
Di tempat kerja.
Linda banyak menerima ucapan dari teman-temannya. Yang memberikan banyak doa dan harapan untuk kesembuhan bapaknya.
"Semoga bapaknya mbak Linda cepat sembuh ya."
"Kami turut prihatin dengan keadaan bapaknya mbak Linda."
"Semoga lekas sembuh ya Mbak."
"Di rumah sakit mana?"
"Nanti kita datang ke rumah sakit, jenguk bapaknya mbak Linda ya?"
Linda mengucapkan terima kasih, atas perhatian yang diberikan oleh teman-temannya.
Dia jadi merasa terharu, dengan simpati dan dukungan yang diberikan mereka semua. Hal inilah yang membuatnya betah bekerja dengan mereka.
Meskipun ada banyak permalasahan dan rasa cemburu sosial di antara para pekerja. Tapi sebenarnya ada beberapa hal yang kadang membuat rasa pertemanan dan simpati tumbuh tanpa rekayasa.
Ini yang membuat Linda merasa berat, jika ingin keluar dari perkataannya yang sekarang ini.
"Mbak. Beberapa laporan perlu di bawa ke atas."
Salah satu dari leader bawahannya, memberi tahu jika ada laporan yang harus segera diselesaikan dengan pihak office. Dan yang dimaksud dengan sebutan atas adalah ruang pak Rudi. Sebagai seorang manager di gedung ini.
Linda hanya mengangguk mengiyakan. Dia jadi lebih sering bertemu dengan pak Rudi lagi, karena adm yang biasanya mengerjakan pekerjaan ini resign.
Dengan langkah gontai, Linda berjalan menuju ke ruangan pak Rudi.
Linda berusaha untuk menormalkan wajah sedihnya dan khawatirnya. Dengan menghela nafas panjang.
Tapi sebelum dia tiba di ruangan pak Rudi. Terlihat jika pak Rudi baru saja keluar dari dalam ruangannya. Dan sedang menutup pintu ruangannya.
"Pak," panggil Linda, karena dia harus memberikan laporan yang harus dia sampaikan.
Dengan demikian, mau tidak mau, Linda harus tetap bertemu dengan pak Rudi. Demi tanggung jawab pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Hai Lin. Wah, apa kabar bapak?"
Sepertinya, pak Rudi berusaha untuk berbasa-basi sebentar. Agar Linda tidak berlaku formal terhadap dirinya hari ini.
"Baik Pak," jawab Linda pendek.
__ADS_1
"Hemmm..."
Terdengar gumamam tidak jelas dari mulut pak Rudi. Karena harapannya tadi sepertinya susah untuk terwujud.
"Saya mau memberikan ini Pak," kata Linda selanjutnya.
Beberapa berkas yang tadi di pegang Linda, kini diberikan kepada managernya itu. Karena dia memang hanya ingin memberikan laporan tersebut pada pak Rudi.
"Oh, udah selesai ya?" tanya pak Rudi, sambil melihat-lihat berkas yang sekarang ada ditangannya.
"Silahkan dilihat Pak. Saya permisi dulu. Jika ada yang kurang baik, bisa dikembalikan setelah diperiksa." Linda segera pamit untuk kembali ke tempat kerjanya.
"Tunggu Lin!"
Pak Rudi mencegah kepergian Linda. Karena dia masih ingin berbincang-bincang dengan Linda sebentar lagi.
"Maaf Pak Rudi. Pekerjaan Saya menumpuk, karena dua hari Saya cuti. Permisi."
Kini, Linda benar-benar pergi dari hadapan pak Rudi. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat tersebut. Dia takut jika akan kembali terpengaruh oleh ajakan pak Rudi, dan kebutuhan yang dia miliki juga. Jika sudah mulai menyangkut hal yang sangat sensitif.
Psk Rudi tidak bisa melakukan apa-apa lagi, untuk mencegah kepergian Linda dari hadapannya.
Sekarang dia merasa sangat yakin jika, Linda memang benar-benar sudah berubah. Tidak lagi mau merespon apapun yang dia katakan.
"Hufhhh..."
Dengan membuang nafas panjang, pak Rudi melanjutkan pekerjaannya lagi.
