Tante Melinda

Tante Melinda
Lamaran


__ADS_3

Acara lamaran Linda, dilaksanakan pada malam ini. Sebuah acara yang sangat sederhana, karena Romi hanya datang bersama dengan paman dan bibinya. Yang merupakan istri pertama dari pamannya.


Sedangkan di rumah Linda, juga hanya dihadiri keluarga inti saja, bersama Della yang sudah menjadi istrinya Danang.


Tapi ternyata, bapaknya Linda meminta pada ketua RT di tempatnya. Supaya menjadi saksi, atas acara lamarannya Linda kali ini.


Acara yang sangat sederhana ini, terkesan hikmat. Dan tidak bertele-tele, sehingga acara juga tidak banyak. Hanya sekedar ngobrol dan berbincang-bincang antar dua keluarga, kemudian menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang ke rumah orang tuanya Linda ini. Kemudian dilanjutkan dengan acara makan bersama.


Linda tidak memperhatikan keadaan yang lain, termasuk pamannya Romi itu. Sebab, Romi sudah sudah berpesan padanya, untuk tidak memperhatikan pamannya itu. Sehingga sakit kepalanya tidak akan datang.


Dan ternyata, hal itu cukup manjur bagi linda sehingga dia tidak merasakan kekhawatiran. Apalagi, ada Romi yang menjadi pusat perhatiannya untuk malam ini.


Senyuman Linda yang sedang berbahagia dan lega setelah mendengar penjelasan tentang lamaran ini, menyita perhatian pamannya Romi. Yang sedari awal, memang sudah memperhatikan dirinya saja. Tidak dengan yang lainnya.


Padahal, ini juga diperhatikan oleh istri pertamanya yang sudah paham dengan watak dari suaminya.


Bahkan, istrinya itu sering menyenggol lengan suaminya. Pada saat diajak berbicara oleh orang lain tapi tidak memperhatikan dan mendengarkannya.


Ini membuat istrinya itu kesal dan malu, dengan sikap suaminya. Padahal, suaminya itu sudah tahu bahwa, wanita yang sedang diperhatikan itu adalah calon istri dari keponakannya sendiri, yaitu romi.


"Pak, jangan bikin malu!" bisik istri pertama, di dekat telinga pamannya Romi.


"Ehemmm!"


Suaminya justru menanggapi dengan deheman saja, kemudian pura-pura ijin untuk pergi ke kamar mandi. "Maaf, bisa numpang ke kamar mandi?"


"Oh mari, mari silahkan!"


Bapaknya Linda, yang tidak tahu apa-apa tentang maksud dari pamannya Romi itu, mempersilahkan untuk masuk ke dalam rumah, supaya bisa pergi kamar mandi.


Padahal, Danang, Della dan Romi, sudah waspada dengan apa yang akan dilakukan oleh pamannya itu.


Tapi untuk kesopanan, istri pertamanya itu ikut berdiri dan mengikuti suaminya.


"Ngapain Bu?" tanya suaminya, yang merasa risih. Karena istrinya itu justru mengikutinya dari belakang.


"Ck! Ibu juga ingin pergi ke kamar mandi Pak!"


"Tunggu sebentar setelah Bapak," protes suaminya, yang tidak mau jika rencananya diketahui oleh istrinya.


"Ihsss, malu lah! Sudah ayok!"'

__ADS_1


Istrinya itu menarik tangan suaminya, supaya segera pergi ke kamar mandi bersama dengannya. Dia akan menunggu di depan pintu kamar mandi, baru setelah suaminya selesai, dia akan masuk.


Tapi ternyata, suaminya itu tidak mau masuk terlebih dahulu. Justru dia meminta, supaya istrinya saja yang masuk terlebih dahulu, dan dia yang menunggu di luar.


"Ibu saja yang masuk lebih dulu, Bapak akan tunggu di sini!"


Karena tidak mau berdebat, akhirnya istri pertamanya itu masuk terlebih dahulu ke kamar mandi. Dan membiarkan suaminya menunggu di luar kamar mandi.


Tapi waktu yang sedikit itu, ternyata dimanfaatkan oleh suaminya. Untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah disangka-sangka oleh orang lain. Termasuk istrinya sendiri.


Dengan cepat, pamannya Romi meletakkan sesuatu di dekat kamar mandi. Yang kemungkinan besar juga digunakan oleh Linda. Sebab, kamar mandi di rumah ini hanya ada satu. Yaitu kamar mandi yang sekarang ini dipakai oleh istrinya.


"Semoga saja syarat ini manjur, dan Linda akan segera takluk dengan ku." Pamannya Romi, bergumam pelan seorang diri, di depan kamar mandi.


Dia tersenyum puas karena berhasil meletakkan persyaratan dari guru spiritualnya atau dari dukun, untuk membuat Linda jadi terpesona dengannya.


