
Santet atau guna-guna dapat digolongkan menjadi tindak pidana. Karena santet diakui dan dipercaya keberadaannya di masyarakat, dan menimbulkan keresahan, namun tidak dapat dicegah dan diberantas melalui hukum karena kesulitan dalam hal pembuktiannya.
Artinya, meskipun pengirim guna-guna maupun santet jelas orangnya, tetapi tetap saja mereka tidak bisa dibawa ke ranah hukum. Sebab tidak ada bukti yang jelas dan nyata, sebagaimana mestinya sebuah tindakan pelanggaran hukum.
Jadi, yang bisa dilakukan hanyalah mengirim balik mantra yang sudah mereka kirimkan atau memutar arah mantra tersebut sehingga kembali ke si pengirim.
Meskipun sebenarnya Romi maupun Pak kyai tidak pemutar arah pada guna-guna yang sudah dikirim oleh pamannya, tapi ketentuan yang disetujui di awal, membuat pamannya itu akhirnya kehilangan kesadaran secara perlahan-lahan.
Dia mengigau dan berkata-kata tidak jelas pada saat tidur. Bahkan tak lama kemudian, dia juga menjerit-jerit.
Di saat dibangunkan oleh istrinya, dia seperti orang yang sedang linglung. Dan tidak tahu, apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
"Pak, Bapak kenapa?"
Istrinya bertanya dengan khawatir, atas apa yang dialami suaminya itu.
Tapi jawaban yang diberikan oleh suaminya itu, justru membuatnya sakit hati. sehingga pergi meninggalkan dirinya di kamar seorang diri, sebab istri pertamanya itu tidak pernah menyangka bahwa, suaminya masih ingin mempunyai istri lagi. Bahkan, suaminya itu menyebutkan banyak nama wanita.
Jadi, tidak hanya ada satu nama wanita, yang ingin dinikahi oleh suaminya ada.
"Bapak sudah gila ya? masih bisa gitu, sempat-sempatnya berpikir untuk kawin lagi, dengan banyak perempuan lagi! Dua saja, bapak sudah mulai kewalahan gitu kok!"
Istri pertamanya itu justru menggerutu, dengan memarahi suaminya. Karena dia berpikir bahwa, suaminya sudah tidak waras. Karena ada lima nama perempuan, yang disebutkan oleh suaminya tadi.
Kini, dia pergi meninggalkan kamarnya sendiri, untuk pergi ke ruang tengah. Dia akan tidur di sofa ruang tengah saja, dari pada mendengarkan suaminya itu mengoceh sepanjang malam.
*****
Dua hari kemudian, Romi mendapatkan telepon dari bibinya atau istri dari pamannya. Jika pamannya itu sedang dirawat di rumah sakit. Sebab badannya panas tinggi.
Romi, akhirnya pamit pada Linda, untuk pergi ke rumah sakit sendirian. Dia ingin pergi ke rumah sakit. Untuk melihat ke Pamannya.
Linda sengaja tidak diajak oleh Romi, untuk menjenguk pamannya. Sebab, Romi tidak mau jika istrinya itu akan merasakan sakit kepala lagi. Seandainya melihat keberadaan sang paman.
__ADS_1
Setibanya di rumah sakit, Romi bertemu dengan istri pertama Pamannya. Dan dari keterangan yang diberikan oleh bibinya itu, Pamannya mengalami demam yang sangat tinggi dan sering mengigau saat tidur.
"Pamanmu itu sekarang ini jadi aneh Romi. Dan tadi, di saat dokter membacakan hasil beberapa tes yang dilakukan, pamanmu itu tidak menderita penyakit apa-apa. hanya sekedar tekanan darahnya saja yang tidak stabil, sebab kadang naik kadang turun."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh bibinya, Romi bertanya, "kira-kira, paman sewaktu mengigau suka mengatakan apa?"
Bibinya itu tampak dipikir sejenak. Tapi segera menggelengkan kepalanya, karena dia memang tidak tahu, apa yang sebenarnya dikatakan oleh suaminya pada saat dalam keadaan mengigau.
"Tapi, suhu tubuhnya sudah tidak tinggi lagi?" tanya Romi lagi, yang sebenarnya juga merasa khawatir. Jika pamannya itu dalam keadaan seperti ini terus.
"Kalau pagi gini, keadaannya lebih stabil Rom. Tapi, jika malam hari dia itu yang kumat." terang bibinya, mengeluhkan keadaan suaminya. Yang sepertinya tidak ada kemajuan.
"Baru dua hari kan Bi, paman di rawat?" tanya Romi kemudian. Dia pikir, selama dua hari ini, mungkin pamannya itu memang belum ada kemajuan apa-apa. Tapi siapa tahu, setelah hari ini, hari-hari berikutnya besok, Pamannya itu akan menjadi lebih baik.
