Tante Melinda

Tante Melinda
Ternyata Konspirasi


__ADS_3

Linda menghentikan motornya di teras depan rumah. Disusul kemudian ada Ferry dibelakang, yang membonceng Erli.


Anaknya itu duduk di bagian depan Ferry. Karena ditakutkan jika Erli akan mengantuk jika duduk di jok belakang.


Mereka berdua, Linda dan Ferry, memang mengendarai sepeda motor sendiri-sendiri.


Clek!


Pintu di buka Linda, kemudian dia pun masuk terlebih dahulu. Sedangkan Ferry, mengendong Erli yang dalam keadaan mengantuk, sedari masih ada di jalan menuju rumah.


"Erli mau tidur di kamar atau di depan televisi Sayang?"


Linda yang tadi langsung masuk ke dalam kamar, mendengar pertanyaan suaminya, yang ditujukan untuk anaknya. Tapi Linda tidak mendengar suara Erli, yang menjawab pertanyaan tersebut.


Sekarang Linda kembali keluar dari dalam kamar. Dia ingin melihat keadaan anaknya, yang kemungkinan tidak jadi tertidur. Karena sudah turun dari motor.


Tapi ternyata dugaannya salah. Nyatanya Erli tampak tidur dengan nyaman, di samping papanya. Yang duduk di sampingnya sambil menepuk-nepuk bokong_nya Erli. Supaya anaknya itu kembali terlelap tidur.


Linda kembali ke dalam kamar. Dia mencoba untuk menguatkan hatinya. Mempersiapkan diri, untuk pembicaraan yang akan dia lakukan bersama dengan suaminya.


Dia ingin semuanya jelas, sehingga tidak berlarut-larut karena saling diam dan tidak ada penyelesaian untuk masalah mereka ini.


Tak lama kemudian, Ferry masuk ke dalam kamar. Dia berjalan mendekat ke tempat tidur, di mana Linda duduk di pinggiran kasur.


"Dek," sapa Ferry, saat Linda hanya diam saja.


"Apa Erli sudah tidur?" tanya Linda, yang tidak menanggapi sapaan yang diberikan oleh suaminya.


"Iya sudah. Sepertinya dia memang benar-benar mengantuk. Apa dia tidur larut malam?" Ferry balik bertanya, karena dia juga melihat kantung mata Linda yang tampak jelas.


Sebenarnya dia tahu, apa yang terjadi pada istrinya itu. Dia berpikir bahwa, Linda pasti tidak bisa tidur semalam. Sama seperti dirinya juga, yang terus terjaga dan hanya terlelap beberapa jam saja.


"Apa ada yang ingin Mas tanyakan pada Linda?" Linda kembali bertanya, dan tidak menjawab pertanyaan dari Ferry.


"Maksudnya?" tanya Ferry bingung dengan pertanyaan dari istrinya.


"Apa yang sebenarnya... emhhh, Mas Ferry dan mbak Nana punya rencana apa?"

__ADS_1


Ferry mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Linda padanya. Dia tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan tersebut.


"Maksudnya apa Dek?" tanya Ferry yang benar-benar tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Linda saat ini.


Akhirnya Linda menyerahkan ponsel milik suaminya itu.


"Buka Mas. Aku tidak bisa membacanya dengan baik. Mungkin saja, Kamu lebih paham dengan semua ini."


Ferry menerimanya ponselnya, yang masih dalam keadaan mati alias nonaktif.


Dia ragu untuk mengaktifkan ponselnya itu. Tapi karena Linda menganggukkan kepalanya, mengharuskan dirinya untuk mengaktifkan sendiri ponsel tersebut. Agar dia tahu, apa maksud dari pertanyaan yang tadi ditanyakan oleh Linda padanya.


Beberapa saat kemudian.


Ferry terlihat kaget dan mengelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tidak tahu, apa yang dikatakan oleh mbak Nana dalam pesan-pesan yang dikirimnya. Dan semua itu...


"Dek. Mas gak pernah punya rencana apapun sama mbak Nana itu. Percayalah Dek!"


Dengan mengiba, Ferry menjatuhkan dirinya didepan Linda yang duduk di pinggir tempat tidur. Dia berlutut untuk menyakinkan istrinya.


"Mas tidak tahu, apa yang sebenarnya diinginkan mbak Nana. Dia tidak pernah bicara soal anak atau apapun juga selama ini. Beneran Dek, Mas gak tau apa-apa!"


