Tante Melinda

Tante Melinda
Hati Yang Berbunga


__ADS_3

Linda baru saja tiba di rumah, pada saat suaminya, Ferry dan Erli, juga tiba di rumah.


"Mama!" teriak Erli dengan senang hati.


"Duh Sayang. Capek ya?"


Erli mengangguk cepat, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh mamanya.


"Papa juga capek Ma, nggak ditanyain nih?" gurau Ferry pada Linda. Yang hanya disenyumi oleh Linda saja.


"Ih Papa, ngiri aja sih!" protes Erli pada papanya, yang bibir mengerucut manja. Membuat Linda dan Ferry sama-sama gemas.


"Yuk Sayang!"


Erly mengangguk, mengiyakan ajakan mamanya, untuk masuk ke dalam rumah. Sedang ferry mengekor mereka berdua dari arah belakang.


"Erli mau mandi sama mama atau papa? Atau mau mandi sendiri?" Linda memberikan pilihan pada anaknya itu, untuk mandi sorenya.


"Erli mau mandi sendiri Ma. Erli kan udah besar Ma. Jadi bisa mandi sendiri dong sekarang Ma!" pamer Erli dengan tingkahnya yang menggemaskan.


Linda hanya mengangguk saja, dengan mengedipkan satu matanya. Saat dia menyetujui perkataan anaknya, sebab Erli memang sudah ada di kelas TK besar sekarang ini.


"Papa nggak ditawarin Ma?" tanya Ferry, yang membuat Linda tersenyum malu.


Sedangkan Erli justru mendorong tubuh papanya. "Ihsss... Papa kan besar! ngapain minta mandi sama Mama. Ya mandi sendiri lah Pa!" protes Erli, yang membuat Ferry menggaruk-garuk alisnya sendiri.


"Sudah-sudah. Erli mandi sana gih! Mama mau siapkan baju gantinya dulu ya!"


"Ma. Erli mau pakai baju yang kemarin itu lho Ma, yang gambar Spongebob. Yang warna kuning Ma! pakai itu ya Ma?" rengek Erli, sebelum masuk dalam ke kamar mandi.


"Iya Sayang."


Linda hanya mengiyakan permintaan anaknya, supaya tidak rewel dan membuat drama lagi, seperti biasanya jika tidak dipenuhi keinginannya.


"Dek tidak usah masak. Tadi mas beli lauk mateng, jadi tinggal masak nasi aja."


"Oh iya Mas."


"Linda bergegas mencari baju ganti untuk anaknya, setelah itu dia ke dapur untuk mengambil beras dan mencuci nya. Kemudian menaruh ke rice cooker, nendang stop kontak ke colokan listrik.


Ferry sendiri masuk ke dalam kamar, kemudian mandi di kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.


"Ma. Erli udah selesai mandi. Mana bajunya Ma?" tanya Erli, di samping mamanya yang sedang merapikan bungkus-bungkus lauk yang tadi dibeli oleh suaminya.


"Itu lho Sayang, ada di depan TV. Mama taruh di situ tadi," jawab Linda, dengan menjelaskan pada anaknya itu. Kemudian Erli segera pergi ke depan TV, untuk berganti pakaian.


Tak lama kemudian, ferry juga keluar dari dalam kamar, dengan keadaannya yang sudah tampak segar karena selesai mandi.

__ADS_1


"Sini biar Mas yang selesaikan. Kamu pergi mandi gih!" pinta Ferry untuk menggantikan pekerjaan linda yang belum selesai.


"Iya Mas, terima kasih.


Linda membiarkan beberapa bungkus lauk yang belum sempat dia buka di atas meja dapur, agar suaminya itu yang menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian dia berjalan ke arah kamarnya sendiri untuk pergi mandi.


"Ma... Erli mau susu!" pinta Erli pada mamanya. Setelah dia selesai berganti pakaian.


"Eh papa. Mama mana Pa?" tanya Erli, yang tidak menemukan mamanya di dapur, tapi justru dia menemukan papanya.


"Ya Sayang. Papa buatkan susu hangat untuk mu. Tunggu di depan TV ya!" ujar Ferry, mengiyakan permintaan anaknya tadi.


"Ya Pa!" teriak Erli sambil berlari-lari kecil menuju ke depan TV.


