
Hari ini, hari ke dua langkah Linda ambil cuti. Dia ikut bersama dengan suaminya lagi. Sama seperti kemarin, mengantar sekolah anaknya, Erli. Kemudian ikut ke pengilingan padi juga.
Sebenarnya, Ferry sudah melarangnya untuk ikut ke pengilingan padi. Dia tidak mau jika, kejadian demi kejadian di penggilingan padi kemarin terulang lagi. Karena Linda jadi digoda oleh para karyawan pengilingan padi. Bahkan, pemilik pengilingan padi dan temannya, yang katanya masih saudara dengan Linda sendiri pun, sepertinya menaruh perhatian lebih pada Linda.
Ferry merasa tidak nyaman, karena tatapan memuja para laki-laki yang melihat isterinya itu.
Ferry sadar jika, dia pun ada kebanggaan tersendiri dengan menjadi suaminya Linda. Keberuntungan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan memiliki seorang istri yang memang dasarnya sudah cantik. Meskipun tanpa perawatan ataupun scine care atau apapun itu, yang ditujukan untuk mempercantik wajah.
"Mas. Nanti pinjam motor buat ke pasar sebentar ya?" pinta Linda, meminta ijin pada suaminya itu. Untuk pergi ke pasar.
Dia sudah lama tidak pergi ke pasar kecamatan, yang ada di daerahnya.
Karena jika ada keperluan untuk dapur, ada tukang sayur yang berjualan keliling. Dan jika masih ada yang kurang, ada warung di dekat rumahnya, yang menjual berbagai macam bahan baku makanan. Bahkan, ada bumbu dan sayur-sayuran segar juga.
Jadi, tidak perlu khawatir jika tidak bisa memasak. Hanya karena alasan yang dibuat, dengan tidak adanya bahan-bahan sayur ataupun bumbunya.
Apalagi sejak Linda bekerja di pabrik, dia jadi jarang memasak di rumah. Lebih sering beli jadi, alias beli lauk pauk matang yang ada di warung makan.
"Mau apa ke pasar Dek?" tanya Ferry, yang memang sudah tahu, bagaimana keadaan Linda selama ini.
"Beli stok sayur dan bumbu Mas. Mumpung di rumah juga kan," sahut Linda, memberikan alasan kenapa dia ingin pergi ke pasar.
"Udah gak usah. Kamu libur kan cuma tinggal hari ini. Besok udah kerja lagi. Beli dekat rumah aja sih!" Ferry tidak mengijinkan Linda pergi ke pasar.
"Atau kita pulang sekalian nanti. Saat jemput Erli sekolah. Jadi, kita gak usah ke sini lagi," imbuh Ferry, memberikan usulannya.
"Emhhh..." Linda tidak jadi melanjutkan kalimatnya, karena Ferry memotongnya terlebih dahulu.
"Kamu kan gak pernah ke pasar Dek. Malah gak tau harga-harga sayur dan bumbu juga. Bisa-bisa malah lebih mahal di banding dengan warung ya ada di dekat rumah lho,"kata Ferry, meyakinkan Linda. Supaya istrinya itu tidak jadi pergi ke pasar sendirian.
__ADS_1
"Hemmm... baiklah. Terus Linda ngapain ini Mas?"
Akhirnya Linda mengikuti saran suaminya itu. Tapi dua juga bingung sendiri, karena tidak ada yang bisa dia lakukan di pengilingan padi ini.
"Ya Kamu bisa diem-diem aja di sini. Atau Kamu mau keliling-keliling pengilingan padi ini juga boleh. Kan luas ini, Kamu bakalan capek sendiri nantinya. Hehehe..."
Ferry terkekeh sendiri, saat memberikan pilihan untuk istrinya. Agar tidak merasa bosan karena dia tidak ada kesibukan apa-apa di pengilingan padi ini.
"Ya sudahlah. Aku jalan-jalan aja kalau begitu."
Akhirnya, Linda menuruti perkataan suaminya. Dia tidak jadi pergi ke pasar. Tapi berkeliling, untuk melihat-lihat keadaan pengilingan padi ini. Di mana suaminya itu berjualan beras, setelah tidak lagi menjadi seorang polisi.
