Tante Melinda

Tante Melinda
Malas Menanggapi


__ADS_3

Linda yang baru saja belajar berjalan, tentunya masih memerlukan bantuan orang-orang. Jika ingin bangun tidur ke tempat duduknya di kursi roda, atau pergi ke kamar mandi.


Untungnya, meskipun bapaknya sudah tidak kuat untuk menuntun atau membopongnya, ibunya dengan siap selalu ada di rumah untuk menemaninya.


Apalagi jika ada di hari kerja, yang tentu saja tidak ada Danang maupun Della di rumah.


Jadi, selama bapaknya kemarin sakit, ibunya itu sudah tidak bisa bekerja ke luar rumah lagi. Hanya bisa berada di rumah saja, karena menemani suaminya.


Untungnya, Danang sadar diri dengan memberikan uang belanja untuk ibunya. Setiap kali dia menerima gaji.


Sama halnya dengan Linda. Sejak dulu, saat dia masih bisa bekerja dan Ferry juga masih hidup, dia juga rutin memberikan uang belanja untuk kelangsungan hidup kedua orang tuanya.


Apalagi dia juga sadar jika, masih sering merepotkan mereka soal Erli.


Dan sekarang, Linda justru lebih merepotkan mereka lagi. karena keadaannya sekarang ini.


Tapi ibu maupun bapaknya Linda tidak pernah mengeluhkan apa-apa. Mereka berdua tidak merasa repot atau direpotkan dengan anak serta cucunya.


Mereka berdua justru merasa senang, karena masih bisa merawat Linda yang sedang sakit. Serta Erli yang saat ini sudah menjadi yatim.


Rumah mereka juga tidak sepi, karena selalu ada celoteh Erli, yang membuat suasana menjadi ramai.


"Ma. Mama!"


Teriak Erli siang ini, ketika dia baru saja pulang dari sekolah.


Bapaknya Linda yang menjemput Erli, meskipun hanya berjalan kaki saja. Sebab letak sekolah dan rumah hanya beberapa menit saja waktu perjalanannya.


Sebenarnya, Erli sudah bisa dan berani untuk pulang dan pergi sekolah sendiri. Tapi Simbah kakungnya itu masih merasa khawatir, jika terjadi sesuatu pada cucunya.


"Ada apa Sayang?" tanya Linda dari tempat duduknya, yang berada di kursi roda.


"Mama. Tadi Erli buat tulisan anggota keluarga. Ini Ma!"


Erli memberikan selembar kertas tugas pada Linda, dengan tulisannya yang sangat rapi seperti cakar ayam yang mengorek-ngorek tanah.


Linda menerima kertas tersebut, kemudian membacanya dengan pelan-pelan.


Mata Linda berkaca-kaca, setelah selesai membaca tulisan anaknya itu.


"Sayang, sini!"


Linda meminta pada Erli untuk mendekat ke arahnya, setelahnya dia memeluk anaknya itu dengan air mata yang mulai mengalir.

__ADS_1


Di kertas tersebut, linda melihat tulisan anaknya yang menuliskan semua anggota keluarganya termasuk juga papanya, Ferry.


Tapi nama papa, dengan keterangan Ferry, ada di bagian paling atas dengan keterangan ada di surga. Jadi papa tidak bisa pulang ke rumah lagi.


Linda jadi menangis karena teringat suaminya.


"Mas, maafkan Linda."


Erli yang masih berada dalam pelukan Linda, mendengar gumamam mamanya, yang pada akhirnya mendongakkan kepalanya. Melihat ke arah mamanya yang justru saat ini sedang menangis.


"Mama. Mama kenapa?" tanya Erli bingung.


Bapaknya Linda hanya bisa melihat dengan menghela nafas panjang. Dia juga merasakan sesak dalam dadanya, melihat keadaan putrinya yang tidak bisa melakukan apa-apa. Dan sudah menjadi janda juga dalam usia yang masih sangat muda.


"Erli, ganti baju dulu yuk!" ajak Simbah kakungnya, agar Erli tidak membuat mamanya semakin teringat dengan almarhum suaminya.


Di saat Linda menganggukkan kepalanya, Erli akhirnya menurut dengan perkataan simbah kakungnya.


