Tante Melinda

Tante Melinda
Masalah Demi Masalah


__ADS_3

Malam harinya, Linda meminta ijin pada suaminya, jika minggu depan, dia akan ada tugas training kepemimpinan di Jakarta.


"Linda juga baru tau tadi Mas, saat manager gedung mengadakan metting."


Ferry masih diam dan belum juga mengatakan apa-apa. Dia masih ingin mendengar, apa yang ingin disampaikan oleh istrinya itu.


Tapi sepertinya Linda sudah tidak ada yang perlu dia sampaikan. Dia justru menguap beberapa kali, menandakan bahwa, dua sudah sangat mengantuk.


"Linda tidur duluan ya Mas. Ngantuk banget nih."


Linda juga tampak melakukan pergerakan tangan dan badannya, agar tidak kaku dan lebih rileks. Dia juga tampak sangat lelah, akibat pekerjaannya yang ada di pabrik seharian ini.


"Sini Mas pijitin!"


"Gak usah Mas. Kamu juga capek kan? Kita tidur saja yuk! Moga aja besok bisa bangun dan tidak lagi terasa capek."


Ferry membuang nafas panjang. Dia merasa kecewa, karena tawarannya di tolak oleh istrinya itu.


Padahal, dia hanya ingin berbagi rasa sebelum tidur. Dengan memulainya dengan sebuah pijatan, agar tubuh lebih rileks dan bisa melakukan hal-hal yang tentunya butuh tenaga dan waktu juga.


Gerry mencoba untuk memintanya pada Linda. Istrinya yang sudah mulai memejamkan matanya. Mendahului dirinya untuk tidur terlebih dahulu.


"Dek. Udah tiga hari nih nganggur. Kangen Dek," ucap Ferry, di dekat telinga Linda yang sudah berbaring.


Tapi sepertinya Linda tidak mendengar perkataan suaminya itu. Sehingga Ferry mengelus-elus pipi istrinya, tetap saja tidak ada pergerakan dari Linda.


Ternyata, Linda memang benar-benar sudah tertidur. Dan sangking capeknya, dia tidak merasakan apa-apa.


Linda juga tidak mendengar permintaan dari suaminya tadi.


Sekarang, Ferry membuang nafas kasar. Kemudian beranjak dari tempat tidurnya, menuju ke kamar mandi. Dia sudah tidak tahan lagi dengan kebutuhan privasinya, yang tidak mungkin bisa ditunda.


Setelah beberapa saat kemudian, terdengar air kran mengalir. Setelahnya, pintu kamar mandi terbuka. Ferry keluar dengan nafas lega.


Tapi dia tidak langsung menuju ke tempat tidur, menyusul istrinya yang sudah tertidur pulas terlebih dahulu. Ferry keluar dari dalam kamar, menuju ke arah kamar anaknya, Erli.


Klek!


Ferry masuk, dan melihat posisi tidur Erli yang berantakan. Lampu juga masih menyala terang.


Dengan hati-hati, Ferry membenarkan posisi tidurnya Erli. Menyelimuti anaknya itu, karena selimutnya sudah tidak lagi ada pada tempat tidur. Tapi jatuh ke lantai.


Setelah dirasa cukup, Ferry mematikan lampu yang terang, dan menggantinya dengan lampu yang lebih redup.

__ADS_1


Baru kemudian Ferry keluar dari dalam kamar anaknya. Dan kembali ke dalam kamarnya sendiri. Menyusul istrinya untuk tidur dan terbang ke alam mimpi.


*****


Siang hari, waktu untuk beristirahat di pabrik tempat Linda bekerja.


"Bagaimana Linda. Bisa kan kita pergi ke suatu tempat, di mana hanya ada kita berdua saja menikmati hari itu?"


Linda baru saja bersiap untuk beristirahat, saat ada pak Komarudin, yang datang ke ruangannya dengan pertanyaan yang dia ajukan.


Linda belum bisa menjawab pertanyaan tersebut. Dia juga belum minta ijin pada suaminya. Karena semalam, dia hanya mengatakan bahwa, minggu depan ada training kepemimpinan di Jakarta.


Jadi, Linda hanya ijin untuk kepergian minggu depan ke Jakarta saja.


Dia lupa, jika ada ajakan pak Komarudin, untuk akhir pekan ini.


"Bagaimana?" tanya pak Komarudin lagi, dengan mendekat ke tempat duduknya Linda.