"Telpon dia sekarang Mas. Tanyakan padanya, apa maksud dan keinginannya saat ini."


Mata Ferry membulat sempurna. Dia tidak habis pikir dengan permintaan istrinya itu. Yang memintanya untuk menghubungi mbak Nana dan menanyakan tentang kebenaran pesan-pesannya semalam.


*****


Ternyata kecurigaan Ferry pada waktu itu sekarang ini sudah terbukti. Jika mbak Nana ada maksud tertentu, sehingga mendekatinya terus. Bahkan memberikan perhatian yang lebih, dan kemudahan dalam keuangan juga.


Suami mbak Nana, tidak bisa memberikan keturunan pada mbak Nana. Karena suaminya yang berprofesi sebagai seorang pelayaran ternyata mandul.


Tapi keadaan suaminya yang mandul, hanya diketahui oleh mbak Nana dengan suaminya sendiri. Tidak dengan pihak keluarga mereka berdua.


Sudah sangat lama, pihak keluarga masing-masing mendesak mbak Nana untuk segera hamil dan punya anak.


Untungnya, pekerjaan suaminya yang kerap pergi dalam waktu yang lama, karena berlayar bisa dijadikan sebagai alasan terlambatnya mereka memiliki momongan.

__ADS_1


Dan karena desakan demi desakan yang mereka terima, membuat suaminya mbak Nana mengajaknya pindah ke kotanya Linda ini. Di mana ada orang tua angkat dari suaminya yang sudah meninggal dunia.


Dengan demikian, mereka berdua berasalan jika ingin suasana rumah baru. Agar keinginan mereka untuk mempunyai anak juga bisa segera terwujud.


Sayangnya, keadaan yang sebenarnya terjadi pada suaminya Mbak Nana, tetap mengharuskan mereka berdua tidak memiliki seorang anak.


..."Tapi suamiku memberiku ijin untuk bisa punya anak dari laki-laki yang aku sukai Mas Ferry. Itulah sebabnya, Aku sangat senang sekarang ini."...


..."Tapi, apa suami mbak Nana tidak akan marah, jika pulang dari berlayar dan mendapati mbak Nana sedang hamil?" ...


Pertanyaan yang diajukan oleh Ferry, di jawab oleh mbak Nana dengan jelas. Karena dijelaskan dengan detail dari awal sampai akhir.


..."Gak mas Ferry. Dia justru akan merasa sangat senang. Karena bisa membahagiakan keluarganya dan juga keluargaku."...


..."Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kalian berdua." ...


Ternyata, suaminya mbak Nana itu yang tidak mau jika mengadopsi anak. Dia takut jika, keluarganya akan marah, karena anaknya itu tidak ada yang mirip dengan mereka berdua sama sekali.


Dengan demikian, jalan satu-satunya adalah mencari laki-laki lain yang bisa membuahi sel telur istrinya. Dan pada saat mbak Nana menceritakan tentang Ferry, suaminya itu setuju-setuju saja.


..."Kenapa kalian berdua tidak mengunakan sistem bayi tabung?" ...


..."Sudah pernah Mas. Tapi gagal. Dan suamiku tidak mau melakukan lagi, karena trauma dengan kegagalan kami selama ini." ...


Linda hanya bisa menghela nafas panjang, saat ikut mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua. Karena panggilan telpon tersebut memang sengaja di loud speaker.


..."Mas, maaf ya Mas. Aku tidak mengatakannya sedari awal. Itu karena Aku takut mas Ferry menolaknya." ...


..."Lalu, bagaimana nasib anakku itu?" ...


..."Kami akan merawatnya Mas. Aku juga akan minta pada suamiku, untuk segera mengurus kepindahan kami ke kota lain. Ke kota asal kami sendiri." ...


..."Ini konspirasi mbak Nana. Lalu bagaimana nasib pernikahanku dengan istriku saat ini. Apa mbak Nana tidak pernah memikirkan hal ini." ...


..."Aku minta maaf Mas. Tolong sampaikan permintaan maaf dariku ini padanya. Aku benar-benar minta maaf." ...


'Gila. Ini benar-benar gila. Ada gitu, orang yang punya rencana dan pemikiran seperti ini? Aku... lalu Aku bagaimana harus bersikap?'

__ADS_1


Linda tidak tahu bagaimana membuat keputusan untuk masalahnya ini, di saat tahu kebenaran tentang kehidupan mbak Nana dengan suaminya yang seorang pelayaran.


__ADS_2