Dan Linda sendiri lagi dalam keadaan bersedih hati.


"Mas. Tenanglah di sana. Aku akan merawat Erli sebaik mungkin."


*****


Sore ini Danang dan Della memutuskan untuk pulang ke rumahnya Della. Karena tadi pagi, saat mereka berangkat kerja, juga berangkat dari rumah sana.


"Iya Mas. Tapi, kita jadi pulang ke rumahku?" tanya Della memastikan.


"Iya. Kenapa?" tanya Danang dengan memiringkan kepalanya, untuk memperhatikan bagaimana keinginan istrinya. Meskipun tanpa harus berbicara.


"Gak apa-apa Mas. Della cuma memastikan saja. Tapi jika Mas mau pulang ke rumah, ya gak apa-apa juga."


Ternyata Della tidak memaksa Danang untuk harus pulang ke rumahnya. Dia memberikan kebebasan kepada suaminya itu, untuk menentukan pilihan.


"Oh... Aku kira apaan."


"Udah yuk!"


Akhirnya Danang segera mengajak Della menuju ke tempat parkir. Karena setengah jam lagi, para pekerja untuk operator produksi, akan segera pulang. Dan itu akan membuat jalanan macet. Begitu juga dengan tempat parkir, yang akan segera penuh sesak.


Di tengah jalan, Della meminta pada Danang untuk berhenti terlebih dahulu. Sebab dia ingin membeli makanan untuk makan malam mereka.


"Aku beli mateng apa harus masak sendiri Mas?" tanya Della meminta pendapat pada suaminya itu.

__ADS_1


"Mateng aja Sayang. Kamu juga capek habis kerja seharian ini."


Della tersenyum seneng, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya kali ini.


Meskipun sebenarnya dia tidak pernah dipaksa untuk memasak makanan di rumah. Karena Danang juga sangat tahu, bagaimana keadaan dan kondisi Della di tempat kerjanya.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah sampai di rumah. Tapi baru saja Danang menyandarkan sepeda motornya, Pamannya Della datang dengan tersenyum-senyum mencurigakan.


"Assalamualaikum Nang, Della. Baru pulang ya?" tanya Pamannya Della, setelah mengucapkan salam.


"Waallaikumsalam Paman."


Danang dan Della menjawab salam pamannya bersamaan.


"Della masuk dulu Mas, Paman," pamit Della, yang ingin segera mandi. Karena sudah merasa sangat kegerahan.


Danang mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar isterinya yang berpamitan. Kemudian mempersilahkan Paman dari istrinya itu untuk duduk di ruang tamu.


"Mari Paman, masuk dulu," ajak Danang memberikan tawaran.


"Di sini aja Nang. Paman gak lama kok," tolak pamannya itu dengan tersenyum tipis.


Akhirnya Danang mengikuti pamannya, yang duduk di teras depan rumah.


"Begini Nang..."


Akhirnya pamannya Della itu bercerita tentang keinginannya untuk berkenalan dengan Linda. Kakaknya Danang yang baru saja menyandang status sebagai janda mati.


"Mbak mu itu kan masih muda. Tentu masih butuh..."


Alis pamannya Della naik turun, setelah berkata tidak jelas apa maksud dan tujuannya.


"Mbak mu kan yang mirip bule itu kan? Maaf ya, paman tidak bisa ikut melayat. Ada urusan di luar kota yang terus segera paman selesaikan."


"Iya Paman. Tidak apa-apa."


Danang hanya menyahuti pertanyaan dan perkataan Paman seadanya, karena dia tidak menyukai sifat dari Paman istrinya ini.


"Tapi, mbak mu ada niatan kawin kan?"


"Tidak tahu Paman. Saya rasa, mbak Linda belum memikirkan hal sejauh itu."


Akhirnya Danang memberikan kode, jika dia tidak mau lagi membicarakan tentang kakaknya, Linda.

__ADS_1


Sayangnya, pamannya Della itu tidak punya perasaan yang cukup peka. Sehingga kembali mengajukan pertanyaan, yang sebenarnya tidak ingin di dengar oleh Danang sendiri.


"Aku bisa kan, jika mengajukan lamaran untuk Mbak mu itu? Jadi, Kamu akan jadi adik ipar ku nanti."


__ADS_2