Tante Melinda

Tante Melinda
Suaminya?


__ADS_3

Dokter melihat ke arah suster, yang ada di sebelahnya. Dia merasa curiga jika, orang yang saat ini ada di sampingnya, dan mengaku sebagai suami dari pasiennya, adalah orang jahat.


Bisa jadi, laki-laki tersebut adalah pencuri, atau begal yang menganiaya korban. Karena banyak luka dan memar-memar yang ada pada wanita tersebut bukanlah akibat jatuh atau terbentur dinding.


"Silahkan, Bapak bisa keluar. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien," tutur dokter tersebut.


Polisi Ferry mengangguk dan berbalik arah, untuk keluar dari ruangan IGD. Dia berjalan dengan menundukkan kepalanya, dan terlihat jika, ada kesedihan di dalam wajahnya, yang tadi juga terlihat cemas.


Setelah polisi Ferry keluar, dokter berkata pada dua suster yang membantunya. "Sus, Saya tidak yakin jika, bapak tadi adalah suaminya."


Suster pun mengangguk setuju, dengan apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.


"Iya Dok. Bisa jadi dia bukan suaminya. Tapi, Dok, bisa juga kan jika itu suaminya, yang memang suka main tangan dan memukuli isterinya sendiri."


"Benar Dok. Banyak kasus yang seperti itu sekarang ini."


"Apa perlu kita hubungi polisi Dok? Biar polisi yang menyelidiki."


Dua Suster tersebut, saling menimpali untuk dugaan dokter tadi.


Mereka tentu memiliki pemikiran bahwa, pasiennya ini, bukan terjatuh sendiri. Tapi karena pemukulan yang bukan hanya sekali dua kali didapatkan pada tubuhnya.


Dan karena sudah tidak kuat lagi, akhirnya pasien jatuh dan pingsan.


Dari pemeriksaan dokter, perut pasien juga masih dalam keadaan kosong. Berarti, dari pagi hingga di bawa ke rumah sakit ini, pasien belum sarapan pagi.


"Kita tunggu, bagaimana si bapak tadi menunggui pasien. Pasti kita akan tahu, apakah dia benar-benar suaminya sendiri atau bukan, saat wanita ini bangun nanti."


Dia suster tersebut, kembali mengangguk mengiyakan perkataan dari dokter.


Setelah itu, dokter meminta suster untuk menghubungi pihak pendaftaran, untuk mengetahui, apakah ada pemesanan kamar atas nama pasien Melinda.


"Kita bawa ke kamar pasien, agar dia bisa beristirahat lebih baik."


"Baik Dok," jawab salah satu suster, kemudian berjalan menuju ke meja tugasnya, untuk menelpon bagian pendaftaran.


Ternyata, kamar untuk pasien atas nama Melinda sudah dipesan. Dan suster itu juga sedikit merasa heran karena, kamar pasien yang dipesan bukan kamar biasa. Tapi kelas 1.


"Dok. Jika bapak tadi bukan suaminya, tidak mungkin memesan kamar pasien dengan kelas 1 Dok," ujar suster, di saat sudah berada di dekat rekan kerjanya itu.


"Lagi pula, di pemesanan kamar pendaftaran pasien, tercatat jika suami yang melakukan pemesanan kamar," imbuh suster tadi.


Dokter pun mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar perkataan dari suster tersebut.

__ADS_1


"Berarti, pelakunya memang suaminya sendiri. Kasian ya wanita cantik ini," sahut dokter, dengan memperhatikan wajah pasiennya.


"Iya, Dok. Kasihan sekali ya. Wajah cantiknya, malah tidak membuatnya bahagia."


Tapi berbeda dengan suster yang satunya lagi. "Busa jadi, suaminya tadi mengetahui tentang apa yang dilakukan istrinya, jadi dia ngamuk-ngamuk," ujarnya, menduga-duga.


"Hah, benar juga."


Rekannya sesama suster, mengiyakan praduga dari temannya.


"Sudah-sudah. Lebih baik, kita fokus pada tugas kita. Yang penting, bapak yang tadi benar-benar suaminya."


Dokter mengehentikan berbagai macam pertanyaan dan dugaan-dugaan yang ada di kepala masing-masing. Termasuk juga dirinya sendiri.


Akhirnya tak lama kemudian, Linda di pindahkan ke kamar pasien, dengan diikuti oleh polisi Ferry dari arah belakang.