Pamannya Romi, menang suka dengan aktifitas perdukunan, untuk kapan beberapa kepentingan yang dia lakukan.


Perdukunan adalah sebuah aktifitas mistis, yang dilakukan oleh dukun dan berkaitan dengan supranatural. Sehingga menyebabkan seorang dukun dapat memahami hal tak kasat mata, serta mampu berkomunikasi dengan arwah dan alam gaib, yang dipergunakan untuk membantu, atau menyelesaikan masalah di masyarakat, atau perorangan. Misalnya menyembuhkan penyakit, gangguan sihir, kehilangan barang, kesialan, dan lain-lain.


Padahal, semuanya itu hanya mistis. Sebuah kegiatan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Yang bisa dikatakan sebagai kegiatan musrik dan syirik.


Misalnya, kembang atau sejenis bunga, air, kemenyan, dan lain-lainnya.


Dan syarat yang dibawa oleh pamannya romi ini adalah sebotol air dalam jumlah yang sangat sedikit, sebab hanya pada pada sebuah botol kecil mirip seperti botol minyak angin. Yang harus dia siramkan di suatu tempat, yang akan dilalui oleh Linda.


Hal tidak pernah masuk akal menurut akal sehat siapapun, yang tidak mempercayai hal mistis seperti itu.


Tapi Pamannya Romi sangat meyakini, bahwa apa yang dia lakukan ini, bisa membawa keberuntungan yang akan membuat linda tertarik kepada dirinya.


Ibarat kata, cinta ditolak dukun bertindak.


*****


Sehari setelah acara lamaran, Romi datang ke rumah Linda, untuk pamit. Karena dia akan kembali ke kota terlebih dahulu


"Dek. Kakak berharap, Kamu bisa terus sehat dan tidak memikirkan banyak hal yang sampai pernikahan kita nanti."


Tapi ternyata, apa yang dikatakan oleh roma ini tidak diperhatikan oleh Linda. Dia justru terlihat melamun, dan pikirannya tidak di tempat ini. Entah apa yang tanti pikirkan oleh Linda saat ini.


Hal ini membuat romi khawatir akan keadaan Linda. Wanita yang akan menjadi calon istrinya itu, karena katakan Linda memang belum bisa dikatakan stabil.

__ADS_1


"Dek. Kamu gak apa-apa?" Romi bertanya pada Linda, bahkan ini adalah untuk yang kedua kalinya.


Tapi Linda masih terdiam, dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh calon suaminya itu.


Hal ini tentunya menjadi perhatian utama Romi. Sebab, calon istrinya tiba-tiba mengabaikannya dan tidak mendengarkan apapun yang dia katakan.


"Dek. Dek Linda," panggil Romi lagi, dengan memegangi bahunya Linda.


"Eh, iya... iya Kak. Ada apa?"


Romi memperhatikan, bagaimana raut wajah Linda yang terlihat berbeda.


"Kamu kenapa Dek? Apa yang sedang kamu pikirkan, ngomong sama Kakak!" ujar Romi, yang menginginkan Linda bicara jujur, jika sedang ada masalah.


"Gak ada apa-apa kok Kak. Tadi, Kakak bicara apa?" Linda mengelak dari pertanyaan Romi, dengan membuat pertanyaan balik.


"Hahh..."


"Gak ada Dek. Kakak cuma mau bilang, jika nanti sore Kakak balik dulu ke kota. Kamu baik-baik saja di rumah ya!"


Linda menganggukan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Romi.


Tapi, pandangan matanya itu berbeda tidak fokus pada Romi. Dan ini menjadi perhatian utama Romi, sehingga dia merasa khawatir akan sikap Linda ini.


"Bapak ada di rumah kan Dek?"


Pertanyaan dari romi yang terakhir ini, juga tidak didengar oleh Linda. Tapi Linda justru bergumam tidak jelas, sehingga membuat Romi memiringkan kepalanya. Untuk memperhatikan dan mendengarkan, apa yang sedang dikatakan oleh calon istrinya itu.


"Aku mau..."


"Aku mau..."


Ternyata, Linda mengucapkan kalimat yang tidak jelas, dengan sesuatu yang tidak sesuai apa yang dibicarakan bersama Romi.


Jadi, linda mengatakan sesuatu yang tidak nyambung dengan perbincangan mereka berdua.


"Dek, Dek Linda! Sadar Dek! Apa yang terjadi padamu?"


Romi memegang bahu linda dan menggoyang-goyangkan tubuh Linda. Supaya sadar dengan apa yang dikatakannya tadi.


Tapi apa dilakukan oleh Romi ini, justru membuat Linda kesakitan dan memegangi kepalanya sambil berteriak-teriak.

__ADS_1


__ADS_2