
..."Bagaimana keadaan Bapak Nang?"...
..."Membaik Mbak. Dokter menyarankan untuk tetao di rumah sakit ini saja. Karena jika pindah, proses medis dimulai lagi dari awal, dan itu justru membuat biaya semakin besar nanti."...
..."Hemmm... baiklah. Apa udah ada tagihan lagi dari pihak administrasi?"...
..."Belum Mbak. Tapi nanti, Danang akan nitip uang lagi. Dan bertanya kira-kira habis berapa. Nanti Danang yang lunasi. Jika kurang baru minta pada Mbak Linda."...
..."Lho gak apa-apa Nang. Kita separuh-separuh, untuk menanggung biaya bapak."...
..."Gak apa-apa Mbak. Kan mbak Linda udah berkeluarga. Beda dengan Danang. Lagian, Danang kan cowok Mbak."...
..."Hemmm... jangan sungkan Nang."...
..."Tapi... Danang jadi gak bisa ganti uang yang dulu Danang minta pada Mbak Linda. Yang dua puluh juta dulu itu lho Mbak!"...
..."Ah, udah sih. Itu gak usah dipikirin."...
..."Gak Mbak. Danang pasti akan kembalikan. Tapi entah kapan nya Danang gak bisa janjiin."...
..."Hemmm... ya terserah Kamu lah. Udah dulu ya. Mau masuk ini."...
..."Ya Mbak."...
Klik!
Linda pun terburu-buru, untuk masuk ke dalam gedung. Karena bel masuk kerja sudah terdengar.
"Mbak Linda!"
Linda menoleh ke arah orang yang sedang memanggil namanya.
"Hai mbak Mila. Apa kabar?"
Ternyata yang memanggil namanya adalah Mbak Mila. Teman sesama leader, yang dulu pernah ikut training di Jakarta.
Mereka berdua akhirnya berbincang sebentar. Berbasa-basi terkait pekerjaan dan kesibukan mereka saat ini.
"Kamu udah baik jabatan aja Mbak Linda."
"Kamu juga, Aku dengan malah mau dipromosikan menjadi asisten manager ya?"
"Wah... hebat Kamu mbak Mila. Selamat ya!"
"Hahaha... gak kebalik ini? Bukannya Kamu ya, yang mau jadi asisten manager. Yang katanya gantiin Bu Win."
Ternyata gosip tentang Linda, yang mau diangkat menjadi asisten manager sudah tersebar luas. Padahal itu juga sudah lama sekali. Sudah satu tahun yang lalu.
__ADS_1
Karena alasan Linda dipindah ke devisi sewing ini, karena pak Rudi marah dan kesal. Atas penolakan Linda pada saat itu.
Tapi Linda tidak menjawab ataupun menyahuti perkataan mbak Mila. Dia tidak mau di kira sok gak butuh. Padahal dengan naik jabatan sebagai asisten manager, gaji dan tunjangan yang diberikan oleh perusahaan juga akan semakin banyak.
"Iya kan Mbak Linda?"
Pertanyaan yang diajukan oleh mbak Mila membuat Linda tersadar dari lamunannya. Dia pun akhirnya hanya tersenyum tipis. Tanpa mau memberikan penjelasan kepada Mbak Mila.
Toh dia juga tidak akan menjadi asisten manager. Meskipun semua orang mengira jika dia akan segera naik jabatannya. Linda tidak peduli.
Meskipun nantinya orang-orang juga akan bertanya, kenapa dirinya belum juga di angkat menjadi asisten manager.
"Ya sudah ya Mbak. Aku pergi dulu. Ini ada yang mau aku bawa ke atas." Linda hanya mengangguk saja, mendengar mbak Mila yang pamit untuk pergi lagi.
"Ya Mbak Mila. Hati-hati ya!"
*****
Jam pulang hampir tiba. Linda yang masih sibuk dengan beberapa permakan barang produksi, yang dikerjakan oleh dua operator, dipanggil oleh salah satu leader anak buahnya.
"Mbak Linda! ada beberapa karyawan baru yang belum dapat tempat. Kata pak Rudi, disuruh ke devisi nya mbak Linda."
"Oh... di mana?"
Linda pun bertanya, di mana karyawan baru tersebut saat ini berada.