Setelah tiba di kamar pasien, dan Linda sudah dipindahkan dengan baik, polisi Ferry menemui suster yang berjaga di ujung, tak jauh dari kamar Linda.


"Sus, Saya nitip istri Saya, yang ada di kamar nomor tiga sana. Saya mau menjemput ibu, untuk menemani di sini. Soalnya, Saya harus pergi bertugas," kata polisi Ferry, meminta agar suster sesekali menjenguk Linda, yang menjadi pasien dari suster tersebut.


"Tapi Pak..."


"Ini kartu identitas Saya, akan Saya ambil lagi nanti, saat Saya datang bersama dengan ibu Saya."


Ini akan mudahkan dirinya, untuk menjamin keselamatan istrinya, meskipun sedang dia tinggalkan sendirian.


Suster menerima kartu anggota kepolisian, yang diserahkan kepadanya.


Setelah melihat dan membaca, serta mencocokan foto yang ada di kartu tersebut, dengan orang yang ada di depannya, suster segera mengangguk dengan cepat.


"Baik Pak. Kami akan menjaga ibu dengan baik."


Perlakuan istimewa, akhirnya didapatkan oleh Linda, sebagai pasien. Karena pekerjaan suaminya, adalah abdi negara, yaitu seorang polisi.


*****


Ibunya Linda, tentu saja merasa kaget, saat polisi Ferry datang untuk menjemput dirinya.


Apalagi menantunya itu mengatakan bahwa, Linda saat ini ada di rumah sakit.


"Apa uang terjadi Nak?" tanya ibunya Linda dengan rasa khawatir.


"Erli bagaimana, di mana dia sekarang?" imbuh ibunya Linda, bertanya tentang cucunya, Erli.

__ADS_1


"Erli ada di rumah tetangga. Tadi, Saya menitipkan dia, karena tidak mungkin membawanya ke rumah sakit."


Polisi Ferry menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya, tapi hanya sebatas keberadaan anaknya, Erli.


Dia tidak menjawab pertanyaan, yang bersangkutan dengan Linda sendiri.


"Baiklah. Ibu siap-siap dulu ya," kata ibunya Linda, seraya masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap, ikut bersama dengan menantunya itu pergi ke rumah sakit.


'Ada apa lagi yang terjadi antara mereka berdua?' tanya ibunya Linda, di dalam hatinya sendiri.


Ibunya Linda, merasa sangat menyesal, karena dulu-dulunya, telah memaksa anaknya itu untuk menerima polisi Ferry sebagai suami.


Dia tidak pernah menyangka jika, keadaan anaknya akan menjadi seperti ini.


'Kasihan Linda. Maafkan ibu Lin. Ibu akan memberinya kebebasan dan menerima apapun yang kamu putuskan nantinya, jika kamu sudah sembuh.'


Ibunya Linda, akan memberi kebebasan pada anaknya itu, jika Linda ingin berpisah dari suaminya.


Dia tidak tega, melihat keadaan anaknya, yang sengsara terus menerus, dalam berumah tangga. Tidak sama seperti yang dulu dia bayangkan.


Sekarang, ibunya karena Linda sadar jika, kedudukan dan pangkat seseorang, tidak menjamin sebuah kebahagiaan.


"Pak, Ibu pergi ke rumah sakit ya. Menunggui Linda."


Bapaknya Linda, terkejut dengan perkataan istrinya, yang pamit untuk pergi ke rumah sakit.


"Lho, Linda kenapa Bu?"


"Linda di rawat Pak. Maaf ya Pak, ini salah Ibu juga," jawab ibunya Linda, dengan berderai air mata sedih.


"Linda kenapa Bu?" tanya suaminya itu.


Bapaknya Linda, memang sudah sakit-sakitan, dan tidak banyak beraktivitas di luar rumah.


Dia juga tidak lagi berkerja, dan lebih banyak berada di dalam kamar saja.


"Linda sakit Pak. Biar nanti Erli di rumah bersama bapak ya. Ibu mau ke rumah sakit sekarang."


"Sama siapa Bu?" tanya bapaknya Linda, sekali lagi.


"Sama Nak Ferry," jawab ibunya Linda, memberitahu pada suaminya.


"Hemmm... hati-hati Bu," ujar bapaknya Linda, dengan menghela nafas panjang.

__ADS_1


Dia tentu semakin merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada anaknya, Linda.


__ADS_2