lagi."


Sebenarnya, Romi tidak merasa bahagia dengan meninggalnya Ferry.


Dia bukanlah laki-laki yang mengharapkan kehancuran keluarga Linda, supaya bisa berpisah dari Ferry. Baik dengan cara meninggal maupun bercerai, dengan permasalahan keluarga mereka, yang sebenarnya sangat kompleks dan sudah lama terjadi.


Tapi ternyata, takdir Tuhan tidak ada yang pernah bisa menyangka. Tidak ada yang bisa memprediksi, dan mungkin ini adalah sebuah jalan yang terbaik dan benar.


Apalagi, Romi juga tidak mau melihat Linda, yang akan dijadikan seorang istri oleh pamannya sendiri. Dan itu untuk dijadikan sebagai seorang istri yang ketiga. Sebab, pamannya itu sudah memiliki dua istri, yang juga sudah memiliki anak.


*****


Di rumah Della.


Sebelum tidur, Della berbicara dengan suaminya, Danang.


"Mas. Kira-kira... jika mas Romi mau menjadikan mbak Linda sebagai istri, mas Danang setuju gak?" tanya Della dengan perasaan takut.

__ADS_1


Dia was-was, seandainya suaminya itu tidak setuju dan justru marah dengan rencananya.


"Maksudnya, ini bukan karena paman kan?" tanya Danang cepat.


Dia berpikir bahwa, Della mengatakan hal ini karena pernyataan dari pamannya tadi. Yang mengatakan jika ingin menjadikan Linda sebagai istri ketiganya.


"Bukan Mas. Della... Della cuma berpikir bahwa, sebenarnya mas Romi masih memiliki perasaan dengan mbak Linda. Dan saat ini, keduanya sama-sama tidak ada pasangan yang menjadi penghalang keduanya untuk bisa bersatu."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya itu, Danang belum bisa memberikan tanggapannya.


Danang tidak mau memberikan kesimpulan secara cepat, karena dia juga tidak tahu, bagaimana perasaan Linda untuk saat ini.


"Bagaimana Mas?" tanya Della lagi, dengan tidak sabar.


Dengan menghela nafas panjang, Danang akhirnya memberikan tanggapannya.


"Apa mas Romi mau? Aku takut jika, mas Romi tidak bisa terima keadaan mbak linda yang sekarang. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana keadaan mbak Linda, yang saat ini menjadi seorang janda dan memiliki anak juga. Tidak semua laki-laki bisa menerima keadaan seperti mbak Linda ini dengan ikhlas."


Mendengar perkataan suaminya yang seakan-akan merasa takut dan juga khawatir, Della akhirnya tersenyum.


"Mas. Jika ini adalah permintaan dari mas Romi sendiri bagaimana?"


"Kamu kenapa bisa bilang seperti itu?" tanya Danang balik.


Dia tidak mau jika, semua ini justru keinginan Della sendiri. Supaya Romi mau menjadikan Linda sebagai istrinya.


Danang hanya merasa takut jika, Linda dijadikan sebagai pelarian perasan Romi yang baru saja berpisah dengan istrinya. Karena Danang juga tahu, jika Romi berstatus duda cerai yang belum lama waktunya.


Dia tidak ingin membuat keputusan, untuk melepaskan kakaknya itu jatuh pada keadaan yang hanya fatamorgana. Karena cinta keduanya yang dulu pernah kandas.


"Mas. Della serius!"


Della jadi cemberut, karena merasa jika suaminya itu tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


"Bukan begitu Yang. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana kehidupan mbak Linda dan mas Romi," terang Danang, yang mencoba untuk memberikan pengertian kepada istrinya itu.


"Tapi Della mendukung keinginan mas Romi!"

__ADS_1


Della tetap kekeh, dengan apa yang dia inginkan dan dia anggap sebagai sebuah keputusan yang terbaik.


"Mas Danang tidak tahu, jika Della itu sangat sayang pada mbak Linda. Della tidak mau juga, jika mbak Linda harus menjadi istri ketiga dari paman. Dan jika mas Romi ingin melamar mbak Linda, kemudian menjadikan istrinya kenapa tidak!"


"Mas Danang pengen liat mbak Linda jadi istri ketiga apa Paman, apa jadi istrinya mas Romi?" desak Della dengan semua pernyataan dan pertanyaannya juga.


Mendengar penjelasan tersebut, Danang juga tahu. Jika dia tidak mungkin bisa melihat Linda yang harus menjadi seorang istri ketiga dari pamannya Della.


Tapi dia juga tidak yakin jika, Linda mau menerima Romi.


Linda sendiri pasti merasa malu, kita harus menerima mantan kekasihnya lagi. Yang dulu pernah dia sia-siakan. Bahkan dibanding-bandingkan dengan Ferry, yang dulunya pernah menjadi seorang polisi.


"Aku menyerahkan segala keputusan pada mbak Linda Sayang. Aku hanya akan memberikan pengertian kepada mbak Linda, sebelum dia benar-benar memberikan sebuah keputusan untuk masa depannya dengan Erli."


Della cukup puas dengan jawaban yang diberikan oleh suaminya itu.


"Terima kasih Mas. Della berharap, mas Danang bisa memberikan pengertian kepada mbak Linda, supaya mau menerima mas Romi, daripada menerima paman sebagai suaminya nanti."


Danang hanya mengangguk saja, kemudian menarik tubuh istrinya itu untuk dia peluk.


"Sudah. Ayok kita tidur. Besok kita masih harus bekerja lagi."


Akhirnya Danang memutuskan untuk menghentikan pembahasan mereka ini.


"Yakin mau langsung tidur?" tanya Della dengan mendongakkan kepalanya, melihat ke arah suaminya yang sedang mendekapnya erat.


"Hihhh... Kamu nakal ya!"


Akhirnya Danang menoel pucuk hidung Della, dan menekan tengkuk istrinya itu. Supaya dia bisa lebih leluasa untuk bisa melakukan apa-apa yang dia inginkan.


Dan Della tentunya sama. Dia juga dengan senang hati, menerima perlakuan khusus dari suaminya itu.


*****


Di rumah ibunya Linda.


Erli sedang rewel sedari sore. Dan sekarang tidak mau tidur-tidur. Bahkan sudah diberikan kebebasan untuk memilih tempat tidur. Mau di mana untuk bisa tidur malam ini.

__ADS_1


"Erli mau tidur dengan Mama atau simbah terserah Sayang."


Linda memberikan pilihan pada anaknya, yang sedari tadi hanya menggeleng tanpa mau bersuara.


__ADS_2