Leader tersebut, mengajak Linda untuk segera mengikuti dirinya. Agar berbicara secara langsung dengan karyawan baru itu.
Linda hanya mengangguk saja. Dia berpikir untuk mencari tempat di devisi sewing ini, di bagian mana ada tempat yang masih kosong. Atau setidaknya, bisa ditempati dua orang.
Tiba di tempat para karyawan baru menunggu, Linda justru berpikir ulang dengan apa yang tadi dia pikirkan. Karena karyawan baru ini bukan berjenis kelamin perempuan. Tapi semuanya laki-laki muda, alias brondong.
Kebanyakan masih berwajah imut, karena mungkin baru saja lulus sekolah SMA atau SMK. Dan membutuhkan pekerjaan.
Devisi sewing dikasih cowok? gak salah ini Mbak?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Linda pada leader nya, juga tidak bisa dijawab oleh leader tersebut. Karena dia memang tidak tahu, apa alasan pak Rudi menginginkan karyawan baru dengan jenis kelamin cowok, masuk ke devisi sewing.
"Ini gak salah tempat kan?" tanya Linda lagi.
Leader tersebut mengeleng sebagai jawabannya. Karena memang pak Rudi langsung yang memberikan perintah tadi.
Akhirnya Linda bertanya pada para karyawan baru tersebut, yang dalam keadaan berdiri dengan berbaris teratur.
"Kalian bisa menjahit?"
"Saya bisa Mbak."
__ADS_1
"Gak bisa."
"Bisa. Tapi sedikit-sedikit. Gak lancar."
Linda berpikir sejenak, sebelum memberikan tugas pada mereka. Karena ada lima karyawan baru, yang harus dia beri tempat untuk pekerjaan mereka besoknya.
"Baiklah. Besok, yang bisa jahit langsung bisa ikut menjahit. Yang masih belum lancar, bisa sambil belajar."
"Yang gak bisa, besok di bagian tali!"
"Iya Mbak."
"Siap Mbak!"
Linda tersenyum, melihat semangat para anak muda yang berdiri di depannya saat ini. Dan ada salah satu dari mereka, yang sempat melirik-lirik. Memperhatikan Linda dengan takut-takut kearahnya.
"Ada yang mau ditanyakan?"
Semua diam dan tidak ada yang mau menjawab atau bertanya.
"Jangan takut. Saya bukan singa yang siap memakan kalian kok." Linda berkata demikian, agar mereka tidak merasa tegang.
Mereka semua, jadi tersenyum-senyum sendiri. Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Linda barusan. Karena ternyata, atasan mereka ini bukan hanya cantik pada wajahnya saja. Tapi juga senang bercanda.
Suasana tidak lagi kaku. Linda memberikan beberapa penjelasan dan arahan. Untuk pekerjaan yang akan mereka lakukan besok pagi.
"Jadi, kalian besok pagi bisa langsung datang ke sini. Karena kalian ditempatkan di devisi yang Saya pimpin."
"Semoga betah dan bisa berkerja sama dengan baik. Untuk sekarang, kalian bisa kembali ke rumah masing-masing."
Mereka semua, mengangguk mengiyakan perkataan Linda. Kemudian membubarkan diri, untuk pulang ke rumah. Karena pekerjaan mereka, baru di mulai besok pagi.
Setelah membubarkan diri, para cowok tadi saling berbisik-bisik satu sama lain.
"Eh, tadi itu Aku pikir artis mana yang jadi supervisor kita nanti!"
"Bakal semangat kerja ini, jika atasannya aja macam bule begitu."
"Eh, tadi dia beneran orang Indonesia atau emang TKA sih? Kok fasih banget bahasa Kuta."
"Iya-iya. Gak ada logat-logat bule nya gitu."
"Ah, sudahlah. Semoga aja dua gak galak."
Ucapan terakhir ini, dikatakan oleh seorang pemuda. Yang tadi terlihat sangat cuek dan tidak begitu memperhatikan Linda. Dengan semua penjelasan yang diberikan tadi.
Tapi dia lebih fokus melihat bagaimana bibir Linda bergerak-gerak. Dia begitu tertarik, sehingga ingin menerkamnya tadi.
__ADS_1
"Hufhhh..."
Cowok itu membuang nafas panjang. Saat teringat dengan bibirnya Linda.