
Linda pulang sekitar pukul empat sore. Dia langsung menuju ke rumah ibunya. Karena Erli ada di sana. Dan suaminya, Ferry, juga belum memberikan kabar jika sudah pulang dari luar kota.
Dengan diantar oleh jasa ojek, Linda turun di depan rumah ibunya.
"Assalamualaikum..."
"Waallaikumsalam..."
Terdengar jawaban ucapan salam dari dalam rumah. Dan tak lama kemudian, ibunya Linda keluar membukakan pintu untuknya.
"Masuk Nduk," ajak ibunya, setelah membuka pintu, dan melihat keberadaan Linda yang berdiri di depan pintu rumah.
"Njeh Bu," sahut Linda, yang kemudian masuk ke dalam, mengekor di belakang ibunya.
"Erli mana Bu?" tanya Linda, yang tidak melihat keberadaan anaknya. Di saat dia membuka pintu kamarnya.
"Ada di teras belakang. Lagi ngasih makan ayam itu. Sama bapakmu!"
Linda akhirnya melanjutkan langkahnya, menuju ke arah dapur. Kemudian berjalan lurus ke arah belakang rumah.
Di sana, tampak anaknya yang sedang tertawa-tawa senang. Melihat ayam-ayam yang sedang berebut makanan, pada saat Simbah kakungnya itu menaburkan makanan untuk ayam-ayam tersebut.
"Sayang..."
Erli mendongak menatap ke arah sumber suara. Dia langsung tersenyum senang, melihat kedatangan mamanya.
"Mama..."
Erli melepaskan diri dari pegangan simbah kakungnya, dan berlari-lari kecil untuk datang menyambut uluran tangan mamanya.
"Erli gak bakal kan tadi?" tanya Linda, di saat Erli memeluk dirinya. Meskipun hanya sampai di kaki bagian atas saja.
Linda berjongkok, untuk bisa mensejajarkan diri dengan anaknya yang masih kecil.
"Gak. Erli gak nakal kok Ma. Tapi, tadi Erli jatuh dari tempat tidur. Hiks hiks hiks..." jawan Erli, mengadukan nasibnya pada saat tidur siang.
Dia juga jadi terisak lagi, karena ingat kejadian yang tadi dia alami.
"Uh... cup cup cup! Anak cantik gak boleh nangis ya!" bujuk Linda, supaya anaknya itu berhenti menangis.
Simbahnya, bapaknya Linda, yang masih ada di dekat mereka berdua, hanya tersenyum-senyum sendiri, melihat cucunya itu sedang merajuk pada mamanya.
Dari dalam dapur, ibunya Linda datang dengan membawa piring. Dia membawakan makanan untuk Erli, cucunya, yang baru saja bangun dan belum sempat makan.
"Ini Lin, suapi Erli! Tadi, dia belum sempat makan. Dan itu baru bangun tidur juga belum lama tadi," kata ibunya, dengan menyerahkan piring yang dia bawa pada Linda.
__ADS_1
Linda mengangguk mengiyakan, dan menerima piring yang diberikan oleh ibunya.
"Ayo Sayang. Erli makan dulu ya! Tadi, mama juga bawakan buah kesukaannya Erli. Ada di depan TV."
Erli mengikuti langkah mamanya, dengan mengandeng tangan mamanya juga.
"Mbah. Erli makan dulu di depan TV ya!" Teriak Erli, memberitahu pada simbah kakungnya.
Dengan tersenyum dan mengangguk mengiyakan, simbahnya juga berdiri dan mencuci tangannya. Karena kegiatannya memberi makan ayam sudah selesai.
Dia menyusul anak dan cucunya itu ke depan TV. Tapi karena melihat jarum jam yang sudah menunjukan jika waktunya sudah sore, akhirnya dia kembali ke dapur untuk mandi.
"Mbah!"
Lagi-lagi Erli berteriak memanggil simbah kakungnya itu.
"Ada apa? simbah mandir dulu ya!"
"Erli juga mau mandi. Berendam di ember besar ya Mbah! Tapi ini makan dulu ya?"
Bapaknya Linda, hanya mengangguk saja. Mengiyakan keinginan dari cucunya itu. "Makan dulu. Dihabiskan ya!" perintah simbahnya, sebelum masuk ke kamar mandi.
"Ma. Mama! Erli mau mandi pakai ember besar ya! Mau berendam."