"Emhhh... Saya belum bicarakan tentang ini pada suami Saya Pak." Linda menjawab apa yang menang ada.


"Oh..."


Pak Komarudin hanya menanggapi dengan mem_bolakan mulutnya.


"Bapak tidak istirahat?" tanya Linda, yang merasa heran karena, pak asisten manager nya ini, biasanya istrinya dengan makan keluar bersama para atasan yang lain.


Jadi, sebelum waktunya beristirahat, pak Komarudin sudah memesan makanan untuk dirinya sendiri dan juga untuk Linda.


Linda tersenyum canggung, karena merasa jika pak Komarudin tidak bisa melepaskan kesempatan untuk dirinya bebas.


'Aduh, ini akan membuat mulut-mulut usil di luar semakin banyak terdengar.'


Linda membatin, dengan apa yang terjadi pada dirinya dan asisten manager tersebut.


Tapi, sepertinya Linda juga menikmati perannya di sini. Dia tidak pernah menolak keinginan atasannya itu.


Dan Linda juga merasa puas, saat mampu membuat pak Komarudin tersenyum bahagia, karena merasakan kepuasan tersendiri pada saat di akhir kegiatan mereka berdua.


Akhirnya, waktu istirahat mereka berdua habiskan di ruangan Linda. Karena lampu gedung pabrik akan padam dengan sendirinya, jika waktunya istirahat.


"Oh, Lin... Ken... kenapa Kamu selalu bisa membuatku melayang. Ini... ini sangat enak..."


Kicauan suara yang keluar dari mulut asisten manager terdengar terputus-putus. Dan hanya dia saja yang mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


Karena Linda tidak mungkin bisa mengatakan apa-apa. Dia sedang menservis atasannya itu. Di jam istirahat kerjanya.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka berdua merapikan diri.


"Ayo, kita makan dulu. Waktu istirahat masih ada dua puluh menit lagi."


Linda hanya mengangguk saja, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia masih mengelap mulutnya, dengan tissue.


Barulah setelah merasa cukup, dia duduk di kursi yang ada di depan pak Komarudin. Menikmati makanan yang tadi sengaja dibawakan oleh asisten manager tersebut untuknya juga.


*****


Di rumah ibunya Linda.


Danang sedang berbicara dengan bapaknya. Ada beberapa hal yang sangat penting, yang harus dia katakan pada bapaknya itu.


"Bulan depan, Danang wisuda Pak. Dan administrasi yang belum lunas, harus segera dilunasi. Tapi, uang Danang jauh dari kata cukup."


Bapaknya hanya bisa diam dan menghela nafas panjang. Dia juga tidak bisa membantu anaknya itu.


Dia sadar jika, selama ini Danang melakukan semua hal untuk bisa tetap melanjutkan kuliahnya, tanpa membebani kedua orang tuanya.


Danang bekerja keras, agar bisa membiayai dirinya sendiri.


Karena ibunya sudah menjadi tulang punggung keluarga, sejak bapaknya itu tidak bisa lagi bekerja dengan baik.


"Bapak tidak bisa melakukan apa-apa Nang. Tapi, jika ini mendesak, Bapak akan menggadaikan sawah Bapak."


"Itu sawah pemberian mbahmu. Jika tidak cukup dengan digadai, ya nanti dilepas saja pada yang mau beli."


Danang terkejut mendengar jawaban yang diberikan oleh bapaknya.


"Pak, nanti buat makan bagaimana?" tanya Danang cepat.


Danang pasti merasa sangat bersalah, jika sawah itu sampai dijual. Karena selama ini, keluarga mereka makan dari hasil panen padi sawah tersebut.


Meskipun yang menanami sawah adalah orang lain, tapi keluarganya tetap mendapat bagian dari hasil panen padi di sawahnya itu.


"Tidak apa-apa. Nanti kita bicarakan ini dengan ibu dan juga Mbak Linda ya!"


Bapaknya sudah membuat keputusan. Dia juga tidak mau jika, Danang tidak bisa ikut wisuda.


Karena sejak semester sebelumnya, Danang memang sudah menunggak.

__ADS_1


Danang hanya bisa membiayai dirinya, saat ada pembuatan skripsi dan kuliah kerja nyata nya di desa lain.


Itu pun juga sudah di bantu oleh Linda dengan jumlah yang cukup banyak.


__ADS_2