"Hhh... iya. Bibi hanya berharap, semoga istri keduanya mau bersabar dan tetap mau ikut merawat pamanmu itu."
Menurut penjelasan yang diberikan oleh bibinya, istri kedua pamannya baru sekali saja datang untuk menjenguk suaminya. Itupun cuma sebentar saja, sebab dia berasalan bahwa, ada kesibukan di rumah.
Apalagi, anaknya yang kedua katanya juga sedang demam. Jadi dia tidak bisa ikut menunggui suaminya di rumah sakit.
"Rom. Ini, ini Bibi mau minta tolong sama Kamu Rom. Jika, jika pamanmu itu punya salah, atau mungkin saja menyakiti perasaan kamu, sama adik Kamu, Della. Tolong maafkan pamanmu itu ya Romi."
Sekarang, bibinya itu justru memintakan maaf atas nama suaminya pada romi. Keponakan suaminya, yang dulu juga pernah ikut dia rawat, sewaktu masih sekolah.
"Bi. Romi tidak pernah merasa dendam atau marah pada Paman. Justru, Romi yang seharusnya memintakan maaf Paman pada Bibi. Sebab, Paman sudah sering kali menyakiti perasaan Bibi selama ini. Bahkan, paman sudah menikah lagi, yang sebelumnya Bibi tidak tahu."
Kini, bibinya itu justru menangis. Pada saat Romi selesai mengucapkan permintaan maaf, atas nama pamannya. Alias suaminya sendiri.
"Hiks... Hiks... Pamanmu itu, dia... dia juga menyebutkan nama-nama perempuan lain, saat tidur kemarin Rom. Sebelum dia sakit itu. Apa, apakah dia sudah menikah lagi ya Rom, secara diam-diam tanpa sepengetahuan ku? atau ada sesuatu yang terjadi?"
Romi menyipitkan matanya, mendengar cerita dan penjelasan yang diberikan oleh bibinya.
Sekarang, Romi semakin yakin bahwa, pamannya itu sudah terkena mantra dari guna-guna yang dia kirim sendiri untuk Linda.
__ADS_1
Tapi, tentu saja Romi tidak menceritakan tentang hal ini pada bibinya.
Dia hanya bisa berharap, agar pamannya itu segera menyadari kesalahannya. Dan bisa menghilangkan guna-guna yang dikirim sendiri.
Sebab, Pak kyai tidak pernah mengirim balik guna-guna tersebut. Katena dia hanya berusaha untuk menangkalnya saja.
Jika kenyataannya justru terbalik seperti ini, semua itu adalah kuasa dari Tuhan. Bukan karena kesengajaan.
*****
Della, mengajak Danang untuk pergi ke rumah sakit. Sebab dia mau menjenguk pamannya, pada saat diberikabar kakaknya, Romi. Tentang keadaan pamannya.
"Kak, kita langsung ke rumah sakit ya! Kita jenguk Paman dulu."
Danang, yang belum tahu keadaan Pamannya itu, hanya mengangguk saja. Sebab, dia juga tidak begitu suka dengan paman istrinya itu.
Di perjalanan menuju ke rumah sakit, Della menceritakan tentang keadaan Pamannya itu pada Danang.
Tapi Danang yang sedang menjalankan motornya, dengan memboncengkan istrinya, hanya diam saja. Karena dia tidak bisa mendengarkan cerita istrinya dengan baik.
Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya ingin menceritakan oleh Della tentang pamannya.
Hingga akhirnya mereka berdua sudah sampai di rumah sakit. Kemudian berjalan menuju ke kamar rawat inap sang paman.
"Mas. Sepertinya, emhhh... paman kena mental. Mungkin terkejut atau mendengar apa gitu ya. Yang tidak bisa dia terima."
"Maksudnya?" tanya Danang tidak mengerti.
Akhirnya Della menceritakan tentang kejadian yang dialami oleh pamannya saat ini. Yaitu kena tipu saat berinvestasi.
"Paman kena tipu banyak banget. Mungkin karena itu juga, dia jadi seperti ini. Dia takut jika jatuh bangkrut. Sehingga dia tidak bisa hidup dengan enak seperti biasanya."
Sekarang, Danang sudah sedikit paham dengan apa yang dialami oleh paman istrinya.
__ADS_1
Danang merasa bersimpati atas kejadian yang dialami oleh pamannya. Meskipun dia sebenarnya dia juga tidak begitu suka, dengan kelakuan dari Pamannya itu. Tapi dia tetap saja, merasa ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh sang paman, dan tentunya juga keluarga dari pamannya itu.