Linda mengangguk mengiyakan permintaan dari anaknya. Dia masih terus menyuapi anaknya itu, agar cepat selesai dan bisa memandikan Erli.
Ibunya Linda, juga tampak menyapu seluruh halaman depan rumah. Karena ada pohon mangga dan jambu, yang daunnya berguguran. Sehingga halaman rumah terlihat jelas kotornya.
Setelah selesai menyuapi Erli, Linda pergi ke dapur. Untuk mencuci piring bekas makan anaknya tadi. Dia membawa plastik berisi buah-buahan, yang tadi dia beli saat ada di jalan pulang.
Ada anggur dan juga jeruk. Dia akan mencuci anggurnya, dan menaruh jeruk ke dalam baskom
Setelah selesai, dia membawa dua baskom berisi anggur dan jeruk.
"Erli mandi dulu sehabis minum air putih. Nanti, selesai mandi mama kupas jeruk untuk Erli."
Erli mengangguk cepat. Dia juga melompat-lompat kegirangan, karena akan makan jeruk dan anggur. Di saat dia selesai mandi nanti.
"Tapi, ember yang buat mandi mana Ma?" tanya Erli.
Padahal, saat ini dia masih berada di depan tv bersama dengan mamanya. Dan ember besar yang dia maksud adalah ember yang biasa digunakan untuk mencuci pakaian ibunya.
Tentunya ember tersebut ada di dapur atau belakang rumah. Di mana letak sumur berada.
"Ayok!"
__ADS_1
Linda mengajak anaknya itu, untuk pergi ke dapur. Tapi karena di dapur tidak ada ember, akhirnya Linda mengajak Erli ke belakang rumah.
"Ember simbah ada di sumur. Erli masih mau, mandi di ember kan?"
Erli mengangguk mengiyakan. Dia senang sekali, jika mandi dengan mengunakan ember besar. Dia bisa bermain-main dengan air, dan berendam di dalamnya.
Setelah menghidupkan mesin pompa air, Linda meletakan ember besar, yang akan digunakan untuk mandi anaknya, di bawah kran air.
Air terisi penuh.
"Sini Sayang!"
Dengan cepat, Erli datang mendekati mamanya. Dan diam saja, di saat mamanya mulai membuka baju luarnya.
Dia masih mengunakan pakaiannya yang dalam, untuk mandi.
Ini Linda lakukan untuk mengajari anaknya itu, agar tidak membuka semua pakaiannya, jika sedang mandi. Meskipun Erli masih kecil dan belum mengerti, apa maksud dari ajarannya itu.
Sepertinya, Linda ingin melindungi anaknya. Dari mata-mata yang tidak bertanggung jawab. Dia ada ketakutan sendiri, jika anaknya itu akan mengalami hal yang sama seperti dia dulu. Sewaktu dia masih kecil juga.
*****
Menjelang magrib, Danang baru pulang.
"Mbak Linda gak mau pulang sekarang kan?" tanya Danang, karena dia masih merasa sangat capek. Jika harus diminta untuk mengantarkan Linda dan Erli pulang ke rumah.
"Belum Nang. Nunggu papanya Erli kasih kabar."
Danang mengangguk cepat, kemudian berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri.
Tak lama kemudian, Danang keluar lagi. Dia bersiap-siap untuk mandi juga. Karena semuanya sudah terlihat rapi dan selesai mandi juga.
Beberapa menit kemudian, handphone milik Linda berdering. Dengan cepat, Linda meraih tasnya, dan membukanya. Dia ingin melihat, siapa yang saat ini sedang menghubungi dirinya.
Ternyata itu panggilan dari pak Komarudin.
"Hemmm..."
Linda menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia tersenyum sendiri, saat teringat dengan semua yang sudah dia lakukan bersama dengan pak Komarudin seharian tadi.
Tapi, Linda juga tidak bisa menerima panggilan telpon tersebut. Karena pada saat ini, dia sedang berada di rumah ibunya. Ada Erli juga di dekatnya.
Akhirnya, Linda menekan tombol merah, untuk menolak panggilan tersebut. Meskipun dia juga tahu jika, pak Komarudin tidak suka diabaikan.
Tapi karena dia tidak bisa menerima panggilan telpon, akhirnya Linda mengirim pesan singkat pada pak Komarudin.
__ADS_1
Atasannya di pabrik, yang sudah memberinya banyak kepuasan dan juga kenyamanan.