Di saat Ferry membawakan segelas susu hangat untuk Erli, Linda juga keluar dari dalam kamar. Dengan wajah yang sudah kembali segar, sehabis mandi.


"Kita makan sekarang aja yuk!" ajak Ferry pada kedua wanita beda generasi yang ada dihadapannya saat ini.


"Yuk Pa, Ma! Erli juga sudah lapar ini," sahut Erli dengan wajah memelas.


Linda hanya mengangguk saja, kemudian berjalan bersama dengan anaknya menuju ke arah meja makan. Dengan Ferry yang mengekor di belakang mereka berdua.


*****


Di rumah Romi.


Romi yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, memperhatikan bagaimana cara adiknya tersenyum-senyum. Sama seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta.


"Del. Della," panggil Romi pada adiknya itu.


Tapi ternyata Della tidak mendengarkan panggilan kakaknya. Dia masih asyik dengan handphone yang ada di tangannya.


Tuk!


"Aduh!"


Della mengaduh karena merasakan sakit pada keningnya, yang baru saja disentil Romi. Dia juga terkejut dengan keberadaan kakaknya yang tidak dia sadari tadi.


"Mas Romi!"


Wajah Della memberengut kesal, karena ulah dari kakaknya itu.


"Ngapain cengar-cengir sendiri sedari tadi?" Romi mencoba untuk mencari tahu alasan dari senyuman adiknya, yang lupa dan memerhatikan sekitarnya.


"Ihhh apaan sih! Gak ada apa-apa kok," kilah Della mengelak. Dia tidak mau jika kakaknya itu tahu, jika saat ini dia sedang menjalin hubungan dengan Danang.


"Gak mungkin jika gak ada apa-apa. Hayo, cowok ya?" tebak Romi, yang membuat Della membelalakkan matanya kaget.

__ADS_1


"Apa melotot kayak gitu? Tebakan Mas bener! Hahaha..."


Romi jadi tergelak sendiri, saat Della memberikan jawaban dari sinar matanya itu. Karena dia tahu, adiknya itu tidak bisa berbohong kepadanya. Meskipun tanpa memberikan jawaban dengan bersuara.


"Emhhh... tapi, tapi Mas Romi jangan marah ya," cicit Della dengan rasa takut-takut.


"Maksudnya?"


"Cowok itu... dia, dia pacarnya Della."


Akhirnya Della bisa memberikan jawaban, dengan jawaban yang sama seperti tebakannya Romi tadi.


"Hemmm... terus?" tanya Romi, menuntut penjelasan lebih lanjut, mengenai cowok yang saat ini sedang digandrungi oleh adiknya itu.


"Kok terus sih Kak? Kami baru jadian kok, belum lama." Della mencoba untuk memberikan penjelasan kepada kakaknya. Yang saat ini sedang berada di rumah.


Sebab biasanya, kakaknya itu bekerja di kota besar. Bukan di daerahnya sendiri.


"Ya gak apa-apa. Setidaknya kenalin sama Mas gitu lho Dek!"


Mendengar perkataan Romi, Della menciut. Dia belum siap untuk mengenalkan Danang sebagai pacarnya saat ini.


"Kenapa?" tanya Romi, karena melihat adiknya yang terdiam dan seakan-akan ragu untuk berbicara tentang pacarnya. Yang tadi sedang mereka bicarakan.


Ting!


Handphone milik Della berdenting, tanda jika ada notifikasi pesan yang masuk.


"Tuh, dia gak sabar kan nungguin Kamu bales pesannya. Makanya kirim pesan lagi." Tebak Romi lagi, tentang pesan yang baru saja masuk ke dalam ponsel adiknya.


"Ahhh... Mas Romi!" rajuk Della dengan bibir mengerucut. Membuat Romi tergelak untuk kesekian kalinya.


"Hahaha... jangan kayak gitu bibirnya, jika sedang berdua dengan pacar Kamu. Bisa-bisa tuh bibir gak selamat deh!" Della justru mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh kakaknya barusan.


"Apaan sih Kak!"


"Awas ya, jika cowok Kamu itu normal, gak mungkin dia membiarkan bibirmu yang mengerucut itu sendirian. Pasti bakal di sosor Dek. Awas ya!"


Della langsung menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangan.


Di dalam hatinya, dia membenarkan juga, apa yang dikatakan oleh kakaknya barusan.


***


note promo, mampir yuk ramaikan πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_1


__ADS_2