*****
Mbak Nana semakin sering datang ke pengilingan padi. Meskipun tidak lagi dengan alasan membeli beras.
Dia seakan-akan tidak peduli, jika ada orang yang membicarakan tentang dirinya. Karena terus menerus menyambangi Ferry yang sedang bekerja.
Hari ini juga dia datang lagi. Padahal, kemarin dia baru saja mengajak Ferry keluar. Dan karena mereka berdua tidak punya waktu banyak, akhirnya malah pergi ke rumah Ferry untuk melampiaskan kebutuhan mereka yang bejat.
Tapi karena pergi ke rumah Ferry itulah, akhirnya dia tahu bagaimana wajah dari istrinya lelaki, yang selalu dia inginkan setiap waktu.
Akhirnya dia tahu bagaimana wajahnya Linda. Yang benar-benar cantik dan menarik.
Dia pun mengakui kalau, dia tidak mungkin bisa bersaing dengan Linda. Dari segi wajah dan fisik. Tapi karena dia punya uang banyak, dan bisa memenuhi kebutuhan batin Ferry dengan berbagai gaya, dia akhirnya nekad mempengaruhi Ferry dengan berbagai macam cara.
"Mbak Nana jangan sering-sering ke sini. Jika ada saudaranya Linda, kita bisa ketahuan."
__ADS_1
"Gak apa-apa Mas. Bagus dong jika dia tahu."
"Huhfff..."
Ferry membuang nafas panjang, mendengar jawaban yang diberikan oleh mbak Nana barusan.
Dia sudah ketar-ketir. Jika sewaktu-waktu ada saudaranya Linda, yang merupakan salah satu teman dari pemilik pengilingan padi ini.
Ferry tidak mau jika, apa yang dia lakukan bersama dengan mbak Nana selama ini ketahuan. Dan orang tersebut akan melaporkannya kepada Linda.
Dia benar-benar tidak mau jika Linda pergi dari kehidupannya.
Tapi dia juga tidak bisa berhenti dari permainannya sendiri, dengan Mbak Nana.
"Pokoknya Aku gak mau tahu ya Mas. Harus ada hasil dari apa yang kita lakukan selama ini."
Begitulah kira-kira alasan yang dibuat oleh mbak Nana. Yang mengijinkan seorang anak dari Ferry.
"Tapi bagaimana dengan suaminya mbak Nana sendiri?" tanya Ferry waktu itu.
"Tenang saja Mas. Suamiku pasti akan sangat senang, jika tahu hamil. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya, jika Aku benar-benar bisa hamil."
"Mbak Nana yakin, jika semuanya aman?"
"Mbak Nana gak akan menuntut Saya, jika mbak Nana hamil suatu saat nanti?"
Dan dengan sangat yakin, mbak Nana mengangguk mengiyakan perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh Ferry padanya.
Laki-laki mana yang tidak akan terpengaruh, dengan ajakan untuk bercinta. Sudah begitu masih dikasih sesuatu yang enak-enak terus. Tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.
Bahkan, Mbak Nana sering kali memberikan uang pada Ferry dalam jumlah yang banyak.
Katanya untuk ganti waktu Ferry yang mereka gunakan bersama. Meskipun Ferry merasa tidak nyaman, karena dia menilai dirinya sendiri sebagai seorang penjaja cinta laki-laki. Alias gigolo.
Tapi karena mbak Nana menyakinkan dirinya bahwa, dia tidak akan lagi mengejar-ngejar Ferry, jika dia sudah hamil nanti.
Ferry sendiri kadang merasa aneh. Dia bingung dengan apa yang sebenarnya direncanakan oleh mbak Nana.
Seperti ada sesuatu yang disembunyikan oleh mbak Nana, meskipun dia tidak mengatakan apa-apa selama ini. Tapi perasaan Ferry yang terbiasa dengan segala sesuatu yang berbau-bau kejahatan. Pada saat masih menjabat sebagai polisi, dia tetap mampu mencium aroma-aroma yang tidak baik dari hubungan mereka ini.
Seperti sebuah strategi atau konspirasi yang entah kapan akan bisa dibuktikan.
Yang pasti, saat ini dia masih bisa menikmati semuanya. Tanpa harus meminta pada istrinya, Linda.
__ADS_1