Ternyata, bangunan pengilingan padi ini sangat besar. Tidak seperti yang terlihat dari depan sana.
Dari arah depan, atau jalanan, bangunan pengilingan padi, hanya terlihat sama seperti sebuah toko dengan lebar yang biasa saja. Tidak terlalu lebar, sama seperti deretan ruko atau toko-toko pada umumnya.
Tapi di saat memasuki bangunan lebih ke dalam lagi, bangunan tampak lebih besar,dan bukan hanya bangunan utama yang tampak dari luar saja. Dan itu ada di bagian belakang rumah atau toko, yang ada di sebelah kanan kiri bangunan utama pengilingan padi ini.
Padahal menurut Linda sendiri, jika bangunan utama dan lebih ke belakang lagi, luasnya hampir sama seperti gedung tempat Linda bekerja. Sangat luas.
Karena di belakang bangunan pengilingan padi, ada lapangan terbuka, yang sudah diplester dengan semen. Untuk digunakan sebagai tempat penjemur padi-padi yang baru saja dipanen. Agar kering dan bisa di selep, yaitu proses penggilingan padi menjadi beras.
Itulah sebabnya, tempat usaha seperti ini disebut dengan pabrik pengilingan padi.
Linda masih berkeliling. Sesekali, dia mengangguk sopan, saat berpapasan dengan para pekerja yang ada di tempat pengilingan padi ini.
Dia masih saja melihat-lihat dengan kagum, akan kecanggihan teknologi pengolahan padi atau pengilingan padi untuk jaman sekarang.
Semuanya sudah maju. Tidak sama seperti waktu dia masih kecil dulu.
__ADS_1
"Untungnya mbak Nana gak ke sini ya."
"Iya. Pasti dia shock, jika melihat istrinya mas Ferry yang benar-benar cantik itu."
Sayup-sayup, Linda mendengar beberapa orang yang sedang berbicara tentang suaminya. Bahkan, menyebutkan dirinya juga.
"Oh, jangan-jangan, mas Ferry sudah memberitahu Mbak Nana. Supaya dia tidak datang ke sini."
Mereka saling sahut-sahutan. Tanpa tahu, kebenaran yang sesungguhnya. Mereka sama saja seperti sedang bergosip.
'Ternyata yang suka bergosip dan banyak bicara itu tidak hanya cewek-cewek, dan ibu-ibu yang sedang berbelanja di warung. Nyatanya, cowok dan bapak-bapak yang sudah berkumpul dengan teman-temannya juga bergosip ria.'
'Lihat saja warung kucingan atau warung kopi. Mereka, para laki-laki, juga betah berbincang dengan temannya. Bahkan hanya dengan satu cangkir kopi. Mereka semua bisa berbincang selama yang mereka mau.'
Linda mengeleng beberapa kali, saat ingat dengan keadaan sekitarnya. Bahkan, para wanitalah yang selama ini identik dengan cerewet dan bergosip.
Tapi pada kenyataannya, laki-laki juga sama saja. Jika sudah berkumpul seperti itu.
"Ini jika tiba-tiba Mbak Nana muncul, dan istrinya mas Ferry masih ada di sini, ada perang dunia ke sebelas gak ya?"
"Eh, kok banyak banget sebelas. Yang lain apa aja itu?"
"Ah, yang lain-lain kan udah seringkali terjadi. Di mana-mana juga ada keributan dan pertengkaran. Anggap aja jika mbak Nana dan istrinya mas Ferry itu yang kesebelas!"
"Hahaha... ada-ada aja Kamu!"
"Hush! Jangan keras-keras. Nanti ada yang dengar!"
Dari pendengaran yang tidak disengaja ini, Linda jadi mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang sebenarnya mereka bicarakan tadi.
__ADS_1
Apalagi, saat mendengar dia ikut terlibat dalam pembicaraan mereka juga. Ini menjadi tanda tanya besar, yang harus di perhatikan Linda.
"Sebenarnya, mereka bicara apa sih?" gumam Linda, bertanya pada diri sendiri.